|
Ketika kita berbicara mengenai kebudayaan Timur, sekonyong-konyong
sebagian besar masyarakat Barat akan membayangkannnya sebagai ragam
budaya yang penuh dengan misteri dan simbol-simbol mistik. Tentu saja
gambaran semacam ini tidak sepenuhnya benar dan barangkali hal ini lebih
disebabkan oleh latar belakang kebudayaan Timur kuno. Dalam budaya Timur
kuno, keberdaan filsafat, seni, dan ilmu pengetahuan senantiasa
berkaitan dengan metafisika. Karena itulah dalam budaya Timur kita
sering mendengar istilah semacam illuminasi, irfan atau mistisisme.
Dalam dunia sinema, cara pandang Barat terhadap Timur, cendrung
dihinggapi sikap sentimen. Beberapa sineas terkenal Barat, seperti:
Bernardo Betolucci, Wim Wenders, dan Alan Rene banyak memberikan
perhatiannya terhadap budaya Timur Kuno. Meski demikian, tidak semua
keutamaan agama dan spritual Timur dapat ditampilkan secara apik dalam
film-film produksi mereka. Karya-karya film ketimuran mereka hanya
sekedar menampakkan sampul luar ataupun simbol-simbol agama dan aliran
mistisisme Timur. Namun yang lebih kentara lagi, adalah isu pertentangan
antara materialisme Barat dengan spritualitas Timur yang selalu menjadi
struktur utama film.
Lantas bagaiamanakah dunia sinema Timur melihat persoalan agama dan
spritualitas? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa mencari benang
merah dunia perfileman Timur, dengan menengok kembali karya-karya filem
bertemakan spritualitas dan keagamaan para sines Cina, India, Iran dan
Jepang. Benang merah tersebut dapat kita tarik dari beberapa tema
dominan sinema Timur semacam sakralitas bangunan keluarga, ritus-ritus
keagamaan, indentitas pribumi, dan perspektif mitologis terhadap
kebudayaan dan spritualitas.
Dalam budaya Timur, pada dasarnya, keluarga merupakan sebuah institusi
sosial yang begitu suci. Dengan artian bahwa, menjaga keberadaan
keluarga merupakan suatu keharusan demi terpeliharanya kemuliaan moral
masyarakat. Karena itu, dalam industri perfileman Timur, film bergenre
melodrama keluarga menempati posisi teratas dari segi jumlah produksi
maupun penonton. Hal ini seperti yang terlihat di sebagian besar
film-film karya sineas Jepang, Yasajiro Ozu, dan produser film India,
Satyajit Ray. Dalam film-film karya mereka, ikatan kelurga memiliki
posisi yang begitu penting dan pernikahan merupakan jalinan yang begitu
sakral di mata pasangan Timur.
Donald Richie, seorang penulis dan pengamat Film kelahiran AS, dalam
bukunnya mengenai perfileman Jepang, mengungkap betapa pentingnya posisi
spritual keluarga dalam sinema Timur. Richie menuliskan, “Dalam dunia
perfileman Timur, keluarga merupakan satuan sosial kecil yang
memanifestasikan satuan yang lebih besar darinya, seperti negara dan
masyarakat. Genre drama yang berdasarkan pada rumah dan keluarga
merupakan corak kental sinema Timur yang mewarnai segala bentuk kisah
dalam film-filmnya”.
Dengan demikian, kita bisa letakkan film-film bertemakan keluarga dalam
kelompok film-film keagamaan. Keberadaan peran agama dalam lingkungan
keluarga bisa kita saksikan lebih jelas dalam karya-karya film semacam
ini.
Pembuatan film-film bertemakan sejarah dalam ranah keagamaan, merupakan
salah satu topik yang banyak diminati oleh para sineas Timur. Pasalnya,
sejarah adalah jalan untuk menemukan identitas budaya setiap bangsa.
Sebagai misal, film India The Chess Players, karya Satyajit Ray,
dan The Shadow Warrior, karya Akira Korosawa, merupakan contoh
film Timur yang berusaha mencari identitas pribuminya. Dalam kedua film
ini, kembali ke akar budaya berdasarkan pada filsafat Timur dan
penghormatan kepada leluhur sebagai laku khusus manusia agamis.
