|
Selayang Pandang Konferensi Internasional
Seni Revolusi
Honar be Revayate Bidariy" atau "Seni
Menurut Riwayat Kebangkitan" adalah nama sebuah pameran yang
diselenggarakan di Tehran selama hari-hari peringatan kemenangan
revolusi Islam. Dalam pameran ini, 800 buah karya lukis dan grafik,
memaerkan karya-karya seni revolusioner dari negara-negara Rusia, Kuba,
Aljazair, Palestina, Cina, Iran dan Gerakan Kemerdekaan di Afrika
Selatan. Pameran ini digelar di "Gedung Kesenian Saba" di kota Tehran
selama lima hari, bersamaan dengan "Konferensi Internasional Seni
Revolusi". Dalam pameran ini. para cendekiawan, seniman dan kritikus
seni, dari dalam dan luar negeri bertemu untuk mempelajari dan meneliti
revolusi Islam Iran dan revolusi di Kuba, Rusia, Palestina, Aljazair,
dan beberapa negara lain.
Di antara topik yang dibahas dan dibicarakan
dalam konferensi tersebut ialah seni pahat, teater, perfeliman, musik
dan kesusasteraan. Posisi seni dalam revolusi Islam, dibanding dengan
seni berbagai revolusi dunia, juga dibahas dan dikaji dalam konferensi
ini, yang ditutup dengan keluarnya deklarasi para pesertanya. Berkenaan
dengan penyelenggaraan konferensi dan pameran ini, yang termasuk baru
dalam jenisnya, kami mengajak Anda untuk mengikuti uraian kami berikut
ini.
Okulasi antara seni dan revolusi, merupakan
pengalaman yang sangat mencolok dalam sejarah kontemporer. Di lain pihak,
abad ke-20 dapat disebut sebagai abad revolusi. Di abad ini, kesenian
dan revolusi telah berjalin dan berkelindan sedemikian rupa, sehingga
dapat berperan sebagai akar dan sumber inspirasi bagi kalangan luas
manusia. Karya-karya seni oleh sejumlahbesar seniman revolusioner di
berbagai negara, memilikinilai-nilai keindahan yang menekankan cita-cita
kemanusiaan dan perjuangan. Dengan mempelajari berbagai macam seni di
masa peristiwa revolusi, dan membandingkannya dengan masa sebelumnya,
akan menghantarkan kepada pengetahuan tentang berbagai topik di bidang
sosiologi dan antropologi.
Karya-karya seni revolusi dapat dibagi
kepada beberapa bagian: Bagian pertama dari karya ini ialah karya-karya
yang mengisahkan berbagai peristiwa revolusi. Para seniman kelompok ini
menuangkan apa saja yang mereka saksikan ke dalam karyanya dan
mengisahkan realitas atau semi realitas dari revolusi. Sebagian lain
menonjolkan pengaruh, semangat dan emosi yang muncul di saat-saat
revolusi di dalam karya-karya mereka. Mereka ini tidak terlalu
mengindahkan topik dan kandungan karya-karya mereka, dan hanya
melahirkan karya-karya yang menggugah semangat. Kelompok ketiga
menciptakan karya-karya seni yang menunjukkan perhatian mereka kepada
akar-akar sebuah revolusi dan slogan-slogan fundamentalnya.
Slogan-slogan seperti perjuangan menegakkan keadilan, peberantasan
kezaliman, persamaan hak dan penolakan diskriminasi, yang mereka angkat
dengan berbagai macam bahasa seni.
Jika semua revolusi dan gerakan-gerakan
perjuangan yang terjadi di dunia, termasuk revolusi Islam dan perjuangan
kemerdekaan di Amerika Latin serta Palestina, kita pelajari, maka akan
kita saksikan bahwa transformasi sosial telah menyatu dengan budaya dan
seni, di dalam semua gerakan tersebut. Biasanya karya-karya seni ini,
membuka kedok yang menutupi wajah para penguasa tiran, demonstrasi,
perjuangan kaum revolusioner dan aktifitas mereka di masa revolusi. Dan
jika para pejuang ini mencapai kemenangan, maka aktifitas selanjutnya
mereka ini ialah rekonstruksi dan program-program pembangunan
kesejahteraan setelah kemenangan revolusi.
Dr Zahra Rahnavard, adalah seorang seniman
dan dosen, yang berbagai karya seni lukis dan pahatnya berkali mengikuti
pameran di dalam dan luar negeri. Berkenaan dengan perbedaan revolusi
Islam Iran dengan revolusi-revolusi yang terjadi di berbagai negara
lain, ia mengatakan, "Kondisi umum bahasa dan ungkapan seni dalam
berbagai revolusi hampir sama. Akan tetapi setelah berjalan selama
beberapa tahun, maka kita dapat mempelajari secara lebih lengkap dengan
melihat hasil-hasil yang diberikan olehnya. Akar-akar sosial dan
revolusi, sangat berperan langsung dalam karya-karya seni yang
merefleksikannya.
