Perspektif    

  Agustus 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Upaya Global Penanganan AIDS

 

Saat in diketahui sekitar 42 juta orang telah tercemar oleh virus HIV. Lebih dari 2 per 3 dari angka tersebut berada di negara-negara bagian selatan Benua Afrika. Penyakit ini sudah sedemikian menyebar di kawasan tersebut, sehingga dari setiap tiga orang dewasa, satu orang telah terjangkit virus ini. Melihat bahwa setiap hari, 14.000 orang di seluruh dunia, bergabung ke dalam barisan mereka yang terkena virus ini, maka dikhawatirkan HIV akan menguasai pula benua Asia. Bagaimana mungkin di dunia moderen kita ini, virus dapat menyebar sedemikian cepat? Adakah cara untuk menangani penyakit berbahaya ini?

 

          Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, lebih dari 5.000 pakar masalah AIDS, dan para pemimpin berbagai negara dunia bertemu di Sidney, Australia, dalam sebuah konferensi bernama Konferensi Internasional AIDS. Para peserta pertemuan tersebut mempelajari berbagai upaya yang telah dilakukan untuk menangani penyakit ini di berbagai negara, dan proses kemajuannya. Dalam upacara pembukaan Konferensi tersebut, mula-mula diingatkan bahwa saat ini du seluruh dunia, kaum perempuan dewasa dan remaja, merupakan kelompok yang paling rentan terhadap virus HIV. Sebagaimana dapat dilihat bahwa 2/3 para penderita AIDS di Afrika terdiri dari kaum perempuan, dimana mayoritas mereka menerima virus ini dari teman seksnya.

 

          Kaum perempuan di negara-negara termiskin di dunia tidak memiliki kontrol terhadap kehidupan mereka sendiri. Dan ketika diketahui bahwa seorang peremuan terkena virus ini maka hal itu akan dipandang sebagai aib dan sumber kehinaan bagi keluarga atau masyarakat sekitarnya. Di beberapa kota India dan Afrika, dikarenakan terkena AIDS, perempuan diusir dari rumah. Hal ini mendorong mereka yang terkena virus ini untuk menyembunyikan penyakitnya, sehingga menyebabkan ketidakmampuan usaha penanggulangan penyakit ini. tujuan terpenting Konferensi Internasional AIDS ialah ,emdorong para peserta dari 130 negara dunia untuk menandatangani Deklarasi Internasional AIDS yang diberinama "Deklarasi Sidney".

 

          Dalam deklarasi ini diminta agar setiap negara anggota menyerahkan 10 persen dari bujet yang telah ditetapkan untuk memberantas AIDS, guna membiayai berbagai penelitian dan usaha penanganannya. Deklarasi ini megharuskan kepada semua negara untuk melakukan upaya luas untuk memberikan pelayanan umum pengawasan kesehatan dalam rangka menangani AIDS, hingga tahun 2010. Michael Kazatkein, Direktur Eksekutif Penyediaan Dana Pengananan AIDS, mengatakan bahwa semua penderita AIDS tidak memiliki fasilitas pemanfaatan obat-obat dan pengawasan kedokteran moderen untuk menangani AIDS. Menurutnya, saat ini rata-rata obat yang ada hanya memenuhi 30 persen keperluan para penderita virus ini.

 

          Profesor Kazatkien meyakini bahwa dalam masalah ini harus dilakukan langkah-langkah yang luas, dan penanganan AIDS serta penyediaan anggaran yang diperlukan, harus dijadikan sebagai prioritas di tingkat dunia. Untuk itu diperlukan kerjasama seluruh masyarakat dunia. Ia mengatakan, "Memiliki kesahatan jasmani adalah salah satu diantara HAM, akan tetapi hingga saat ini, masih banyak negara yang tidak menikmati hak yang sangat nyata ini." dalam pertemuan para spesialis AIDS, Dr Anthony Fouchi, Direktur Institut Nasional AS Untuk Pemberantasan Penyakit Menular, menyinggung penyebaran AIDS yang sangat cepat dan berkata, "Penyebaran virus HIV di tengah masyarakat, jauh lebih pesat daripada proses pemberantasannya. Dengan demikian kita selalu berada dalam pihak yang kalah dalam perang ini. Ketika kita tengah sibuk menangani satu orang dari virus HIV, saat itu juga enam orang baru telah terjangkit oleh virus ini."

