|
|
|
|||
|
Tujuan dan Motivasi Kebangkitan Imam Husein as Di hari-hari ini banyak orang berbicara tentang kebangkitan abadi dalam sejarah. Sebuah kebangkitan yang meski telah berusia beberapa abad, namun masih memberikan inspirasi-inspirasi segar kepada setiap manusia yang mau mengambil pelajaran darinya. Pemimpin kebangkitan ini adalah manusia agung yang namanya selalu bergandeng dengan ajaran-ajaran kemanusiaan dan akhlak yang sangat tinggi dan mulia. Di hari-hari ini, nama Husein bin Ali, memancarkan sinar yang menerangi kegelapan sejarah. Jika kita tengok kembali peristiwa-peristiwa tahun 61 H dan peristiwa kebangkitan Imam Husein as, maka akan kita dapatkan berbagai pelajaran mulia tentang perjuangan menegakkan keadilan, menentang kezaliman, menuntut kemerdekaan dan kehormatan. Dalam acara kita ini akan kita pelajari sekilas, motifasi dan tujuan-tujuan kebangkitan bersejarah ini. Sebenarkah motifasi dan tujuan-tujuan apakah yang membuat Imam Husein as, manusia mulia, cucu tercinta Rasul Allah saww ini berdiri menentang kekuatan yang didukung oleh puluhan ribu pasukan militer lengkap, sementara beliau hanya didukung oleh sejumlah kecil pengikut setia. Sebetulnya, kalau mau, Imam Husein as dapat menjalani hidup enak, tanpa kesulitan apa pun, jika beliau bersedia menutup mata dan tidak mengusik kekuasaan para penguasa tiran di zaman beliau dan tidak mencampuri cara hidup sesat dan zalim mereka. Akan tetapi beliau tidak memilih seperti itu; dan lebih memilih melanjutkan perjuangan kakek dan ayahanda serta saudara beliau, untuk bangkit menentang segala macam kemungkaran, dan memperbaiki segala urusan masyarakat, dimana beliau memandang hal itu merupakan kewajiban beliau sebagai seorang pemimpin agama. Untuk itu, tanpa keraguan sedikit pun, beliau maju untuk menjalankan tugas mulia ini, apa pun akibatnya. Imam Husein as, sebagai seorang Imam ma'shum, dan yang mendapat pendidikan agama dengan sempurna dari kakek dan ayah serta ibunda beliau, mengetahui dengan benar, kewajiban atau taklif yang ada di pundak beliau. Dan sebagai seorang hamba Allah yang baik, beliau merasa berkewajiban menjalankan tugas ini, yaitu amar bil ma'ruf dan nahi anil munkar. Situasi yang ada saat itu, telah sedemikian parah, dengan munculnya seorang seperti Yazid sebagai penguasa tertinggi dunia Islam, dengan kemunculan yang sama sekali tidak sah jika diukur dengan tolok ukur apa pun. Karena naiknya Yazid sebagai penguasa tak lain telah dipersiapkan oleh ayahnya, yaitu Muawiyah, padahal telah terjadi perjanjian dan kesepakatan damai antara Muawiyah dan Imam Hasan as, bahwa setelah Muawiyah, maka masalah pemilihan pemimpin muslimin harus diserahkan kepada muslimin, untuk memilih berdasarkan musyawarah atau syura. Akan tetapi Muawiyah melanggar semua isi perjanjian dengan Imam Hasan ini, sebagaimana tercatat dalam sejarah, dan mempersiapkan Yazid, anaknya yang sama sekali tidak memiliki kelayakan dari segala seginya, untuk menggantikannya. Imam Husein as sudah memperkirakan, dan perkiraan beliau inimenjadi kenyataan, bahwa jika seorang seperti Yazid naik menjadi penguasa umat Islam, maka dunia Islam bakal dipenuhi oleh kezaliman, kesesatan, bid'ah dan kejahatan-kejahatan lain yang akan menghancurkan ajaran agama Islam di tengah masyarakat. Melihat kenyataan inilah maka Imam Husein as merasa berkewajiban membendung dan menghancurkan sumber kesesatan ini, meskipun untuk itu beliau harus mengorbankan diri, dalam arti bahwa beliau bakal mari terbunuh di atas jalan tersebut. Dari sikap Imam Husein as ini kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga, yaitu bahwa mula-mula seorang muslim harus mengetahui kewajiban atau taklifnya, dan jika ia sudah mengetahuinya, maka ia harus melaksanakannya dengan penuh ikhlas dan keberanian, serta