Meninjau Peringatan Asyura di Iran

Atmosfer udara Iran tiba-tiba berubah ketika bulan Muharam tiba. Suasana getir bercampur dengan gejolak kerinduan kepada Imam Husein menyeruak membelah angkasa negeri kaum mullah ini. Datanglah ke Iran. Lihatlah, betapa di berbagai pelosok Iran kita menyaksikan orang-orang mulai berpakaian serba muram dan kelabu. Spanduk, baliho, pamflet, dan lain-lain tersebar di mana-mana bertuliskan kata-kata kenangan pahit atas peristiwa Karbala. Merah dan hitam, dua warna yang melambangkan darah, semangat, kemarahan, kesedihan, dan kefanaan, terlihat di mana-mana.

Peristiwa itu sebenarnya terjadi sekitar 14 abad yang lalu, tepatnya tanggal 10 Muharam tahun 61 Hijriah. Akan tetapi, begitu heroik, dahsyat, dan agungnya peristiwa tersebut hingga segala yang terjadi pada hari itu selalu dikenang oleh  para pecinta keadilan. Peristiwa yang puncaknya hanya berlangsung beberapa jam itu memang mengandung ribuan ajaran dan konsep kebaikan. Asyura adalah buku suci yang lembaran halamannya tidak ada akan ada habis-habisnya.

Di tahun-tahun awal semenjak peristiwa ‘Asyura itu berlangsung, para pengikut Ahlul Bait memang tidak bisa mengenangnya secara bebas. Rezim represif Bani Umayah tidak memperbolehkan segala bentuk aktivitas untuk mengenang keagungan keluarga Rasulullah, dan itu juga berarti mengenang kebobrokan musuh Ahlul Bait, yaitu para penguasa Bani Umayah. Barulah ketika terjadi pergantian kekuasaan dari Bani Umayah kepada Bani Abbasiah, upaya untuk mengenang Asyura itu mulai bisa dilakukan. Kesempatan itu dipergunakan secara baik oleh Imam Ja’far Ash-Shadiq. Beliau lalu mengajarkan kepada para pecinta Ahlul Bait tata cara mengenang peristiwa Ahlul Bait sekaligus menerangkan nilai-nilai yang terkandung dalam pada peristiwa itu.

Nilai-nilai ini senantiasa diajarkan oleh para imam dan ulama kepada kita semua. Jadi, peringatan Asyura bukanlah aktivitas meratapi kesedihan atas peristiwa berabad-abad lalu yang tidak memberikan pelajaran positif kepada kita. Semangat untuk menggali nilai perjuangan dan penegakan keadilan yang diajarkan oleh Imam Husein ternyata juga dipahami oleh orang Kristen. Simaklah penuturan Sarkesian, seorang penganut Kristen Ortodoks di Teheran berikut ini.

“Setiap kali bulan Muharam tiba dan saya melihat warga muslim di Iran ini meperingati hari duka Karbala, saya bisa langsung merasakan keagungan yang terpancar dari pribadi Imam Husein. Kami memang bukan orang Islam. Akan tetapi, kami punya kecintaan dan rasa hormat yang sangat tinggi kepadanya. Kami memandang Imam Husein sebagai seorang pemimpin perjuangan untuk menegakan keadilan dan kebebasan. Kami sering menerima makanan yang biasa dibagikan saat peringatan Asyura berlangsung. Makanan itu kami simpan agar kami bisa mengambil berkah dari Imam Husein”.

Di sejumlah kawasan Iran, terutama di kawasan-kawasan bergurun, peringatan Asyura dilakukan dengan cara-cara yang khas. Ada yang tiada henti memukul-mukul tambur, ada juga yang mengusung peti mati buatan. Semuanya adalah simbol dari suasana duka yang sedang mereka rasakan. Tapi, semuanya juga mengandung simbol lain berupa ajaran perjuangan yang diambil dari peristiwa Asyura.

Suasana peringatan Asyura mulai semakin terasa sejak tanggal 7 Muharam. Sejak hari itu hingga tanggal 10 Muharam, rakyat Iran mulai turun ke jalan sepanjang hari sejak pagi hingga malam harinya. Mereka umumnya membawa memukul-mukul tambor sambil membacakan syair-syair kesedihan dan perjuangan. Mereka turun ke jalan membentuk kelompok-kelompok. Selama empat hari itu, jalanan-jalanan di seluruh pelosok Iran akan ramai dengan orang-orang yang meratapi kesedihan.

Inilah salah satu bait syair yang dibacakan saat mereka memperingati Asyura itu.

Husein adalah manifestasi kebebasan dan pembebasan

Berbahagialah mereka yang mengikuti ajaran Husein ini

Ia katakan kepada kita semua

Jangan lakukan kezhaliman kepada siapapun

Dan jangan mau dizalimi oleh siapapun

Inilah ajaran mulia Husein tercinta

Dan inilah ajaran agama Islam yang mulia

Warga Khurasan di timur laut Iran pada malan Asyura mengadakan acara khas yang disebut dengan malam penyalaan lilin. Pada malam itu, siapa saja yang memasuki Huseiniah, ia akan menyalakan lilin di tempat yang sudah disediakan serta meletakkan sejemput gula batu di talam besar yang juga sudah tersedia. Semua itu dilakukan sebagai simbol keinginan untuk menjadikan malam agar tetap bercahaya. Kalau bisa, malam tetap memanjang agar hari esok tidak tiba, karena esok hari adalah kesedihan dan ratapan paling memilukan.

Di kawasan Sari dan Semnan, warga pedesaan mengadakan upacara khas bernama “Subh-e Tireh”, yang artinya waktu pagi yang hitam kelam. Mereka keluar rumah dan turun ke jalan secara berkelompok pagi dini hari selepas menunaikan ibadah shalat subuh di hari Asyura. Kemudian mereka membacakan syair-syair kesedihan mengenai pagi paling memilukan sepanjang sejarah ummat manusia. Dengarkanlah salah satu petikan syair-syair itu.

Wahai pagi yang paling hitam kelam

Dengan wajah apakah engkau akan menjadi terang di hari ini?

Tahukah engkau bahwa semua sudut hari ini penuh dengan kesedihan

Tahukah engkau bahwa hari ini, kehausan Husein akan memuncak

Tahukah engkau bahwa di saat itu, leher Husein yang kering kerontang

Akan dipenggal kaum durjana

Salah satu tradisi Asyura lain yang mulai berlaku di Iran sejak revolusi Islam Iran meraih kemenangannya adalah shalat zhuhur berjamaah yang dilakukan di tempat terbuka. Hal itu dilakukan untuk mengenang shalat berjamaah terakhir yang dilakukan oleh Imam Husein di Padang Karbala sebelum akhirnya, ia menjemput syahadah di hari itu.

Saudara, itulah tadi pembahasan kami mengenai suasana peringatan Asyura di sejumlah kawasan Iran, dan semuanya merupakan ekspresi kecintaan orang kepada Imam Husein

Siapakah Husein yang membuat seluruh alam tergila-gila?

Lilin apakah ini yang menarik jiwa semua orang menjadi kupu-kupu baginya?

 

 

 

 

 

Aktifkan sound untuk mendengar background midi