|
Sinema AS Penyebar Rasialisme (1)
Sepintas jika kita perhatikan perfileman
dunia, maka akan kita temukan hakekat, bahwa lebih daripada karya seni
apa pun, filem sering kali digunakan sebagai alat penyebar idiologi.
Berdasarkan saksi-saksi sejarah, idiologi-idiologi ekstrim abad ke-20,
di samping aktifitas-aktifitas propaganda lain, menggunakan filem
semaksimal mungkin sebagai alat propagandanya. Mungkin dapat dikatakan
bahwa kemajuan-kemajuan teknik perfileman, bukan semata merupakan
tuntutan kesenian, tapi sebagiannya merupakan tuntutan-tuntutan
idiologis. Saudara sekalian yang kami muliakan, dalam acara ini kami
akan berbicara tentang filem-filem AS yang digunakan sebagai alat untuk
menyebarkan idiologi-idiologi Barat, termasuk rasialisme.
Perfileman Hollywood, yang berada di dalam
cengkeraman kaum Yahudi zionis, terbentuk dari gabungan antara ebrbagai
interes kolonialisme AS dari satu sisi, dan kondisi yang muncul setelah
Perang Dunia 1 dan 2, dari sisi lain. Di dalam filem-filem yang dibuat
selama tahun-tahun tersebut, tentara dan pasukan militer AS selalu
tampil sebagai penyelamat dan pemberi kemerdekaan; sedangkan kaum Yahudi
tampil sebagai bangsa yang harus dikasihani dan selalu dizalimi.
Digambarkan pula bahwa bangsa-bangsa di dunia memerlukan seorang
pemimpin yang kuat untuk menolong dan menyelamatkan mereka. Masalah ini
sudah sedemikian mengakar, sehingga topik-topik utama filem-filem yang
dibuat di sejumlah negara, juga berkisar hanya pada masalah ini. Dari
manakah munculnya idiologi rasialisme ekstrim yang dari hari ke hari
semakin menguat ini?
Pandangan kritis terhadap kehidupan dan
dunia, merupakan hasil dua faktor: salah satunya ialah gambaran dan
ajaran-ajaran yang datang dari luar seseorang, dan yang lainnya ialah
pencarian dan penelitian yang dilakukan dengan usaha keras orang itu
sendiri. Sejak manusia memiliki kemampuan untuk berpikir secara terarah,
maka tindakan dan perbuatannya akan bergantung kepada pandangannya
terhadap dunia dan kehidupan serta pemahaman baik dan buruknya terhadap
segala sesuatu. Untuk itulah, guna mengenal dengan baik suatu zaman dan
bangsa tertentu, maka pemikiran politik yang berlaku di zaman atau
bangsa tersebut harus dikenali pula.
Bertrand Russel, dalam bukunya "Sejarah
Filsafat Barat" di bagian mukaddimah "Filsafat Baru" buku tersebut,
menulis, "Era sejarah itu, yang biasanya disebut sebagai era baru,
memiliki pandangan dan pemikiran khusus, yang memiliki kemiripan sangat
banyak dengan Yunani kuno. Kekuasaan bangsa-bangsa yang mayoritas berada
di tangan para raja, sebagaimana di masa Yunani kuno, secara perlahan
berubah ke dalam bentuk demokrasi di permukaan, lalu jatuh ke tangan
para penguasa tiran."
Selain Russel, banyak lagi yang meyakini
bahwa ciri-ciri Yunani kuno, dapat disaksikan dengan sangat jelas di
dalam masyarakat Barat dewasa ini. Akan tetapi apakah yang mendasari
pandangan bangsa Yunani? Salah satu ciri khusus Yunani kuno ialah
rasialisme, yang dibenarkan pula oleh para pemikir dan peneliti masalah
ini. Bertrand Russel, dalam buku "Sejarah Filsafat Barat" menukil
kata-kata Plato, menulis sebagai berikut, "Tuhan menciptakan manusia
dalam tiga kelas. Kelas terbaik manusia diciptakan dari emas, sedangkan
kelas kedua dibuat dari perak, sementara masyarakat awam diciptakan dari
besi dan logam-logam murahan lain. Manusia-manusia emas sangat tepat
untuk tampil sebagai pemimpin. Manusia-manusia perak diciptakan untuk
menjadi tentara dan militer, sedangkan selain mereka diciptakan untuk
mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar."