dengan cara sebaik mungkin, tanpa memperdulikan hasil-hasilnya di dunia ini. Dari satu sisi, Imam Husein as berhadapan dengan sebuah pemerintahan zalim dan iegal yang bakal muncul sebagai sumber kebinasaan ajaran agama Islam di tengah masyarakat luas. Sementara dari sisi lain beliau menyaksikan bahwa umat muslimin sudah terkena penyakit lalai dan kehilangan semangat juang membela kebenaran dan menentang kezaliman. Mereka ini meskipun memiliki kemampuan untuk membedakan kebenaran dan kesesatan, namun cinta dunia dan takut mati sudah menguasai jiwa mereka, sehingga mereka tidak tergerak sedikit pun untuk berbuat sesuatu. Bahkan sebagian besar tokoh masyarakat saat itu justru terseret kepada kesesatan. Mereka bersedia meninggalkan kebenaran dan menggabungkan diri bersama para penguasa zalim, dengan pilihan dan kesadaran sendiri. Hal ini dapat dilihat contohnya pada Umar bin Sa'ad. Ketika ditanya oleh Imam Husein as, di hari Asyura, apa sebab ia memerangi beliau, ia menjawab, "Aku memerangimu demi memperoleh jabatan di kawasan Rey dan ladang serta kebun-kebunnya." Umar bin Sa'ad mengetahui dengan pasti, bahwa Husein adalah cucu Nabi saww dan orang yang berhak untuk duduk sebagai sebagai pemimpin umat muslimin. Akan tetapi ketamakannya terhadap jabatan dan kekayaan duniawi yang sedemikian besar, telah mencegahnya untuk bergabung bersama Imam Husein as. Diyakini bahwa tidak sedikit orang yang bersikap sama seperti Umar bin Sa'ad, baik tokoh yang memiliki pengaruh di tengah masyarakatnya, sebagaimana Umar bin Sa'ad ini, atau yang lebih rendah, hingga masyarakat biasa. Karena sejarah mencatat bahwa pada mulanya banyak muslimin Irak yang menyatakan kesedian untuk mendukung revolusi Imam Husein menentang Yazid. Akan tetapi, sebelum kedatangan Imam Husein ke Irak, Yazid sudah terlebih dahulu mengirim orang-orangnya ke Irak, untuk membuyarkan dukungan warga Irak ini terhadap Imam Husein as, dan meminta mereka itu agar mendukung Yazid. Untuk itu Yazid menggunakan dua jalan, yaitu jalan suap dan iming-iming harta serta kekuasaan. Sedangkan jalan kedua ialah kekerasan, yaitu dengan menangkap dan membunuh siapa saja yang tidak bersedia berbaiat kepada Yazid. Ubaidillah bin Ziyad, panglima tentara Yazid yang ditugaskan untuk menemui Imam Husein as, di Karbala, pada mulanya juga berusaha meminta baiat Imam Husein kepada Yazid, dengan berbagai macam imbalan duniawi, berupa kedudukan dan harta kekayaan. Akan tetapi Imam Husein as tidak bersedia menerima semua bujuk rayu murahan mereka itu. Semangat baja dan harga diri beliau tidak mengijinkan beliau menjulurkan tangan baiat kepada Yazid, hanya untuk kehidupan senang beberapa hari di dunia, di samping para penguasa zalim ini. karena baiat kepada Yazid, dalam kondisi seperti saat itu, berarti justifikasi atau pengesahan pemerintahan ilegal dan zalim. Imam Husein as meyakini bahwa hidup akan memberikan kebahagiaan dan kemuliaan jika ia berjalan di bawah naungan keadilan Ilahi, dan di atas jalan yang telah Allah tentukan. Imam Husein as memberikan pelajaran yang sangat indah, yaitu, pada saat kezaliman dan kesesatan menguasai kehidupan masyarakat, sementara keadilan dan kebaikan menghadapi kehancuran, maka seseorang harus bangkit dan mengorbankan semua kepentingan dirinya demi kemaslahatan masyarakat luas dan menghidupkan ajaran-ajaran agama yang hakiki. Meskipun untuk itu seseorang harus mengorbankan kehidupannya. Kadang kala muncul kondisi dalam kehidupan, dimana seseorang bersedia menerima segala macam kehinaan dan keburukan, demi mencapai kesenangan duniawi atau mempertahankan kesenangan hidupnya. Akan tetapi watak seperti ini menunjukkan bahwa manusia seperti itu jelas manusia yang tidak memiliki harga diri. Karena jika ia memiliki jiwa mulia dan harga diri yang tinggi, ia