12 Maret


 

Perintah Imam Khomeini untuk Melindungi Keluarga Syuhada

12 Maret tahun 1980, pemimpin tertinggi revolusi Islam Iran, Imam Khomeini, mengeluarkan perintah untuk didirikannya lembaga yang bertugas melindungi keluarga para syuhada Iran. Beberapa bulan setelah kemenangan revolusi Islam di Iran, negara ini diserang oleh Irak yang diprovokasi oleh negara-negara adidaya, seperti  AS, Rusia, dan Inggris. Negara-negara Barat itu memberikan bantuan uang dan senjata kepada Irak dengan tujuan agar Republik Islam Iran terguling. Namun, rakyat Iran dengan gigih mempertahankan negara mereka dan ratusan ribu pejuang Iran gugur syahid dan ratusan ribu lainnya luka-luka, cacat, atau terkena radiasi senjata kimia yang digunakan Irak. Lembaga perlindungan para syuhada hingga kini berperan besar dalam melindungi keluarga para korban perang tersebut, di antaranya memberi beasiswa dan santunan kepada anak-anak mereka.

 

Gandhi Memimpin Gerakan Perlawanan Sipil

12 Maret tahun 1930, Mahatma Gandhi memimpin sebuah gerakan perlawanan rakyat sipil untuk memprotes monopoli garam yang diberlakukan pemerintah Inggris di India. Aturan monopoli garam yang ditetapkan Inggris berisi larangan bagi rakyat India untuk mengumpulkan atau menjual garam dan paksaan untuk membeli garam dari Inggris yang telah dikenai bea pajak yang tinggi. Mengingat bahwa garam merupakan kebutuhan vital bangsa India, Mahatma Gandhi memimpin gerakan satyagraha atau perlawanan rakyat sipil.

Pada tanggal 12 Maret 1930, Gandhi dan 78 pengikutnya melakukan pawai ke kota Dandi yang terletak di pantai Laut Arab yang berjarak 241 mil. Di sepanjang jalan, puluhan ribu rakyat India bergabung dalam pawai itu. Setelah mereka sampai ke kota Dandi, mereka memulai gerakan penyulingan garam dari laut. Gerakan ini dengan segera meluas ke seluruh India, termasuk kota pantai  Bombay dan Karachi. Tentara Inggris pun turun tangan menghadapi perlawanan rakyat India ini dan menahan 60.000 orang, termasuk  Gandhi. Namun, gerakan satyagraha terus berlangsung, sampai akhirnya Gandhi dibebaskan dan bersedia menghentikan gerakan itu dengan kompensasi akan diadakan konferensi untuk menentukan masa depan India.

 

Jerman Menganeksasi Austria

12 Maret 1938, Hitler dan tentaranya memasuki Austria dan menganeksasi negara itu. Pada awal tahun 1938, warga Austria pendukung Nazi melakukan konspirasi untuk menggulingkan pemerintah dan menyatukan Austria dengan Nazi Jerman. Kanselir Austria saat itu, Kurt von Schuschnigg, ketika mengetahui adanya konspirasi tersebut, menemui Hitler dengan harapan bisa menyelamatkan kemerdekaan bangsanya. Namun, Hitler malah memaksa Kanselir Austria untuk mengangkat beberapa tokoh Nazi Austria di dalam kabinetnya. Pada tanggal 11 Maret, Kanselir Austria dipaksa untuk mengundurkan diri dan dipaksa untuk menyampaikan pidato kepada rakyatnya agar tidak melawan kedatangan pasukan Nazi. Keesokan harinya, Hitler dan pasukan Nazi datang ke Autsria dan dia mengangkat pemerintahan baru yang pro-Nazi. Austria menjadi sebuah negara bagian Jerman hingga Perang Dunia II berakhir

 

Mauritania Merdeka

12 Maret 1968, Mauritania, sebuah negara kecil di selatan Afrika, meraih kemerdekaannya dari Inggris. Mauritania sejak abad ke-17 dijajah oleh Belanda dan sejak abad ke-18. Mauritannia jatuh ke tangan Perancis. Pada tahun 1814, Inggris merebut Mauritania dari tangan Perancis dan terus menjajah negeri itu hingga tahun 1968.

 

Perjanjian Konstantinopel Ditandatangani

12 Maret 1854, perjanjian bersejarah Konstantinopel ditandatangani di Istambul, ibu kota Imperium Ottoman, oleh Perancis, Inggris, dan Ottoman. Perjanjian ini berisi kesepakatan kerjasama antara ketiga negara untuk menghadapi politik agresi Rusia dalam era Perang Crimea. Berkat perjanjian ini, akhirnya Rusia berhasil dikalahkan.