|
Hikmah dan Falsafah Doa
Rasul Allah saaw bersabda (الدعاء
مخ العبادة) yang artinya "Doa adalah inti ibadah". Apa sebab doa
disebut sebagai inti ibadah? Dan apa perlunya doa bagi kehidupan kita di
dunia ini? Saudara sekalian, dalam kesempatan jumpa kita kali ini kami
ingin mengajak Anda untuk berbicara meski sekilas tentang doa, hikmah
dan falsafahnya. Untuk itu kami ucapkan selamat mengikuti.
Doa disebut sebagai inti ibadah tak lain
adalah karena sesungguhnya di dalam setiap ibadah terkandung doa dan
permohonan kepada Allah swt. Minimal permohonan untuk memperoleh
kedekatan kepada Dzat yang Maha Sempurna dan Maha Pemberi, yaitu Allah
swt. Doa dan permohonan kepada Allah swt merupakan pengakuan kita di
depan Allah, bahwa kita ini adalah lemah, serba kekurangan, tiada daya
dan upaya, kecuali dengan bersandar kepada-Nya yang Maha Agung lagi Maha
Bijaksana. Sikap dan semangat yang demikian ini juga harus terdapat di
dalam setiap ibadah yang kita lakukan. Tentu saja ada penjelasan lain
untuk memahami sabada Nabi saaw bahwa doa adalah inti ibadah itu, bahkan
yang lebih lengkap dan panjang lebar. Akan tetapi singkatnya ialah
sebagai mana yang kami jelaskan di atas.
Mannusia adalah makhluk yang selalu
beraktifitas, bekerja dan berusaha demi memenuhi keperluan hidupnya di
dunia ini. Dalam usahanya ini manusia mengerahkan tenaga dan pikirannya,
sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilkiki, dan secara wajar ia akan
memperoleh hasil sesuai pula dengan usaha yang ia lakukan. Lalu dimana
sebenarnya peran doa? Bukankah seseorang akan memperoleh apa yang ia
inginkan dengan berusaha dan bekerja keras? Apa lagi jika kita lihat
kenyataan yang ada di dunia ini, bahwa seorang kafir ateis yang tidak
meyakini Tuhan dan apa pun bersifat metafisik, ternyata ia dapat juga
hidup dengan kondisi yang lebih baik dibanding dengan kehidupan orang
lain yang beragama, beriman dan selalu berdoa kepada Tuhan yang Maha
Kuasa. Jadi pertanyaan yang ada dan harus dijawab ialah, apa gunanya doa
jika usaha saja sudah cukup? Dan jika seseorang berdoa kepada Tuhan
dengan mengatakan, "Ya Allah berilah aku rizki?" lalu apakah ia sendiri
harus berusaha juga untuk mencari rizki?
Allah swt adalah Dzat Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang. Dengan kehendak dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna,
Allah menciptakan alam raya dan manusia di dunia ini. Manusia pun
diciptakan oleh Allah swt dengan cirri-ciri dan watak sebagaimana yang
telah kita ketahui. Demi kesempurnaan hidup manusia di dunia ini, Allah
swt telah menyediakan segala sesuatunya. Tinggal manusia berusaha dengan
tenaga yang didukung dengan akal dan budi pekerti, yang telah Allah
ciptakan pula dengan sempurna pada diri manusia. Memang benar, bahwa
hanya dengan usaha, tanpa doa sama sekali, manusia akan memperoleh apa
yang ia inginkan. Ilmu pengetahuan yang tinggi, kekuatan jasmani yang
sempurna, kekayaan duniawi, jabatan yang tinggi, semua itu dapat
diperoleh oleh manusia tanpa doa, dan hanya dengan berusaha.
