|
Upaya Pengembalian Kejayaan Peradaban Islam
Dengan kehadiran Islam
di tanah Arab, agama langit yang terakhir serta paling sempurna telah
muncul di muka bumi ini. Agama ini telah meletakkan pondasi peradaban
yang besar dan gemilang dalam sejarah. Peradaban Islam merupakan
pengibar bendera keilmuan dan kebudayaan di dunia pada abad ke-3 hingga
7 Hijriah. Penekanan Islam atas pendidikan dan penelitian merupakan
penyebab utama terbentuknya peradaban yang agung itu. Sumber-sumber
Islam, khususnya Al-Quran dan hadis-hadis Rasulullah Saww, dipenuhi
dengan serangkaian ajaran yang mengajak ummat Islam untuk menuntut ilmu
dan merenungkan alam semesta serta menghormati ilmuwan. Dengan ajaran
semacam ini, tidaklah mengherankan bila peradaban dan kebudayaan Islam
kian berkembang di pelbagai bidang. Dalam jantung peradaban Islam, para
pemikir besar mengemuka di kancah keilmuan dengan mempersembahkan
pelayanan yang luar biasa kepada ummat manusia.
Bila kita menengok
kondisi dunia Islam dari abad ketiga hingga abad ketujuh hijriah, kita
akan menemukan bahawa pada zaman itu, pusat-pusat pendidikan tersebar di
pelbagai penjuru wilayah Islam. Selain universitas-universitas,
masjid-masjid juga dijadikan tempat penyebaran ilmu.
Perpustakaan-perpustakaan, pusat-pusat riset, dan
laboratorium-laboratorium juga bermunculan di pelbagai tempat. Semua
fasilitas itu menyebabkan ilmu dan pengetahuan mempunyai tempat yang
utama di tengah-tengah ummat Islam. Para ilmuwan muslim dengan
mengeksplorasi hasil-hasil peradaban kuno akhirnya mencapai keberhasilan
di berbagi bidang seperti kedokteran, astronomi, matematika, fisika,
filsafat, logika, sastra, sejarah dan geografi. Semangat menuntut ilmu
itu bukan hanya terbatas di kalangan ilmuwan atau kalangan tertentu saja,
namun juga mencakup semua lapisan masyarakat. Hal ini terjadi berkat
penekanan Islam atas pentingnya ilmu. Rasulullah Muhammad Saww bersabda,
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslimin, baik perempuan
maupun laki-laki.”
Namun, sayang sekali,
masa kegemilangan peradaban Islam secara bertahap mengalami dekadensi.
Penyebab kemunduran ini adalah beberapa faktor, yaitu sebagai berikut.
Di akhir abad kelima hijriah, pasukan Salib menyerang kawasan-kawasan
Islam dengan alasan mengusai Baitulmaqdis. Hampir dua abad lamanya,
mereka menggelar peperangan akbar untuk menduduki kawasan-kawasan Islam.
Perang Salib belum selesai, pasukan Mongol pun menyerang kawasan timur
di awal abad ke-tujuh. Serangan ini telah merugikan negara-negara dunia
Islam dalam jumlah yang besar. Konflik lain juga menimpa dunia Islam,
yaitu perselisihan di antara pemerintahan Islam. Semua tragedi ini
mengakhiri masa kegemilangan peradaban Islam.
Selama Perang Salib
berlangsung, juga terjadi perpindahan berbagai informasi dari Timur ke
Barat. Melalui perang ini, Barat mulai mengenal keilmuan dan peradaban
Islam yang kemudian dijadikan sebagai pijakan kejayaan Barat saat ini.
Eropa pasca periode rennaisance meraih kejayaan keilmuan dan
peradabannya dengan memanfaatkan berbagai kemajuan ilmu yang diraih
peradaban Islam. Kemajuan peradaban Barat lambat laut membuat mental
ummat Islam melemah dan mereka semakin tidak berdaya menghadapi derasnya
kemajuan peradaban Barat. Ummat Islam pun secara perlahan-lahan tak lagi
bergairah mempertahankan kejayaan keilmuan dan peradaban Islam.
Setelah melewati masa
keterpurukan yang panjang, ada beberapa indikasi yang kembali
menghidupkan peradaban Islam. Kemenangan revolusi Islam Iran pada tahun
1979 dapat dianggap sebagai salah satu tonggak baru kebangkitan ummat
Islam. Revolusi Islam Iran bergerak berdasarkan nilai-nilai Islam. Di
samping itu, revolusi ini kembali mengaktualisasikan
doktrinasi-doktrinasi Islam yang selaras dengan kemajuan zaman. Sejak
kemenangan Revolusi Islam Iran 27 tahun lalu hingga kini, tampak
berbagai indikasi-indikasi kembalinya kejayaan Islam.
