Perspektif    

  Mei 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sinema AS Penyebar Rasialisme (1)

Sepintas jika kita perhatikan perfileman dunia, maka akan kita temukan hakekat, bahwa lebih daripada karya seni apa pun, filem sering kali digunakan sebagai alat penyebar idiologi. Berdasarkan saksi-saksi sejarah, idiologi-idiologi ekstrim abad ke-20, di samping aktifitas-aktifitas propaganda lain, menggunakan filem semaksimal mungkin sebagai alat propagandanya. Mungkin dapat dikatakan bahwa kemajuan-kemajuan teknik perfileman, bukan semata merupakan tuntutan kesenian, tapi sebagiannya merupakan tuntutan-tuntutan idiologis. Saudara sekalian yang kami muliakan, dalam acara ini kami akan berbicara tentang filem-filem AS yang digunakan sebagai alat untuk menyebarkan idiologi-idiologi Barat, termasuk rasialisme.

Perfileman Hollywood, yang berada di dalam cengkeraman kaum Yahudi zionis, terbentuk dari gabungan antara ebrbagai interes kolonialisme AS dari satu sisi, dan kondisi yang muncul setelah Perang Dunia 1 dan 2, dari sisi lain. Di dalam filem-filem yang dibuat selama tahun-tahun tersebut, tentara dan pasukan militer AS selalu tampil sebagai penyelamat dan pemberi kemerdekaan; sedangkan kaum Yahudi tampil sebagai bangsa yang harus dikasihani dan selalu dizalimi. Digambarkan pula bahwa bangsa-bangsa di dunia memerlukan seorang pemimpin yang kuat untuk menolong dan menyelamatkan mereka. Masalah ini sudah sedemikian mengakar, sehingga topik-topik utama filem-filem yang dibuat di sejumlah negara, juga berkisar hanya pada masalah ini. Dari manakah munculnya idiologi rasialisme ekstrim yang dari hari ke hari semakin menguat ini?

Pandangan kritis terhadap kehidupan dan dunia, merupakan hasil dua faktor: salah satunya ialah gambaran dan ajaran-ajaran yang datang dari luar seseorang, dan yang lainnya ialah pencarian dan penelitian yang dilakukan dengan usaha keras orang itu sendiri. Sejak manusia memiliki kemampuan untuk berpikir secara terarah, maka tindakan dan perbuatannya akan bergantung kepada pandangannya terhadap dunia dan kehidupan serta pemahaman baik dan buruknya terhadap segala sesuatu. Untuk itulah, guna mengenal dengan baik suatu zaman dan bangsa tertentu, maka pemikiran politik yang berlaku di zaman atau bangsa tersebut harus dikenali pula.

 

Bertrand Russel, dalam bukunya "Sejarah Filsafat Barat" di bagian mukaddimah "Filsafat Baru" buku tersebut, menulis, "Era sejarah itu, yang biasanya disebut sebagai era baru, memiliki pandangan dan pemikiran khusus, yang memiliki kemiripan sangat banyak dengan Yunani kuno. Kekuasaan bangsa-bangsa yang mayoritas berada di tangan para raja, sebagaimana di masa Yunani kuno, secara perlahan berubah ke dalam bentuk demokrasi di permukaan, lalu jatuh ke tangan para penguasa tiran."

Selain Russel, banyak lagi yang meyakini bahwa ciri-ciri Yunani kuno, dapat disaksikan dengan sangat jelas di dalam masyarakat Barat dewasa ini. Akan tetapi apakah yang mendasari pandangan bangsa Yunani? Salah satu ciri khusus Yunani kuno ialah rasialisme, yang dibenarkan pula oleh para pemikir dan peneliti masalah ini. Bertrand Russel, dalam buku "Sejarah Filsafat Barat" menukil kata-kata Plato, menulis sebagai berikut, "Tuhan menciptakan manusia dalam tiga kelas. Kelas terbaik manusia diciptakan dari emas, sedangkan kelas kedua dibuat dari perak, sementara masyarakat awam diciptakan dari besi dan logam-logam murahan lain. Manusia-manusia emas sangat tepat untuk tampil sebagai pemimpin. Manusia-manusia perak diciptakan untuk menjadi tentara dan militer, sedangkan selain mereka diciptakan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar."

