Perspektif    

   Februari 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rahasia Kesuksesan dan Kegagalan dalam Hidup

Rahasa kesuksesan selalu menjadi perhatian manusia. Sebagian orang meyakini bahwa faktor kebetulan adalah penyebab kesuksesan atau kegagalan. Sebagian yang lain menyatakan bahwa kesuksesan hanya bisa dicapai dengan kerja keras. Namun, ada pula yang mempertanyakan, mengapa sebagian orang sudah bekerja keras tetapi tak jua meraih kesuksesan?

Dalam pandangan Islam, tak ada fenomena yang terjadi di dunia ini tanpa penyebab. Dengan kata lain, apapun yang terjadi di dunia ini pasti ada penyebabnya dan tak mungkin terjadi begitu saja secara kebetulan. Ayat Al-Quran menegaskan bahwa Allah Swt adalah penyebab segala hal yang terjadi di alam semesta. Sebagai contoh, seorang dokter yang berhasil mengobati pasiennya setelah berusaha keras, atau sebaliknya, dia gagal meskipun sudah bekerja keras, maka penyebab utama kedua kondisi tersebut adalah kehendak Allah Swt. Ketika Allah Swt melimpahkan taufik kesuksesan kepada dokter itu, tak seorangpun dapat menghalangi taufik tersebut, sehingga pasien dokter itu akan sembuh. Begitu pula sebaliknya, bila Allah menetapkan bahwa si pasien harus menemui ajalnya, meskipun dokter itu telah berupaya keras, upayanya tetap akan mengalami kegagalan.

Dengan ungkapan yang lebih sederhana lagi, Allah Swt tidak akan menerlantarkan manusia di dunia ini. Segala hal yang bersangkutan dengan manusia sama sekali tak terjadi begitu saja tanpa perhitungan atau bersifat kebetulan. Dalam ayat-ayat Al-Quran juga seringkali disinggung bahwa manusia sama sekali tak diciptakan secara  percuma atau sia-sia. Islam menyatakan, kegagalan tak mungkin terjadi tanpa adanya alasan. Al-Quran menyatakan, “Tidak ada keberhasilan dan kebaikan yang sampai kepada kalian melainkan itu adalah anugrah Allah Swt yang dipersembahkan kepada kalian, dan sama sekali tak ada kegagalan atau keburukan melainkan hal itu terjadi karena kalian sendiri yang menyebabkannya.”

Untuk itu, sangat tepat dalam kesempatan ini kita terlebih dahulu mendefinisikan keberhasilan dan kegagalan. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kesuksesan atau keberhasilan? Dalam pandangan Islam, kesuksesan adalah sesuatu yang selaras dengan fitrah manusia dan sesuatu yang dinilai baik oleh nurani kemanusiaan. Sebaliknya, yang dimaksud kegagalan adalah sesuatu yang dinilai buruk oleh  hati nurani atau naluri manusia. Dengan pandangan semacam ini,  pendudukan terhadap Irak sama sekali tak bisa disebut kesuksesan bagi AS. Bahkan, tindakan AS tersebut adalah sebuah kegagalan dan suatu hal yang memalukan bagi semua manusia yang berhati nurani.

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, segala keberhasilan bermuara dari Allah Swt, sedangkan segala kegagalan bersumber dari kesalahan kita sendiri. Dalam ayat-ayat Al-Quran diperingatkan bahwa segala keuntungan perbuatan baik dan kerugian perbuatan buruk kembali kepada manusia itu sendiri, dan sama sekali tak berpengaruh pada  Allah Swt Yang Maha Besar.

Keberhasilan bergantung pada kehendak dan upaya kita. Manusia sama sekali tak akan berhasil tanpa melakukan perbuatan yang positif. Lihatlah nasib mantan Presiden dan diktator Irak, Saddam Hussein. Setelah melakukan kezaliman selama 35 tahun, Saddam harus menerima imbalan perbuatannya dan dipermalukan dengan mati di tiang gantungan. Sebaliknya, lihatlah kemuliaan para pemimpin yang baik dan religius seperti Imam Khomeini. Kita bisa menyaksikan bahwa meskipun pada awal perjuangannya,  Imam Khomeini mengalami berbagai kesulitan, dan bahkan selama bertahun-tahun harus hidup di tengah pengasingan, namun beliau tetap teguh memperjuangkan perlawanan terhadap rezim yang zalim. Akhirnya beliau menemui ajal dalam kemuliaan. Acara pemakaman Imam Khomeini dihadiri oleh jutaan warga Iran dan hingga kini namanya dikenang sebagai pahlawan.

