Perspektif    

  Juni 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Konferensi Imam Khumaini dan Kemuliaan Manusia

Kemuliaan sebagai sebuah asas fundamental, telah menyatu dengan watak manusia. Dalam Surat Al-Israa Ayat 70, Allah swt berfirman:

 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ

وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً

 

Dan telah Kami muliakan anak Adam dan kami tempatkan mereka di darat dan di laut, dan Kami rizkikan kepada dari hal-hal yang baik, dankami utamakan mereka dari kebanyakan ciptaan Kami dengan sebaik-baik keutamaan.

Ayat 70 Surat Al-Israa yang telah dibacakan tadi menegaskan kelebihutamaan manusia di atas sebagian besar makhluk Allah swt. Manusia yang dengan kemampuan berpikir dan mengembangkan kemampuannya ini, juga dengan bentuk fisik yang indah dan kuat, yang mampu menjalani hidupnya di atas permukaan bumi dan di laut, dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kesempurnaannya. Hal pertama yang muncul dalam pembahasan seputar kemuliaan manusia ialah kebebasan dan kemerdekaannya dalam memilih.

 

          Jika seseorang dipaksa menerima keyakinan tertentu, meskipun keyakinan tersebut adalah keyakinan yang benar, maka sesungguhnya kemuliaannya sebagai manusia telah diinjak-injak. Oleh karena itu, bahkan para Nabi yang merupakan pendidik manusia yang tiada tandingannya, tetap saja tidak berhak memaksakan kehendak dan pendidikan mereka kepada orang lain. Dalam Ayat 21 dan 22 Surat Al-Ghasyiyah, Allah swt menegaskan bahwa tugas para Nabi hanyalah memberikan peringatan. Allah berfirman:

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ

Berilah peringatan. Taklain engkau adalah pemberi peringatan.

Engkau tidak berkuasa atas mereka.

 

Oleh karena memiliki keutamaan besar berupa kemuliaan, maka manusia dilarang bertaklid dan mengikuti ajaran orang lain dengan membabi-buta. Kemuliaan manusia berada dalam kemampuannya bertadabbur, memikirkan, menimbang dan memahami. Untuk itu sudah seharusnyalah manusia yang merupakan makhluk barakal ini, menggunakan kemampuannya berpikir untuk memilih dan menimbang dalam menjalani kehidupannya, serta menghindari sikap mengikuti orang lain dengan membabi-buta.

 

Di masa sekarang, berbagai kemajuan industri dan materi, di samping manfaat dan faedahnya yang tak terhingga, juga menghadapkan manusia dengan berbagai krisis dan kesulitan, seperti krisis identitas serta keterjauhan dari watak dan kepribadian aslinya, yang semua itu akan merendahkan kemuliaannya sebagai manusia. Beberapa fenomena seperti ekstrimisme dan kekerasan, telah mengakibatkan manusia zaman ini mengalami kelemahan dalam sifat dan watak-watak mulianya. Pertanyaan berikut ini memenuhi benak manusia zaman ini, yaitu bagaimana caranya, manusia yang merupakan makhluk termulia ini, yang memiliki kemampuan menguasai berbagai rahasia alam, mampu pula menguasai watak agresor dan kezalimannya?

 

Di hari-hari peringatan wafat Imam Khumaini ra, penyelenggaraan sebuah konferensi, dengan tema "Imam Khumaini  dan Kemuliaan Manusia", telah membuka peluang bagi para cendekiawan untuk mempelajari masalah kemuliaan manusia ini dari berbagai seginya. Konferensi ini merupakan gerak menuju pengembangan sifat-sifat utama, yang dewasa ini sudah semakin meredup dan menipis dalam wujud manusia. Konferensi internasional Imam Khumaini dan Kemuliaan Manusia, digelar pekan lalu, dengan partisipasai 70 cendekiawan dari berbagai negara, di Tehran. Tujuan utama konferensi ini ialah memberikan perhatian kepada seluruh dimensi manusia dan kemuliaannya, serta menciptakan pandangan baru berkenaan dengan makhluk Allah yang paling mulia ini.

 

Imam Khumaini ra, pendeiri RII, merupakan perwujudan dan menifestasi kemuliaan manusia. Selain itu, strategi utama beliau dalam kebangkitan Islam yangbeliau pimpin ialah mengembalikan kemuliaan manusia ke tempatnya semula. Dengan mengikuti Rasul Allah saaw, beliau menyeru manusia kepada kemuliaannya dan berusaha menyelamatkan umat manusia dari penyembahan kepada selain Allah, dengan mengajak mereka kepada penghambaan hanya kepada Allah swt. Demi kebahagiaan umat manusia, Imam Khumaini meminta kepada manusia-manusia tertindas dan teraniaya, agar menumbuhkan rasa percaya diri, dan berkata, "Mengapa kalian hanya duduk saja?! Bangkitlah, selamatkanlah diri kalian sendiri, dan raihlah kemuliaan diri kalian!!"

