Perspektif    

  Mei 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tanggung Jawab Media Massa Islam Masa Kini

Kekuatan media massa terletak dalam kemampuannya mempengaruhi opini umum. Sayangnya dunia Islam belum mau juga memanfaatkan media yang sangat ampuh untuk menyukseskan tujuan-tujuan, atau minimal untuk membela diri ini. Akibatnya dunia Islamlah yang selalu menjadi bulan-bulanan negara-negara Barat, yang sudah sejak lama memanfaatkan media massa ini. Saat ini umat muslimin tengah menghadapi berbagai macam tuduhan dan serangan mental serta propaganda luas dari Barat; tanpa dapat memberikan jawaban yang sesuai untuk menangkis dan mengkanter tuduhan-tuduhan dan propaganda hitam ini.

Konferensi Internasional Media Massa Dunia Islam, yang digelar di Damaskus, Suriah, dari tanggal 30 April hingga 2 Mei, merupakan upaya untuk mengkoordinasikan media-media massa dunia Islam. Lebih dari 1000 pakar media massa dan mereka yang bergelut di bidang ini, datang dari 35 negara, menghadiri konferensi tersebut, dan membahas masalah penting ini. Konferensi ini, untuk pertama kalinya digelar di Tehran, pada bulan Februari 2002, atas inisiatif Iran, melihat keperluan mendesak kepada penyatuan pandangan para pakar dan pembentukan blok media massa bersama dunia Islam. Beirut, ibu kota Lebanon, menjadi tuan rumah konferensi kedua di bulan September, tahun berikutnya, yang diadakan oleh jaringan TV Al-Manar. Konferensi ketiga, meski agak terlambat, tapi digelar besar-besaran di Damaskus, yang menindaklanjuti hasil-hasil konferensi Tehran dan Beirut, serta usaha-usaha yang lebih serius untuk merealisasikan tujuan-tujuan utama konferensi ini.

Dalam konferensi media massa dunia Islam, berbagai serangan propaganda berbahaya dari Barat terhadap Islam dan muslimin, dibahas dan dipelajari; dimana para pakar masalah ini saling bertukar pikir untuk mencari jalan-jalan yang sesuai guna menghadapi serangan-serangan tersebut. Izzatullah Dlarghami, Direktur IRIB (Radio dan TV RII) yang hadir dalam konferensi di Damaskus, berkenaan dengan berbagai dimensi serangan propaganda Barat ini, mengatakan, "Serangan luas media massa Barat terhadap dunia Islam, diarahkan kepada beberapa sasaran penting, yaitu menampilkan Islam dan muslimin dengan wajah menyeramkan, upaya untuk menyimpangkan hakekat kebangkitan Islam, menciptakan perpecahan diantara umat Islam, dan usaha mencegah kemajuan ilmu dan teknologi negara-negara Islam."

Selama satu dekade lalu, berbagai media massa dunia Islam, mengalami peningkatan dari sisi kwantitas dan kwalitas. Akan tetapi, meskipun berbagai fariasi dan kemajuan ini merupakan poin kekuatan media massa Islam, sayangnya hingga sekarang masih belum diberdayakan secara optimal. Salah satu titik kelemahan media massa dunia Islam ialah keterpengaruhan mereka oleh media-media besar Barat. Sehingga dalam banyak peristiwa di dunia, bahkan di dunia Islam sendiri, sebagian media massa di dunia Islam masih mengekor kebijakan propaganda media massa Barat. Penyebaran semangat perpecahan, yang dilakukan oleh sejumlah radio dan tv serta media cetak negara Arab dan Islam, merupakan bukti masih adanya langkah-langkah media massa Islam untuk kepentingan negara-negara imperialis Barat.

Husein Syareat Madari, Direktur koran Kaihan, Iran, meyakini bahwa iklim yang ada di dunia Islam, dan meningkatnya ketegangan diantara Syiah dan Ahlussunnah, hingga batas yang cukup tinggi, merupakan hasil kinerja sejumlah jaringan media massa yang didukung oleh teknologi satelit, di dunia Islam. Padahal, seharusnya, salah satu tugas terbesar di pundak media massa Islam ialah usaha menciptakan persatuan dan kekompakan di kalangan umat Islam. Apalagi jika kita lihat kenyataan bahwa media-media massa Barat selalu berusaha menghembuskan perpecahan dan permusuhan di tengah umat Islam. Untuk itu, dalam konferensi Damaskus ditekankan kepada media massa Islam untuk bergerak dalam usaha menggalang persatuan dan persaudaraan Islam. Para peserta juga meminta agar karya terbaik di bidang ini dipilih dan diperkenalkan setiap tahunnya.

