|

"Mereka itulah yang
membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka tak
mendatangkan untung, dan mereka bukan orang-orang yang mendapat
petunjuk".
Dunia yang kita hidup di dalamnya
ini, bagaikan sebuah pasar. Dan kita semua adalah para pedagang yang
mau tak mau harus menjual modal-modal yang kita miliki, modal berupa
usia, modal akal dan fitrah, ilmu pengetahuan dan kemampuan serta
seluruh potensi yang Allah berikan kepada kita. Di dalam pasar ini,
sekelompok orang memperoleh untung dan kebahagiaan, dan sekelompok
lain mengalami kerugian. Kelompok kedua ini bukan hanya tidak mendapat
keuntungan, bahkan modal pokok mereka juga musnah; bagaikan penjual es
batu yang jika barang dagangannya itu
tidak laku, bukan hanya tidak memperoleh untung, tetapi modal pokoknya
pun mencair dan hilang.
Al-Quran di banyak
tempat, perbuatan-perbuatan baik dan buruk manusia diumpamakan dengan
perdagangan. Sebagaimana di dalam ayat 9 Surah Shaff, iman dan jihad
disebut sebagai perdagangan yang penuh keuntungan. Al-Quran mengatakan
yang artinya:
"Wahai
orang-orang beriman. Maukah Aku tunjukkan kepada kalian kepada sebuah
perdagangan yang akan menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? Yaitu
beriman kepada Allah dan Rasul-NYA, serta berjihad di jalan Allah
dengan harta dan jiwa kalian".
Di dalam ayat 16
Surah Al-Baqarah ini, Munafikin disebut sebagai para pedagang yang
menjual petunjuk dan membeli kesesatan. Mungkin yang dimaksud dengan
ayat ini ialah bahwa mereka itu bahkan telah melepaskan bekal-bekal
fitrah dan potensi-potensi pemberian Allah yang merupakan faktor
hidayah mereka dengan membiasakan diri berbuat dosa dan kemunafikan.
Karena orang-orang Munafik bukanlah orang-orang yang memiliki hidayah
untuk kemudian mereka menjualnya lalu membeli kesesatan.
Bagaimanapun juga,
mereka di dalam perdagangan ini tidak hanya memperoleh kerugian bahkan
mereka tak pernah sampai ke tujuan-tujuan jahat mereka. Karena pada
kenyataannya Islam terus semakin berkembang dan meluas, sementara
mereka semakin terhina.
Kini marilah kita lihat sepintas poin-poin
penting yang dapat kita ambil sebagai pelajara dari ayat mulia ini.
1) Hendaklah kita jangan berpikir hanya
memperoleh keuntungan dalam
perdagangan harta kita saja. Tapi hendaknya kita perhatikan pula,
dengan
apa jiwa dan hati kita, kita jual, dan apa yang kita peroleh darinya?
Apakah
hasil perdagangan kita ini berupa hidayah dan kebahagian? ataukah
kesesatan dan kesusahan?
2) Petunjuk dan kesesatan adalah hasil
perbuatan kita sendiri, bukan
paksaan atau kehendak Allah, bukan pula takdir dan kemauan Ilahi,
tanpa
peran kehendak kita sedikit pun di dalamnya.
3) Nifak, tidak memiliki akhir kecuali
kesesatan dan kerugian. Bertentangan
dengan iman yang membawa manusia kepada kebahagiaan dan kebaikan.
|