Russel meyakini bahwa secara umum, pandangan yang berlaku di Barat terhadap dunia dan manusia serta masalah pemerintahan, terpengaruh oleh filsafat Yunani. Pada akhirnya ia mengakui dengan mengatakan, "Menurut saya, tampaknya, pemerintahan Sparta, adalah contoh kecil sebuah pemerintahan, yang akan terbentuk, jika kaum Nazi memperoleh kemenangan." Pada tahun 1915, David Wark Griffith, membuat filem "The Birth of a Nation" (Kelahiran Sebuah Bangsa), yang meskipun merupakan filem bisu, tapi topik-topik yang diangkat dalam filem tersebut, diangkat lagi dalam filem-filem yang dibuat kemudian. Filem "The Birth of a Nation" berbicara tentang perang saudara di AS dan hubungan-hubungan emosional para pemuda kedua belah pihak yang berperang

Filem "The Birth of a Nation" diputar di masa-masa awal Perang Dunia pertama (PD 1), dan secara tersirat memberikan justifikasi keterlibatan AS dalam PD 1. Filem "The Birth of a Nation" adalah sebuah bid'ah dalam industri perfileman. George Sadol, kritikus filem, mengatakan, "Rasialisme adalah salah satu segi menonjol dalam pribadi Griffith yang lahir dari pendidikan dan cara berpikir masa mudanya. Kontradiksi di dalam kepribadiannya, yaitu rasialisme dan (hingga batas tertentu) perikemanusiaannya, tampak seperti tidak ada masalah. Ia adalah anggota suatu keluarga yang kehilangan segala sesuatunya dalam perang. Seluruh warga AS Selatan, secara tradisional dan turun menurun, membenci warga kulit hitam. Grifftih tidak terkecualikan dari idiologi ini. Dalam membuat filemnya ini, ia menggunakan dua buku yang berkaitan dengan sejarah perbudakan bangsa kulit hitam."

Filem ini menyuguhkan peristiwa sejarah di awal dan akhirnya. Filem dimulai dengan kedatangan warga kulit hitam Afrika ke AS di abad ke-17, menampilkan sebuah pasar jual beli budak, dan berkumpulnya para pembeli budak yang menunjukkan sikap lemah lembut yang dibuat-buat. Menurut Sang Sutradara, berbagai masalah mulai bermunculan dengan dimulainya kebangkitan anti perbudakan. Pada akhirnya Negara Bagian Utara dan Selatan bersatu dan dengan terciptanya persatuan menentang para budak, persaudaraan diantara warga kulit putih AS kembali terwujud.

Filem yang mengangkat slogan "Pesan AS untuk bangsa-bangsa Eropa yang terlibat perang" diputar di sebagian besar negara, dan di AS filem ini diputar pertama kali pada tanggal 4 Juli, yang merupakan hari kemerdekaan negara ini. Griffith memasukkan beberapa adegan rasialistis di dalam filemnya, diantaranya adegan ketika sejumlah orang kulit hitam melakukan aksi-aksi kekerasan. Adegan-adegan yang tidak memiliki kenyataan ini sempat mempengaruhi mentalitas dan cara berpikir banyak penonton, sehingga membuat sutradara filem ini merasa telah berhasil mencapai tujuan utamanya.

Eric Rood, dalam buku "Sejarah Filem" menulis, "Di bagian akhir filem "The Birth of a Nation" ditayangkan adegan para anggota Ku Klux Klan berdatangan untuk menyelamatkan beberapa orang kulit putih dari serangan orang-orang kulit hitam. Dalam adegan-adegan seperti ini, jelas sekali bahwa Griffith ingin memperkenalkan bangsa kulit hitam sebagai bahaya terbesar untuk bangsa-bangsa lain. Watak rasialis Sang Sutradara ini sangat mewarnai semua cerita filem. Di zaman itu masih belum ada orang yang mendengar nama Ku Klux Klan. Akan tetapi di dalam filem Griffith ini, kehadiran kelompok rasialis ekstrim tersebut sangat menonjol. Kisah tentang persatuan kulit putih menentang kulit hitam atau selain kulit putih, secara keseluruhan, yang ditonjolkan di dalam filem ini, menjadi bahan mentah yang dikembangkan lebih lanjut di dalam berbagai filem yang dibuat setelah itu.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]