|

Artinya: "Dan jika kalian merasa ragu pada
apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami maka buatlah sebuah surah
yang menyerupainya, dan ajaklah saksi-saksi kalian selain
Allah, jika kalian benar".
Untuk membuktikan kebenaran nubuwwah atau kenabiannya, maka setiap
Nabi harus menunjukkan mukjizat yang tidak mampu dilakukan oleh orang
lain. Mukjizat Rasulullah SAWW adalah Al-Quran, karena manusia tidak
mampu menciptakan sebuah kitab yang menyerupainya dari segi keindahan
gaya bahasanya maupun kehebatan isinya. Berkali-kali Allah SWT
menantang para penentang Islam dengan mengatakan bahwa jika kalian
tidak mau menerima bahwa Kitab ini datang dari sisi Allah SWT dan
menganggapnya sebagai ciptaan manusia, maka buatlah sebuah kitab yang
menyerupainya; sehingga jika kalian berhasil mendatangkan kitab yang
seperti itu maka agama Islam akan musnah dengan sendirinya.
Yang menarik ialah
bahwa Al-Quran dalam tantang-menantang ini berkali-kali memberikan
keringanan kepada pihak lawan. Sekali Al-Quran mengatakan: Buatlah
kitab yang menyerupainya. Di tempat lain ia mengatakan: Buatlah
sepuluh surah yang menyerupainya. Sedangkan di dalam ayat ini Al-Quran
mengatakan: minimal buatlah sebuah surah yang menyerupai salah satu
diantara surah-surah Al-Quran. Dari sisi lain, Al-Quran juga mendorong
mereka untuk melakukan pekerjaan ini dan mengatakan: Ajaklah
pembantu-pembantu kalian dari segala penjuru dunia, dan saling
membantulah kalian untuk melakukan itu, tetapi ketahuilah bahwa kalian
tak akan pernah mampu melakukannya. Meskipun semua nabi memiliki
mukjizat, namun mukjizat Rasulullah SAWW yaitu Al-Quran memiliki
berbagai keistimewaan.
Dalam kesempatan ini
kami akan menguraikan secara singkat empat hal diantara keistimewaan
Al-Quran ini.
Pertama: Kekuatan Al-Quran. Mukjizat nabi-nabi lain tidak memiliki
lisan untuk menyatakan dirinya, sehingga para nabi tersebut harus
menyertai mukjizat mereka dan menyatakan bahwa yang mereka perbuat itu
adalah mukjizat. Sedangkan Al-Quran tidak memerlukan seseorang untuk
memperkenalkannya sebagai mukjizat. Tetapi ia sendiri menyeru para
penentangnya untuk bertanding sekaligus mengalahkan mereka. Al-Quran
selain merupakan undang-undang juga dokumen perundang-undangan.
Kedua: Kekekalan Al-Quran. Mukjizat-mukjizat selain Al-Quran berlaku
pada zaman tertentu dan hanya masyarakat zaman itu saja yang melihat
dan atau mendengarnya. Sedangkan Al-Quran tidak terbatas hanya untuk
masa Rasulullah SAWW. Ia berlaku sepanjang sejarah sebagai mukjizat.
Berlalunya zaman bukan hanya tidak menggoyahkan Al-Quran bahkan
berbagai pengetahuan dan permasalahan yang terkandung di dalamnya
semakin terbuka dan terbukti kebenarannya.
Ketiga: Universalitas Al-Quran. Sebagaimana Al-Quran tidak terbatas
pada zaman tertentu, ia juga tidak terbatas pada tempat tertentu pula.
Sasaran Al-Quran tidak terbatas pada zaman tertentu, ia juga tidak
terbatas pada tempat tertentu pula. Sasaran Al-Quran bukan hanya
orang-orang Arab di tanah Hijaz, tetapi seluruh bangsa dari setiap
kaum
dan etnis di dunia ini diseru oleh Al-Quran. Oleh karena itu Al-Quran
sama sekali tak pernah menyeru orang-orang Arab saja: Yaa ayyuhal
Arab, umpamanya. Yang ada di dalam Al-Quran justru seruan-seruan umum
kepada seluruh manusia, seperti Yaa ayyuhan naas, dan sebagainya.
Keempat: Immaterial. Biasanya nabi-nabi lain memiliki mukjizat yang
bersifat materi dan jasmani yang membuat kagum mata dan telinga setiap
orang. Sedangkan Al-Quran adalah ucapan dan kalimat-kalimat yang
terdiri dari huruf-huruf alfabet biasa. Tetapi ia mampu merasuk ke
lubuk hati dan jiwa manusia, membuat akal semua orang terpaksa
mengagungkannya dan menguasai hati manusia.
Kini marilah kita lihat apa saja pelajaran yang dapat kita ambil dari
ayat ini:
1)
Keistimewaan terpenting yang membuat para Nabi memperoleh kelayakan
untuk menerima wahyu, ialah bahwa mereka menghambakan diri hanya
kepada Allah dan berserah diri sepenuhnya hanya kepada-Nya. Oleh sebab
itu, di dalam banyak ayat, Al-Quran menyebut para nabi sebagai
"ibaadinaa" yang artinya: Hamba-hamba Kami. Di
dalam ayat ini Al-Quran mengatakan "Nazzalnaa alaa abdinaa" artinya:
Kami telah menurunkan (Al-Quran) kepada hamba Kami.
2) Al-Quran
adalah kitab pemberi argumentasi dan hujah-hujah dan tidak membiarkan
keragu-raguan. Oleh karena itu Al-Quran mengatakan: Jika kalian merasa
ragu, maka datangkanlah sebuah surah yang menyerupainya.
3) Al-Quran
adalah mukjizat Ilahi yang bersifat kekal abadi yang terus menantang
setiap manusia di setiap zaman dan masa.
4) Islam
adalah agama yang kekal dan universal. Oleh karena itu, mukjizatnya,
yaitu Al-Quran, juga bersifat kekal dan tidak terbatas pada masa dan
generasi tertentu.
5) Kita tak
boleh membiarkan segala bentuk keraguan dan kebimbangan ada di dalam
hati kita sehubungan dengan dasar-dasar agama. Jika muncul syak atau
keraguan di dalam hati kita, maka kita harus segera berusaha
menghapusnya, sehingga tidak akan mengguncang sendi-sendi agama kita.
6)
Sebaik-baik hakim adalah hati dan akal kita sendiri. Ayat ini
mengatakan: jika para pembantu kalian memberikan kesaksian bahwa
sesuatu yang kalian lakukan (ciptakan) itu sama dengan Al-Quran, maka
kami akan menerima. Artinya kami akan menempatkan kalian sebagai juri
penilai.
7) Kebenaran Al-Quran
sedemikian meyakinkan sehingga para penentang mampu mendatangkan
sebuah Surah yang menyamai Al-Quran, maka kami akan menerimanya dan
menempatkannya sebagai ganti seluruh Al-Quran.
|