|
Festival Film Fajar ke-25 di Teheran
Seperti biasa setiap
tahun dalam rangka memperingati kemenangan Revolusi Islam Iran,
diselenggarakan Festival Film Fajr. Tahun ini, Festival Film Fajr
digelar untuk ke-25 kalinya. Film-film yang diperlombakan di festival
ini pada umumnya adalah film-film yang diproduksi sepanjang tahun
sebelumnya. Bagian terpenting dalam festival ini adalah diperlombakannya
film-film internasional yang bersaing dengan film-film Iran.
Yasmin Ahmad, seorang
juri bagian internasional di Festival Film Fajar, ketika mengomentari
penyelenggaraan festival tahun ini mengatakan, “Secara umum, sinema
Iran mengalami perkembangan yang relatif bagus, khususnya sepanjang satu
dekade terakhir. Film-film sebagus Boud Kunak-e-Sefid atau “Balon
Putih” dan Zamani Baraye Mastiye Asbha ”Waktu Untuk Berkuda”
hanya dapat ditemui di Iran. Saya berpikir bahwa Iran termasuk negara di
urutan terdepan yang mendorong nilai-nilai spritual dan humanis melalui
sinema.”
Untuk mengenal lebih
jauh karya-karya terbaik film-film Iran di Festival Film Fajar, kami
akan membahas secara sekilas film-film tersebut. Film Rouze Sivum
atau “Hari Ketiga”, karya Muhammad Husein Latifi, adalah di antara
film unggulan dalam 12 kategori penilaian, yang akhirnya meraih empat
Penghargaan Kristal Simurgh. Film ini juga terpilih sebagai film yang
terbaik dalam festival ini. Film ini menceritakan perjuangan warga
Khouramshahr di masa pendudukan tentara Irak. Kisah yang diangkat dalam
film ini menyorot seorang anak perempuan yang terjebak selama tiga hari
di wlayah yang dikepung oleh musuh. Kakak berupaya membebaskan anak
perempuannya dari cengkeraman musuh.
Film lainnya yang juga
meraih penghargaan di festival ini adalah film Po Berehneh Dar Behest
atau “Kaki Telanjang di Surga“ karya Bahram Tawakulli. Film
ini selain mendapat penghargaan khusus “Musthofa Aqad”, juga meraih enam
Penghargaan Kristal Simurgh. Film ini juga disebut-sebut sebagai karya
spesial di festival ini. Kisah film ini mengangkat cerita seorang ulama
muda yang mencari jawaban atas berbagai pertanyaaan yang berkecamuk
dalam jiwanya. Ulama muda itu kemudian memutuskan mendatangi sebuah
pusat rehabilitasi kejiwaan. Di sana, ia bekerja melayani pasien-pasien
yang dikarantina dan bahkan mengambil alih pekerjaan-pekerjaan yang
orang lain enggan melakukannya. Perlahan-lahan, ulama muda itu menjalin
ikatan batin dan empati dengan para pasiennya.
Aspek terpenting dalam
film ini adalah adanya terobosan dan teknik baru yang digunakan. Dalam
film ini, ulama muda yang mendatangi rumah sakit jiwa itu tidak
melakukan acara-acara ritual atau memberikan khutbah agama akan tetapi
mengerjakan pekerjaan-pekerjaan fisik yang berat. Melalui upayanya itu,
ulama muda tersebut ingin mencari penyebab berbagai musibah yang
dialami sebagian umat manusia. Bahram Tavakoli, sutradara film ini,
mengaku melakukan riset panjang untuk mengangkat cerita agama dalam
filmnya. Terkait tema film ini, Tavakoli mengatakan, “Bisa jadi, Anda
akan melihat masa-masa skeptis dan kegoncangan dalam film ini. Akan
tetapi, Anda akan lebih banyak menyaksikan cinta kepada kasih sayang
Allah Swt dalam film ini.”
Di penghujung Festival
Film Fajar, Penghargaan Kristal Simurgh untuk kategori film nasional
dihadiahkan untuk film Fars Irani atau “Permadani Iran”. Film ini
adalah film dokumentasi yang disutradarai oleh 15 orang sutradara dan
diproduseri oleh Reza Mir Karimi. Film dokumentasi ini dipesan oleh
Pusat Nasional Permadani Iran dan bertujuan untuk memberitahukan kepada
dunia mengenai keindahan permadani Iran. Film ini untuk pertama kali
ditayangkan dalam Festival Film Fajar dan kemudian akan ditayangkan di
berbagai festival internasional dan berbagai saluran televisi satelit.
