|
Kemuliaan sebagai sebuah asas fundamental, telah menyatu dengan watak
manusia. Dalam Surat Al-Israa Ayat 70, Allah swt berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ
وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
Dan telah Kami muliakan anak Adam dan kami tempatkan mereka di darat dan
di laut, dan Kami rizkikan kepada dari hal-hal yang baik, dankami
utamakan mereka dari kebanyakan ciptaan Kami dengan sebaik-baik
keutamaan.
Ayat 70 Surat Al-Israa yang telah dibacakan tadi menegaskan
kelebihutamaan manusia di atas sebagian besar makhluk Allah swt. Manusia
yang dengan kemampuan berpikir dan mengembangkan kemampuannya ini, juga
dengan bentuk fisik yang indah dan kuat, yang mampu menjalani hidupnya
di atas permukaan bumi dan di laut, dalam rangka mencapai kebahagiaan
dan kesempurnaannya. Hal pertama yang muncul dalam pembahasan seputar
kemuliaan manusia ialah kebebasan dan kemerdekaannya dalam memilih.
Jika seseorang dipaksa menerima keyakinan tertentu, meskipun
keyakinan tersebut adalah keyakinan yang benar, maka sesungguhnya
kemuliaannya sebagai manusia telah diinjak-injak. Oleh karena itu,
bahkan para Nabi yang merupakan pendidik manusia yang tiada
tandingannya, tetap saja tidak berhak memaksakan kehendak dan pendidikan
mereka kepada orang lain. Dalam Ayat 21 dan 22 Surat Al-Ghasyiyah, Allah
swt menegaskan bahwa tugas para Nabi hanyalah memberikan peringatan.
Allah berfirman:
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ
Berilah peringatan. Taklain engkau adalah pemberi peringatan.
Engkau tidak berkuasa atas mereka.
Oleh karena memiliki keutamaan besar berupa kemuliaan, maka manusia
dilarang bertaklid dan mengikuti ajaran orang lain dengan membabi-buta.
Kemuliaan manusia berada dalam kemampuannya bertadabbur, memikirkan,
menimbang dan memahami. Untuk itu sudah seharusnyalah manusia yang
merupakan makhluk barakal ini, menggunakan kemampuannya berpikir untuk
memilih dan menimbang dalam menjalani kehidupannya, serta menghindari
sikap mengikuti orang lain dengan membabi-buta.
Di masa sekarang, berbagai kemajuan industri dan materi, di samping
manfaat dan faedahnya yang tak terhingga, juga menghadapkan manusia
dengan berbagai krisis dan kesulitan, seperti krisis identitas serta
keterjauhan dari watak dan kepribadian aslinya, yang semua itu akan
merendahkan kemuliaannya sebagai manusia. Beberapa fenomena seperti
ekstrimisme dan kekerasan, telah mengakibatkan manusia zaman ini
mengalami kelemahan dalam sifat dan watak-watak mulianya. Pertanyaan
berikut ini memenuhi benak manusia zaman ini, yaitu bagaimana caranya,
manusia yang merupakan makhluk termulia ini, yang memiliki kemampuan
menguasai berbagai rahasia alam, mampu pula menguasai watak agresor dan
kezalimannya?
Di hari-hari peringatan wafat Imam Khumaini ra, penyelenggaraan sebuah
konferensi, dengan tema "Imam Khumaini dan Kemuliaan Manusia", telah
membuka peluang bagi para cendekiawan untuk mempelajari masalah
kemuliaan manusia ini dari berbagai seginya. Konferensi ini merupakan
gerak menuju pengembangan sifat-sifat utama, yang dewasa ini sudah
semakin meredup dan menipis dalam wujud manusia. Konferensi
internasional Imam Khumaini dan Kemuliaan Manusia, digelar pekan lalu,
dengan partisipasai 70 cendekiawan dari berbagai negara, di Tehran.
Tujuan utama konferensi ini ialah memberikan perhatian kepada seluruh
dimensi manusia dan kemuliaannya, serta menciptakan pandangan baru
berkenaan dengan makhluk Allah yang paling mulia ini.
Imam Khumaini ra, pendeiri RII, merupakan perwujudan dan menifestasi
kemuliaan manusia. Selain itu, strategi utama beliau dalam kebangkitan
Islam yangbeliau pimpin ialah mengembalikan kemuliaan manusia ke
tempatnya semula. Dengan mengikuti Rasul Allah saaw, beliau menyeru
manusia kepada kemuliaannya dan berusaha menyelamatkan umat manusia dari
penyembahan kepada selain Allah, dengan mengajak mereka kepada
penghambaan hanya kepada Allah swt. Demi kebahagiaan umat manusia, Imam
Khumaini meminta kepada manusia-manusia tertindas dan teraniaya, agar
menumbuhkan rasa percaya diri, dan berkata, "Mengapa kalian hanya duduk
saja?! Bangkitlah, selamatkanlah diri kalian sendiri, dan raihlah
kemuliaan diri kalian!!"