 

Perilaku Imam Khumaini ra, baik dalam urusan pribadi maupun masyarakat, menunjukkan dengan jelas posisi dan kemuliaan kemanusiaan beliau. Pengaruh dan daya tarik beliau, membuat semua orang terkesima, dan semua orang, dengan keyakinan dan idiologi apa pun, bahkan nonmuslim yang sama sekali tidak mengenal ajaran Islam, begitu mengenal perilaku dan akhlak beliau, akan tertarik dan terpengaruh olehnya. Keagungan kepribadian Imam Khumaini terletak pada perhatian beliau terhadap dua dimensi manusia sekaligus, yaitu maknawi dan meteri. Beliau memperjuangkan nilai-nilai maknawi, irfan dan akhlak, di samping kemajuan teknologi, dan beliau membimbing rakyat menuju ke arah tersebut.

 

Muhammad Basyir, peneliti dan penulis dari Afrika, yang ikut serta dalam konferensi ini, mengatakan, "Imam Khumaini telah membangkitkan kita dan menerangkan kepada kita tanggung jawab dan keduudkan seorang manusia. Beliau sendiri adalah seorang manusia agung dan sempurna, dan memandang bahwa kemerdekaan dan kebebasan adalah keniscayaan kehidupan individu dan sosial seorang muslim."

 

Dalam pandangan Imam Khumaini ra, untuk memperoleh kemuliaannya yang telah hilang, manusia haruslah memiliki jiwa yang bebas, dan melalui jalan perjuangan menentang kebodohan dan ketidakadilan, ia harus membebaskan diri dari kehinaan dan kezaliman. Demikian pula, dengan emmperkuat akal, iman dan takwa dalam batinnya, manusia mempersiapkan peluang pertumbuhan dan ketinggiannya. Dengan pandangan seperti itu, Imam Khumaini ra, merasa optimis kepada hidayah semua manusia, karena beliau mempercayai mereka, dan memandang mereka itu memiliki potensi untuk menemukan jalan kebenaran. Beliau juga meyakini bahwa ambisi dan segala macam arogansi negara-negara adidaya, yang ingin menguasai seluruh dunia bagi diri mereka sendiri, merupakan penghalang terbesar bagi perkembangan potensi-p[otensi manusia dan aral yang melintang di depan perjalan manusia menuju kemuliaannya.

 

Sayid Muhammad Khatami, mantan Presiden RII, yang menjabat sebagai Sekretaris Utama Konferensi Imam Khumaini dan Kemuliaan Manusia, berkata, "Dalam peribahasa kami dikatakan bahwa manusia adalah anak emas alam jagad raya ini. Imam Khumaini ra, sebagai seorang arif dan filsuf, memandang manusia dan kemuliaannya sebagaimana yang terkandung dalam peribahasa tersebut. Dewasa ini, hak tertinggi manusia yang dibicarakan dalam masalah-masalah sosial, ialah hak kekuasaan seseorang atas nasibnya sendiri. Kemuliaan manusia berarti penghargaan terhadap hak ini. Imam Khumaini ra selalu memuliakan manusia dimanapun berada, dan dalam masalah-masalah sosial dan politik, beliau menekankan satu hal, yaitu bahwa "yang menjadi tolok ukur ialah suara rakyat".

 

Dr Bahram Akhwan Kadzimi, dalam pidatonya mengatakan, "Imam Khumaini ra, sebagai seorang manusia sempurna, berjuang membela kemuliaan manusia. Untuk itulah kepemimpinan beliau membeirkan pengaruh yang paling besar di tengah masyarakat luas. Beliau adalah seorang yang telah berhasil membangun diri sendiri, sehingga muncul sebagai manusia yang sangat mulia, dimana hanya di tengah pendidikan Islam-lah terdapat kemungkinan munculnya manusia seperti beliau. Menurut Ayatullah Udhma Sayid Ali Khemenei, Rahbar Revolusi Islam, "Imam telah mengajarkan kepada semua orang bahwa menjadi manusia sempurna, menjalani kehidupan yang mirip dengan kehidupan Imam Ali as, dan hidup dengan tingkat yang mendekati tingkat kema'shuman, bukanlah mitos."

 

Dalam konferensi Imam Khumaini ra dan Kemuliaan Manusia, telah dikirimkan 220 makalah, dimana 40 dari semua makalah tersebut datang dari negara-negara Eropa, Afrika dan Asia. Makalah-makalah ini, merupakan kumpulan yang kaya dan sangat bernilai berkenaan dengan masalah kemuliaan manusia dan tujuan hidupnya. Di akhir konferensi ini diumumkan bahwa hingga beberapa tahun lagi, konferensi ini akan terus berlanjut, agar para peneliti dan pemikir yang meminati masalah-masalah ini, akan dapat mencapai hasil-hasil yang lebih sempurna.

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]