|
Saat in diketahui sekitar 42 juta orang
telah tercemar oleh virus HIV. Lebih dari 2 per 3 dari angka tersebut
berada di negara-negara bagian selatan Benua Afrika. Penyakit ini sudah
sedemikian menyebar di kawasan tersebut, sehingga dari setiap tiga orang
dewasa, satu orang telah terjangkit virus ini. Melihat bahwa setiap hari,
14.000 orang di seluruh dunia, bergabung ke dalam barisan mereka yang
terkena virus ini, maka dikhawatirkan HIV akan menguasai pula benua
Asia. Bagaimana mungkin di dunia moderen kita ini, virus dapat menyebar
sedemikian cepat? Adakah cara untuk menangani penyakit berbahaya ini?
Untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut, lebih dari 5.000 pakar masalah AIDS, dan
para pemimpin berbagai negara dunia bertemu di Sidney, Australia, dalam
sebuah konferensi bernama Konferensi Internasional AIDS. Para peserta
pertemuan tersebut mempelajari berbagai upaya yang telah dilakukan untuk
menangani penyakit ini di berbagai negara, dan proses kemajuannya. Dalam
upacara pembukaan Konferensi tersebut, mula-mula diingatkan bahwa saat
ini du seluruh dunia, kaum perempuan dewasa dan remaja, merupakan
kelompok yang paling rentan terhadap virus HIV. Sebagaimana dapat
dilihat bahwa 2/3 para penderita AIDS di Afrika terdiri dari kaum
perempuan, dimana mayoritas mereka menerima virus ini dari teman seksnya.
Kaum perempuan di negara-negara
termiskin di dunia tidak memiliki kontrol terhadap kehidupan mereka
sendiri. Dan ketika diketahui bahwa seorang peremuan terkena virus ini
maka hal itu akan dipandang sebagai aib dan sumber kehinaan bagi
keluarga atau masyarakat sekitarnya. Di beberapa kota India dan Afrika,
dikarenakan terkena AIDS, perempuan diusir dari rumah. Hal ini mendorong
mereka yang terkena virus ini untuk menyembunyikan penyakitnya, sehingga
menyebabkan ketidakmampuan usaha penanggulangan penyakit ini. tujuan
terpenting Konferensi Internasional AIDS ialah ,emdorong para peserta
dari 130 negara dunia untuk menandatangani Deklarasi Internasional AIDS
yang diberinama "Deklarasi Sidney".
Dalam deklarasi ini diminta agar
setiap negara anggota menyerahkan 10 persen dari bujet yang telah
ditetapkan untuk memberantas AIDS, guna membiayai berbagai penelitian
dan usaha penanganannya. Deklarasi ini megharuskan kepada semua negara
untuk melakukan upaya luas untuk memberikan pelayanan umum pengawasan
kesehatan dalam rangka menangani AIDS, hingga tahun 2010. Michael
Kazatkein, Direktur Eksekutif Penyediaan Dana Pengananan AIDS,
mengatakan bahwa semua penderita AIDS tidak memiliki fasilitas
pemanfaatan obat-obat dan pengawasan kedokteran moderen untuk menangani
AIDS. Menurutnya, saat ini rata-rata obat yang ada hanya memenuhi 30
persen keperluan para penderita virus ini.
Profesor Kazatkien meyakini bahwa
dalam masalah ini harus dilakukan langkah-langkah yang luas, dan
penanganan AIDS serta penyediaan anggaran yang diperlukan, harus
dijadikan sebagai prioritas di tingkat dunia. Untuk itu diperlukan
kerjasama seluruh masyarakat dunia. Ia mengatakan, "Memiliki kesahatan
jasmani adalah salah satu diantara HAM, akan tetapi hingga saat ini,
masih banyak negara yang tidak menikmati hak yang sangat nyata ini."
dalam pertemuan para spesialis AIDS, Dr Anthony Fouchi, Direktur
Institut Nasional AS Untuk Pemberantasan Penyakit Menular, menyinggung
penyebaran AIDS yang sangat cepat dan berkata, "Penyebaran virus HIV di
tengah masyarakat, jauh lebih pesat daripada proses pemberantasannya.
