Peristiwa ‘Asyura dalam Syair-Syair Persia

 

Wahai Husein, aku menyayangi pepohonan

Karena mereka selalu berdiri tegak

sebagai tanda penghormatan kepadamu

Aku sayangi air yang mengalir,

karena ia selalu mengalirkan cinta bagimu

Aku dambakan darah merah yang mengalir di tubuhmu

Aku pandang terus garis lazuardi

Karena di sanalah engkau sering tumpahkan kerinduan

Pada Allah, Kekasihmu

Di ufuk timur nan merah membara

Di pagi subuh itu,

kulihat engkau sedang melakukan shalat, wahai Husein

Shalat shubuh terakhirmu,

sebelum engkau reguk cawan syahadah

Di hari Asyura

Sudah berabad-abad lamanya kaum muslimin pecinta Ahlul Bait Rasul melewati Muharam demi Muharam dengan kesedihan dan ratapan. Di bulan itulah pada tanggal 10 tahun 61 Hijriah, cucu kesayangan Rasulullah SAWW, Imam Husein bin Ali a.s. gugus syahid dibantai oleh pasukan bengis Ubaidillah bin Ziad. Orang kepercayaan Yazid bin Muawiyah itu bahkan membunuh keluarga dan para sahabat Imam Husein. Para wanita dan anak-anak keluarga Muhamad Al-Mustafa yang masih hidup digiring dan dirantai bak tahanan atau budak.

Berbagai peristiwa yang mewarnai peristiwa Asyura ini memang penuh dengan elegi dan kegetiran. Secara umum, kisah pembantaian keluarga suci Nabi yang dilakukan oleh ummatnya sendiri adalah sebuah tragedi yang sangat dahsyat. Belum lagi kisah tentang kehausan, panasnya gurun yang menyengat, pembantaian, pemenggalan, dan pengarakan kepala tanpa badan. Semuanya adalah kisah yang mau tidak mau akan menyentuh hati manusia yang normal.

Dalam satra Persia, kita mengenal istilah ratsa yang merujuk kepada karya sastra yang berisikan ratapan atas kesedihan yang sangat emosional. Dalam kesusastraan dunia, kita mengenal istilah elegi bagi karya sastra jenis ratsa ini. Setiap orang pasti pernah merasakan kesedihan dalam hidupnya. Banyak sastrawan yang meyakini bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak pernah menumpahkan kesedihannya lewat kata-kata. Menurut mereka, pada saat seseorang menumpahkan kesedihannya lewat kata-kata itu, ia sebenarnya tengah menciptakan karya sastra jenis elegi ini.

Dalam kesustraan Persia, ratsa atau elegi memiliki tempat yang khusus karena mayoritas pengguna bahasa ini adalah orang Iran yang kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Syiah. Para pengikut Ahlul Bait Nabi pastilah lebih bisa meresapi makna dari peristiwa tragis yang menimpa para imam mereka yang berasal dari keluarga suci Nabi. Peristiwa tragis Asyura yang menimpa Imam Husein a.s. dan keluarganya di Padang Karbala jelas menempati posisi paling signifikan dari karya-karya elegi sastrawan Iran.

Kami ajak Anda kini menyimak terjemahan bebas dari sebuah syair terkenal tentang peristiwa Karbala yang ditulis oleh penyair kontemporer Iran bernama Mohtasham Kashani

Oh, tragedi apakah ini yang menimpa alam semesta?

Ratapan apakah ini yang terus mengiringi kegetiran dan kepedihan?

Kiamat dahsyat apakah ini yang mengguncang bumi terhampar?

Kiamat yang tanpa kebangkitan ruh dari bumi ke langit yang perkasa

Peristiwa ini bernama Muharram, tidaklah berbeda dengan kiamat yang nyata

Dalam syairnya tadi, Mohtasham menyamakan tragedi Karbala dengan peristiwa kiamat alam semesta. Bagi Mohtasham, yang terguncang oleh peristiwa Asyura bukan saja kaum muslimin atau ummat manusia saja, melainkan juga seluruh alam semesta ini. Dalam bait-bait selanjutnya, Mohtasham bahkan menyebut para malaikat dan benda-benda mati turut berduka cita atas syahadahnya Imam Husein itu.

Detail-detail peristiwa Asyura sendiri termasuk salah satu tema yang sangat sering diangkat oleh para penyair dalam karya-karya sastra mereka. Dari sisi ini, Asyura tidak hanya dimaknai sebagai sebuah sebuah peristiwa, melainkan sebuah pementasan drama di arena sejarah. Simaklah terjemahan bebas bait syair berikut ini.

Bibirku memutih pucat

Berikan padaku air pelepas dahaga

Tuangkan di atas cawan mentari yang panas menyengat

Wahai sahabat, biarlah aku rasakan kehausan Husein

Jawablah rasa kehausan akan cinta yang ada pada diriku

Dengan pedang tajam yang mengiris kerongkongan

Setelah Revolusi Islam di Iran di bawah pimpinan Imam Khomeini meraih kemenangannya, syair-syair tentang Asyura semakin banyak dibuat oleh para penyair Iran. Fenomena baru yang muncul di Iran sejak kemenangan revolusi terkait syair-syair Asyura ini adalah eksploitasi atas nilai perjuangan yang ada pada persitiwa itu. Simaklah terjemahan syair berikut ini.

Ukuran segala sesuatu adalah keserasiannya dengan hak atau batil

Pedang yang memisahkan kepala dari badanmu

Adalah pemisah segala hal di alam ini

Siapapun yang berlari menghampirimu

Ia menjadi seorang berjiwa Husein

Adapun yang lari darimu adalah seorang Yazid sejati

Pada masa kini, kita akan dengan mudah menemukan syair-syair tentang Imam Husein yang dibuat dengan nuansa perjuangan. Kebangkitan Imam Husein di hari Asyura itu bersifat abadi, dan itulah yang direkam oleh para penyair masa kini. Mereka dalam syairnya itu mengajak manusia untuk mengikuti jejak langkah Imam Husein tersebut.

Padang pasir dan kuda telah tersedia

Mari kita berangkat

Karbala telah menunggu kita

Ayo kita pergi

Berhentilah sejenak

untuk mengenang kebangkitan Zainab

Ke arah peristiwa yang hakiki, di Karbala sana

Mari kita pergi

 

 

 

Aktifkan sound untuk mendengar background midi