Perspektif    

   Februari 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selayang Pandang Konferensi Internasional Seni Revolusi

Honar be Revayate Bidariy" atau "Seni Menurut Riwayat Kebangkitan" adalah nama sebuah pameran yang diselenggarakan di Tehran selama hari-hari peringatan kemenangan revolusi Islam. Dalam pameran ini, 800 buah karya lukis dan grafik, memaerkan karya-karya seni revolusioner dari negara-negara Rusia, Kuba, Aljazair, Palestina, Cina, Iran dan Gerakan Kemerdekaan di Afrika Selatan. Pameran ini digelar di "Gedung Kesenian Saba" di kota Tehran selama lima hari, bersamaan dengan "Konferensi Internasional Seni Revolusi". Dalam pameran ini. para cendekiawan, seniman dan kritikus seni, dari dalam dan luar negeri bertemu untuk mempelajari dan meneliti revolusi Islam Iran dan revolusi di Kuba, Rusia, Palestina, Aljazair, dan beberapa negara lain.

Di antara topik yang dibahas dan dibicarakan dalam konferensi tersebut ialah seni pahat, teater, perfeliman, musik dan kesusasteraan. Posisi seni dalam revolusi Islam, dibanding dengan seni berbagai revolusi dunia, juga dibahas dan dikaji dalam konferensi ini, yang ditutup dengan keluarnya deklarasi para pesertanya. Berkenaan dengan penyelenggaraan konferensi dan pameran ini, yang termasuk baru dalam jenisnya, kami mengajak Anda untuk mengikuti uraian kami berikut ini.

Okulasi antara seni dan revolusi, merupakan pengalaman yang sangat mencolok dalam sejarah kontemporer. Di lain pihak, abad ke-20 dapat disebut sebagai abad revolusi. Di abad ini, kesenian dan revolusi telah berjalin dan berkelindan sedemikian rupa, sehingga dapat berperan sebagai akar dan sumber inspirasi bagi kalangan luas manusia. Karya-karya seni oleh sejumlahbesar seniman revolusioner di berbagai negara, memilikinilai-nilai keindahan yang menekankan cita-cita kemanusiaan dan perjuangan. Dengan mempelajari berbagai macam seni di masa peristiwa revolusi, dan membandingkannya dengan masa sebelumnya, akan menghantarkan kepada pengetahuan tentang berbagai topik di bidang sosiologi dan antropologi.

Karya-karya seni revolusi dapat dibagi kepada beberapa bagian: Bagian pertama dari karya ini ialah karya-karya yang mengisahkan berbagai peristiwa revolusi. Para seniman kelompok ini menuangkan apa saja yang mereka saksikan ke dalam karyanya dan mengisahkan realitas atau semi realitas dari revolusi. Sebagian lain menonjolkan pengaruh, semangat dan emosi yang muncul di saat-saat revolusi di dalam karya-karya mereka. Mereka ini tidak terlalu mengindahkan topik dan kandungan karya-karya mereka, dan hanya melahirkan karya-karya yang menggugah semangat. Kelompok ketiga menciptakan karya-karya seni yang menunjukkan perhatian mereka kepada akar-akar sebuah revolusi dan slogan-slogan fundamentalnya. Slogan-slogan seperti perjuangan menegakkan keadilan, peberantasan kezaliman, persamaan hak dan penolakan diskriminasi, yang mereka angkat dengan berbagai macam bahasa seni.

Jika semua revolusi dan gerakan-gerakan perjuangan yang terjadi di dunia, termasuk revolusi Islam dan perjuangan kemerdekaan di Amerika Latin serta Palestina, kita pelajari, maka akan kita saksikan bahwa transformasi sosial telah menyatu dengan budaya dan seni, di dalam semua gerakan tersebut. Biasanya karya-karya seni ini, membuka kedok yang menutupi wajah para penguasa tiran, demonstrasi, perjuangan kaum revolusioner dan aktifitas mereka di masa revolusi. Dan jika para pejuang ini mencapai kemenangan, maka aktifitas selanjutnya mereka ini ialah rekonstruksi dan program-program pembangunan kesejahteraan setelah kemenangan revolusi.

Dr Zahra Rahnavard, adalah seorang seniman dan dosen, yang berbagai karya seni lukis dan pahatnya berkali mengikuti pameran di dalam dan luar negeri. Berkenaan dengan perbedaan revolusi Islam Iran dengan revolusi-revolusi yang terjadi di berbagai negara lain, ia mengatakan, "Kondisi umum bahasa dan ungkapan seni dalam berbagai revolusi hampir sama. Akan tetapi setelah berjalan selama beberapa tahun, maka kita dapat mempelajari secara lebih lengkap dengan melihat hasil-hasil yang diberikan olehnya. Akar-akar sosial dan revolusi, sangat berperan langsung dalam karya-karya seni yang merefleksikannya.

