|
يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاء لَهُم
مَّشَوْاْ فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُواْ وَلَوْ شَاء
اللّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّه عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)
Artinya:
"Hampir-hampir
kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu
menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap
menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya
Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah
berkuasa atas segala sesuatu."
Kilat dan petir di langit adalah tanda turunnya hujan, kebahagiaan,
hijaunya bumi dan kesejahteraan penghuninya. Tetapi ini bukan untuk
semua orang, melainkan hanya untuk mereka yang punya kesiapan untuk
memanfaatkan bekal dan rahmat Ilahi ini, lalu bagaimanakah dengan
seorang musafir yang tertinggal sendirian dalam perjalanan di dunia
ini?
Cahaya redup api
yang dinyalakan oleh orang-orang munafik serta sinar halilintar di
langit yang menakjubkan, kedua-duanya tidak akan menerangi dan
membimbing mereka dalam menempuh perjalanan hidup. Sebab yang pertama
tidak akan lestari dan abadi. Sedangkan yang kedua hanya merupakan
pembawa berita gembira yang bagi mereka hanya akan mendatangkan
bencana. Halilintar di langit yang menakjubkan itu ialah Wahyu Ilahi
yang mana orang-orang munafik tidak punya kesanggupan untuk
menyaksikannya, dan mereka sengaja tidak mau berusaha memperoleh
berkahnya dari Nabi.
Sekalipun mereka
menyatakan ingin memanfaatkan cahaya ini, tetapi kilat ini melenyapkan
penglihatan mereka dan menghapus jalan bagi mereka. Sedemikian rupa
Al-Quran mempermalukan mereka sehingga mereka terpaksa tak sanggup
melanjutkan perjalanan bersama orang-orang mukmin. Mereka tidak punya
jalan untuk maju, tidak pula jalan untuk kembali. Semua ini, tentunya
merupakan akibat dari kemunafikan mereka kepada Allah dan orang-orang
mukmin. Dan seandainya Allah menghendaki hukuman yang sebenarnya
terhadap mereka, niscaya Dia tidak hanya menghentikan perjalanan
mereka, tetapi juga akan melenyapkan pendengaran dan penglihatan
mereka.
Pelajaran-pelajaran yang dapat kita petik dari ayat ini dapat kita
simpulkan pada poin-poin berikut:
1) Orang munafik tidak punya kesanggupan
untuk melihat cahaya Ialhi. Ibarat kilau petir di angkasa, sinarnya
menyilaukan mata mereka.
2) orang munafik tidak memiliki cahaya
dari dalam dirinya, karena itu untuk bergerak dia harus memanfaatkan
bias cahaya orang-orang mukmin.
3) Sekalipun orang munafik adakalanya
menjejakkan kakinya ke depan, dia tetap tidak akan bisa maju dan
terhenti dari gerakan.
4) Orang munafik sewaktu-waktu bisa
mendapat murka Allah karena perbuatan-perbuatan yang ia lakukan.
5) Orang munafik tidak akan bisa menipu
Allah, dan Allah akan memberikannya balasan dan hukuman. Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu.
|