|
Barangkali Anda juga pernah mendengar ataupun membaca jika era sekarang
ini, merupakan era ‘Kembali ke Agama’ atau ‘Dekade Religius’ dan bahkan
ada juga yang menyebut milenium ke-tiga saat ini sebagai ‘Milenium
Agamis’. Kebangkitan baru agama di Barat, mulai muncul pada awal dekade
90-an, dan kian memuncak, khususnya setelah tahun 2000. Kini, berbagai
institusi sosial masyarakat Barat telah memahami, bahwa untuk mencegah
keruntuhan internal suatu negara, tak ada cara lain kecuali kembali ke
prinsip agama dan moral. Bangkitnya religiusitas ini semakin tampak
jelas di pelbagai karya seni, khususnya di dunia film.
Jika kita ingin mengetahui corak religiusitas dalam dunia perfileman
modern, maka kita harus menyebut sejumlah nama seperti, Carl Theodor
Dreyer, Ingmar Bergman, Robert Bereson, dan Andrei Tarkovski. Dalam
beberapa dekade sebelumnya, terdapat banyak film yang dibuat bernafaskan
keagamaan. Namun, di masa sekarang ini, model keberagamaan baru dari
pelbagai negara, kian marak memasuki dunia sinema.
Untuk mengetahui lebih lanjut fenomena ini, pertama kita mesti menengok
Hollywood. Pasalnya, industri perfileman Hollywood, merupakan kekuatan
dominan di dunia perfileman global. Setiap tahunnya, lebih dari seribu
film diproduksi oleh raksasa industri film AS ini. Meski film-film
Hollywood cendrung memiliki muatan propaganda, intrik dan hipokrit,
namun tetap saja sebagian film-film yang dihasilkannya tak bisa lepas
sepenuhnya dari ikatan agama.
Setelah penayangan film semacam Ghost dan Leap of Faith
berhasil menjaring sambutan yang begitu hangat dari para penonton film.
Para produser film Hollywood mulai memahai bahwa penonton film saat ini
haus akan spritualitas, yang tak bisa ditutupi oleh film-film populer
yang penuh kekerasan dan miskin makna. Karena itu, Hollywood pun segara
memanfaatkan seluruh kreatifitasnya untuk mendulang penonoton sebanyak
mungkin. Lewat pelbagai ragam film laris, seperti melodrama, musikal,
komedi, dsb…mereka memproduksi beragam film berbau spritualitas dan
keagamaan. Sebagai misal, dalam film Ghost lewat genre film
percintaan dan kriminalitas, film tersebut mencoba mengisahkan keabadian
roh, sebagaimana yang diyakini oleh beragam agama dalam pelbagai
versinya.
Keberhasilan film-film bergenre keagamaan ini, semakin mendorong para
produder film untuk menghasilkan film sejenis sebanyak mungkin. Tak aneh,
jika kemudian dalam film-film Hollywood semakin sering kita jumpai para
malaikat yang turun ke bumi ataupun kehadiran setan-setan yang muncul di
kehidupan manusia. Namun, perlahan-lahan film-film semacam ini mulai
menyimpang dari standar keagamaan, dan semakin mendekati ke arah parodi
keagamaan. Hingga kemudian muncul film komedi yang menertawakan kekuatan
Tuhan, seperti film Bruce Almighty. Film-film semacam ini,
kendati berbau keagamaan, namun esensinya justru anti-agama. Karena itu,
penayangan film ini pun akhirnya banyak menuai protes dari masyarakat
kristiani maupun muslim.
Namun, ini hanyalah contoh kecil dari fenomena di atas. Minimnya
pengetahuan para produser film Barat terhadap agama-agama Ilahi seperti
Islam, dan ketakutan semu yang diciptakan oleh mesin propaganda Barat
terhadap agama tertentu, mendorong Hollywood untuk merancang film dengan
esensi spritualitas yang menyimpang. Kecendrungan ke arah Budhisme di
kalangan para pelaku film, dalam waktu yang relatif singkat, telah
menyebabkan munculnya pelbagai film yang mengisahkan kehidupan Budha dan
Lama Tibet dalam berbagai versinya. Sejumlah film seperti, The Little
Budha, Seven Years in Tibet, dan Kundun merupakan sejumlah
karya sinema yang berupaya menyebar luaskan Budhisme lewat media film.