Sebagai contoh, akar sosial revolisi Islam Iran, sulit sekali untuk dijelaskan dalam kerangka kelompok atau kelas tertentu. Dalam revolusi ini, kaum buruh, guru dan dosen, pegawai, lelaki, perempuan, anak-anak dan dewasa, cendekiawan dan ulama, dan semua lapisan masyarakat, ikut terlibat. Akar nilai-nilainya pun menghunjam ke kedalaman ajaran-ajaran Islam dengan madzhab Syiah. Untuk itu kita saksikan bahwa dalam peristiwa revolusi, seluruh lapisan masyarakat sama-sama mengerahkan kemampuan mereka untuk revolusi ini. Hal ini membuat arah revolusi menuju kepada mereka yang benar-benar berjuang demi kemenangannya. Perhatian khusus kepada para syuhada, para pejuang, kaum tertindas, perempuan dan pemuda, yang merupakan gema dari idiologi ini, juga muncul dalam seni revolusi."

Selanjutnya Dr Zahra mengatakan, "Seni revolusi Islam muncul dari lembaga-lembaga dan sumber-sumber keagamaan serta rakyat, sebagai tonggak-tonggak utamanya. Di tahun-tahun menjelang revolusi, berbagai aliran keagamaan, menjadikan Masjid-Masjid dan Huseiniyah-Huseiniyah sebagai ganti dari gedung-gedung pameran dan ruang-ruang konferensi. Setelah itu universitas dan Perguruan Tinggi juga bergabung sebagai tempat pameran seni revolusi, dan sejumlah galeri, secara diam-dima, ikut pula memamaerkan karya-karya seni revolusioner. Setelah revolusi, aktifitas seni dan para seniman yang sebelumnya bercerai-berai, berkumpul dalam sebuah lembaga bernama "Hauzeh Honari" semacam perkumpulan para seniman; sehingga lembaga ini memiliki kiprah yang sangat efektif dalam mengarahkan aktifitas para seniman di bidang kesusasteraan, perfileman, dan bidang-bidang seni lain, di tahun-tahun pertama kemenangan revolusi Islam."

Salah satu perbedaan mencolok seni revolusi di Iran dengan negara-negara lain yang juga mengalami revolusi ialah, irfan atau hikmah-hikmah ketimurannya. Karena irfan ini selalu mengisi jiwa seniman Iran. Bahkan dalam berbagai penelitian sejarah, kita saksikan bahwa dalam karya-karya seni Iran, selalu hadir sejenis irfan, dan para seniman Iran, di sebagian besar era yang telah mereka lalui, selalu memiliki sejenis emosi yang memancarkan irfan atau ajaran-ajaran hikmah ketimuran.

Nasher Palanggi, pelukis kontemporer Iran, mengatakan bahwa keberadaan irfan ketimuran dan semangat penegakan keadilan Islam ini sebagai ciri-ciri terpenting seni revolusi Islam. Ia mengatakan, "Imam Khumaini ra adalah seorang filsuf yang arif, yang memaparkan hukum-hukum fiqih syareat, tapi juga berbicara dengan gaya seorang arif. Untuk itulah para seniman kita juga memiliki keterikatan yang erat dengan dimensi irfani ini. Oleh karena mencita-citakan penegakan keadilan, baik dalam slogan maupun kinerjanya, maka revolusi Islam memandang alam semesta ini dengan pandangan yang sama sekali tidak materialistis. Senimannya pun berbeda dengan seniman mana pun di dunia."

Nasehr Palanggi melanjutkan, "Meskipun kita sempat dalam masa yang pendek, mengikuti gaya dan teknik seni dari negara lain, akan tetapi dengan lewatnya waktu, dan sesuai dengan transformasi mental para seniman, maka lama kelamaan nilai-nilai irfan mulai mewarnai karya-karya mereka. Revolusi Islam Iran juga memiliki semangat mengajak kepada kebebasan jiwa dan seruan kepada persatuan, yang tak seorang pun dapat mengabaikannya. Para seniman pun, yang memiliki cita rasa lebih tajam daripada orang lain, sudah pasti menaruh perhatian yang lebih besar kepada masalah-masalah ini."

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]