Kehidupan Manusia dalam Pandangan Imam Husein a.s.

Asyura adalah sebuah pementasan drama dalam sejarah perjanalan ummat manusia. Ummat manusia hingga kini masih bisa menggambarkan berkelebatannya warna-warni indah dari epik perjuangan Imam Husein di hari Asyura. Imam pada saat itu menunjukkan keinginan untuk hidup secara benar, keinginan menegakkan hak dan keadilan, serta upaya menggapai kemuliaan dan kehormatan hidup sebagai seorang manusia. LM Boyd, seorang penulis Barat yang pernah menghadiri salah satu upacara duka peringatan Asyura ini menulis demikian.

“Sepanjang sejarah, manusia selalu mencintai orang-orang yang memiliki keberanian, keagungan, dan berjiwa besar. Dengan adanya sifat fitri inilah kehendak untuk bebas dan tegaknya keadilan tidak akan pernah mungkin padam dalam jiwa manusia. Dari sisi inilah perjuangan Imam Husein di Padang Karbala 14 abad yang lalu senantiasa dikenang dan dihormati oleh ummat manusia hingga hari kiamat nanti, karena Imam Husein dan para sahabatnya telah menampilkan berbagai sifat yang dicintai oleh sifat fitri manusia

Dari fakta tadi, ada beberapa pertanyan yang seharusnya kita ajukan. Pertama, dari mana sifat-sifat itu bisa dimiliki oleh Imam Husein. Kemudian, bagaimana sebenarnya Imam Husein memandang hidup ini.

Secara ringkas sebenarnya bisa kita katakan bahwa cara Imam Husein memandang kehidupan ini persis sama dengan cara pandang Islam terhadap kehidupan manusia. Hal itu bisa dibuktikan dengan melihat semua kata-kata dan perilaku Imam Husein yang semuanya sesuai dengan ajaran agama Islam yang suci. Imam Husein memang layak menjadi orang seperti itu karena beliau memang lahir dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga suci Nabi. Ayahandanya adalah Ali, ibunya Fathimah, dan kakeknya adalah makhluk termulia di seluruh jagad raya, yaitu Nabi Muhamad SAWW.

Imam Husein meyakini bahwa hidup ini akan terasa indah jika dijalani dengan kemuliaan dan kehormatan. Bagi Imam Husein, kehidupan adalah anugerah paling besar yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Untuk itu, setiap upaya untuk menghancurkan kehidupan harus dilawan. Jadi, dalam pandangan Imam Husein yang juga merupakan pandangan Islam, kezaliman bukan hanya berbentuk pada perilaku aktif melakukan penyiksaan atau pembunuhan terhadap orang lain, akan tetapi bisa juga mengambil bentuk kepasifan dalam menghadapi kezaliman yang dibuat orang lain terhadap kita. Imam Husein meyakini bahwa orang yang tidak berbuat apa-apa menghadapi kezaliman pada hakikatnya tidak menghargai anugerah hidup yang diberikan Allah kepada-Nya.

Al-Quran juga menyatakan demikian. Dalam surah An-Nisa ayat 97, diceritakan tentang orang-orang yang digiring masuk ke neraka, padahal mereka tidak melakukan kezaliman kepada orang lain, bahkan justru merekalah yang awalnya dizalimi oleh orang lain. Dosa mereka justru karena tetap berdiam diri tanpa memberikan reaksi atau antisipasi atas kezaliman yang ditimpakan oleh orang lain. Simaklah dialog mereka dengan para malaikat sebagaimana yang terekam dalam ayat Al-Quran berikut ini.

“Kepada mereka yang diambil nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (di akherat nanti) para malaikat akan bertanya, “Bagaimanakah keadaan kalian dahulu?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri kami.’ Para malaikat kembali bertanya, ‘Bukankah bumi Allah itu luas hingga kalian dapat berhijrah?’ Sungguh tempat kembali mereka adalah neraka Jahanam, dan itulah tempat yang paling buruk”

 

Hal lain yang membuat Imam Husein sangat membela kelangsungan hidup adalah karena bagi beliau, hidup di dunia adalah sarana untuk menggapai kesempurnaan hidup. Jika nyawa terlepas dari badan, seseorang tidak lagi memiliki kesempatan untuk meniti kesempurnaan hidup. Akan tetapi, justru dari sisi inilah Imam Husein akan melakukan apa saja jika hal itu memang menjadi syarat bagi pencapaian kesempurnaan hidup, termasuk kematian itu sendiri. Dan inilah yang dibuktikan oleh Imam Husein di Padang Karbala

Dalam berbagai kesempatan, berkali-kali Imam Husein menyatakan ia akan tetap bersikerasan untuk tidak menyerah kepada kezaliman pihak musuh, meskipun resikonya adalah kematian. Menurut Imam Husein, syahadah atau kematian di jalan Allah justru adalah jalan paling pintas untuk menggapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup yang abadi. Di Padang Karbala, di detil-detik terakhir menjelang pembantaian atas dirinya, Imam Husein bersyair, “Aku melihat kematian sebagai kebahagiaan, sedangkan hidup bersama orang-orang zalim adalah kehinaan dan kesusahan”.

Cara pandang Imam Husein seperi ini kemudian diikuti oleh para sahabat dan keluarganya yang gugur syahid bersamanya di hari Asyura. Menurut para ulama, 72 sahabat dan keluarga Imam Husein yang menyertainya di hari yang tragis itu memang orang-orang pilihan. Hanya mereka yang memiliki pemahaman sekaligus meresapi hakikat kehidupan seperti yang dimiliki oleh Imam Husein sajalah yang dimungkinkan bisa menyertai Imam Husein.

Karbala dan Asyura adalah sebuah tragedi yang sangat dahsyat sekaligus agung. Para pelaku dalam drama sejarah itu adalah orang-orang yang merupakan simbol dari puncak kebaikan dan puncak dari keburukan. Musuh-musuh Imam Husein yang tega membantai keluarga Nabi di Karbala adalah personifikasi dari makhluk-makhluk yang sama sekali tidak memahami atau tidak mau faham akan makna hidup. Sementara itu, Imam Husein dan para sahabatnya adalah contoh dari orang-orang yang sangat faham bahkan sudah sampai kepada menjalani makna hidup yang bahagia.

 

 

 

 

Aktifkan sound untuk mendengar background midi