Apa
yang menarik dari film Timur adalah masih bertahannya ragam kesenian
peninggalan budaya Timur kuno dalam sturuktur film, seperti: lukisan,
puisi dan pelbagai bentuk teaterikal tradisional sebagai jalan kembali
menuju sumber spritualitas. Bait-bait puisi Upanishad, kumpulan puisi
Jepang Haiku, dan syair-syair sufistik pujangga Iran, merupakan
sebagain struktur film Timur yang kerap mewarnai karya film-filmnya.
Selain itu, bentuk-bentuk teaterikal tradisionnal Asia, seperti
Kabuki dan Noh dari Jepang, Katakali India dan
Ta’ziyeh Iran merupakan sejumlah ragam seni yang erat kaitannya dengan
tradisi agama Timur dan pada beberapa tahun belakangan banyak diterapkan
dalam dunia sinema.
Dalam pandangan sebagian besar sineas Timur, manusia tidak pernah
dianggap hidup secara bebas mutlak di muka bumi. Konsep takdir di
kalangan manusia Timur memiliki pengertian yang berbeda jauh dibanding
dengan apa yang dipahami Barat. Dalam film-film Timur, tidak pernah
ditemui adanya konflik antara kehendak Tuhan dengan takdir manusia.
Dengan kata lain, konsep berontak melawan takdir sebagaimana yang
diyakini dalam filsafat nihilisme Barat tak pernah ditemui dalam
filsafat Timur. Namun adanya keyakinan semacam itu, bukan berarti akan
menjadikan para tokoh film Timur menjadi pasif. Tapi ini adalah
penjelmaan pandangan mistik Timur terhadap dunia.
Pandangan semacam ini bahkan terdapat pula dalam film epic dan
kepahlawanan Timur. Sebagai misal, jika di Barat kita bisa temukan karya
film semacam The Seventh Pion, karya Ingman Bergman, yang
berupaya menunda kematian dengan cara bermain catur dengan malaikat maut,
dan menganggap papan catur sebagai wahana untuk menghindar dari maut.
Maka pentas filosofis semacam itu, tidak akan pernah di temui dalam
filosofi film Timur. Kehadiran maut dalam film Timur lebih menyerupai
sebagai peringatan kepada manusia agar tidak terikat pada dunia yang
fana. Sebagai contoh, membangun rumah di tepi laut merupakan simbol dari
kehidupan dunia yang sementara, sedang badai topan yang bertiup dari
laut merupakan simbolisasi dari kematian. Manusia yang berbudi luhur
tentu tidak akan ingin tenggelam ditelan badai, ia akan membangun
rumahnya di tempat yang aman. Dalam karya film Timur, tampak jelas bahwa
manusia senantiasa ingin kembali ke asalnya. Seluruh daya upayanya di
muka bumi ia baktikan untuk kembali menuju sumber eksistensi.
Dunia sinema Iran merupakan contoh yang menarik mengenai fenomena
kebangkitan spritualitas pada perfileman Timur dalam beberapa tahun
belakangan ini. Perubahan fundamental di Iran setelah terjadinya
Revolusi Islam, mengakibatkan perubahan yang amat mendasar pula dalam
dunia perfileman Iran. Kepercayaan batin dan kecendrungan agama para
sineas Iran berhasil menyuguhkan film-film Iran yang berkualitas, yang
tak bisa dibandingkan dengan film-film Iran sebelum Revolusi Islam.
Dalam dunia perfileman Iran, agama bukan hanya sekedar jalan religius
personal. Tapi sebuah ajaran suci yang mewarnai seluruh dimensi hidup
manusia. Namun mungkin saja, sebagian film Iran tidak menampakkan secara
gamblang tradisi dan formalitas keagamaan. Tapi jika kita selami, akan
kita temui jiwa film yang berwatakkan spritualitas agama. Terdapat
banyak film Iran yang bergenre keagamaan, seperti: Imigran, Ladang Bapak,
Negeri Matahari, Begitu Dekat Begitu Jauh, dsb…. Film-film ini tidak
hanya berhasil merebut sambutan yang cukup luas di kalangan publik Iran.
Tapi bahkan di kalangan penonton internasional.
|