Russel meyakini bahwa
secara umum, pandangan yang berlaku di Barat terhadap dunia dan manusia
serta masalah pemerintahan, terpengaruh oleh filsafat Yunani. Pada
akhirnya ia mengakui dengan mengatakan, "Menurut saya, tampaknya,
pemerintahan Sparta, adalah contoh kecil sebuah pemerintahan, yang akan
terbentuk, jika kaum Nazi memperoleh kemenangan." Pada tahun 1915, David
Wark Griffith, membuat filem "The Birth of a Nation" (Kelahiran Sebuah
Bangsa), yang meskipun merupakan filem bisu, tapi topik-topik yang
diangkat dalam filem tersebut, diangkat lagi dalam filem-filem yang
dibuat kemudian. Filem "The Birth of a Nation" berbicara tentang perang
saudara di AS dan hubungan-hubungan emosional para pemuda kedua belah
pihak yang berperang
Filem "The Birth of a Nation" diputar di
masa-masa awal Perang Dunia pertama (PD 1), dan secara tersirat
memberikan justifikasi keterlibatan AS dalam PD 1. Filem "The Birth of a
Nation" adalah sebuah bid'ah dalam industri perfileman. George Sadol,
kritikus filem, mengatakan, "Rasialisme adalah salah satu segi menonjol
dalam pribadi Griffith yang lahir dari pendidikan dan cara berpikir masa
mudanya. Kontradiksi di dalam kepribadiannya, yaitu rasialisme dan (hingga
batas tertentu) perikemanusiaannya, tampak seperti tidak ada masalah. Ia
adalah anggota suatu keluarga yang kehilangan segala sesuatunya dalam
perang. Seluruh warga AS Selatan, secara tradisional dan turun menurun,
membenci warga kulit hitam. Grifftih tidak terkecualikan dari idiologi
ini. Dalam membuat filemnya ini, ia menggunakan dua buku yang berkaitan
dengan sejarah perbudakan bangsa kulit hitam."
Filem ini menyuguhkan peristiwa sejarah di
awal dan akhirnya. Filem dimulai dengan kedatangan warga kulit hitam
Afrika ke AS di abad ke-17, menampilkan sebuah pasar jual beli budak,
dan berkumpulnya para pembeli budak yang menunjukkan sikap lemah lembut
yang dibuat-buat. Menurut Sang Sutradara, berbagai masalah mulai
bermunculan dengan dimulainya kebangkitan anti perbudakan. Pada akhirnya
Negara Bagian Utara dan Selatan bersatu dan dengan terciptanya persatuan
menentang para budak, persaudaraan diantara warga kulit putih AS kembali
terwujud.
Filem yang mengangkat slogan "Pesan AS untuk
bangsa-bangsa Eropa yang terlibat perang" diputar di sebagian besar
negara, dan di AS filem ini diputar pertama kali pada tanggal 4 Juli,
yang merupakan hari kemerdekaan negara ini. Griffith memasukkan beberapa
adegan rasialistis di dalam filemnya, diantaranya adegan ketika sejumlah
orang kulit hitam melakukan aksi-aksi kekerasan. Adegan-adegan yang
tidak memiliki kenyataan ini sempat mempengaruhi mentalitas dan cara
berpikir banyak penonton, sehingga membuat sutradara filem ini merasa
telah berhasil mencapai tujuan utamanya.
Eric Rood, dalam buku "Sejarah
Filem" menulis, "Di bagian akhir filem "The Birth of a Nation"
ditayangkan adegan para anggota Ku Klux Klan berdatangan untuk
menyelamatkan beberapa orang kulit putih dari serangan orang-orang kulit
hitam. Dalam adegan-adegan seperti ini, jelas sekali bahwa Griffith
ingin memperkenalkan bangsa kulit hitam sebagai bahaya terbesar untuk
bangsa-bangsa lain. Watak rasialis Sang Sutradara ini sangat mewarnai
semua cerita filem. Di zaman itu masih belum ada orang yang mendengar
nama Ku Klux Klan. Akan tetapi di dalam filem Griffith ini, kehadiran
kelompok rasialis ekstrim tersebut sangat menonjol. Kisah tentang
persatuan kulit putih menentang kulit hitam atau selain kulit putih,
secara keseluruhan, yang ditonjolkan di dalam filem ini, menjadi bahan
mentah yang dikembangkan lebih lanjut di dalam berbagai filem yang
dibuat setelah itu.
|