Surah Al-Baqarah

 
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40
41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60
61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80
81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100
101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120
121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140
141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160
161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180
181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200
201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220
221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240
241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260
261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280
281 282 283 284 285 286                            

:: Ayat 17 ::

17.gif (1903 bytes)

"Perumpamaan mereka, yaitu munafikin, seperti orang yang menyalakan api. Ketika api itu menerangi sekitarnya, Allah menghapus cahaya mereka itu, dan meninggalkan mereka dalam kegelapan tanpa dapat melihat."


Ayat-ayat yang telah kita pelajari pada pertemuan-pertemuan yang lalu, menceritakan tentang tingkah laku dan ucapan-ucapan munafikin. Ayat ini, memberikan perumpamaan orang-orang munafik dengan orang yang berada di tengah padang pasir gelap lalu menyalakan api untuk menerangi sekitarnya. Cahaya iman munafik seperti cahaya api, lemah, tidak tahan lama, disertai dengan asap, abu dan pembakaran. Ia menampakkan cahaya iman, tetapi di dalamnya tersembunyi api kekafiran. Cahaya iman yang lemah ini pun sesungguhnya merupakan sinar fitrah yang bersih yang Allah tanamkan di dalam diri mereka. Namun karena pengaruh negatif ta'assub dan sifat keras kepala maka secara perlahan fitrah tersebut semakin melemah. Sampai ketika tirai-tirai kezaliman dan kebodohan telah menyelimuti seseorang, ia pun menutupi fitrah dan cahaya iman tadi.

Oleh karena fitrah dan cahaya iman itu lemah maka jadilah kegelapan kufur menyelubungi seluruh wujud mereka. Dengan memilih jalan kemunafikan, munafikin berpikir demikian, yaitu bahwa mereka akan mampu mengambil hati orang-orang kafir yang ahli naar, juga mengambil hati orang-orang mukmin yang merupakan ahli nuur. Mereka berusaha mengambil manfaat dari dunia orang-orang kafir, sekaligus akheratnya orang-orang mukmin. Oleh sebab itu Al-Quran menyerupakan mereka dengan seseorang yang menyalakan api untuk menerangi sekitarnya, dimana dengan itu ia telah mengumpulkan api (yaitu naar) dan cahaya (yaitu nuur yang muncul dari api itu) sekaligus untuk dapat memanfaatkan keduanya.

Akan tetapi medan kehidupan, bagaikan padang pasir luas yang gelap, sehingga untuk menyeberanginya dan melewati bahaya-bahaya yang menghadang, agar sampai ke tempat tujuan dengan selamat, diperlukan cahaya yang kuat dan kekal. Karena angin topan berbagai peristiwa di dunia ini, akan memadamkan api yang lemah, dan menjebak manusia ke dalam kegelapan.

Beberapa poin berikut ini dapat kita jadikan sebagai pelajaran dari ayat tersebut di atas:

1) Cahaya yang dimiliki oleh munafik seperti cahaya api yang lemah dan tak tahan lama.

2) Keberadaan munafik di tengah masyarakat, merupakan sumber nyala api dan fitnah.

3) Untuk sampai kepada cahaya, munafik menggunakan api yang nyalanya disertai dengan debu, asap dan pembakaran.

4) Pada akhirnya Allah SWT menimpakan kehinaan pada munafik, dan cahaya yang hanya lahiriyah itu pun akan Allah padamkan.

5) Masa depan munafik gelap dan tak memiliki harapan untuk selamat.

6) Kemunafikan dan sikap mendua, itu pun di hadapan Allah SWT sama sekali tidak menunjukkan kecerdikan dan kepandaian. Tetapi ia adalah sumber kegelapan dan kehancuran.

 

 

Ke Atas