|

"Perumpamaan
mereka, yaitu munafikin, seperti orang yang menyalakan api. Ketika api
itu menerangi sekitarnya, Allah menghapus cahaya mereka itu, dan
meninggalkan mereka dalam kegelapan tanpa dapat melihat."
Ayat-ayat yang telah kita pelajari pada pertemuan-pertemuan yang lalu,
menceritakan tentang tingkah laku dan ucapan-ucapan munafikin. Ayat
ini, memberikan perumpamaan orang-orang munafik dengan orang yang
berada di tengah padang pasir gelap lalu menyalakan api untuk
menerangi sekitarnya. Cahaya iman munafik seperti cahaya api, lemah,
tidak tahan lama, disertai dengan asap, abu dan pembakaran. Ia
menampakkan cahaya iman, tetapi di dalamnya tersembunyi api kekafiran.
Cahaya iman yang lemah ini pun sesungguhnya merupakan sinar fitrah
yang bersih yang Allah tanamkan di dalam diri mereka. Namun karena
pengaruh negatif ta'assub dan sifat keras kepala maka secara perlahan
fitrah tersebut semakin melemah. Sampai ketika tirai-tirai kezaliman
dan kebodohan telah menyelimuti seseorang, ia pun menutupi fitrah dan
cahaya iman tadi.
Oleh karena fitrah
dan cahaya iman itu lemah maka jadilah kegelapan kufur menyelubungi
seluruh wujud mereka. Dengan memilih jalan kemunafikan, munafikin
berpikir demikian, yaitu bahwa mereka akan mampu mengambil hati
orang-orang kafir yang ahli naar, juga mengambil hati orang-orang
mukmin yang merupakan ahli nuur. Mereka berusaha mengambil manfaat
dari dunia orang-orang kafir, sekaligus akheratnya orang-orang mukmin.
Oleh sebab itu Al-Quran menyerupakan mereka dengan seseorang yang
menyalakan api untuk menerangi sekitarnya, dimana dengan itu ia telah
mengumpulkan api (yaitu naar) dan cahaya (yaitu nuur yang muncul dari
api itu) sekaligus untuk dapat memanfaatkan keduanya.
Akan tetapi medan
kehidupan, bagaikan padang pasir luas yang gelap, sehingga untuk
menyeberanginya dan melewati bahaya-bahaya yang menghadang, agar
sampai ke tempat tujuan dengan selamat, diperlukan cahaya yang kuat
dan kekal. Karena angin topan berbagai peristiwa di dunia ini, akan
memadamkan api yang lemah, dan menjebak manusia ke dalam kegelapan.
Beberapa poin berikut
ini dapat kita jadikan sebagai pelajaran dari ayat tersebut di atas:
1) Cahaya
yang dimiliki oleh munafik seperti cahaya api yang lemah dan tak tahan
lama.
2) Keberadaan munafik di tengah masyarakat,
merupakan sumber nyala api dan fitnah.
3) Untuk sampai kepada cahaya, munafik
menggunakan api yang nyalanya disertai dengan debu, asap dan
pembakaran.
4) Pada akhirnya Allah SWT menimpakan
kehinaan pada munafik, dan cahaya yang hanya lahiriyah itu pun akan
Allah padamkan.
5) Masa depan munafik gelap dan tak
memiliki harapan untuk selamat.
6) Kemunafikan dan sikap mendua, itu pun
di hadapan Allah SWT sama sekali tidak menunjukkan kecerdikan dan
kepandaian. Tetapi ia adalah sumber kegelapan dan kehancuran. |