Perspektif    

   Februari 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Festival Film Fajar ke-25 di Teheran

Seperti biasa setiap tahun dalam rangka memperingati  kemenangan Revolusi Islam Iran, diselenggarakan Festival Film Fajr. Tahun ini, Festival Film Fajr digelar untuk ke-25 kalinya. Film-film yang diperlombakan di festival ini  pada umumnya adalah film-film yang diproduksi sepanjang tahun sebelumnya. Bagian terpenting dalam festival ini adalah diperlombakannya film-film internasional yang bersaing dengan film-film Iran.  

Yasmin Ahmad, seorang juri bagian internasional di Festival Film Fajar, ketika mengomentari penyelenggaraan festival tahun ini mengatakan, “Secara umum,  sinema Iran mengalami perkembangan yang relatif bagus, khususnya sepanjang satu dekade terakhir. Film-film sebagus Boud Kunak-e-Sefid atau “Balon Putih”  dan Zamani Baraye Mastiye Asbha ”Waktu Untuk Berkuda” hanya dapat ditemui di Iran. Saya berpikir bahwa Iran termasuk negara di urutan terdepan yang mendorong nilai-nilai spritual dan humanis melalui sinema.”

Untuk mengenal lebih jauh karya-karya terbaik film-film Iran di Festival Film Fajar, kami akan membahas secara sekilas film-film tersebut. Film Rouze Sivum atau “Hari Ketiga”, karya Muhammad Husein Latifi, adalah di antara film unggulan dalam 12 kategori penilaian, yang akhirnya meraih empat Penghargaan Kristal Simurgh. Film ini juga terpilih sebagai film yang terbaik dalam festival ini. Film ini menceritakan perjuangan warga Khouramshahr di masa pendudukan tentara Irak. Kisah yang diangkat dalam film ini menyorot seorang anak perempuan yang terjebak selama tiga hari di wlayah yang dikepung oleh musuh. Kakak berupaya membebaskan anak perempuannya dari cengkeraman musuh.

Film lainnya yang juga meraih penghargaan di festival ini adalah film Po Berehneh Dar Behest atau “Kaki Telanjang di Surga“ karya  Bahram Tawakulli. Film ini selain mendapat penghargaan khusus “Musthofa Aqad”, juga meraih enam Penghargaan Kristal Simurgh. Film ini juga disebut-sebut sebagai karya spesial di festival ini. Kisah film ini mengangkat cerita seorang ulama muda yang mencari jawaban atas berbagai pertanyaaan yang berkecamuk dalam jiwanya. Ulama muda itu kemudian memutuskan mendatangi sebuah pusat rehabilitasi kejiwaan. Di sana, ia bekerja melayani pasien-pasien yang dikarantina dan bahkan mengambil alih pekerjaan-pekerjaan yang orang lain enggan melakukannya. Perlahan-lahan, ulama muda itu menjalin ikatan batin dan empati dengan para pasiennya.

Aspek terpenting dalam film ini adalah adanya terobosan dan teknik baru yang digunakan. Dalam film ini, ulama muda yang mendatangi rumah sakit jiwa itu tidak melakukan acara-acara ritual atau memberikan khutbah agama akan tetapi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan fisik yang berat. Melalui upayanya itu, ulama muda tersebut ingin mencari penyebab  berbagai musibah yang dialami sebagian umat manusia. Bahram Tavakoli, sutradara film ini, mengaku melakukan riset panjang untuk mengangkat cerita agama dalam filmnya. Terkait  tema film ini, Tavakoli mengatakan, “Bisa jadi, Anda akan melihat masa-masa skeptis dan kegoncangan dalam film ini. Akan tetapi, Anda akan lebih banyak menyaksikan cinta kepada kasih sayang Allah Swt dalam film ini.”

Di penghujung Festival Film Fajar, Penghargaan Kristal Simurgh untuk kategori film nasional dihadiahkan untuk film Fars Irani atau “Permadani Iran”. Film ini adalah film dokumentasi yang disutradarai oleh 15 orang sutradara dan diproduseri oleh Reza Mir Karimi. Film dokumentasi ini dipesan oleh Pusat Nasional Permadani Iran dan bertujuan untuk memberitahukan kepada dunia mengenai keindahan permadani Iran. Film ini untuk pertama kali ditayangkan dalam Festival Film Fajar dan kemudian akan  ditayangkan di berbagai festival internasional dan berbagai saluran televisi satelit.

