Perspektif    

   Maret 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Agama, Sumber Kebahagiaan Abadi

Rasa bahagia, rasa cinta kasih, rasa santai, dan pengalaman spritual adalah serangkaian gejolak positif dalam diri manusia. Sebaliknya, rasa gelisah, pesimis, sedih, atau marah, adalah sederet gejolak negatif yang terkadang muncul dalam jiwa manusia. Kedua bentuk gejolak ini dapat mempengaruhi kondisi psikologi dan gerak-gerik manusia. Ketika manusia dapat memenuhi kebutuhannya, dia akan mengalami kepuasan dan kebahagiaan. Hal yang penting diketahui adalah bahwa hidup bahagia akan memberikan energi besar kepada manusia sehingga dia dapat beraktifitas dengan maksimal. Untuk itu,  rasa bahagia merupakan perangsang munculnya kekuatan dan potensi manusia.

Meski rasa bahagia terlihat secara lahiriah melalui senyum, gerak, dan aktivitas fisik manusia, namun sesungguhnya rasa bahagia bersumber dari dalam atau batin manusia. Menurut para psikolog,  pemikiran dan keyakinan seseorang akan membentuk perilaku dan perasaannya. Kini, marilah kita bertanya-tanya, apakah sesungguhnya yang dapat menimbulkan kebahagiaan bagi seseorang? Apakah faktor yang dapat mendidik batin manusia sehingga dia dapat mencapai rasa bahagia?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi dapat bermacam-macam, namun jawaban yang paling tepat sesungguhnya adalah agama. Prinsip agama umumnya adalah pendidikan batin manusia. Islam sebagai agama yang sempurna memberikan pendidikan dari dua sisi, baik lahir maupun batin. Agama Islam mendorong manusia untuk berpenampilan bersih dan rapi serta berperilaku baik. Di sisi lain, Islam juga mengenalkan manusia dengan sederet pemahaman Ilahiah, seperti ketauhidan, mengenal diri sendiri, dan mengenal aspek-aspek spiritual yang menjadi kunci kebahagiaan.

Berdasarkan riset ilmu psikologi, diketahui bahwa rasa gelisah disebabkan adanya sesuatu yang hilang. Manusia ketika kehilangan sesuatu yang dicintainya  akan merasa sedih dan gelisah. Perhiasan, kecantikan, kendaraan, rumah, atau kekasih adalah di antara penyebab munculnya rasa ketergantungan manusia. Sesungguhnya, semua itu adalah semu semata. Dengan kata lain, kebahagiaan semu merupakan ketergantungan pada benda-benda duniawi. Selama benda itu ada, manusia akan bahagia, namun ketika manusia kehilangan benda itu, ia akan bersedih. Bisa dikatakan juga, kebahagiaan semacam ini sama sekali tak berakar pada batin manusia yang terkadang malah bisa berubah menjadi sifat kontra terhadap dirinya.

Sering terjadi, kesenangan yang semu ketika mencapai pada titik klimaks terkadang malah menimbulkan rasa gelisah pada jiwa manusia. Seorang  psikolog Barat,  Erich Fromm, mengatakan, “Tak adanya kebahagiaan yang nyata mendorong manusia tak berkembang dan terus mencari kesenangan-kesenangan baru. Kesenangan semacam ini ketika mencapai pada titik klimaksnya malah menghadapkan manusia kepada kondisi krisis dan rasa gelisah yang mendalam.”

Fromm dalam bukunya menulis, “Ketika manusia tidak membuka jalan nuraninya dan terus larut dalam kesenangan semu, maka ia cenderung untuk lari dari dirinya sendiri.”

Sementara itu, psikolog lain, Aldas Hocksly dalam sebuah bukunya  menulis, “Larutnya manusia modern dalam kebahagiaan-kebahagiaan semu menyebabkan dia kehilangan jiwa humanisnya. Di zaman sekarang,  sejarah dan masa lalu manusia dilupakan dan tak ada kesempatan untuk berpikir. Para pemimpin sengaja membuat rakyatnya terlena oleh kesenangan-kesenangan semu. Dalam kondisi seperti itu, manusia tak akan mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan yang dihasilkan dari pemikiran  bebas dan merdeka.” Seorang arif asal Iran, Shams Tabrizi, mengajak manusia untuk berpikir secara mendalam dengan mengatakan, “Di dalam diri manusia terdapat  kebahagiaan, dan aku  terheran-heran dengan orang-orang yang tak memunyai kebahagiaan ini. Dengan apa mereka bisa merasakan kebahagiaan?”