Perilaku Imam Khumaini ra, baik dalam urusan pribadi maupun masyarakat,
menunjukkan dengan jelas posisi dan kemuliaan kemanusiaan beliau.
Pengaruh dan daya tarik beliau, membuat semua orang terkesima, dan semua
orang, dengan keyakinan dan idiologi apa pun, bahkan nonmuslim yang sama
sekali tidak mengenal ajaran Islam, begitu mengenal perilaku dan akhlak
beliau, akan tertarik dan terpengaruh olehnya. Keagungan kepribadian
Imam Khumaini terletak pada perhatian beliau terhadap dua dimensi
manusia sekaligus, yaitu maknawi dan meteri. Beliau memperjuangkan
nilai-nilai maknawi, irfan dan akhlak, di samping kemajuan teknologi,
dan beliau membimbing rakyat menuju ke arah tersebut.
Muhammad Basyir, peneliti dan penulis dari Afrika, yang ikut serta dalam
konferensi ini, mengatakan, "Imam Khumaini telah membangkitkan kita dan
menerangkan kepada kita tanggung jawab dan keduudkan seorang manusia.
Beliau sendiri adalah seorang manusia agung dan sempurna, dan memandang
bahwa kemerdekaan dan kebebasan adalah keniscayaan kehidupan individu
dan sosial seorang muslim."
Dalam pandangan Imam Khumaini ra, untuk memperoleh kemuliaannya yang
telah hilang, manusia haruslah memiliki jiwa yang bebas, dan melalui
jalan perjuangan menentang kebodohan dan ketidakadilan, ia harus
membebaskan diri dari kehinaan dan kezaliman. Demikian pula, dengan
emmperkuat akal, iman dan takwa dalam batinnya, manusia mempersiapkan
peluang pertumbuhan dan ketinggiannya. Dengan pandangan seperti itu,
Imam Khumaini ra, merasa optimis kepada hidayah semua manusia, karena
beliau mempercayai mereka, dan memandang mereka itu memiliki potensi
untuk menemukan jalan kebenaran. Beliau juga meyakini bahwa ambisi dan
segala macam arogansi negara-negara adidaya, yang ingin menguasai
seluruh dunia bagi diri mereka sendiri, merupakan penghalang terbesar
bagi perkembangan potensi-p[otensi manusia dan aral yang melintang di
depan perjalan manusia menuju kemuliaannya.
Sayid Muhammad Khatami, mantan Presiden RII, yang menjabat sebagai
Sekretaris Utama Konferensi Imam Khumaini dan Kemuliaan Manusia,
berkata, "Dalam peribahasa kami dikatakan bahwa manusia adalah anak emas
alam jagad raya ini. Imam Khumaini ra, sebagai seorang arif dan filsuf,
memandang manusia dan kemuliaannya sebagaimana yang terkandung dalam
peribahasa tersebut. Dewasa ini, hak tertinggi manusia yang dibicarakan
dalam masalah-masalah sosial, ialah hak kekuasaan seseorang atas
nasibnya sendiri. Kemuliaan manusia berarti penghargaan terhadap hak
ini. Imam Khumaini ra selalu memuliakan manusia dimanapun berada, dan
dalam masalah-masalah sosial dan politik, beliau menekankan satu hal,
yaitu bahwa "yang menjadi tolok ukur ialah suara rakyat".
Dr Bahram Akhwan Kadzimi, dalam pidatonya mengatakan, "Imam Khumaini ra,
sebagai seorang manusia sempurna, berjuang membela kemuliaan manusia.
Untuk itulah kepemimpinan beliau membeirkan pengaruh yang paling besar
di tengah masyarakat luas. Beliau adalah seorang yang telah berhasil
membangun diri sendiri, sehingga muncul sebagai manusia yang sangat
mulia, dimana hanya di tengah pendidikan Islam-lah terdapat kemungkinan
munculnya manusia seperti beliau. Menurut Ayatullah Udhma Sayid Ali
Khemenei, Rahbar Revolusi Islam, "Imam telah mengajarkan kepada semua
orang bahwa menjadi manusia sempurna, menjalani kehidupan yang mirip
dengan kehidupan Imam Ali as, dan hidup dengan tingkat yang mendekati
tingkat kema'shuman, bukanlah mitos."
Dalam konferensi Imam Khumaini ra dan Kemuliaan Manusia, telah
dikirimkan 220 makalah, dimana 40 dari semua makalah tersebut datang
dari negara-negara Eropa, Afrika dan Asia. Makalah-makalah ini,
merupakan kumpulan yang kaya dan sangat bernilai berkenaan dengan
masalah kemuliaan manusia dan tujuan hidupnya. Di akhir konferensi ini
diumumkan bahwa hingga beberapa tahun lagi, konferensi ini akan terus
berlanjut, agar para peneliti dan pemikir yang meminati masalah-masalah
ini, akan dapat mencapai hasil-hasil yang lebih sempurna.
|