Rakhsan Bani E’temad
adalah seorang sutradara terkemuka Iran. Dia sangat teliti dalam
menyoroti masalah-masalah sosial dan menuangkannya dalam layar sinema.
Dalam Festival Film Fajr ke-25 ini, Rakhsan Bani E’temad menampilkan
karya terbarunya berjudul Khun Bazi atau “Permainan Darah. Dalam
film ini dia mencurahkan kekhawatirannya terhadap kecanduan narkotika
yang merebak di kalangan remaja. Menurut Bani E’temad, kecanduan dapat
membinasakan modal utama sebuah bangsa. Kecanduan ini lebih berbahaya
dari perang, karena energi anak muda sama sekali tak bisa digantikan.
Film karya Bani Etemad ini menceritakan seorang perempuan yang dengan
bantuan ibunya, berupaya meninggalkan kecanduannya. Namun, latar
belakang keluarga yang suram menjadi penghambat bagi upaya perempuan
tersebut.
Bani E’temad
berpandangan, dalam kondisi tersebarnya sebuah virus, maka
memperingatkan atau hanya sekedar mengkhawatirkan virus tersebut adalah
di antara bentuk antisipasi penyebaran virus itu. Dia juga mengatakan,
film ini harus ditonton oleh para pemuda yang masih belum menyadari
bahaya narkotika. Film Khun Bazi menampilkan setting, akting,
dan tata rias yang luar biasa, dengan didominasi gambar hitam-putih. Tak
heran bila film ini meraih penghargaan terbaik dalam kategori tata rias,
skenario, naskah, dan aktor perempuan terbaik. E’temad juga meraih
penghargaan khusus seni dan eksperimen, dan juga meraih Penghargaan
Kristal Simurgh dalam ketegori sutradara terbaik sinema internasional.
Berbarengan dengan
penyelenggaraan Festival Film Fajr, juga digelar Pasar Film
Internasional yang menawarkan film-film Iran dan film dari negara-negara
lain untuk diperjualbelikan. Pasar Internasional Film Iran ke-10 digelar
dari tanggal 4 hingga 8 Januari, yang diikuti oleh 29 perusahaan Iran
serta 50 perusahaan asing, serta 24 perwakilan dari berbagai festival di
dunia. Perusahaan-perusahaan asing yang ikut serta dalam pasar
internasional ini, antara lain berasal dari Kanada, Bahrain, Mesir,
Perancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Lebanon, Malaysia,
Yordania, Polandia, Palestina, dan Turki. Para delegasi festival yang
cukup diakui dunia juga ikut memperhatikan film-film Iran dan kemudian
memilih di antara film-film Iran untuk diundang dalam festival mereka.
Amir Esfandyari yang
menjabat sebagai Direktur Pasar Film Internasional Iran selama sepuluh
tahun, mengatakan, “Keberhasilan Pasar Film Internasional tak bisa
dinilai dari sudut tingkat penjualan semata. Para penonton dan pembeli
yang datang ke pasar ini, sebagian datang untuk menonton film dan
memperhatikan kualitas film Iran. Penjualan film-film Iran di Pasar Film
Internasional ini setiap tahun semakin meningkat dan pasar ini mendapat
sambutan baik dari para sutradara lokal dan asing setiap tahunnya.
Tentunya, hal ini menunjukkan kinerja positif kami dalam
menyelenggarakan Pasar Film Internasional ini.”
Munic Indra, seorang
produser dan pemilik perusahaan MiFilms.Inc asal Kanada yang datang ke
Iran untuk mengikuti festival ini, menyatakan ketertarikannya pada
film-film Iran. Mengenai sinema Iran, dia mengatakan, “Dalam film-film
Iran terdapat spirit kesederhanaan, spiritual, dan independensi. Inilah
yang menjadi daya tarik tersendiri dalam sinema Iran. Di luar Iran, kami
dengan mudah dapat menyaksikan film-film Hollywood, namun pada saat yang
sama, film-film Iran tak ditayangkan secara luas di luar negeri. Karena
itu, festival dan pasar film internasional ini harus terus dikembangkan
agar masyarakat dunia dapat lebih mengenal film-film Iran.”
|