|
Globalisasi dan Dunia Islam
Fenomena pokok yang menjadi perhatian kehidupan modern di antaranya
adalah globalisasi budaya menyusul berbagai kemajuan yang telah dicapai
di sektor teknologi informasi. Diperkirakan, globalisasi budaya akan
menjadi topik menarik yang terus dikaji lebih mendalam pada era
mendatang.
Pada era globalisasi ini, tak satu pun negara yang dapat
terbebaskan secara mutlak dari dampak globalisasi dalam pergolakan
internasional.
Lahirnya fasilitas dan sarana informasi, perluasan ide
post-modernisme, eskalasi bahaya lingkungan hidup, dan kian menipisnya
batasan perekonomian sebuah negara, yang terakumulasi dalam globalisasi,
kini menjadi topik paling tren dibahas.
Dewasa ini, para
cendikiawan dan pengamat berhasil mengungkap berbagai dimensi
globalisasi.
Tak diragukan lagi, pada masa mendatang akan muncul
dimensi baru globalisasi. Saat ini, muncul dua ide yang masih
diperdepatkan yaitu apakah globalisasi berarti penyamaan atau penyatuan.
Sebagian pihak memiliki pandangan yang cukup sederhana
tentang globalisasi yaitu penyamaan lahiriah global. Artinya,
globalisasi cukup dengan menyamakan tampilan lahiriah saja tanpa
menyentuh sisi lainnya. Namun terbukti bahwa ide tersebut tidak berhasil
baik pada masa lalu, kini, maupun era mendatang. Adapun di antara para
pendukung makna penyatuan dalam globalisasi terdapat kelompok yang
menyatakan bahwa globalisasi dapat direalisasikan jika didukung proses
dialog antarperadaban.
Sebelum era globalisasi, pemerintah merupakan
satu-satunya sarana dalam proses perpindahan budaya ke sebuah masyarakat
lain. Artinya, transfer budaya pada era dahulu biasanya terjadi melalui
kolonialisme atau penjajahan. Namun kini, kebudayaan setiap masyarakat
cenderung didasari pada ideologi dan cara pandang masyarakat tersebut
tentang kehidupan secara keseluruhan.
Masyarakat dewasa ini
terdiri atas berbagai golongan dengan kecenderungan dan idealisme yang
plural. Perkembangan teknologi informasi merupakan faktor utama
munculnya fenomena globaslisasi. Beragam ideologi dan pemikiran dengan
sangat mudah dan cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia. Pengaruhnya
pun dapat dirasakan dalam kehidupan masyarakat. Batasan geografis sudah
tidak lagi berfungsi sebagai tameng infiltrasi budaya asing.
Tak
diragukan lagi bahwa globalisasi telah merambah ke seluruh elemen dalam
kehidupan bermasyarakat temasuk di bidang sosial dan ekonomi. Dewasa ini,
pemerintah tidak sepenuhnya bertindak secara tunggal, melainkan banyak
faktor yang ikut andil dalam struktur pemerintahan. Di antara unsur yang
paling berpengaruh dalam kebijakan pemerintah adalah investasi,
teknologi, dan media massa. Sebab itu, tidak akan ada satu negara pun
yang dapat secara mutlak terlepas dari dampak globalisasi.
Poin menarik lainnya adalah budaya mana yang akan
mendominasi peradaban umat manusia. Banyak pihak yang berpendapat bahwa
budaya Barat akan mendominasi dunia mengingat Barat memiliki kekuatan
ekonomi dan teknologi yang kuat. Namun pendapat tersebut memiliki
kekurangan yang sangat menonjol, bahwa sejak dahulu hingga kini tidak
ada satu kebudayaan pun yang dapat menghapus kebudayaan masyarakat lain.
Keragaman budaya akan terus terjadi selama terdapat perbedaan ideologi,
lokasi, sejarah, dan pengalaman setiap individu. Kebudayaan lebih
bergantung pada karakter setiap individu daripada tatanan dan sistem
global.
Menghadapi fenomena globalisasi, umat Islam lebih
dituntut menjaga dua poin penting yaitu, pengokohan identitas dan reaksi
timbal balik dengan fenomena tersebut. Pengokohan identitas bagi umat
Islam ibarat imunisasi terhadap berbagai unsur buruk dan destruktif
dalam gelombang globalisasi. Selain itu, dunia Islam juga harus menjaga
persatuan dan kekompakan guna menjalin kerjasama erat di berbagai
bidang. Hal itu akan sangat diperlukan di saat terjadi benturan dengan
budaya asing. Bagaimanapun juga penolakan terhadap sebuah kebudayaan
akan menuai ketidakpuasan dari pihak terkait dan hal ini telah terjadi.
Tahap pengokohan identitas itu bukan berarti bahwa dunia
Islam harus menutup seluruh pintu terhadap budaya asing. Karena jika
tahap pengokohan identitas dilakukan dengan baik, umat Islam bahkan
tidak perlu menututp satu pintu pun mengingat mereka terlebih dahulu
telah membentengi diri mereka. Adapun poin kedua adalah reaksi timbal
balik dunia Islam menghadapi globalisasi. Pada hakikatnya globalisasi
merupakan sarana terbaik bagi umat Islam untuk memperkenalkan budaya dan
ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Seperti yang telah tercantum
dalam Al Quran bahwa tidak ada pemaksaan dalam agama, umat Islam dapat
menawarkan budaya, ideologi, dan gaya hidup Islami, kepada dunia dengan
menampilkan keteladanan Rasulullah dan para nabi lainnya. Tauhid,
kesederhanaan, kejujuran, dan etika, merupakan di antara hikmah Islami
yang saat ini dinanti umat manusia modern. Peluang inilah yang harus
dimanfaatkan dengan baik oleh umat Islam dalam mewujudkan kehidupan dan
masyarakat yang diridhoi oleh Allah.
|