|
Era Hitam Sejarah Peradaban Irak
Peristiwa pahit
pendudukan atas Irak oleh AS dan Inggris dapat dikategorikan salah satu
fenomena paling berpengaruh terhadap transformasi global saat ini. Empat
tahun berlalu sejak Irak diduduki pasukan asing, gelombang penentangan
dan protes terhadap pendudukan terus berlanjut dan bahkan terus
meningkat. Invasi AS dan Inggris ke Irak sejak pada tanggal 19 Maret
2003 dan setelah 20 hari terjadi pertumpahan darah serta perusakan, Irak
akhirnya secara resmi diduduki pasukan asing pada tanggal 9 April tahun
yang sama. Peringatan empat tahun pendudukan atas Irak, kembali diprotes
oleh warga di berbagai negara dunia bahkan di AS, Inggris, dan
Australia.
Dapat dikatakan
bahwa demonstrasi anti-perang Irak terbesar terjadi di dalam negeri AS.
Aksi demonstrasi tersebut diikuti puluhan ribu warga AS di 150 kota AS.
Warga AS menuntut pemerintahan Presiden George W. Bush, untuk segera
menarik mundur pasukannya dari Irak. Tidak hanya itu, para ibu yang anak
mereka saat ini bertugas di Irak, menuntut Bush untuk tidak mengambil
kebijakan yang lebih membahayakan nyawa para marinir AS di Irak. Di Irak,
aksi demo warga menentang pendudukan, lebih bergelora dan luas daripada
tahun-tahun sebelumnya. Ratusan ribu warga Irak bahkan menurut sejumlah
pihak jumlah demonstran mencapai dua juta orang, menggelar demonstrasi
akbar di kota suci Najaf. Warga Irak menunjukkan kebencian mereka
terhadap pasukan pendudukan dengan meneriakkan yel-yel anti AS dan Rezim
Zionis Israel.
Dalam deklarasi
yang dirilis di akhir demonstrasi Najaf, berlanjutnya pendudukan atas
Irak dinilai sebagai pelanggaran terhadap UUD dan pengkhianatan terhadap
bangsa Irak. Campur tangan AS dalam urusan politik, ekonomi, budaya, dan
sosial Irak, dikecam dan disebut sebagai upaya disintegrasi. Aksi
unjukrasa tersebut merupakan pesan warga Irak kepada para penguasa
Gedung Putih terkait penentangan warga atas pendudukan dan kian
kronisnya kondisi keamanan. Menyikapi hal tersebut, Juru Bicara Gedung
Putih menilai aksi demonstrasi itu sebagai bukti bahwa warga Irak bebas
untuk mengemukakan pendapat mereka. Namun ia tidak memberikan jawaban
apapun terhadap tuntutan warga Irak. Dengan kata lain, Gedung Putih
hanya berpendapat bahwa warga Irak berhak untuk membenci kehadiran
pasukan asing di negara mereka.
Sebenarnya,
penentangan warga Irak atas pendudukan bukan fenomena baru mengingat
aksi demonstrasi serupa juga marak terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Kini nyaris tak ada seorang pun yang mempercayai klaim AS terkait dalih
serangannya ke Irak yaitu untuk memusnahkan senjata destruksi massal
milik Rezim Saddam. Selain jenis senjata tersebut tidak ditemukan,
sampai saat ini Gedung Putih juga tidak dapat membuktikan hubungan
Saddam dengan jaringan teroris AlQaeda. Masyarakat internasional telah
menyadari bahwa tujuan AS menginvasi Irak hanya untuk menguras sumber
minyak Irak dan memperkokoh kehadirannya di Timur Tengah, serta
menciptakan perubahan sistem politik di kawasan yang menguntungkan Rezim
Zionis Israel.