Akan
tetapi, sebagaimana kami katakan di atas, doa dan memohon kepada Tuhan
yang Maha Kuasa, dalam agama apa pun, bukan hanya Islam, merupakan
pengakuan akan kelemahan diri dan kekuatan Tuhan. Pengakuan akan
kemiskinan diri dan kekayaan Tuhan. Pengakuan akan kehinaan diri di
depan kemuliaan Tuhan. Dan yang demikian itu adalah inti semua ibadah,
sebagaimana disabdakan oleh Rasul Allah saaw. Ketiak seseorang berdoa, "Ya
Allah berilah aku rizki", kemudian ia berusaha dan memperoleh rizki
tersebut, maka ia akan meyakini bahwa rizki yang ia peroleh itu adalah
pemberian Tuhan,dania akan bersyukur kepada-Nya. Hal ini akan
menghindarkan seseorang dari kesombongan dan sifat takabbur. Meminta
rizki dan kekayaan kepada Tuhan berarti mengakui dan meyakini bahwa
segala sesuatu yang ada di dunia dan alam raya ini adalah milik Tuhan.
Lalu dengan doa, seseorang meminta ijin dan keridlaan Tuhan untuk
mengambil dan menikmati kekayaan alam raya ini. Dengan demikian,
seseorang yang memperoleh kekayaan dunia tanpa doa, berarti telah
mengambil milik Tuhan tanpa ijin dan bisa jadi tanpa keridloan-Nya. Oleh
karena itu setiap agama, terutama agama Isla, sangat menekankan doa.
Yang jelas doa adalah ibadah bahkan inti ibadah, dan hanya orang-orang
beragamalah yang memiliki perhatian kepadanya. Sedangkan seorang ateis,
tentu tidak akan mengenal doa, karena mereka tidak mempercayai wujud
Tuhan.
Demikianlah tadi penjelasan singkat tentang
falsafah doa. Adapun pembahasan penting lain dalam masalah doa ialah
syarat-syarat terkabulnya doa. Pada kenyatannya, banyak orang berdoa
memohon ini dan itu kepada Allah swt, tapi mereka merasa bahwa doa dan
usahanya tidak membuahkan hasil, dan tetap saja ia menghadapi kesulitan
yang tak kunjung teratasi. Akan tetapi sebelum kita berbicara tentang
syarat-syarat keterkabulan doa, ada baiknya kita ingat pula satu hal,
yaitu bahwa kita ini, manusia yang serba bodoh dan tidak mengetahui,
bahkan sering kali kita tidak mengetahui hal-hal apa yang baik bagi kita,
dan hal-hal apa yang buruk bagi kita. Al-Quranul Karim pun telah
mengingatkan kita tentang hal ini dalam firman Allah swt yang mengatakan,
"Asaa an tuhibbu syai'an wa huwa kurhun lakum, wa takrahuu syaian wahuwa
khoirulakum". Yang artinya "Bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal
sesuatu itu buruk bagi kalian, atau membenci sesuatu padahal ia baik
bagi kalian".
Memang Ayat di atas berbicara tentang perang.
Dimana Allah swt mengecam mereka yang tidak bersedia maju ke medan
tempur untuk membela agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka membenci perang
karena tidak mau mati, dan lebih menyukai tinggal di rumah, karena
mereka lebih mencintai dunia daripada akherat. Dalam rangka menegur
mereka ini Allah mengatakan seperti itu. Akan tetapi teguran Allah
tersebut dapat berlaku pula secara umum dan dalam setiap kondisi
kehidupan manusia, termasuk dalam masalah yang siding kita bahas ini,
yaitu sering kali kita memohon kepada Allah meminta ini dan itu, padahal
bisa jadi sesuatu yang kita minta itu akan mendatangkan keburukan bagi
kita, di dunia ini atau pun di akherat. Banyak sekali contoh yang
membuktikan hal ini, yang tidak perlu kami sampaikan di sini, untuk
menyingkat waktu. Jadi, kita harus menyadari masalah yang satu ini dan
tidak boleh melupakannya. Tentu saja kita juga sudah meyakini sebelum
itu semua bahwa Allah swt adalah Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha
Pengasih dan Maha Penyayang, sebagaimana yang diajarkan dalam pembahasan
akidah, dengan semua dalil aqli dan naqlinya.
