Perspektif    

  Agustus 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Film, Agama dan Manusia Modern (2)

 

Ketika kita berbicara mengenai kebudayaan Timur, sekonyong-konyong sebagian besar masyarakat Barat akan membayangkannnya sebagai ragam budaya yang penuh dengan misteri dan simbol-simbol mistik. Tentu saja gambaran semacam ini tidak sepenuhnya benar dan barangkali hal ini lebih disebabkan oleh latar belakang kebudayaan Timur kuno. Dalam budaya Timur kuno, keberdaan filsafat, seni, dan ilmu pengetahuan senantiasa berkaitan dengan metafisika. Karena itulah dalam budaya Timur kita sering mendengar istilah semacam illuminasi, irfan atau mistisisme.

 

Dalam dunia sinema, cara pandang Barat terhadap Timur, cendrung dihinggapi sikap sentimen. Beberapa sineas terkenal Barat, seperti: Bernardo Betolucci, Wim Wenders, dan Alan Rene banyak memberikan perhatiannya terhadap budaya Timur Kuno. Meski demikian, tidak semua keutamaan agama dan spritual Timur dapat ditampilkan secara apik dalam film-film produksi mereka. Karya-karya film ketimuran mereka hanya sekedar menampakkan sampul luar ataupun simbol-simbol agama dan aliran mistisisme Timur. Namun yang lebih kentara lagi, adalah isu pertentangan antara materialisme Barat dengan spritualitas Timur yang selalu menjadi struktur utama film.

 

Lantas bagaiamanakah dunia sinema Timur melihat persoalan agama dan spritualitas? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa mencari benang merah dunia perfileman Timur, dengan menengok kembali karya-karya filem bertemakan spritualitas dan keagamaan para sines Cina, India, Iran dan Jepang. Benang merah tersebut dapat kita tarik dari beberapa tema dominan sinema Timur semacam sakralitas bangunan keluarga, ritus-ritus keagamaan, indentitas pribumi, dan perspektif mitologis terhadap kebudayaan dan spritualitas.

 

Dalam budaya Timur, pada dasarnya, keluarga merupakan sebuah institusi sosial yang begitu suci. Dengan artian bahwa, menjaga keberadaan keluarga merupakan suatu keharusan demi terpeliharanya kemuliaan moral masyarakat. Karena itu, dalam industri perfileman Timur, film bergenre melodrama keluarga menempati posisi teratas dari segi jumlah produksi maupun penonton. Hal ini seperti yang terlihat di sebagian besar film-film karya sineas Jepang, Yasajiro Ozu, dan produser film India, Satyajit Ray. Dalam film-film karya mereka, ikatan kelurga memiliki posisi yang begitu penting dan pernikahan merupakan jalinan yang begitu sakral di mata pasangan Timur.

 

Donald Richie, seorang penulis dan pengamat Film kelahiran AS, dalam bukunnya mengenai perfileman Jepang, mengungkap betapa pentingnya posisi spritual keluarga dalam sinema Timur. Richie menuliskan, “Dalam dunia perfileman Timur, keluarga merupakan satuan sosial kecil yang memanifestasikan satuan yang lebih besar darinya, seperti negara dan masyarakat. Genre drama yang berdasarkan pada rumah dan keluarga merupakan corak kental sinema Timur yang mewarnai segala bentuk kisah dalam film-filmnya”.

 

Dengan demikian, kita bisa letakkan film-film bertemakan keluarga dalam kelompok film-film keagamaan. Keberadaan peran agama dalam lingkungan keluarga bisa kita saksikan lebih jelas dalam karya-karya film semacam ini.

Pembuatan film-film bertemakan sejarah dalam ranah keagamaan, merupakan salah satu topik yang banyak diminati oleh para sineas Timur. Pasalnya, sejarah adalah jalan untuk menemukan identitas budaya setiap bangsa. Sebagai misal, film India The Chess Players, karya Satyajit Ray, dan The Shadow Warrior, karya Akira Korosawa, merupakan contoh film Timur yang berusaha mencari identitas pribuminya. Dalam kedua film ini, kembali ke akar budaya berdasarkan pada filsafat Timur dan penghormatan kepada leluhur sebagai laku khusus manusia agamis.

