Perspektif    

   April 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Persatuan Ummat Islam, Syarat Kemajuan

Persatuan adalah keperluan sangat penting bagi ummat manusia sepanjang massa. Manusia sejak dulu mengetahui bahwa lewat kebersamaan, banyak sekali pekerjaan yang bisa terselesaikan secara lebih baik. Bahkan ada beberapa permasalahan sosial yang hanya akan bisa terselesaikan jika anggota masyarakat bersatu. Sejarah menunjukkan, berbagai peradaban yang besar hanya bisa tercipta lewat kebersamaan para anggota masyarakatnya. Ketika kebersamaan itu hilang, pada saat itu pula peradaban tersebut mulai kehilangan pamor dan akhirnya runtuh.

Ajaran Islam juga selalu menekankan pentingnya persatuan dan persaudaraan di antara ummatnya. Kitab Suci Al Quran juga menyeru ummat Islam agar menganggap sesama penganut agama suci ini sebagai saudara. Al Quran menyeru mereka semua agar bersama-sama mencengkeram kuat tali persatuan Ilahi dan tidak berpecah-belah. Sejarah ummat Islam juga menunjukkan fenomena yang menarik ini. Agama Islam muncul menjadi cahaya peradaban manakala mereka bersatu-padu. Ketika mereka bercerai-berai, pada saat itulah ummat Islam menjadi kelompok masyarakat yang sangat lemah.

Harus diakui bahwa ummat Islam memang terbagi-bagi ke dalam berbagai kelompok dan aliran yang berbeda-beda. Akan tetapi, kalau kita cermati, akan kita dapati bahwa berbagai perbedaan tersebut sangat kecil baik secara kualitas ataupun kuantitas dibandingkan dengan persamaan-persamaan yang dimiliki oleh ummat Islam dari berbagai golongan dan madzhab itu. Ummat Islam, apapun golongan dan madzhabnya mempercayai Allah yang satu, mengimani kitab suci Al Quran sang sama, serta menjadikan Nabi Muhamad SAWW sebagai panutan. Selain itu, ummat Islam juga memiliki kiblat untuk shalat yang sama. Dalam berbagai amal ibadah yang utama, ummat Islam juga memiliki banyak kesamaan. Mereka semua menjalankan shalat, membayar zakat, berpuasa, menunaikan ibadah haji, dan lain sebagainya.

Lalu mengapa ummat Islam menjadi terpecah belah seperti sekarang ini? Berbagai kajian menunjukkan bahwa masalah problem ini muncul karena adanya dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah penjajahan dunia Barat terhadap kaum muslimin. Sudah banyak dibicarakan bahwa para imperialis Barat selalu mengejar ambisi yaitu menguasai dan mengekspoitasi sumber-sumber alam yang sangat kaya di negeri-negeri muslim. Demi meraih ambisi tersebut, mereka berusaha memperlemah kaum muslimin dengan menciptakan perpecahan. Dengan lemahnya muslimin maka mereka akan dengan mudah mencapai tujuan-tujuan ilegal mereka, sementara umat muslimin tersibukkan dengan perpecahan di antara mereka sendiri dan tidak pernah mampu berbuat apa pun menghadapi musuh bersama.

Sangat disayangkan bahwa dalam upayanya mengoyak persatuan di antara ummat Islam, kaum imperialis banyak mencapai keberhasilan. Fakta menunjukkan bahwa selama berabad-abad, banyak negeri muslim yang dijajah oleh negara-negara imperialis Barat. Tidak diragukan lagi bahwa pada masa itu, kaum muslimin berpecah-belah dan enggan bersatu. Di lain pihak, keberhasilan berbagai negeri muslim dalam menghalau para penjajah selalu disertai dengan fenomena keberhasilan kaum muslimin memperkuat persatuan di antara sesama mereka.

Selain faktor eksternal, yaitu imperialisme Barat, ada faktor internal yang membuat kaum muslimin terpecah-belah. Faktor-faktor internal itu adalah kebodohan atas ajaran agama dan fanatisme berlebihan sebagian golongan atas faham yang mereka miliki atas Islam. Kita menyaksikan berbagai kelompok fanatik dan ekstrem muncul di tengah-tengah masyarakat muslim. Ciri paling utama dari kelompok-kelompok ini adalah pemikiran merasa benar sendiri dan menganggap kelompok apapun di luar kelompok mereka sebagai kelompok yang pasti salah. Keyakinan itu bahkan diimplementasikan dengan cara mengkafirkan kelompok-kelompok lain di luar kelompok mereka. Dengan situasi seperti ini, ummat Islam dunia tenggelam ke dalam berbagai perbedaan pendapat sepele lalu melupakan kewajiban utama yaitu melawan penindasan Barat.

