Perspektif    

   April 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Era Hitam Sejarah Peradaban Irak

Peristiwa pahit pendudukan atas Irak oleh AS dan Inggris dapat dikategorikan salah satu fenomena paling berpengaruh terhadap transformasi global saat ini. Empat tahun berlalu sejak Irak diduduki pasukan asing, gelombang penentangan dan protes terhadap pendudukan terus berlanjut dan bahkan terus meningkat. Invasi AS dan Inggris ke Irak sejak pada tanggal 19 Maret 2003 dan setelah 20 hari terjadi pertumpahan darah serta perusakan, Irak akhirnya secara resmi diduduki pasukan asing pada tanggal 9 April tahun yang sama. Peringatan empat tahun pendudukan atas Irak, kembali diprotes oleh warga di berbagai negara dunia bahkan di AS, Inggris, dan Australia.

Dapat dikatakan bahwa demonstrasi anti-perang Irak terbesar terjadi di dalam negeri AS. Aksi demonstrasi tersebut diikuti puluhan ribu warga AS di 150 kota AS. Warga AS menuntut pemerintahan Presiden George W. Bush, untuk segera menarik mundur pasukannya dari Irak. Tidak hanya itu, para ibu yang anak mereka saat ini bertugas di Irak, menuntut Bush untuk tidak mengambil kebijakan yang lebih membahayakan nyawa para marinir AS di Irak. Di Irak, aksi demo warga menentang pendudukan, lebih bergelora dan luas daripada tahun-tahun sebelumnya. Ratusan ribu warga Irak bahkan menurut sejumlah pihak jumlah demonstran mencapai dua juta orang, menggelar demonstrasi akbar di kota suci Najaf. Warga Irak menunjukkan kebencian mereka terhadap pasukan pendudukan dengan meneriakkan yel-yel anti AS dan Rezim Zionis Israel.

Dalam deklarasi yang dirilis di akhir demonstrasi Najaf, berlanjutnya pendudukan atas Irak dinilai sebagai pelanggaran terhadap UUD dan pengkhianatan terhadap bangsa Irak. Campur tangan AS dalam urusan politik, ekonomi, budaya, dan sosial Irak, dikecam dan disebut sebagai upaya disintegrasi. Aksi unjukrasa tersebut merupakan pesan warga Irak kepada para penguasa Gedung Putih terkait penentangan warga atas pendudukan dan kian kronisnya kondisi keamanan. Menyikapi hal tersebut, Juru Bicara Gedung Putih menilai aksi demonstrasi itu sebagai bukti bahwa warga Irak bebas untuk mengemukakan pendapat mereka. Namun ia tidak memberikan jawaban apapun terhadap tuntutan warga Irak. Dengan kata lain, Gedung Putih hanya berpendapat bahwa warga Irak berhak untuk membenci kehadiran pasukan asing di negara mereka.

Sebenarnya, penentangan warga Irak atas pendudukan bukan fenomena baru mengingat aksi demonstrasi serupa juga marak terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Kini nyaris tak ada seorang pun yang mempercayai klaim AS terkait dalih serangannya ke Irak yaitu untuk memusnahkan senjata destruksi massal milik Rezim Saddam. Selain jenis senjata tersebut tidak ditemukan, sampai saat ini Gedung Putih juga tidak dapat membuktikan hubungan Saddam dengan jaringan teroris AlQaeda. Masyarakat internasional telah menyadari bahwa tujuan AS menginvasi Irak hanya untuk menguras sumber minyak Irak dan memperkokoh kehadirannya di Timur Tengah, serta menciptakan perubahan sistem politik di kawasan yang menguntungkan Rezim Zionis Israel.

Adapun yang kini menjadi sorotan masyarakat internasional adalah instabilitas dan krisis yang kian parah di Irak. Meski tumbangnya pemerintahan Rezim Baath pimpinan Saddam Hossein telah membuka peluang bagi bangsa Irak menuju demokrasi, namun rakyat Irak telah membayar harga mahal untuk menikmati demokrasi tersebut. Hal ini tak lain dikarenakan upaya pihak asing dalam menyulut konflik dan perang saudara di Irak. Perlu diketahui bahwa saat ini, setiap warga Irak yang keluar rumah tidak dapat memastikan anggota keluarganya apakah ia akan pulang selamat. Sejak pendudukan, tercatat puluhan ribu warga Irak tewas dan ratusan ribu lainnya cedera akibat berbagai macam aksi teror. Bahkan berita tentang pengeboman dan aksi pembantaian warga Irak, telah berubah menjadi berita harian media massa dunia.

Komisaris Tinggi PBB urusan Irak, Antonio Cortez menyatakan, "Tercatat sekitar 40 hingga 50 ribu warga Irak kehilangan tempat tinggal atau terpaksa mengungsi akibat instabilitas di negara mereka." Pejabat tinggi PBB itu memprediksikan jumlah para pengungsi warga Irak akan mencapai 1 juta 800 ribu orang hingga akhir tahun 2007. Jumlah itu tidak termasuk ratusan ribu warga Irak yang terpaksa berhijrah ke negara tetangga guna menghindari instabilitas dan teror di tanah kelahiran mereka. Teror, kerusuhan, dan bentrokan bersenjata di Irak, bukan hanya disebabkan aksi kelompok Takfiriah atau para eks-pasukan Rezim Ba'ath Irak saja, melainkan juga dikarenakan ulah militer AS dan Inggris.

Dampak dari pendudukan Irak tidak terbatas pada pengungsian dan instabilitas saja, melainkan juga eskalasi tingkat kemiskinan dan berbagai kendala sosial. Data yang ada menunjukkan, sepertiga warga Irak harus berjuang keras untuk menyambung hidup bahkan banyak warga yang sama sekali tidak mempunyai penghasilan untuk membeli sesuap makanan. Selain kemiskinan, Irak juga dihadapkan pada kendala sosial yang sangat serius. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya infrastruktur umum, pelayanan kesehatan, listrik, air, dan lain-lain. Kantor Berita Deutch Welle Jerman melaporkan, hanya satu hal yang pasti di Irak pasca tumbangnya Rezim Saddam, bahwa peristiwa itu bukan awal keselamatan, melainkan gerbang menuju era paling mencekam dalam sejarah bangsa Irak."

Poin yang harus diperhatikan di balik kekhawatiran opini umum AS terhadap perang di Irak, adalah perubahan haluan dukungan mereka atas perang Irak menjadi tuntutan penarikan mundur pasukan AS dari Negeri 1001 malam tersebut. Sebelumnya, warga AS mendukung penuh pendudukan atas Irak berkat propaganda media massa tangan kanan Gedung Putih. Namun dukungan mereka menyurut secara gradual pasca terkuaknya berbagai fakta tragis yang terjadi di Irak. Apalagi, perang di Irak telah merenggut nyawa lebih dari 3.200 personil militer AS. Bersamaan dengan meningkatnya penentangan atas berlanjutnya kehadiran militer AS di Irak, popularitas Presiden AS, George W. Bush, yang sebelumnya mencapai 70 persen, kini anjlok hingga ke angka 30 persen.

Alhasil, seluruh demonstrasi anti-perang Irak baik yang terjadi di dalam negeri Irak maupun di berbagai negara lainnya, mengindikasikan parahnya kondisi keamanan dan kemanusiaan di negara pendudukan tersebut. Entah sampai kapan Bush dan para kroninya di Gedung Putih tetap mempertahankan pasukannya di Irak.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]