Diantara hal-hal yang mencegah media-media massa ini untuk memperjuangkan persatuan Islam ialah keterjebakan mereka ke dalam kerangka politik-politik sempit satu atau beberapa negara. Masalah ini telah menyebabkan media-media massa ini tidak mampu menatap masalah-masalah dunia Islam dan kepentingan muslimin secara luas, bahkan mereka masih saja berkutat dengan masalah-masalah khilafiyah, perselisihan pendapat dan perbedaan etnis. Konferensi media massa Islam meminta kepada para pengelola media ini untuk menunjukkan kekompakan mereka dalam praktek, dan bersatu dalam satu barisan dengan satu garis dan kebijakan propaganda, demi menghadapi serangan kebudayaan musuh bersama.

Salah satu tugas penting media massa Islam ialah menyadarkan bangsa-bangsa muslim. Dalam beberapa waktu lalu, proses kebangkitan Islam sudah semakin menguat. Hal ini semakin memberatkan tugas media massa Islam. Tak diragukan bahwa perangkat dan media massa dapat memainkan peran efektifnya dalam memberikan pencerahan kepada muslimin, agar mereka memahami posisi mereka dan menyadari makar-makar musuh. Selain itu, penumbuhan semangat optimis terhadap masa depan dan rasa percaya diri, merupakan tugas lain sebuah media massa Islam. Karena dengan semua itulah umat Islam akan mampu mencapai kemajuan dan kesejahteraan dengan lebih cepat.

Dalam hal ini, propaganda berbagai kemajuan dan penemuan-penemuan ilmiyah baru di berbagai bidang oleh negara-negara Islam, akan memiliki peran yang amat penting. Sayangnya, hingga kini, masih banyak media massa Islam belum bekerja dengan baik dan cerdas dalam masalah ini. Sebagai contoh, ketika semua media massa Barat besar, berusaha menutup-nutupi keberhasilan para pakar Iran dalam menguasai teknologi nuklir tujuan damai, atau berusaha menampilkan program nuklir Iran sebagai sumber bahaya; media-media massa Islam pun tidak mau memberikan informasi yang sesuai berkenaan dengan esensi dan status damai program nuklir Iran. Bahkan sejumlah media massa Arab mengambil sikap anti terhadap program nuklir Iran. Padahal keberhasilan ilmu dan teknologi para pakar dan cendekiawan Iran, tak lain adalah kemenangan besar bagi seluruh bangsa muslim di dunia.

Masalah Palestina adalah salah satu obyek penting yang seharusnya mempersatukan media-media massa dunia Islam. Untuk itulah konferensi media massa Islam, sering kali menampilkan pula tema "Media Massa Dunia Islam, Mendukung Bangsa Palestina". Masalah Palestina adalah titik perbenturan nyata antara media massa Barat dan media massa dunia Islam. Hampir semua media massa besar Barat, yang berada di bawah pengaruh luas kaum zionis, dengan terang-terangan mendukung kejahatan-kejahatan rezim zionis terhadap rakyat lemah Palestina. Akan tetapi media massa Islam hingga kini masih belum menunjukkan dukungan yang seharusnya terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Dalam deklarasi yang dirilis di akhir konferensi media massa Islam, telah ditekankan bahwa cita-cita Palestina masih ettap tampil sebagai prioritas kerja semua media massa Islam, dan mereka harus mengungkapkan berbagai kejahatan dan kebohongan serta tipu daya media massa pro zionis. Deklarasi ini juga meminta agar dilancarkan informasi-informasi yang sesuai untuk membongkar politik rasialisme dan kejahatan rezim zionis terhadap Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsha. Jika media massa Islam sudah berhasil menggalang persatuan dalam mendukung perjuangan bangsa Palestina, maka dalam waktu dekat kita akan menyaksikan perkembangan positif yang menguntungkan bangsa Palestina, insya Allah.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]