Surah Al-Baqarah

 
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40
41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60
61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80
81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100
101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120
121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140
141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160
161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180
181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200
201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220
221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240
241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260
261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280
281 282 283 284 285 286                            

 

:: Ayat 31 dan 32 ::

 

 

Artinya: "Dan Allah mengajarkan semua nama kemudian mengajukan-nya kepada para malaikat seraya berkata: "Katakanlah kepada-Ku nama-nama mereka itu, jika kalian benar". Para malaikat berkata: "Maha Suci Engkau. Kami tidak memiliki pengetahuan kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana".


Untuk membuktikan kelayakan manusia kepada para malaikat, Allah SWT menguji keduanya. Mula-mula Allah mengajarkan kepada mereka ilmu-ilmu pengetahuan, lalu Allah mengajukan pertanyaan kepada mereka. Al-Quranul Karim sama sekali tidak menjelaskan ilmu pengetahuan apa yang diajarkan kepada mereka itu.

Namun mayoritas mufassirin menyakini bahwa Allah mengenalkan kepada manusia alam yang ada pada awal penciptaan dan mengajarkan nama-nama semua itu. Itulah potensi-potensi dan kemampuan berpikir untuk mengenali segala sesuatu yang Allah ciptakan di dalam diri kita umat manusia. Oleh karena para malaikat mengira bahwa berkat ibadah yang mereka lakukan maka mereka lebih unggul dari pada manusia, maka mula-mula Allah menguji mereka, dan berkata: "Jika dugaan kalian itu benar, maka sebutkanlah nama hakekat-hakekat itu, yang telah Aku ajarkan kepada kalian".

Akan tetapi para malaikat menyadari kekeliruan mereka, dan mereka baru mengetahui bahwa ibadah dan tasbih saja, bukan ukuran pilihan Allah, dan khalifah Ilahi harus memiliki posisi dan kedudukan ilmu pengetahuan yang tinggi. Dalam menjawab pertanyaan Allah, para Malaikat berkata: "Ya Allah, Engkau Maha Suci dari segala perbuatan yang tanpa alasan dan tanpa kebijaksanaan. Kami yakin bahwa dalam penciptaan dan khilafah keturunan manusia di bumi, terkandung hikmah dan maslahat yang amat besar yang lebih tinggi dari pada kejahatan yang ada pada sebagian manusia. Dan berdasarkan maslahat itulah, Engkau menciptakan Adam. Ya Allah, selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, maka kami tidak mengetahui apa-apa; dan pertanyaan kami timbul dari ketidaktahuan kami akan persoalan ini, yaitu bahwa ternyata manusia memiliki kelebihan dan memiliki potensi serta kekuatan sedemikian besar. Ya Allah Engkaulah yang mengetahui segala sesuatu dan selalu berbuat sesuatu berdasarkan hikmah kebijaksanaan.

Kini kita lihat pula poin-poin apa saja yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dari ayat tersebut di atas:

1) Guru pertama yang mengajar manusia ialah Allah yang memberi kekuatan berpikir dan memahami hakekat-hakekat kepada manusia. Kekuatan semua pengetahuan manusia berkat potensi Ilahi tersebut.

2) Manusia memiliki potensi dan kelayakan untuk menerima seluruh ilmu pengetahuan dan membuka hakekat-hakekat alam kehidupan, meskipun kini manusia masih berada di awal perjalanan sementara hal-hal yang tidak diketahui masih banyak. 

3) Kelebihan manusia di atas segala makhluk, termasuk malaikat terletak di dalam ilmu pengetahuan dan kemampuannya berpikir, yang hal itu sendiri merupakan ibadah terbesar.

4) Khalifah Ilahi dan pemimpin Islam, lebih dari ibadat dan tasbih, memerlukan ilmu dan pengetahuan. Oleh sebab itu, untuk membuktikan keunggulan manusia, Allah mengajarkan ilmu pengetahuan kepada manusia.

5) Pengajar sesungguhnya ialah Allah SWT. Sedangkan guru dan kitab adalah alat belajar mengajar.

6) Permintaan maaf yang dilakukan dengan segera, karena mengatakan sesuatu tidak pada tempatnya, merupakan sopan santun malakuti. Para malaikat, begitu menyadari bahwa mereka telah mengatakan sesuatu yang keliru, meminta maaf kepada Allah dengan mengucapkan: Subhaanak: Maha Suci Engkau ya Allah".

7) Janganlah kita merasa malu mengatakan tidak tahu, kalau memang kita tidak mengetahui. Para malaikat dengan tegas mengakui ketidaktahuan mereka dan mengatakan: Laa ilma lanaa.

8) Permintaan maaf dan taubat, sumber keselamatan. Para malaikat yang mengira bahwa ibadah dan tasbih yang ia lakukan terus menerus itu, sebagai alasan kelebihan mereka atas manusia, ketika kenyataan sebenarnya sudah jelas bagi mereka, mereka langsung meminta maaf, dan diterima oleh Allah. Akan tetapi, setan yang diciptakan dari api, dan menganggap hal itu sebagai kelebihannya atas manusia yang diciptakan dari tanah, bersikeras dengan anggapan kelirunya itu, maka Allah mengusirnya dari surga dan menjauhkannya dari rahmat-Nya yang Maha Luas.

 

Ke Atas