Adapun yang kini
menjadi sorotan masyarakat internasional adalah instabilitas dan krisis
yang kian parah di Irak. Meski tumbangnya pemerintahan Rezim Baath
pimpinan Saddam Hossein telah membuka peluang bagi bangsa Irak menuju
demokrasi, namun rakyat Irak telah membayar harga mahal untuk menikmati
demokrasi tersebut. Hal ini tak lain dikarenakan upaya pihak asing dalam
menyulut konflik dan perang saudara di Irak. Perlu diketahui bahwa saat
ini, setiap warga Irak yang keluar rumah tidak dapat memastikan anggota
keluarganya apakah ia akan pulang selamat. Sejak pendudukan, tercatat
puluhan ribu warga Irak tewas dan ratusan ribu lainnya cedera akibat
berbagai macam aksi teror. Bahkan berita tentang pengeboman dan aksi
pembantaian warga Irak, telah berubah menjadi berita harian media massa
dunia.
Komisaris Tinggi
PBB urusan Irak, Antonio Cortez menyatakan, "Tercatat sekitar 40 hingga
50 ribu warga Irak kehilangan tempat tinggal atau terpaksa mengungsi
akibat instabilitas di negara mereka." Pejabat tinggi PBB itu
memprediksikan jumlah para pengungsi warga Irak akan mencapai 1 juta 800
ribu orang hingga akhir tahun 2007. Jumlah itu tidak termasuk ratusan
ribu warga Irak yang terpaksa berhijrah ke negara tetangga guna
menghindari instabilitas dan teror di tanah kelahiran mereka. Teror,
kerusuhan, dan bentrokan bersenjata di Irak, bukan hanya disebabkan aksi
kelompok Takfiriah atau para eks-pasukan Rezim Ba'ath Irak saja,
melainkan juga dikarenakan ulah militer AS dan Inggris.
Dampak dari
pendudukan Irak tidak terbatas pada pengungsian dan instabilitas saja,
melainkan juga eskalasi tingkat kemiskinan dan berbagai kendala sosial.
Data yang ada menunjukkan, sepertiga warga Irak harus berjuang keras
untuk menyambung hidup bahkan banyak warga yang sama sekali tidak
mempunyai penghasilan untuk membeli sesuap makanan. Selain kemiskinan,
Irak juga dihadapkan pada kendala sosial yang sangat serius. Kondisi ini
diperparah dengan rusaknya infrastruktur umum, pelayanan kesehatan,
listrik, air, dan lain-lain. Kantor Berita Deutch Welle Jerman
melaporkan, hanya satu hal yang pasti di Irak pasca tumbangnya Rezim
Saddam, bahwa peristiwa itu bukan awal keselamatan, melainkan gerbang
menuju era paling mencekam dalam sejarah bangsa Irak."
Poin yang harus
diperhatikan di balik kekhawatiran opini umum AS terhadap perang di Irak,
adalah perubahan haluan dukungan mereka atas perang Irak menjadi
tuntutan penarikan mundur pasukan AS dari Negeri 1001 malam tersebut.
Sebelumnya, warga AS mendukung penuh pendudukan atas Irak berkat
propaganda media massa tangan kanan Gedung Putih. Namun dukungan mereka
menyurut secara gradual pasca terkuaknya berbagai fakta tragis yang
terjadi di Irak. Apalagi, perang di Irak telah merenggut nyawa lebih
dari 3.200 personil militer AS. Bersamaan dengan meningkatnya
penentangan atas berlanjutnya kehadiran militer AS di Irak, popularitas
Presiden AS, George W. Bush, yang sebelumnya mencapai 70 persen, kini
anjlok hingga ke angka 30 persen.
Alhasil, seluruh
demonstrasi anti-perang Irak baik yang terjadi di dalam negeri Irak
maupun di berbagai negara lainnya, mengindikasikan parahnya kondisi
keamanan dan kemanusiaan di negara pendudukan tersebut. Entah sampai
kapan Bush dan para kroninya di Gedung Putih tetap mempertahankan
pasukannya di Irak.
|