|
|
|
|||
|
Peringatan Asyura di Indonesia Hingga kini, mayoritas muslim Indonesia menyambut tibanya bulan Muharram dengan sukacita karena bulan ini menandai pergantian tahun Hijriah-Qamariah. Akan tetapi, seiring dengan makin dikenalnya madzhab Ahlul Bait, semakin banyak pula ummat Islam yang mulai mengenal bulan Muharram ini dari dimensi lainnya, yaitu dimensi kesedihan. Pada bulan inilah terjadinya peristiwa tragis sepanjang sejarah, yaitu tragedi Asyura. Kalau kita menyebut peringatan Asyura, yaitu peringatan atas tragedi gugurnya Imam Husein beserta keluarga dan sahabatnya di Padang Karbala, biasanya yang terlintas di benak kita adalah komunitas para pengikut madzhab Ahlul Bait, atau dikenal juga dengan nama Syiah. Dan berbicara tentang Syiah di Indonesia tentu saja tidak bisa dilepaskan dari Revolusi Islam Iran tahun 1979 yang dipimpin Imam Khomeini. Akan tetapi, berbagai fakta sosiologis menunjukkan bahwa peristiwa Asyura itu sudah dikenal sangat lama dan telah menjadi tradisi ummat Islam, meskipun mereka bukanlah pengikut mazdhab Ahlul Bait. Di Jawa misalnya, kita mengenal jenis penganan bernama Bubur Suro. Di Aceh ada Kanji atau Bubur Asyura. Di Bengkulu dan Padang Pariaman, Sumatra Barat, ada upacara Hoyak Tabuik (Tabut) atau dikenal juga dengan upacara Hoyak Husain. Bahkan masyarakat Jawa dan juga masyarakat lainnya menyebut bulan Muharram dengan sebutan bulan Suro. Para ahli bahasa sepakat bahwa istilah ini berasal dari kata Asyura yang berarti hari kesepuluh bulan Muharram, yaitu hari terjadinya pembantaian terhadap Imam Husain. Bubur Suro di Jawa atau Kanji Asyura di Aceh yang dibuat dalam dua wama, merah dan putih, mempunyai makna darah dan kesucian. Merah melambangkan darah Imam Husain dan keluarganya yang tumpah di Karbala. Merah juga melambangkan keberanian pasukan Karbala melawan penguasa zalim. Sementara putih melambangkan kesucian diri dan perjuangan Imam Husain melawan kezaliman. Biasanya Bubur Suro atau Kanji Asyura ini diberikan kepada sanak keluarga, kerabat, fakir miskin, terutama anak-anak, atau bahkan dibawa ke masjid dan balai desa untuk disantap bersama sebagai lambang kasih sayang kepada keluarga Imam Husain yang menderita karena ditinggal pengayom-pengayom mereka. Upacara Hoyak Tabuik atau mengarak tabut hingga kini dilaksanakan masyarakat. Padang Pariaman di Sumatra Barat dan masyarakat Bengkulu. Upacara mengarak tabut atau keranda itu adalah perlambang dari keranda jenazah Imam Husain yang gugur di Padang Karbala. Upacara tersebut dimulai dari hari pertama Muharram hingga hari kesepuluh, dan ini memiliki kemiripan dengan yang dilakukan masyarakat Syi'ah, di berbagai negara. Ada keyakinan cukup kuat pada sebagian masyarakat Padang Pariaman dan Bengkulu bahwa jika mereka tidak melakukan ritual ini, mereka akan mendapat bencana. Hoyak Tabuik dimulai dari tanggal 1 Muharram, yaitu dengan mengambil lumpur dari sungai di tengah malam. Para pengambil lumpur harus berpakaian putih. Lumpur dikumpulkan ke dalam periuk yang ditutup kain putih, kemudian dibawa ke sebuah tempat yang disebut Daraga, sebuah tempat berukuran 3x3 meter. Daraga juga ditutup kain putih. Pengambilan lumpur melambangkan pengumpulan bagian-bagian tubuh Imam Husain yang terpotong. Daraga melambangkan makam suci Imam Husain, sedangkan kain putih adalah perlambang kesucian Imam Husain. Pada tanggal 7 Muharram, persis di tengah hari, ada upacara mengarak panja atau imitasi potongan jari-jari Imam Husain yang sudah dibuat sebelumnya. Panja ke jalan-jalan dalam sebuah belanga bersama dengan Daraga. Pada hari kesembilan Muharram, serban atau penutup kepala wama putih yang melambangkan