Sebagai contoh, akar sosial revolisi Islam
Iran, sulit sekali untuk dijelaskan dalam kerangka kelompok atau kelas
tertentu. Dalam revolusi ini, kaum buruh, guru dan dosen, pegawai,
lelaki, perempuan, anak-anak dan dewasa, cendekiawan dan ulama, dan
semua lapisan masyarakat, ikut terlibat. Akar nilai-nilainya pun
menghunjam ke kedalaman ajaran-ajaran Islam dengan madzhab Syiah. Untuk
itu kita saksikan bahwa dalam peristiwa revolusi, seluruh lapisan
masyarakat sama-sama mengerahkan kemampuan mereka untuk revolusi ini.
Hal ini membuat arah revolusi menuju kepada mereka yang benar-benar
berjuang demi kemenangannya. Perhatian khusus kepada para syuhada, para
pejuang, kaum tertindas, perempuan dan pemuda, yang merupakan gema dari
idiologi ini, juga muncul dalam seni revolusi."
Selanjutnya Dr Zahra mengatakan, "Seni
revolusi Islam muncul dari lembaga-lembaga dan sumber-sumber keagamaan
serta rakyat, sebagai tonggak-tonggak utamanya. Di tahun-tahun menjelang
revolusi, berbagai aliran keagamaan, menjadikan Masjid-Masjid dan
Huseiniyah-Huseiniyah sebagai ganti dari gedung-gedung pameran dan
ruang-ruang konferensi. Setelah itu universitas dan Perguruan Tinggi
juga bergabung sebagai tempat pameran seni revolusi, dan sejumlah galeri,
secara diam-dima, ikut pula memamaerkan karya-karya seni revolusioner.
Setelah revolusi, aktifitas seni dan para seniman yang sebelumnya
bercerai-berai, berkumpul dalam sebuah lembaga bernama "Hauzeh Honari"
semacam perkumpulan para seniman; sehingga lembaga ini memiliki kiprah
yang sangat efektif dalam mengarahkan aktifitas para seniman di bidang
kesusasteraan, perfileman, dan bidang-bidang seni lain, di tahun-tahun
pertama kemenangan revolusi Islam."
Salah satu perbedaan mencolok seni revolusi
di Iran dengan negara-negara lain yang juga mengalami revolusi ialah,
irfan atau hikmah-hikmah ketimurannya. Karena irfan ini selalu mengisi
jiwa seniman Iran. Bahkan dalam berbagai penelitian sejarah, kita
saksikan bahwa dalam karya-karya seni Iran, selalu hadir sejenis irfan,
dan para seniman Iran, di sebagian besar era yang telah mereka lalui,
selalu memiliki sejenis emosi yang memancarkan irfan atau ajaran-ajaran
hikmah ketimuran.
Nasher Palanggi, pelukis kontemporer Iran,
mengatakan bahwa keberadaan irfan ketimuran dan semangat penegakan
keadilan Islam ini sebagai ciri-ciri terpenting seni revolusi Islam. Ia
mengatakan, "Imam Khumaini ra adalah seorang filsuf yang arif, yang
memaparkan hukum-hukum fiqih syareat, tapi juga berbicara dengan gaya
seorang arif. Untuk itulah para seniman kita juga memiliki keterikatan
yang erat dengan dimensi irfani ini. Oleh karena mencita-citakan
penegakan keadilan, baik dalam slogan maupun kinerjanya, maka revolusi
Islam memandang alam semesta ini dengan pandangan yang sama sekali tidak
materialistis. Senimannya pun berbeda dengan seniman mana pun di dunia."
Nasehr Palanggi melanjutkan, "Meskipun kita
sempat dalam masa yang pendek, mengikuti gaya dan teknik seni dari
negara lain, akan tetapi dengan lewatnya waktu, dan sesuai dengan
transformasi mental para seniman, maka lama kelamaan nilai-nilai irfan
mulai mewarnai karya-karya mereka. Revolusi Islam Iran juga memiliki
semangat mengajak kepada kebebasan jiwa dan seruan kepada persatuan,
yang tak seorang pun dapat mengabaikannya. Para seniman pun, yang
memiliki cita rasa lebih tajam daripada orang lain, sudah pasti menaruh
perhatian yang lebih besar kepada masalah-masalah ini."
|