Untunglah dalam situasi seperti ini, dunia Islam selalu menghadirkan para tokoh yang tidak kenal lelah menyerukan persatuan serta mengingatkan ummat Nabi Muhamad ini tentang bahayanya perpecahan. Sejarah mencatat kemunculan para tokoh perjuangan yang menentang para penjajah, dan menyandarkan prinsip perjuangannya kepada persatuan umat Islam. Kita mengenal nama-nama seperti Sayid Jamaluddin Asadabadi, yang dikenal dengan nama Jamaluddin Al-Afghani. Atau kita juga mengenal murid beliau bernama Muhammad Abduh, dan lain-lain. Demikian pula dari kelompok Syiah, kita mengenal Allamah Sayid Syarafuddin Al-Amili, dan juga peletak dasar Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini.

Keperluan ummat Islam untuk bersatu semakin terasa di masa-masa sekarang ini, yaitu ketika ketika isu perpecahan yang dihembuskan oleh musuh semakin mengancam. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kita menyaksikan munculnya perkembangan positif di dunia Islam yang membuat cemas negara-negara imperialis Barat. Perkembangan positif ini mendorong Barat kembali menggunakan senjata perpecahan umat Islam. Salah satu perkembangan positif penting itu ialah, bangkitkan kesadaran Islam di tengah para pengikut agama ini, setelah kemenangan revolusi Islam dan tegaknya pemerintahan Islam di Iran.

Saat ini, Barat menunjukkan indikasi hendak kembali melakukan penjajahan fisik atas sejumlah negeri muslim. Penjajahan pemikiran dan ekonomi yang menggantikan penjajahan fisik sepertinya tidak lagi bisa diandalkan oleh Barat yang selalu berambisi menguasai sumber daya alam negeri-negeri Muslim. Semua skenario mereka seakan porak-poranda ketika dunia Islam mulai bangkit. Karenanya, mereka merasa harus mengembalikan pola imperialisma lama gaya abad pertengahan. Kini, tiga negara Muslim dunia, yaitu Irak, Afghanistan, dan Palestina secara fisik diduduki negara-negara Barat di bawah komando AS. Sebagian negara Muslim lainnya juga selalu berada di bawah bayang-bayang ancaman itu. Kemudian, sebagaimana yang dahulu mereka terapkan, kini Barat juga meniupkan api perpecahan internal di tengah-tengah masyarakat Muslim di kawasan-kawasan itu.

Hanya saja, ummat Islam saat ini tampaknya lebih siap menghadapi berbagai konspirasi busuk Barat itu. Meskipun didera isu-isu perpecahan yang luar biasa gencar, secara umum ummat Islam di tiga kawasan itu masih bisa menjaga diri. Meskipun demikian, sangat disayangkan masih kita temukan adanya kelompok-kelompok yang termakan konspirasi Barat terkait isu perpecahan itu. Mereka yang dikenal dengan nama kelompok takfiriah, yaitu kelompok yang suka mengkafirkan kelompok lain, bahkan memiliki keyakinan halalnya membunuh sesama Muslim. Padahal Islam tidak mengajarkan demikian. Dalam ajaran Al Quran, dosa membunuh seorang yang tidak berdosa sama besar dengan dosa membunuh seluruh ummat manusia. Adapun soal perbedaan pendapat, Islam mengajarkan ummatnya untuk menyelesaikan masalah ini lewat dialog dan bertukar pikiran.

Selama beberapa hari ini, ummat Islam di Iran dan di sejumlah kawasan dunia Islam lainnya memperingati Pekan Persatuan Ummat Islam. Perayaan ini berlangsung selama hampir sepekan memanfaatkan perbedaan peringatan hari lahir Rasulullah di antara para penganut madzhab Sunni dan Syiah. Sebagaimana diketahui, kelompok Ahlu Sunnah meyakini Rasulullah SAWW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal, sedangkan penganut Syiah meyakininya pada tanggal 17 Rabiul Awwal. Pekan persatuan ummat Islam adalah moment yang sangat berharga guna memperkuat kebersamaan di antara sesama ummat Islam sekaligus untuk merumuskan langkah perlawanan bersama menghadapi konspirasi musuh.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]