serban Imam Husain diarak ke jalan-jalan untuk menunjukkan betapa hebatnya Imam Husain dalam membela Islam. Pada tanggal 10 Muharram, ritual Tabuik mencapai puncaknya. Di pagi hari, Tabut yang sudah dipersiapkan sebelumnya, Daraga, Panja dan serban diarak keliling kota dalam suatu pawai besar yang disaksikan oleh ribuan bahkan puluhan ribu penonton yang datang dari berbagai penjuru. Orang-orang pun berkabung dan berteriak: Hoyak Tabuik dan Hoyak Husain. Sore hari menjelang matahari terbenam saat arak-arakan selesai, semua benda-benda di atas diarak ke laut kemudian dibuang di tengah laut, lalu mereka pulang sambil melantunkan kata-kata seperti, ya Ali dan ya Husain. Tidak ada catatan sejarah yang pasti mengenai asal muasal ritual Hoyak Tabuik dan berbagai tradisi lainnya yang terkait dengan Asyura tersebut. Akan tetapi, ada yang memperkirakan bahwa tradisi tersebut kemungkinan besar dibawa oleh tentara Inggris yang direkrut dari orang-orang Syiah India. Tentara Syiah India itu dikenal dengan nama Sipah atau Sipahi. Sebagaimana diketahui, sewaktu Stanford Raffles berkuasa di Bengkulu tahun 1818, banyak orang Sipahi didatangkan sebagai tentara bayaran untuk mempertahankan daerah jajahan Inggris itu. Dan orang-orang Sipahi yang dikenal sebagai pengikut Syiah itu, setiap tahun selalu mengadakan peringatan Asyura dengan cara menyelenggarakan acara Tabot alias Tabuik, untuk menunjukkan rasa cinta-kasih terhadap Imam Husein. Pasca kekuasaan Raffles, yang berkuasa di Indonesia adalah penjajah Belanda. Dicapailah kesepakatan antara pemerintah Inggris dan Belanda, yang salah satunya keharusan tentara Inggris angkat kaki dari Bengkulu. Saat itu, Sipahi diberi kebebasan untuk memilih jalan sendiri-sendiri. Sebagian di antara mereka terdampar ke Pariaman. Hal ini bisa dimaklumi, karena pada waktu itu pesisir barat Sumatera merupakan jalur pelayaran-perniagaan yang menggiurkan dan ramai dikunjungi para pedagang, dalam maupun luar negeri. Yang pasti, berabad-abad lamanya, kaum muslimin Indonesia mempraktekkan tradisi membuat penganan dan mengarak tabut tersebut, tanpa menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah bentuk lain dari peringatan Asyura. Setelah madzhab Syiah dalam bentuknya yang utuh mulai dikenal, maka banyak yang baru sadar bahwa apa yang dilakukan kaum muslimin Indonesia itu terkait dengan tragedi paling dahsyat dalam sejarah manusia, yaitu tragedi Karbala. Kini, setelah Revolusi Islam Iran meraih kemenangan serta semakin banyak muslim Indonesia yang menganut madzhab Ahlul Bait, ritual Asyura sudah menemukan bentuknya yang sangat jelas, tidak lagi hanya berupa simbol-simbol. Para pengikut madzhab Ahlul Bait di Indonesia memperingati Asyura dengan tata cara yang mirip dengan yang diselenggarakan di Iran, atau bahkan di tempat peristiwa itu terjadi, yaitu Karbala, Irak. Peringatan Asyura itu sekarang bisa disaksikan di hampir seluruh kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogjakarta, Semarang, Malang, Medan, Makasar, dan kota-kota lainnya. Dalam acara itu, selain dibacakan doa-doa, juga diceritakan ulang detik demi detik peristiwa memilukan yang terjadi di Karbala. Pembacaan ulang peristiwa itu disebut maqtal. Selain itu, dibacakan syair-syair ungkapan kedukaan yang disebut ma'tam. Karenanya, bisa dimaklumi jika selama peringatan berlangsung, jemaah yang hadir tak kuasa membendung air mata mengenang penderitaan dan perjuangan Husein. Sembari berdoa, mereka bersujud memohon kepada Allah agar diberikan kemampuan menerima cobaan seperti yang dilakukan putra Ali bin Abi Thalib tersebut.
|
||||
|
|
||||
|
Aktifkan sound untuk mendengar background midi |
||||