|
Salah satu permalahan penting yang sedang menjadi
perhatian utama para ilmuan sekarang ini, adalah masalah ketenangan dan
keamanan jiwa manusia. Barangkali Anda juga pernah berpikir, mengapa
pada masa kini, kendati pelbagai fasilitas dan kemudahan telah dinikmati
oleh manusia modern, namun sebagian besar dari mereka masih merasa belum
puas dengan semuanya itu. Para psikolog menilai, meningkatnya stress,
kegelisahan mental, tidak adanya rasa puas dan keceriaan psikis
merupakan gejala nyata era modern saat ini. Menurut mereka, kehidupan
saat ini telah sedemikian keras dan tak memiliki lagi kelembutan.
Kenikmatan sejati yang bisa dirasakan manusia telah begitu langka.
Mayoritas orang, khususnya di kalangan masyarakat
industri, justru lebih memilih mengkonsumsi obat penenang, lalu bermimpi
dengannya. Karena itulah, dengan semakin kompleksnya kehidupan pribadi
dan sosial, serta kian tingginya angka stres di kalangan masyarakat,
perlu segera adanya perhatian yang lebih serius lagi terhadap persoalan
mental dan psikologi manusia. Namun demikian, meskipun saat ini, di
bidang materi, kita telah saksikan kemajuan yang begitu pesat, tetapi
hingga kini, itu semua belum bisa memenuhi dan menjamin prinsip dasar
kesehatan dan kebutuhan jiwa manusia. Beberapa tahun yang lalu, salah
satu peniliti Amerika bernama Mayers melukiskan masyarakat Barat pada
dasawarsa 80-an semacam ini:
“Tak ada abad yang bisa menikmati kesejahteraan yang demikian besar
seperti kini, namun di lain sisi, lingkungan hidup justru sedemikian
rusak parah. Tak ada kebudayaan yang pernah mengalami beratnya tekanan
jiwa semacam ini. Tak pernah ada jaman kecuali seperti masa sekarang, di
mana kemajuan teknologi telah memberikan kemudahan yang demikian pesat,
namun di sisi lain, teknologi tersebut justru menjadi perangkat
mengerikan untuk menghancurkan dan memusnahkan dimensi kehidupan lainnya.
Kita saat ini memiliki fasilitas pendidikan dan pengajaran yang demikian
melimpah, namun dengan mudahnya kita saksikan angka kriminalitas,
keputus-asaan dan bunuh diri semakin meningkat tajam di kalangan
generasi muda.
Ada
banyak definisi yang telah diajukan mengenai arti dari konsep kesehatan
jiwa dan metode penyembuhan penyakit mental. Agama-agama ilahi, dan
pelbagi aliran pemikiran dan filsafat serta para pemimpin agama,
masing-masing telah membahas persoalan tersebut dengan beragam macam
ungkapan dan cara tutur sesuai dengan perspektifnya. Badan Kesehatan
Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan jiwa sebagai kemampuan untuk
menjalin hubungan tepat dengan yang lain, sanggup untuk mengubah dan
memperbaiki lingkungan pribadi dan sosial, dan menyelesaikan kontradiksi
di dalamnya, serta mampu mengubah kecendrungan pribadi ke bentuk yang
lebih sesuai dan ideal.
Berdasar pada definisi di atas, bisa kita pahami
bersama bahwa kesehatan jiwa sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia.
Bahkan bisa dikatakan, adanya tujuan yang layak dan diiringi dengan
usaha keras yang berkelanjutan, serta kesuksesan di pelbagai bidang
kehidupan hanya bisa dilalui lewat jiwa dan mental yang sehat. Kesehatan
jiwa dan mental, bisa meningkatkan angka kepuasan diri terhadap
kehidupan. Dan masalah ini, sangat beperan penting dalam menurunkan
kekhawatiran dan kegalauan psikologis manusia.
Untuk memecahkan persoalan mental manusia modern
saat ini, jumlah mereka yang percaya bahwa agama dan spritualitas dapat
menyembuhkan stres dan pelbagai penyakit jiwa lainnya semakin bertambah.
Manusia jaman sekarang, dengan penuh kesadaran dan pengetahuan telah
sampai pada konklusi akhir bahwa hidup tanpa spritualitas dan agama
hanya akan menjadikan hidup manusia tenggelam dalam kesepian, dan
menjebaknya dalam cara hidup mekanis yang tak memiliki roh.
Kendati, sebagian psikolog di masa yang lampau,
tak mengakui peran agama dan ajarannya dalam memelihara kesehatan jiwa.
Namun sekarang ini, para psikolog justru semakin banyak yang mengakui
pengaruh positif agama terhadap kesehatan psikologis manusia.
Hasil-hasil riset mereka di bidang kesehatan jiwa, ternyata sejalan dan
senada dengan ajaran-ajaran agama. Terkait hal itu, penting kiranya jika
kita ungkap juga di sini, pengalaman ilmiah salah satu pakar psikologi
besar Carl Gustav Jung, dia menulis:
“Seluruh penyakit yang saya hadapi pada paruh kedua umur saya, telah
mengantarkan saya pada satu simpulan bahwa mereka yang mengalami
penyakit jiwa semacam itu, ternyata dikarenakan oleh tidak adanya visi
yang tepat terhadap hidup. Dengan yakin bisa dikatakan, mereka
terjangkit penyakit itu karena merasa kehilangan atas apa yang selama
ini dikhotbahkan oleh agama-agama besar dunia kepada para penganutnya.
Tak satupun dari mereka bisa menemukan kenyataan yang hening, sebelum
mereka menemukan pandangan relijius”.
Sekarang ini, sejumlah penelitian di bidang
pengaruh ajaran agama dan manfaat spritualitas dalam kesehatan jiwa
manusia, ternyata ramai dilakukan di kalangan masyarakat yang sudah
memudar kehidupan religinya ataupun tak lagi peduli terhadap agama. Para
psikolog di tengah masyarakat semacam itu percaya, bahwa meyakini adanya
nilai-nilai yang luhur dan suatu kekuatan transendental sangat vital
bagi kesehatan jiwa manusia. Mereka menilai, penerapan metodologi agama
dalam memecahkan persoalan penyakit jiwa sangat efektif dan berpegaruh
positif.
|