|
Rahasia
Kesuksesan dan Kegagalan dalam Hidup
Rahasa kesuksesan
selalu menjadi perhatian manusia. Sebagian orang meyakini bahwa faktor
kebetulan adalah penyebab kesuksesan atau kegagalan. Sebagian yang lain
menyatakan bahwa kesuksesan hanya bisa dicapai dengan kerja keras. Namun,
ada pula yang mempertanyakan, mengapa sebagian orang sudah bekerja keras
tetapi tak jua meraih kesuksesan?
Dalam pandangan Islam,
tak ada fenomena yang terjadi di dunia ini tanpa penyebab. Dengan kata
lain, apapun yang terjadi di dunia ini pasti ada penyebabnya dan tak
mungkin terjadi begitu saja secara kebetulan. Ayat Al-Quran menegaskan
bahwa Allah Swt adalah penyebab segala hal yang terjadi di alam semesta.
Sebagai contoh, seorang dokter yang berhasil mengobati pasiennya setelah
berusaha keras, atau sebaliknya, dia gagal meskipun sudah bekerja keras,
maka penyebab utama kedua kondisi tersebut adalah kehendak Allah Swt.
Ketika Allah Swt melimpahkan taufik kesuksesan kepada dokter itu, tak
seorangpun dapat menghalangi taufik tersebut, sehingga pasien dokter itu
akan sembuh. Begitu pula sebaliknya, bila Allah menetapkan bahwa si
pasien harus menemui ajalnya, meskipun dokter itu telah berupaya keras,
upayanya tetap akan mengalami kegagalan.
Dengan ungkapan yang
lebih sederhana lagi, Allah Swt tidak akan menerlantarkan manusia di
dunia ini. Segala hal yang bersangkutan dengan manusia sama sekali tak
terjadi begitu saja tanpa perhitungan atau bersifat kebetulan. Dalam
ayat-ayat Al-Quran juga seringkali disinggung bahwa manusia sama sekali
tak diciptakan secara percuma atau sia-sia. Islam menyatakan, kegagalan
tak mungkin terjadi tanpa adanya alasan. Al-Quran menyatakan, “Tidak ada
keberhasilan dan kebaikan yang sampai kepada kalian melainkan itu adalah
anugrah Allah Swt yang dipersembahkan kepada kalian, dan sama sekali tak
ada kegagalan atau keburukan melainkan hal itu terjadi karena kalian
sendiri yang menyebabkannya.”
Untuk itu, sangat tepat
dalam kesempatan ini kita terlebih dahulu mendefinisikan keberhasilan
dan kegagalan. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kesuksesan atau
keberhasilan? Dalam pandangan Islam, kesuksesan adalah sesuatu yang
selaras dengan fitrah manusia dan sesuatu yang dinilai baik oleh nurani
kemanusiaan. Sebaliknya, yang dimaksud kegagalan adalah sesuatu yang
dinilai buruk oleh hati nurani atau naluri manusia. Dengan pandangan
semacam ini, pendudukan terhadap Irak sama sekali tak bisa disebut
kesuksesan bagi AS. Bahkan, tindakan AS tersebut adalah sebuah kegagalan
dan suatu hal yang memalukan bagi semua manusia yang berhati nurani.
Sebagaimana telah
diungkapkan sebelumnya, segala keberhasilan bermuara dari Allah Swt,
sedangkan segala kegagalan bersumber dari kesalahan kita sendiri. Dalam
ayat-ayat Al-Quran diperingatkan bahwa segala keuntungan perbuatan baik
dan kerugian perbuatan buruk kembali kepada manusia itu sendiri, dan
sama sekali tak berpengaruh pada Allah Swt Yang Maha Besar.
Keberhasilan bergantung
pada kehendak dan upaya kita. Manusia sama sekali tak akan berhasil
tanpa melakukan perbuatan yang positif. Lihatlah nasib mantan Presiden
dan diktator Irak, Saddam Hussein. Setelah melakukan kezaliman selama 35
tahun, Saddam harus menerima imbalan perbuatannya dan dipermalukan
dengan mati di tiang gantungan. Sebaliknya, lihatlah kemuliaan para
pemimpin yang baik dan religius seperti Imam Khomeini. Kita bisa
menyaksikan bahwa meskipun pada awal perjuangannya, Imam Khomeini
mengalami berbagai kesulitan, dan bahkan selama bertahun-tahun harus
hidup di tengah pengasingan, namun beliau tetap teguh memperjuangkan
perlawanan terhadap rezim yang zalim. Akhirnya beliau menemui ajal dalam
kemuliaan. Acara pemakaman Imam Khomeini dihadiri oleh jutaan warga Iran
dan hingga kini namanya dikenang sebagai pahlawan.
