|

Artinya: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata
kepada para Malaikat: "Aku akan menciptakan seorang khalifah di bumi".
Para Malaikat berkata: "Apakah Engkau akan menciptakan orang yang akan
membuat kerusakan di dalamnya dan mengalirkan darah, sementara kami
selalu bertasbih dengan memuji serta mengagungkan-Mu. Allah berkata: "Aku
mengetahui apa yang tidak kalian ketahui".
Di dalam ayat-ayat sebelumnya Allah berbicara tentang nikmat-nikmat
materi-Nya yang tak terhitung bagi para penghuni bumi. Sedangkan ayat
ini menjelaskan posisi dan kedudukan maknawi manusia, yang membuatnya
pantas menerima segala nikmat itu. Setelah menciptakan manusia, Allah
SWT menyodorkan permasalahan ini kepada para malaikat, yaitu bahwa
Adam memiliki kelayakan dan kepantasan sedemikian besar, sehingga
Allah telah menetapkannya sebagai khalifah-Nya di bumi.
Akan tetapi para
malaikat menyatakan kekhawatiran mereka dan mengatakan bahwa bagaimana
mungkin seseorang yang keturunannya bakal membuat kerusakan dan
pertumpahan darah diangkat sebagai khalifatullah di bumi? Para
malaikat berpikir bahwa jika Allah ingin mengangkat wakil di bumi,
maka wakil tersebut haruslah jauh dari segala macam dosa dan kejahatan,
serta sepenuhnya mentaati Allah. Dengan pengetahuan yang mereka miliki
tentang alam dan watak-watak manusia, para malaikat merasa heran,
mengapa Allah SWT bukannya memberikan kedudukan mulia seperti itu
kepada para Malaikat yang selalu berada dalam ibadah dan ketaatan
kepada-Nya, tetapi memberikannya kepada manusia.
Dalam menjawab
pertanyaan para malaikat, Allah SWT berfirman: "Kalian hanya melihat
titik kelemahan manusia. Sedangkan kalian tidak mengetahui segi-segi
positifnya yang sangat berharga. Akan tetapi Aku mengetahui sesuatu
yang kalian tidak mengetahuinya. Jika kalian menganggap bahwa tasbih
dan tahmid yang selalu kalian lakukan itu sebagai alasan kelebihan
kalian atas manusia dalam mencapai kedudukan sebagai khalifatullah,
maka ketahuilah bahwa diantara umat manusia terdapat banyak orang yang
lebih unggul dari pada kalian dan memiliki kelayakan untuk menduduki
pangkat mulia ini.
Tentu saja perlu
ditegaskan bahwa bukan semua manusia memperoleh kedudukan
khalifatullah di muka bumi. Allah telah menciptakan manusia "fi ahsani
taqwim" dengan sebaik-baik penciptaan, dan telah meniupkan ruh-Nya ke
dalam tubuh manusia, maka hendaklah manusia memelihara sebaik-baiknya
semua potensi yang telah Allah berikan itu, sehingga mampu berperan
sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Contoh dari
orang-orang yang demikian itu, yang telah terpilih sebagai
khalifatullah di bumi, ialah para nabi, para Imam, mukminin dan
solihin serta para syuhada. Ketika manusia tidak mampu memelihara
potensi-potensi Ilahi itu dan merusaknya, jadilah mereka sama seperti
hewan bahkan keadaan mereka lebih buruk lagi, sebagaimana ditegaskan
di dalam Al-Quran: "Ulaaika kal an’am bal hum adhal" "Mereka itu
bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi". Jelas sekali bahwa
ditunjuknya manusia sebagai wakil Allah di bumi, sama sekali tidak
menunjukkan kelemahan Allah dalam mengatur bumi.
Tetapi menunjukkan
kemuliaan dan keutamaan kedudukan manusia yang memperoleh kelayakan
untuk mendapatkan kedudukan khalifatullah, selain bahwa sistem
penciptaan dan pengaturan alam ini berjalan di atas dasar hukum
kausalitas. Artinya, meskipun Allah SWT mampu secara langsung
mengatur dan mengelola alam jagat raya ini, namun untuk menjalankan
segala urusan Allah menciptakan perantara-perantara dan sebab-sebab,
sebagaimana berkenaan dengan para malaikat Allah berfirman: "Dan demi
para Malaikat yang mengatur urusan alam", yang berarti bahwa Allah SWT
juga menyerahkan sebagian urusan alam ini kepada para malaikat.
Meskipun pengatur yang sebenarnya segala urusan alam ini ialah Allah
sendiri sebagaimana yang Dia firmankan: "Yudabbirul Amr": Dialah yang
mengatur segenap urusan.
Berikut ini beberapa hal yang merupakan pelajaran dari ayat di atas:
1) Posisi dan
kedudukan manusia di alam ini sangat tinggi, sebagaimana yang Allah
paparkan masalah tersebut di hadapan para malaikat-Nya.
2) Pengangkatan
wakil dan pemimpin Ilahi, ada di tangan Allah.
3) Penjelasan
topik-topik penting yang menimbulkan pertanyaan, dan pemberian jawaban
bagi soal-soal serta hal-hal yang belum jelas, adalah perbuatan yang
sangat berharga, sebagaimana yang Allah perbuat berkenaan dengan
penciptaan manusia, sehingga
hilanglah ketidakjelasan dan keraguan para malaikat.
4) Pemimpin dan
khalifah Allah haruslah seorang yang adil bijaksana, bukan orang yang
fasik dan pembuat kerusakan. Oleh karena itu para malaikat mengatakan:
Bagaimana mungkin manusia yang suka menumpahkan darah berperan sebagai
khalifah Allah di bumi.
5) Dalam
membandingkan diri kita dengan orang lain, hendaknya kita tidak
melihat hanya segi-segi negatif dan titik-titik kelemahan orang lain,
dan melihat diri kita sendiri hanya dari segi-segi positif, lalu kita
tergesa-gesa mengambil kesimpulan.
6) Ukuran
kemuliaan dan keutamaan bukan hanya ibadah. Akan tetapi diperlukan
hal-hal lain. Meskipun para malaikat memiliki kelebihan dibanding
dengan manusia dalam hal ibadah kepada Allah, namun mereka tidak
dipilih oleh Allah untuk menjadi khalifah-Nya di bumi.
7) Penyimpangan
dan kesesatan sejumlah manusia, tidak menghalangi perkembangan dan
kesempurnaan manusia-manusia yang lain. Meskipun Allah mengetahui
bahwa sekelompok manusia akan memilih jalan kesesatan, namun Allah
tidak mencegah penciptaan dan pengangkatan manusia sebagai
khalifah-Nya.
8) Mengajukan
pertanyaan dengan tujuan menambah pengetahuan dan menyingkirkan
ketidakjelasan, sama sekali tidak dilarang, bahkan dipuji. Pertanyaan
para malaikat bukan untuk memprotes perbuatan dan rencana Allah,
tetapi untuk menghapus ketidakjelasan yang ada pada mereka.
|