Ketertarikan industri film terhadap spritualitas Timur, dan upaya
penampilan ritus keagmaan Timur yang demikian aneh dan keras, pada satu
sisi, justru merupakan langkah yang mengkhawatirkan dan akan berujung
pada generalisasi agama. Berbarengan dengan itu, maraknya film-film
action seni bela diri Timur, juga turut mengiringi munculnya fenomena
genre film-film keagamaan. Sebagai misal, beberapa film seperti,
House of Flayying Daggers, Hidden Dragons, Couching
Tiger.
Meski demikian, ada juga sejumlah film yang mengajak para penonton untuk
berpikir mengenai isu-isu keagamaan dan mengantar nalar penonton untuk
menyelami alam semesta dan asal mula penciptaan dunia. Film-film seperti
Seven dan Contact, merupakan contoh film yang mengungkap
krisis spritual yang dihadapi manusia modern dan beragam isu sekitar
siksa dan pahala di dunia dan akhirat. Contoh sukses lainnya adalah fiil
What Dreams May Come, merupakan model kebangkitan struktur film
religius di dunia sinema Barat. Pasalnya, film berhasil menampilkan
visualisasi alam akhirat sesuai dengan apa yang tercantum dalam kitab
suci umat Kristen dengan amat kreatif, dan menggambarkan siksa dan
pahala akhirat dari perspektif keagamaan. Lewat teknik film yang
demikian maju, film ini berhasil menyuguhkan tontonan religius yang
begitu berkualitas.
Sejak dulu, munculnya pelbagai gerakan dan aliran seni, dan pemikiran
filosofis di Barat telah banyak mempengaruhi dunia perfileman Eropa.
Film-film Eropa di masa lalu, kerap bermuatkan pesimisme falsafi dan
cendrung anti-agama. Agama sering ditampilkan dalam bentuk abad
pertengahannya, dan senantiasa menjadi sasaran kritik. Fenomena ini,
kendati masih bertahan, namun di sisi lain muncul juga fenomena
tandingan yang erat kaitannya dengan gejala kebangkitan spritualitas di
kalangan masyarakat modern. Karya film yang disuguhkan oleh Krzysztof
Kieslowski merupakan contoh menarik film-film bertemakan keagamaan yang
ditampilkan oleh para sineas film modern. Dalam filmnya itu, kehendak
Tuhan merupakan penentu utama segala hal. Manusia harus memahami bahwa
puncak kebebasannya terletak pada penghambaan sepenuhnya di hadapan
Tuhan Yang Kuasa. Film Kieslowski ini memiliki pemahaman yang begitu
optimis tentang kehidupan manusia. Cobaan dan kesulitan yang dihadapi
manusia, olehnya ditampakkan sebagai jalan menuju kesempurnaan yang
lebih luhur bagi manusia.
Tak
pelak, kecendrungan masyarakat dunia terhadap agama saat ini merupakan
hal yang tak mungkin diingkari lagi. Sebagai buktinya kita bisa menunjuk
pada sambutan luas terhadap film The Passion of Christ, karya
Mell Gibson yang sempat menduduki peringkat ke delapan film Box Office.
Kendati ada banyak tayangan kekerasan dan penyimpangan sejarah di film
ini, namun tetap saja film ini menjaring banyak penonton, lantaran
menampilkan kehidupan tragis Yesus.
Insyallah, dalam seri
ke dua topik pembicaraan kita kali ini, kami akan mengajak Anda mengupas
persoalan perfileman Timur dan ketertarikan mereka pada tema-tema
keagamaan di dunia filem. Sebagai penutup akhir jumpa kita kali ini,
berikut kita simak bersama sekutip dialog dari film The Last Dinner,
karya sineas Swedia, Ingmar Bergman, yang mengisahkan krisis maknawi
manusia modern. “Jika manusia beriman pada Tuhan, maka tak akan ada lagi
kesulitan, dan jika tak ada iman, maka tak ada juga jalan keluar”.
|