tidak akan pernah bersedia menerima kehinaan dan kerendahan dalam bentuk apa pun. Jika kita pelajari sejarah peristiwa Karbala maka kita akan melihat, bahwa sejak awalnya, Imam Husein as telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Jika tidak karena pengkhianatan sebagian tokoh Kufah, yang sebelumnya telah menulsi surat kepada beliau menyatakan siap mendukung beliau memerangi Yazid, kemudian mereka berbalik memerangi beliau, maka peristiwa Karbala tidak akan berakhir sedemikian tragis, bahkan bisa jadi Imam Husein as akan berhasil menyingkirkan penguasa ilegal dan lalim ini. Beliau pun tidak pernah berhenti memberikan nasehat-nasehat yang sangat berharga, mengingatkan pihak musuh untuk menyadari kesesatan mereka. Yang jelas, semua kewajiban telah beliau laksanakan dengan sebaik-baiknya, akan tetapi manusia-manusia itu tidak mau menerima dan memilih jalan sesat mereka sendiri. Maka berlakulah apa yang telah berlaku di padang Karbala. Pengorbanan Imam Husein as dan para pengikut setia beliau ini tidak berakhir dengan sia-sia. Umat muslimin tersentak dari kelalaian mereka dari kewajiban menjaga kesucian agama. Sentakan-sentakan ini terus berlanjut hingga kini, setiap kali kali seorang muslim sejati mengenang peristiwa bersejarah ini, terutama di hari-hari bulan Muharram yang suci ini. Ketika usia Imam Husein mencapai dua tahun, Nabi saww keluar untuk suatu perjalanan. Sesampainya di suatu tempat, beliau berhenti dan mengucapkan “innaa lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Para sahabat bertanya tentang sebab ucapan beliau itu. Beliau menjawab, ”Inilah Jibril as, memberitakan kepadaku tentang suatu tanah di tepi sungai Furat yang bernama Karbala. Di situ akan terbunuh cucuku Husein putra Fatimah.” Mereka bertanya, “Siapakah yang akan membunuhnya wahai Rasul Allah?’ Beliau menjawab, “Seorang lelaki bernama Yazid. Allah tidak akan memberkatinya. Sekarang ini seolah aku menyaksikan peristiwa tersebut dan tempat ia dimakamkan. Sedangkan kepalanya telah dijadikan sebagai barang hadiah. Demi Allah, tak seorang pun yang menyaksikan kepala anakku ini, kemudian ia merasa senang akan hal itu, maka Allah akan menolak agamanya.” Setelah itu Rasul Allah saww kembali dari perjalannya dalam keadaan sedih. Kemudian beliau naik ke mimbar dan berkhutbah memberikan nasehat-nasehat. Sementara itu Husein as berada di depan beliau bersama Hasan. Setelah selesai berkhutbah, beliau meletakkan tangan kanan beliau di kepala Husein dan menengadahkan kepala ke langit, dan berkata, ”Ya Allah, aku Muhammad, hamba-Mu dan Nabi-Mu, dan kedua anak ini adalah keturunan terbaikku, buah hatiku dan pewarisku setelahku. Ya Allah, Jibril telah memberitahuku bahwa anakku ini akan terbunuh dan terhina di dunia. Ya Allah berkatilah aku dalam kematiannya, dan jadikanlah ia sebagai pemimpin para syuhada. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, janganlah Engkau berkati pembunuh dan penghinanya … … Demikian seterusnya Rasul Allah saww mengadukan peristiwa pembunuhan Imam Husein kepada Allah swt … … Perawi riwayat ini mengatakan, semua orang yang mendengar khutbah Rasul saww di dalam masjid ini menangis dan suara tangisan mereka memenuhi seluruh ruangan masjid hingga ke luar. Rasul Allah saww berkata, “Apakah kalian menangis saat ini tetapi kalian tidak menolongnya? Ya Allah jadilah Engkau penolong dan pemberinya kemenangan.” Peristiwa khutbah Rasul Allah saww ini diyakini sebagai upacara aza’ atau kesedihan berkenaan dengan pembantian Imam Husein as oleh musuh-musuhnya di Karbala, yang pertama kali diselenggarakan oleh Rasul Allah saww sendiri. Sedangkan upacara-upacara kesedihan yang berlangsung hingga kini tak lain mengikuti sunnah Rasul tersebut.
|
||||
|
|
||||
|
Aktifkan sound untuk mendengar background midi |
||||