Adapun syarat-syarat dikabulkannya doa, pada
dasarnya sama dengan syarat-syarat diterimanya ibadah, seperti salat,
puasa dan sebagainya. Karena doa adalah ibadah kepada Allah, sama
sebagaimana ibadah-ibadah lain. Di antara syarat-syarat keterkabulan doa
ialah niat ikhlas. Artinya, bahwa seseorang ketika berdoa kepada Allah,
maka ia mengharapkan bantuan Allah swt, dan tidak boleh menyekutukan-Nya
dengan selain-Nya. Tegasnya, seseorang harus meyakini bahwa yang dapat
membantunya dalan hal ini hanyalah Allah swt. Sedangkan selain Allah
hanyalah wasilah dan perantara, untuk sampainya pertolongan Allah
kepadanya. Karena itu, ketika seseorang berada dalam kesempitan ekonomi,
lalu datang pertolongan Allah melalui seseorang, maka yang mula-mula
harus ia lakukan ialah beryukur kepada Allah karena segala sesuatu
adalah datang dari-Nya dan milik-Nya; baru kemudian ia berterimakasih
kepada orang tersebut, karena bagaimanapun, orang tersebut telah
bersedia menjadi perantara untuk sampainya bantuan Allah kepadanya.
Di antara makna lain yang terkandung dalam
syarat ikhlas ini ialah bahwa seseorang berdoa kepada Allah bukan dengan
niat menguji Allah. Yang demikian ini justru bertentangan dengan
falsafah doa itu sendiri. Karena doa kepada Allah adalah tawakkal dan
berserah diri kepada-Nya. Kewajiban seorang mukmin adalah berusaha, lalu
tawakkal kepada Allah. Terserah Allah apakah akan memberi atau tidak.
Syarat kedua dalam doa ialah hendaknya seseorang berusaha sekeras
mungkin menjauhi kemaksiatan dan hal-hal yang haram. Makanan, pakaian
dan tempat tinggal yang haram, demikian pula dosa-dosa besar, apa lagi
yang berupa kezaliman terhadap hak-hak orang lain, akan menghalangi doa.
Banyak sekali hadits dan riwayat berkenaan dengan hal ini. Diantaranya
adalah sebuah riwayat yang mengisahkan seorang di zaman Nabi Musa as,
yang berdoa dengan sangat khusyu dan deraian air mata kepada Allah. Tapi
Allah berfirman kepada Musa as bahwa apa pun yang dilakukan oleh prang
itu dalam doanya maka Aku tidak akan mengabulkannya. Karena perut orang
ini penuh dengan benda haram, dipundaknya juga banyak hal-hal yang haram,
dirumahnya juga penuh dengan barang haram.
Di antara hal-hal yang sangat mendukung
terkabulnya doa ialah bahwa seseorang berada dalam keadaan berwudlu
ketika berdoa. Imam Ali as berkata, "Jika kalian mengadapi kesulitan
baik berkenaan dengan akherat atau pun dunia, maka berwudlulah dan
berdoalah." Demikian pula hendaknya doa didahului dengan salawat kepada
Nabi Besar Muhammad Saaw dan keluarga beliau yang suci alaihimussalam.
Berdasarkan beberapa riwayat, terdapat pula waktu-waktu tertentu yang
merupakan waktu dan saat-saat dimana doa akan terkabulkan jika
disampaikan di saat-saat tersebut. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa
Sayidah Fatimah alaihassalam pernah meminta kepada pembantunya, bernama
Fidldlah, agar mengingatkannya jika matahari sudah ada di tengah langit.
Fidldlah pun melakukan hal itu dan mengingatkan beliau bahwa matahari
sudah berada di tengah langit. Ia juga bertanya kepada Sayidah Fatimah
ada urusan dan pekerjaan apa yang akan dilakukannya di tengah hari
seperti ini? Sayidah Fatimah alaihissalam mengatakan bahwa saat-saat
seperti ini adalah saat-saat itu terkabulkannya doa. Demikanlah, putri
Rasul Allah saaw yang kita yakini bahwa doanya akan dikabulkan oleh
Allah kapa saja beliau berdoa, tapi memperhatikan waktu-waktu tertentu
untuk melakukannya. Hal ini menunjukkan bahwa waktu-waktu tertentu
memiliki peran penting dalam terkabulnya doa.
|