 

Apa yang menarik dari film Timur adalah masih bertahannya ragam kesenian peninggalan budaya Timur kuno dalam sturuktur film, seperti: lukisan, puisi dan pelbagai bentuk teaterikal tradisional sebagai jalan kembali menuju sumber spritualitas. Bait-bait puisi Upanishad,  kumpulan puisi Jepang Haiku, dan syair-syair sufistik pujangga Iran, merupakan sebagain struktur film Timur yang kerap mewarnai karya film-filmnya. Selain itu, bentuk-bentuk  teaterikal tradisionnal Asia, seperti Kabuki dan Noh dari Jepang, Katakali India dan Ta’ziyeh Iran merupakan sejumlah ragam seni yang erat kaitannya dengan tradisi agama Timur dan pada beberapa tahun belakangan banyak diterapkan dalam dunia sinema.

 

Dalam pandangan sebagian besar sineas Timur, manusia tidak pernah dianggap hidup secara bebas mutlak di muka bumi. Konsep takdir di kalangan manusia Timur memiliki pengertian yang berbeda jauh dibanding dengan apa yang dipahami Barat. Dalam film-film Timur, tidak pernah ditemui adanya konflik antara kehendak Tuhan dengan takdir manusia. Dengan kata lain, konsep berontak melawan takdir sebagaimana yang diyakini dalam filsafat nihilisme  Barat tak pernah ditemui dalam filsafat Timur. Namun adanya keyakinan semacam itu, bukan berarti akan menjadikan para tokoh film Timur menjadi pasif. Tapi ini adalah penjelmaan pandangan mistik Timur terhadap dunia.

 

Pandangan semacam ini bahkan terdapat pula dalam film epic dan kepahlawanan Timur. Sebagai misal, jika di Barat kita bisa temukan karya film semacam The Seventh Pion, karya Ingman Bergman, yang berupaya menunda kematian dengan cara bermain catur dengan malaikat maut, dan menganggap papan catur sebagai wahana untuk menghindar dari maut. Maka pentas filosofis semacam itu, tidak akan pernah di temui dalam filosofi film Timur. Kehadiran maut dalam film Timur lebih menyerupai sebagai peringatan kepada manusia agar tidak terikat pada dunia yang fana. Sebagai contoh, membangun rumah di tepi laut merupakan simbol dari kehidupan dunia yang sementara, sedang badai topan yang bertiup dari laut merupakan simbolisasi dari kematian. Manusia yang berbudi luhur tentu tidak akan ingin tenggelam ditelan badai, ia akan membangun rumahnya di tempat yang aman. Dalam karya film Timur, tampak jelas bahwa manusia senantiasa ingin kembali ke asalnya. Seluruh daya upayanya di muka bumi ia baktikan untuk kembali menuju sumber eksistensi.

 

Dunia sinema Iran merupakan contoh yang menarik mengenai fenomena kebangkitan spritualitas pada perfileman Timur dalam beberapa tahun belakangan ini. Perubahan fundamental di Iran setelah terjadinya Revolusi Islam, mengakibatkan perubahan yang amat mendasar pula dalam dunia perfileman Iran. Kepercayaan batin dan kecendrungan agama para sineas Iran berhasil menyuguhkan film-film Iran yang berkualitas, yang tak bisa dibandingkan dengan film-film Iran sebelum Revolusi Islam.

 

Dalam dunia perfileman Iran, agama bukan hanya sekedar jalan religius personal. Tapi sebuah ajaran suci yang mewarnai seluruh dimensi hidup manusia. Namun mungkin saja, sebagian film Iran tidak menampakkan secara gamblang tradisi dan formalitas keagamaan. Tapi jika kita selami, akan kita temui jiwa film yang berwatakkan spritualitas agama. Terdapat banyak film Iran yang bergenre keagamaan, seperti: Imigran, Ladang Bapak, Negeri Matahari, Begitu Dekat Begitu Jauh, dsb…. Film-film ini tidak hanya berhasil merebut sambutan yang cukup luas di kalangan publik Iran. Tapi bahkan di kalangan penonton internasional.

 

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]