Rakhsan Bani E’temad adalah seorang sutradara terkemuka Iran. Dia sangat teliti dalam menyoroti masalah-masalah sosial dan menuangkannya dalam layar sinema. Dalam Festival Film Fajr ke-25 ini, Rakhsan Bani E’temad menampilkan karya terbarunya berjudul Khun Bazi atau “Permainan Darah. Dalam film ini dia mencurahkan kekhawatirannya terhadap kecanduan narkotika yang merebak di kalangan remaja. Menurut Bani E’temad, kecanduan dapat membinasakan modal utama  sebuah bangsa. Kecanduan ini  lebih berbahaya dari perang, karena energi anak muda sama sekali tak bisa digantikan. Film  karya Bani Etemad ini menceritakan seorang perempuan yang dengan bantuan ibunya, berupaya meninggalkan kecanduannya. Namun, latar belakang keluarga yang suram menjadi penghambat bagi upaya perempuan tersebut.

Bani E’temad berpandangan, dalam kondisi tersebarnya sebuah virus, maka   memperingatkan atau hanya sekedar mengkhawatirkan virus tersebut adalah di antara bentuk antisipasi penyebaran virus itu. Dia juga mengatakan, film ini harus ditonton oleh para pemuda yang masih belum menyadari bahaya narkotika. Film  Khun Bazi menampilkan setting, akting, dan tata rias yang luar biasa, dengan didominasi gambar hitam-putih. Tak heran bila film ini meraih  penghargaan terbaik dalam kategori tata rias, skenario, naskah, dan aktor perempuan terbaik. E’temad juga meraih penghargaan khusus seni dan eksperimen, dan juga meraih  Penghargaan Kristal Simurgh dalam ketegori sutradara terbaik sinema internasional.

Berbarengan dengan penyelenggaraan Festival Film Fajr, juga digelar Pasar Film Internasional yang menawarkan film-film Iran dan film dari negara-negara lain untuk diperjualbelikan. Pasar Internasional Film Iran ke-10 digelar dari tanggal 4 hingga 8 Januari, yang diikuti oleh 29 perusahaan Iran serta 50 perusahaan asing, serta 24 perwakilan dari berbagai festival di dunia. Perusahaan-perusahaan asing yang ikut serta dalam pasar internasional ini, antara lain berasal dari Kanada,  Bahrain, Mesir, Perancis,  Jerman,  India,  Indonesia,  Italia, Lebanon, Malaysia, Yordania, Polandia,  Palestina, dan Turki. Para delegasi festival yang cukup diakui dunia juga ikut memperhatikan film-film Iran dan kemudian memilih di antara film-film Iran untuk  diundang dalam festival mereka.

Amir Esfandyari yang menjabat sebagai Direktur Pasar Film Internasional Iran selama sepuluh tahun, mengatakan, “Keberhasilan Pasar Film Internasional tak bisa dinilai dari sudut tingkat penjualan semata. Para penonton dan pembeli yang datang ke pasar ini, sebagian datang untuk menonton film dan memperhatikan kualitas film Iran. Penjualan film-film Iran di Pasar Film Internasional ini setiap tahun semakin meningkat dan pasar ini mendapat sambutan baik dari para sutradara lokal dan asing setiap tahunnya. Tentunya, hal ini menunjukkan kinerja positif kami dalam menyelenggarakan Pasar Film Internasional ini.”

Munic Indra, seorang produser dan pemilik perusahaan MiFilms.Inc asal Kanada yang datang  ke Iran untuk mengikuti festival ini, menyatakan ketertarikannya pada film-film Iran. Mengenai sinema Iran, dia mengatakan, “Dalam film-film Iran terdapat spirit kesederhanaan, spiritual, dan independensi. Inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dalam sinema Iran. Di luar Iran, kami dengan mudah dapat menyaksikan film-film Hollywood, namun pada saat yang sama, film-film Iran tak ditayangkan secara luas di luar negeri. Karena itu, festival dan pasar film internasional ini harus terus dikembangkan agar masyarakat dunia dapat  lebih mengenal film-film Iran.”

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]