Dengan demikian kita selalu berada dalam pihak yang kalah dalam perang
ini. Ketika kita tengah sibuk menangani satu orang dari virus HIV, saat
itu juga enam orang baru telah terjangkit oleh virus ini."
Diantara cara lain pencegahan yang
dipaparkan oleh para spesialis untuk mengurangi kemungkinan terjangkit
oleh penyakit ini, ialah menjauhi aktifitas sekssual ilegal dan di luar
kerangka rumah tangga, serta perhatian kepada ajaran-ajaran agama.
Sebagai contoh, sudah sejak lama orang mengetahui bahwa di Afrika,
tingkat polusi virus HIV di tengah masyarakat muslimin negara-negara
bagian selatan, lebih rendah dibanding tingkat polusinya di tengah
masyarakat nonmuslim di negara-negara ini. Akan tetapi saat itu tidak
diketahui dengan jelas faktornya. Penelitian dan berbagai uji coba yang
dilakukan di negara-negara tersebut, membuktikan bahwa terdapat hubungan
yang erat antara khitan dan menurunnya tingkat polusi virus HIV. Telah
terbukti bahwa sunnah atau kebiasaan Islami ini mampu menekan penyebaran
virus HIV di kalangan lelaki hingga 60 persen. Masalah kesetiaan suami
istri, dan pemberian jarum suntikan yang steril kepada para pencandu
narkoba, termasuk diantara usul yang disampaikan guna menekan penyebaran
virus HIV.
Peter Peot, Direktur Yuna AIDS,
berkata bahwa AIDS adalah ancaman dunia dan sangat berbahaya. Ancaman
ini menuntut adanya reaksi yang istimewa. Sebelum ini dia mengatakan
bahwa investasi yang benar akan dapat membantu para penderita AIDS,
sehingga mereka akan memiliki kehidupan yang lebihbaik dan lebih lama,
serta tidak perlu diasingkan dari masyarakatnya. Dalam Konferensi
Internasional AIDS, salah seorang wanita Australia, yang pada 22 tahun
lalu tercemar virus AIDS gara-gara menggunakan suntikan yang telah
tercemar oleh virus tersebut, mengatakan kepada para hadirin bahwa
penyakit AIDS bisa dilawan dan harapan hidup dapat dikembalikan kepada
para penderitanya. Sebagaimana dirinya yang berhasil mengatasipenyakit
ini.
Profesor Michael Kazatkien mengatakan,
hingga lima tahun lalu, usaha mempertahankan hidup penderita AIDS
merupakan usaha yang sangat sulit. Akan tetapi saat ini harapan untuk
itu telah berubah menjadi kenyataan. Dengan upaya internasional dan
menyeluruh, pembuatan obat-obat dan cara-cara pengobatan, dapat
mengatasi penyakit ini. Poin yang harus diingat dalam kerangka
konferensi-konferensi semacam ini, ialah bahwa penyakit seperti AIDS
pada umumnya merupakan dampak dari krisis-krisis sosial. Selama
dekadensi moral, pelacuran, konsumsi narkoba, kebebasan seks, dan yang
semacam itu, meluas di tengah masyarakat, maka peluang penyebaran
penyakit berbahaya ini juga akan ettap terbuka lebar.
Berkenaan dengan masalah ini, berbagai bukti
menunjukkan bahwa diantara kemiskinan dan keterbelakangan beberapa
negara dunia, memiliki hubungan dekat dengan peningkatan kasus-kasus
keterjangkitan oleh virus ini. Untuk itu dapat dikatakan bahwa diantara
cara terpenting untuk mencegah penyebaran AIDS ialah meningkatkan
perhatian di bidang pelayanan kesehatan dan kesejahteraan umum
masyarakat, pengaturan hubungan lelaki dan perempuan dalam kerangka
pernikahan yang berlandaskan pada hukum, dan pemberantasan kebebasan
seks, narkoba dan kemiskinan.
|