Pada intinya, titik
perbedaan utama antara peradaban Islam dengan peradaban-peradaban
lainnya terletak pada penerapan ideologi Islam sebagai poros segala
aspek kehidupan. Islam adalah agama yang hidup dan selaras dengan
kemajuan zaman. Selain itu, Islam juga mendorong manusia untuk menuntut
ilmu dan mencapai kemajuan. Salah satu ciri peradaban Islam yang sangat
menonjol adalah aspek spritualitas. Islam sebagai agama Ilahi mengajak
manusia menuju nilai-nilai spritual, etika, dan penyembahan kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Dapat dibayangkan, peradaban yang bersumber dari ajaran
Islam akan memberikan aroma spiritual dan bernuansa humanisme. Dalam
peradaban ini, manusia diarahkan untuk memiliki akhlak dan perangai yang
mulia.
Sebaliknya peradaban
Barat tidak diikat oleh etika spiritual dan Ketuhanan sehingga pada
akhirnya malah menyebabkan dekadensi kemanusiaan. Sebagai contoh,
kemajuan ilmu di Barat telah membuat mereka mampu menciptakan berbagai
jenis mesin dan alat pembunuh massal. Padahal, bila para ilmuwan Barat
menghormati etika kemanusiaan, mereka tidak akan melakukan langkah
apapun untuk membuat senjata semacam itu, bahkan sekedar dalam tahap
percobaan sekalipun. Sementara itu, dalam peradaban Islam, pemerintah
berkewajiban mengagendakan penyebaran ilmu dan teknologi yang dibatasi
oleh etika moral dan kemanusiaan.
Keberhasilan dalam
merealisasikan kenyamanan dan keamanan adalah di antara penyebab
kejayaan suatu peradaban. Tentunya, keamanan ini harus berdasarkan
kepada kemuliaan, bukan keamanan di bawah hegemoni kekuatan asing.
Keamanan hanya bisa terwujud bila tidak ada konflik di antara ummat
Islam. Republik Islam Iran sejak awal berdirinya selalu menyerukan
persatuan di tengah ummat Islam. Dalam pandangan Iran, persahabatan dan
persatuan di antara negara-negara dunia Islam merupakan sarana utama
dalam mengembalikan kejayaan peradaban Islam.
Tentu saja,
mengembalikan kejayaan peradaban Islam membutuhkan waktu yang relatif
lama. Namun, Republik Islam Iran sejauh ini telah melakukan banyak
langkah menonjol dalam hal ini. Berbagai kemajuan yang luar biasa di
bidang pengetahuan dan teknologi berhasil dicapai oleh Iran. Padahal,
pada saat yang sama, Iran selalu ditekan oleh negara-negara Barat,
terutama AS, dari segala sisi. Namun, dengan penuh kepercayaan diri,
mengoptimalkan kemampuan, dan kerja keras, Iran tetap melangkah maju
dalam bidang ilmu dan teknologi. Di antara kemajuan yang diraih Iran
antara lain, di bidang kedokteran. Para dokter dan ilmuwan Iran berhasil
menemukan vaksin antiretrovirus yang berfungsi menginfiltrasi sistem
kekebalan pengidap penyakit AIDS, dan baru-baru ini, para dokter Iran
juga berhasil menemukan sistem rehabilitasi patah tulang belakang.
Di antara keberhasilan
Republik Islam Iran yang sangat menonjol adalah kemampuan memroduksi
stem cell atau sel induk. Melalui penyediaan stem cell ini,
para ilmuwan Iran bahkan telah berhasil mengkloning domba. Selain Iran,
hanya negara-negara maju di Barat yang memiliki kemampuan ini.
Selain itu, para
ilmuwan Iran berhasil mengembangkan teknologi nuklir sipil yang
berfungsi di bidang teknologi, industri, pertanian dan kedokteran. Tentu
saja, langkah maju bangsa Iran ini menimbulkan kekhawatiran dunia Barat.
Negara-negara Barat berupaya keras dengan berbagai cara untuk membatasi
langkah Iran, antara lain dengan memberlakukan embargo dan menciptakan
sentimen anti Iran di tengah dunia Islam. Barat berupaya mengasingkan
Iran di tengah dunia Islam, sehingga persatuan Islam tidak terwujud dan
kembalinya kejayaan peradaban Islam tidak terealisasi. Namun tentu saja
Iran tidak akan pernah surut menghadapi tantangan seperti ini. Selain
itu, dunia Islam semakin hari juga semakin memiliki kesadaran mengenai
pentingnya persatuan demi kembalinya kejayaan peradaban Islam.
|