 

          Diantara cara lain pencegahan yang dipaparkan oleh para spesialis untuk mengurangi kemungkinan terjangkit oleh penyakit ini, ialah menjauhi aktifitas sekssual ilegal dan di luar kerangka rumah tangga, serta perhatian kepada ajaran-ajaran agama. Sebagai contoh, sudah sejak lama orang mengetahui bahwa di Afrika, tingkat polusi virus HIV di tengah masyarakat muslimin negara-negara bagian selatan, lebih rendah dibanding tingkat polusinya di tengah masyarakat nonmuslim di negara-negara ini. Akan tetapi saat itu tidak diketahui dengan jelas faktornya. Penelitian dan berbagai uji coba yang dilakukan di negara-negara tersebut, membuktikan bahwa terdapat hubungan yang erat antara khitan dan menurunnya tingkat polusi virus HIV. Telah terbukti bahwa sunnah atau kebiasaan Islami ini mampu menekan penyebaran virus HIV di kalangan lelaki hingga 60 persen. Masalah kesetiaan suami istri, dan pemberian jarum suntikan yang steril kepada para pencandu narkoba, termasuk diantara usul yang disampaikan guna menekan penyebaran virus HIV.

 

          Peter Peot, Direktur Yuna AIDS, berkata bahwa AIDS adalah ancaman dunia dan sangat berbahaya. Ancaman ini menuntut adanya reaksi yang istimewa. Sebelum ini dia mengatakan bahwa investasi yang benar akan dapat membantu para penderita AIDS, sehingga mereka akan memiliki kehidupan yang lebihbaik dan lebih lama, serta tidak perlu diasingkan dari masyarakatnya. Dalam Konferensi Internasional AIDS, salah seorang wanita Australia, yang pada 22 tahun lalu tercemar virus AIDS gara-gara menggunakan suntikan yang telah tercemar oleh virus tersebut, mengatakan kepada para hadirin bahwa penyakit AIDS bisa dilawan dan harapan hidup dapat dikembalikan kepada para penderitanya. Sebagaimana dirinya yang berhasil mengatasipenyakit ini.

 

Profesor Michael Kazatkien mengatakan, hingga lima tahun lalu, usaha mempertahankan hidup penderita AIDS merupakan usaha yang sangat sulit. Akan tetapi saat ini harapan untuk itu telah berubah menjadi kenyataan. Dengan upaya internasional dan menyeluruh, pembuatan obat-obat dan cara-cara pengobatan, dapat mengatasi penyakit ini. Poin yang harus diingat dalam kerangka konferensi-konferensi semacam ini, ialah bahwa penyakit seperti AIDS pada umumnya merupakan dampak dari krisis-krisis sosial. Selama dekadensi moral, pelacuran, konsumsi narkoba, kebebasan seks, dan yang semacam itu, meluas di tengah masyarakat, maka peluang penyebaran penyakit berbahaya ini juga akan ettap terbuka lebar.

 

Berkenaan dengan masalah ini, berbagai bukti menunjukkan bahwa diantara kemiskinan dan keterbelakangan beberapa negara dunia, memiliki hubungan dekat dengan peningkatan kasus-kasus keterjangkitan oleh virus ini. Untuk itu dapat dikatakan bahwa diantara cara terpenting untuk mencegah penyebaran AIDS ialah meningkatkan perhatian di bidang pelayanan kesehatan dan kesejahteraan umum masyarakat, pengaturan hubungan lelaki dan perempuan dalam kerangka pernikahan yang berlandaskan pada hukum, dan pemberantasan kebebasan seks, narkoba dan kemiskinan.

 

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]