|
Persatuan Ummat Islam, Syarat Kemajuan
Persatuan adalah keperluan
sangat penting bagi ummat manusia sepanjang massa. Manusia sejak dulu
mengetahui bahwa lewat kebersamaan, banyak sekali pekerjaan yang bisa
terselesaikan secara lebih baik. Bahkan ada beberapa permasalahan sosial
yang hanya akan bisa terselesaikan jika anggota masyarakat bersatu.
Sejarah menunjukkan, berbagai peradaban yang besar hanya bisa tercipta
lewat kebersamaan para anggota masyarakatnya. Ketika kebersamaan itu
hilang, pada saat itu pula peradaban tersebut mulai kehilangan pamor dan
akhirnya runtuh.
Ajaran Islam juga selalu
menekankan pentingnya persatuan dan persaudaraan di antara ummatnya.
Kitab Suci Al Quran juga menyeru ummat Islam agar menganggap sesama
penganut agama suci ini sebagai saudara. Al Quran menyeru mereka semua
agar bersama-sama mencengkeram kuat tali persatuan Ilahi dan tidak
berpecah-belah. Sejarah ummat Islam juga menunjukkan fenomena yang
menarik ini. Agama Islam muncul menjadi cahaya peradaban manakala mereka
bersatu-padu. Ketika mereka bercerai-berai, pada saat itulah ummat Islam
menjadi kelompok masyarakat yang sangat lemah.
Harus diakui bahwa ummat
Islam memang terbagi-bagi ke dalam berbagai kelompok dan aliran yang
berbeda-beda. Akan tetapi, kalau kita cermati, akan kita dapati bahwa
berbagai perbedaan tersebut sangat kecil baik secara kualitas ataupun
kuantitas dibandingkan dengan persamaan-persamaan yang dimiliki oleh
ummat Islam dari berbagai golongan dan madzhab itu. Ummat Islam, apapun
golongan dan madzhabnya mempercayai Allah yang satu, mengimani kitab
suci Al Quran sang sama, serta menjadikan Nabi Muhamad SAWW sebagai
panutan. Selain itu, ummat Islam juga memiliki kiblat untuk shalat yang
sama. Dalam berbagai amal ibadah yang utama, ummat Islam juga memiliki
banyak kesamaan. Mereka semua menjalankan shalat, membayar zakat,
berpuasa, menunaikan ibadah haji, dan lain sebagainya.
Lalu mengapa ummat Islam
menjadi terpecah belah seperti sekarang ini? Berbagai kajian menunjukkan
bahwa masalah problem ini muncul karena adanya dua faktor, yaitu faktor
eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah penjajahan dunia
Barat terhadap kaum muslimin. Sudah banyak dibicarakan bahwa para
imperialis Barat selalu mengejar ambisi yaitu menguasai dan
mengekspoitasi sumber-sumber alam yang sangat kaya di negeri-negeri
muslim. Demi meraih ambisi tersebut, mereka berusaha memperlemah kaum
muslimin dengan menciptakan perpecahan. Dengan lemahnya muslimin maka
mereka akan dengan mudah mencapai tujuan-tujuan ilegal mereka, sementara
umat muslimin tersibukkan dengan perpecahan di antara mereka sendiri dan
tidak pernah mampu berbuat apa pun menghadapi musuh bersama.
Sangat disayangkan bahwa
dalam upayanya mengoyak persatuan di antara ummat Islam, kaum imperialis
banyak mencapai keberhasilan. Fakta menunjukkan bahwa selama
berabad-abad, banyak negeri muslim yang dijajah oleh negara-negara
imperialis Barat. Tidak diragukan lagi bahwa pada masa itu, kaum
muslimin berpecah-belah dan enggan bersatu. Di lain pihak, keberhasilan
berbagai negeri muslim dalam menghalau para penjajah selalu disertai
dengan fenomena keberhasilan kaum muslimin memperkuat persatuan di
antara sesama mereka.
Selain faktor eksternal, yaitu imperialisme
Barat, ada faktor internal yang membuat kaum muslimin terpecah-belah.
Faktor-faktor internal itu adalah kebodohan atas ajaran agama dan
fanatisme berlebihan sebagian golongan atas faham yang mereka miliki
atas Islam. Kita menyaksikan berbagai kelompok fanatik dan ekstrem
muncul di tengah-tengah masyarakat muslim. Ciri paling utama dari
kelompok-kelompok ini adalah pemikiran merasa benar sendiri dan
menganggap kelompok apapun di luar kelompok mereka sebagai kelompok yang
pasti salah. Keyakinan itu bahkan diimplementasikan dengan cara
mengkafirkan kelompok-kelompok lain di luar kelompok mereka. Dengan
situasi seperti ini, ummat Islam dunia tenggelam ke dalam berbagai
perbedaan pendapat sepele lalu melupakan kewajiban utama yaitu melawan
penindasan Barat.