Bila hari ini kita
meraih kesuksesan, ada dua kondisi yang akan kita alami. Pertama,
melalui kesuksesan ini, kita merasakan hasil jerih payah dan kerja keras
kita. Di samping itu, kita pun dapat mengharapkan pahala yang dijanjikan
oleh Allah Swt atas kerja keras kita di jalan yang benar. Kedua, kita
harus menyadari bahwa kesuksesan ini merupakan kasih sayang Allah Swt
dan pada saat yang sama, Allah Swt sedang menguji kita, apakah kita ini
termasuk hamba yang bersyukur atau hamba yang sombong.
Sebaliknya, ketika kita
mengalami kegagalan, juga ada dua kondisi yang akan kita hadapi. Pertama,
kegagalan ini merupakan imbalan setimpal dari pekerjaan buruk yang kita
lakukan di dunia, atau merupakan akibat dari kurangnya upaya dan usaha
kita. Kedua, kegagalan ini merupakan ujian Allah Swt untuk meningkatkan
derajat kesempurnaan kita. Kita bisa mengambil teladan dari kehidupan
Nabi Ayyub. Beliau adalah Nabi yang tak melakukan perbuatan dosa, namun
mendapatkan ujian dari Allah Swt berupa berbagai kegagalan, antara lain
beliau menjadi jatuh miskin dan sakit. Namun, Nabi Ayyub tetap bersabar
menghadapi ujian ini dan berhasil melewati masa ujian yang berat itu.
Dapat disimpulkan bahwa
kesuksesan maupun kegagalan sesungguhnya merupakan bagian dari proses
ujian Allah Swt terhadap manusia. Berbahagialah orang yang selalu
menjalin hubungan dekat dengan Allah Swt dan menyatakan bahwa tak ada
sesuatu yang sia-sia atau percuma di dunia ini. Allah Swt dalam Al-Quran
berfirman, janganlah kalian terlalu larut dalam kesedihan atau karena
kehilangan kenikmatan, dan janganlah terlalu bahagia ketika mendapatkan
kenikmatan. Sebab, adanya kenikmatan dan tidak adanya kenikmatan,
keduanya adalah sarana ujian Allah Swt untuk manusia. Akan tetapi hal
yang penting dalam pandangan Islam, manusia dengan perbuatannya yang
terpuji berupaya mencari kerelaan Allah Swt sehingga ia dapat menjalani
kehidupan dengan kesuksesan yang nyata.
Al-Quran juga
menyebutkan, “Allah Swt tak akan mengubah sebuah kaum, sebelum mereka
sendiri yang mengubah diri mereka.” Dengan demikian, manusia mempunyai
andil dalam mengatur kehidupan sosial atau individu. Sangatlah jelas,
nasib sebuah masyarakat, baik kesuksesan atau kegagalan mereka, sangat
bergantung pada bentuk perbuatan mereka. Manusia tidak bisa meraih
kesuksesan hanya dengan berdoa dan berdiam diri. Untuk sukses, manusia
harus bergerak, berusaha, bekerja keras, dan berdoa.
Kesimpulannya,
kesuksesan dan kegagalan dalam kehidupan ini sangat bergantung jalan
hidup yang kita pilih sendiri. Jika manusia benar-benar beriman kepada
Allah SWT, dia tak akan mengkhawatirkan apapun. Dia akan menikmati
kehidupan ini, baik dalam kondisi gagal maupun sukses. Yang terpenting
baginya adalah berada dalam keridhoan Allah SWT, baik dalam kondisi
sukses atapun gagal di mata manusia. Karena sering terjadi, gagal di
mata manusia sesungguhnya sukses di mata Allah. Seperti Nabi Ayyub yang
jatuh miskin, sesungguhnya dia adalah manusia yang sukses di mata Allah
karena Nabi Ayyub mampu bersabar dalam ujian itu.
|