Sementara itu, agama mengajarkan kepada manusia esensi kebahagiaan yang sejati. Menurut al-Quran,  seluruh eksistensi alam terus  berada dalam kondisi bergerak. Jika kita melihat Islam dengan sudut pandang ini, kita akan menemukan bahwa ajaran-ajaran Islam selalu mengajarkan manusia untuk bergerak.  Setiap undang-undang dan hukum yang tercantum  dalam Islam mendorong manusia untuk terus bergerak. Dengan kata lain, kita bisa menyimpulkan  bahwa esensi agama merupakan penggerak kehidupan.

Sebagai contoh, dalam Islam kita menemukan perintah untuk mencari ilmu. Mencari ilmu tanpa adanya semangat untuk bergerak adalah hal yang mustahil terjadi. Berdasarkan semangat ini,  manusia bergairah untuk terus menuntut ilmu, dan ia juga berbahagia ketika ilmunya bertambah. Untuk itu, kita dapat menyaksikan manusia-manusia istimewa sepanjang sejarah yang masih bergairah untuk melakukan kebajikan kepada umat manusia, meski mereka sudah menginjak usia tua. Sebagai contoh, Imam Ali (as) menerima tampuk pemerintahan Islam di saat usia beliau sudah cukup tua. Di samping itu, dalam usia yang tidak muda lagi, Imam Ali masih ikut serta  dalam perang-perang besar. Dalam perang-perang tersebut, Imam Ali menunjukkan keberanian dan  kebijaksanaan yang luar biasa. Lebih dari itu,  beliau dengan semangat  besarnya  juga membuka lahan-lahan pertanian dan perkebunan demi kesejahteraan rakyat.

Di zaman kontemporer, kita bisa menemukan tokoh seperti  Imam Khomeini (ra). Meski sudah menginjak usia 80 tahun, Imam Khomeini dengan semangat spritual yang tinggi berhasil mendirikan pemerintahan Islam. Dalam umur yang relatif senja, Imam Khomeini dengan keberaniannya dan semangatnya  yang membara, berhasil memimpin revolusi Islam dalam menghadapi berbagai tantangan yang berat.

Manusia dapat menjalani kehidupan yang bahagia dan sukses dengan  istri, pekerjaan, anak dan lain-lain. Akan tetapi, ajaran-ajaran agama menjanjikan manusia meraih kebahagiaan-kebahagiaan yang hakiki.  Sebagai contoh,  sifat rakus akan menjadikan manusia gelisah. Namun sebaliknya, agama akan mengajarkan manusia untuk bersikap qana’ah atau merasa cukup dengan apa yang ada, sehingga dia bisa serta terbebas dari kesedihan. Selain itu, Islam juga mengajarkan manusia untuk melakukan berbagai hal lahiriah yang akan memunculkan kebahagiaan, misalnya, menunjukkan wajah yang ceria, bangun pagi, menggosok gigi, dan berpenampilan rapi. Sains juga membuktikan bahwa bangun pagi hari sangat berpengaruh untuk menciptakan jiwa yang bahagia. Kebersihan, kesucian, dan kerapian dapat juga memberikan gairah tersendiri. Selain itu, mandi dan wudhu adalah di antara hal yang membuat seseorang bersemangat untuk  melakukan aktivitas. Islam juga menganjurkan umatnya berolahraga, terutama berenang, dan menurut para psikolog, renang dapat menyembuhkan sejumlah penyakit kejiwaan.

Dari sisi spritual,  rasa bahagia sangat berkaitan erat dengan agama. Sebagai contoh,   rasa lega di saat membaca doa atau ayat-ayat Al-Quran mencerminkan kebahagiaan tersendiri. Selain itu, berziarah juga dapat memberikan ketenangan tersendiri. Segala ajaran Islam ini, baik lahir maupun batin, bila dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan yang hakiki.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]