Untunglah dalam situasi seperti ini,
dunia Islam selalu menghadirkan para tokoh yang tidak kenal lelah
menyerukan persatuan serta mengingatkan ummat Nabi Muhamad ini tentang
bahayanya perpecahan. Sejarah
mencatat kemunculan para tokoh perjuangan yang menentang para penjajah,
dan menyandarkan prinsip perjuangannya kepada persatuan umat Islam. Kita
mengenal nama-nama seperti Sayid Jamaluddin Asadabadi, yang dikenal
dengan nama Jamaluddin Al-Afghani. Atau kita juga mengenal murid beliau
bernama Muhammad Abduh, dan lain-lain. Demikian pula dari kelompok
Syiah, kita mengenal Allamah Sayid Syarafuddin Al-Amili, dan juga
peletak dasar Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini.
Keperluan ummat Islam untuk
bersatu semakin terasa di masa-masa sekarang ini, yaitu ketika ketika
isu perpecahan yang dihembuskan oleh musuh semakin mengancam. Dalam
beberapa tahun terakhir ini, kita menyaksikan munculnya perkembangan
positif di dunia Islam yang membuat cemas negara-negara imperialis
Barat. Perkembangan positif ini mendorong Barat kembali menggunakan
senjata perpecahan umat Islam. Salah satu perkembangan positif penting
itu ialah, bangkitkan kesadaran Islam di tengah para pengikut agama ini,
setelah kemenangan revolusi Islam dan tegaknya pemerintahan Islam di
Iran.
Saat ini, Barat menunjukkan
indikasi hendak kembali melakukan penjajahan fisik atas sejumlah negeri
muslim. Penjajahan pemikiran dan ekonomi yang menggantikan penjajahan
fisik sepertinya tidak lagi bisa diandalkan oleh Barat yang selalu
berambisi menguasai sumber daya alam negeri-negeri Muslim. Semua
skenario mereka seakan porak-poranda ketika dunia Islam mulai bangkit.
Karenanya, mereka merasa harus mengembalikan pola imperialisma lama gaya
abad pertengahan. Kini, tiga negara Muslim dunia, yaitu Irak,
Afghanistan, dan Palestina secara fisik diduduki negara-negara Barat di
bawah komando AS. Sebagian negara Muslim lainnya juga selalu berada di
bawah bayang-bayang ancaman itu. Kemudian, sebagaimana yang dahulu
mereka terapkan, kini Barat juga meniupkan api perpecahan internal di
tengah-tengah masyarakat Muslim di kawasan-kawasan itu.
Hanya saja, ummat Islam saat
ini tampaknya lebih siap menghadapi berbagai konspirasi busuk Barat itu.
Meskipun didera isu-isu perpecahan yang luar biasa gencar, secara umum
ummat Islam di tiga kawasan itu masih bisa menjaga diri. Meskipun
demikian, sangat disayangkan masih kita temukan adanya kelompok-kelompok
yang termakan konspirasi Barat terkait isu perpecahan itu. Mereka yang
dikenal dengan nama kelompok takfiriah, yaitu kelompok yang suka
mengkafirkan kelompok lain, bahkan memiliki keyakinan halalnya membunuh
sesama Muslim. Padahal Islam tidak mengajarkan demikian. Dalam ajaran Al
Quran, dosa membunuh seorang yang tidak berdosa sama besar dengan dosa
membunuh seluruh ummat manusia. Adapun soal perbedaan pendapat, Islam
mengajarkan ummatnya untuk menyelesaikan masalah ini lewat dialog dan
bertukar pikiran.
Selama beberapa hari ini,
ummat Islam di Iran dan di sejumlah kawasan dunia Islam lainnya
memperingati Pekan Persatuan Ummat Islam. Perayaan ini berlangsung
selama hampir sepekan memanfaatkan perbedaan peringatan hari lahir
Rasulullah di antara para penganut madzhab Sunni dan Syiah. Sebagaimana
diketahui, kelompok Ahlu Sunnah meyakini Rasulullah SAWW lahir pada
tanggal 12 Rabiul Awwal, sedangkan penganut Syiah meyakininya pada
tanggal 17 Rabiul Awwal. Pekan persatuan ummat Islam adalah moment yang
sangat berharga guna memperkuat kebersamaan di antara sesama ummat Islam
sekaligus untuk merumuskan langkah perlawanan bersama menghadapi
konspirasi musuh.
|