Bila hari ini kita meraih kesuksesan, ada dua kondisi yang akan kita alami. Pertama, melalui kesuksesan ini, kita merasakan hasil jerih payah dan kerja keras kita. Di samping itu, kita pun dapat mengharapkan pahala yang dijanjikan oleh Allah Swt atas kerja keras kita di jalan yang benar. Kedua, kita harus menyadari bahwa  kesuksesan ini merupakan kasih sayang Allah Swt dan pada saat yang sama, Allah Swt sedang menguji kita, apakah kita ini termasuk hamba yang bersyukur atau hamba yang sombong.

Sebaliknya, ketika kita mengalami kegagalan, juga ada dua kondisi yang akan kita hadapi. Pertama, kegagalan ini merupakan imbalan setimpal dari  pekerjaan buruk yang kita lakukan di dunia, atau merupakan akibat dari kurangnya upaya dan usaha kita. Kedua, kegagalan ini merupakan ujian Allah Swt  untuk meningkatkan derajat kesempurnaan kita. Kita bisa mengambil teladan dari kehidupan Nabi Ayyub. Beliau adalah Nabi yang tak melakukan perbuatan dosa, namun mendapatkan ujian dari Allah Swt berupa berbagai kegagalan, antara lain beliau menjadi jatuh miskin dan sakit. Namun, Nabi Ayyub tetap bersabar menghadapi ujian ini dan berhasil melewati masa ujian yang berat itu.

Dapat disimpulkan bahwa kesuksesan maupun kegagalan sesungguhnya merupakan bagian dari proses ujian Allah Swt terhadap manusia. Berbahagialah orang yang selalu menjalin hubungan dekat dengan Allah Swt dan menyatakan bahwa tak ada sesuatu yang sia-sia atau percuma di dunia ini. Allah Swt dalam Al-Quran berfirman, janganlah kalian  terlalu larut dalam kesedihan atau karena  kehilangan kenikmatan, dan janganlah terlalu bahagia ketika mendapatkan kenikmatan. Sebab, adanya kenikmatan dan tidak adanya kenikmatan, keduanya adalah sarana ujian Allah Swt untuk manusia. Akan tetapi hal yang penting dalam pandangan Islam,   manusia dengan perbuatannya yang terpuji berupaya mencari kerelaan Allah Swt sehingga ia dapat menjalani kehidupan dengan  kesuksesan yang nyata.

Al-Quran juga menyebutkan, “Allah Swt tak akan mengubah sebuah kaum, sebelum mereka sendiri yang mengubah diri mereka.” Dengan demikian, manusia mempunyai andil dalam mengatur kehidupan sosial atau individu. Sangatlah jelas,  nasib sebuah masyarakat, baik kesuksesan atau kegagalan mereka, sangat bergantung  pada bentuk perbuatan mereka. Manusia tidak bisa meraih kesuksesan hanya dengan berdoa dan berdiam diri. Untuk sukses, manusia harus bergerak, berusaha, bekerja keras, dan berdoa.

Kesimpulannya, kesuksesan dan kegagalan dalam kehidupan ini sangat bergantung jalan hidup yang kita pilih sendiri. Jika manusia benar-benar beriman kepada Allah SWT, dia tak akan mengkhawatirkan apapun. Dia akan menikmati kehidupan ini, baik dalam kondisi gagal maupun sukses. Yang terpenting baginya adalah berada dalam keridhoan Allah SWT, baik dalam kondisi sukses atapun gagal di mata manusia. Karena sering terjadi, gagal di mata manusia sesungguhnya sukses di mata Allah. Seperti Nabi Ayyub yang jatuh miskin, sesungguhnya dia adalah manusia yang sukses di mata Allah karena Nabi Ayyub mampu bersabar dalam ujian itu.

  

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]