|

"Mereka
tuli (dari ajaran-ajaran yang haq) dan bisu (untuk menyatakan
kebenaran) serta buta (untuk melihat hakekat). Maka mereka tidak
pernah melepas kekufuran dan tidak akan kembali ke arah kebenaran".
Meskipun munafik,
sama seperti orang-orang lain memiliki mata, telinga dan lidah, tetapi
matanya tidak bersedia melihat dan memahami hakekat-hakekat.
Telinganya juga tak ia persiapkan untuk mendengarkan ajaran-ajaran
yang haq, dan lidahnya tak pernah mau mengikrarkan kebenaran risalah
Nabi SAWW. Oleh karena itu, di tempat lain, Al-Quran menyerupakan
mereka dengan binatang yang memang tidak memiliki indera-indera yang
merupakan alat untuk memperoleh pengetahuan yang luas itu. Selain ayat
ini, di dalam ayat-ayat lain.
Al-Quran juga
menggunakan kalimat-kalimat, laa yasy'uruun, laa ya'lamuun, laa
yubshiruun, ya'mahuun dan sebagainya untuk orang-orang munafik.
Kekafiran batin seorang munafik sedemikian kuat menutupi mata, telinga
serta mengelukan lidahnya dan memalingkannya dari hakekat-hakekat,
sehingga sama halnya orang kafir, ia sudah tak mampu lagi membedakan
mana yang haq dan mana yang batil. Pada ayat sebelumnya telah
dijelaskan bahwa dengan hilangnya cahaya iman, kegelapan kufur telah
sedemikian rupa menyelubunginya sehingga ia tidak lagi mampu melihat
sesuatu. Sedangkan ayat ini mengatakan: Bukan hanya tidak mampu
melihat kebenaran, bahkan kemampuan mendengar dan mengucapkan
kebenaran juga sudah hilang dari mereka. Akibat gerak mereka di dalam
kedelapan, maka mereka tidak memperoleh apa-apa selain kejatuhan dan
kebinasaan. Sebuah jalan yang tidak lagi memiliki jalan kembali.
|