|
Selangkah Bersama Rasul Allah SAWW
Setiap tahun,
di hari-hari bulan Dzulhijjah, jutaan manusia terpanggil untuk menikmati
berbagai macam hidangan materi dan maknawi ibadah haji, sehingga kita
menyaksikan lautan manusia berkumpul di satu tempat, dengan hati yang
penuh dengan kerinduan dan luapan cinta seorang hamba kepada Penciptanya.
Hadir di sisi manusia-manusia suci dan manusia-manusia tak tersaingi di
sepanjang sejarah, seperti Rasul Allah SAWW, memberikan peluang yang tak
terbayangkan nilainya, dalam mencapai jalan kemuliaan. Ibadah haji
memberikan pula peluang ini kepada semua mereka yang datang menghadiri
pertemuan agung ini, dan bergerak serempak menuju satu tujuan bersama.
Ciri khusus gerak ini ialah mengingat Allah dan kebersamaan dengan
hamba-hamba-Nya. Sedangkan tujuannya ialah menciptakan benteng yang kuat
untuk menghadapi para pembuat kesesatan dan pencari kesempatan untuk
menancapkan kuku-kuku imperialisme mereka. Dapat dikatakan hadiah
terpenting ibadah haji ialah pengenalan mendalam para penziarah kepada
Allah swt. Di hari-hari ini, berbagai tempat suci kota Makkah dan
Madinah penuh dengan senandung "labbaik" para pendatang yang memenuhi
panggilan ke Rumah Allah.
Madinah adalah
pusat lahirnya pemerintahan Islam, yang namanya paling dikenal setelah
kota Makkah. Kota yang dulunya bernama Yatsrib ini, berada di sebelah
timur laut kota Makkah, dengan jarak sekitar 500 km. Kota Madinah
menjadi terkenal dan masyhur di seluruh dunia, setelah Rasul Allah SAWW
berhijrah ke kota ini. Rasul Allah SAWW berhijrah ke kota Madinah pada
tahun 622 M, dan peristiwa hijrah beliau ini dijadikan sebagai awal
perhitungan kalender Islam. Kota Madinah adalah sebuah sejarah. Sejarah
kesulitan hidup yang bertahun-tahun, sejarah perjuangan, sejarah
kemuliaan dan sejarah kekuatan dan kekuasaan umat Islam. Di Madinah,
gambar dan bayangan-bayangan memperoleh jiwa, dan semua kenangan
mendapatkan kehidupan. Seolah di hari inilah Rasul Allah SAWW
menjejakkan kaki beliau ke kota ini, ketika berhijrah dari Makkah,
setelah beberapa hari perjalanan menempuh padang pasir, melewati Quba'.
Penduduk
Madinah menyambut kedatangan beliau dengan penuh luapan kerinduan. Sinar
matahari yang membakar bebatuan padang pasir, telah menyiramkan cahaya
panasnya di atas kepala para musafir ini. salah seorang sahabat
mengikatkan ujung jubahnya ke salah satu pohon, dan ujung yang lain ke
pohon yang lain, untuk membuat naungan, agar Nabi dapat beristirahat
sejenak di bawahnya. Sebelum Rasul Allah SAWW duduk di bawah pohon
tersebut, beliau bertanya, "Milik siapakah pohon-pohon ini?" Seorang
lelaki menjawab, "Pohon-pohon ini milikku." Rasul Allah ebrtanya, "Apakah
engkau mengijinkan kami beristirahat di sini?" Lelaki Arab yang tertegun
menyaksikan kerendahan hati dan sopan santun Nabi ini, menjawab, "Wahai
Rasul Allah, kapan pun Engkau mau, Engkau dapat beristirahat di bawah
pohon-pohon ini."
Dengan demikian,
setelah menunjukkan akhlak beliau yang sedmikian tinggi itu, Rasul Allah
SAWW telah mengambil langkah pertama untuk membentuk sebuah masyarakat
yang bersih, yang penuh dengan nilai-nilai moral yang tinggi. Masyarakat
yang akan menciptakanperubahan besar sejarah dan peradaban manusia,
serta membuka lembaran baru dalam perjalanan hidup umat manusia.
Salah satu adab,
sopan santun atau tatakrama, yang sangat ditakankan untuk dilakukan oleh
para penziarah Rumah Allah ialah, berziarah ke makam suci Rasul Allah
SAWW, di masjid Nabi, kota Madinah. Menyaksikan jutaan manusia dengan
berbagai warna kulit, dari berbagai suku dan negara, menghingatkan
kepada partisipasi muslimin generasi eprtama dalam membangun Masjid Nabi,
yang bagaikan mutiara, memancarkan cahayanya menerangi kota Madinah.
Majid ini
didirikan di bagian timur kota Madinah, dan merupakan masjid yang paling
terkenal setelah Masjidil Haram Makkah. Di dalam masjid ini terletak
makam suci Rasul Allah SAWW, tempat ziarah para pencinta utusan terakhir
ini, yang ingin menumpahkan rasa rindunya. Tanah masjid ini, bekas milik
dua anak yatim, yang dibeli oleh Nabi, kemudian dibangunlah masjid di
atasnya, yang kemudian dikenal dengan nama Masjid Nabi atau Masjid
Nabawi. Seluruh muslimin pada masa itu ikut andil dalam pembangunan
masjid ini. muhajirin, Anshar, hitam dan putih, kaya dan miskin, budak
dan merdeka, semua bekerja, karena masjid ini merupakan milik bersama,
dan Allah swt telah mempersatukan hati mereka semua.
Salah satu
anggota masjid ini yang paling aktif ialah Rasul Allah SAWW sendiri.
Beliau mengangkat tanah dan batu, memotong kayu-kayu untuk tiang masjid,
dan beliau terlibat dalam semua pekerjaan membangun masjid mulia ini. di
hari itu, suasana persaudaraan, persamaan, kekompakan, saling percaya,
saling mencinta, keimanan kepada Allah yang Esa, memenuhi setiap sudut
kota suci Madinah. Suasana seperti itu terulang kembali di hari-hari ini,
dan memenuhi segala lpenjuru kota Makkah dan Madinah. Setiap mata
memancarkan kasih sayang. Dzikrullah dan munajat kepada-Nya, menebarkan
bau harum maknawi ke semua sudut.
Suasana di
dalam Masjid Nabi, manusia akan tenggalam kesebuah dunia yang penuh
dengan keindahan. Setelah penambahan dan perluasan di sana sini, maka
luas Masjid ini sekarang mencapai 100.000 meter, dengan tetap memberikan
suasana maknawi yang sangat kental. Di tempat ini, bau harum kehadiran
Rasul Allah SAWW akan terasa, seolah beliau hadir di tempat itu, dan
sebagaimana biasa, menebarkan senyumnya yang indah kepada semua orang
yang hadir di situ. Suara beliau yang lembut terngiang di dalam telinga,
mengatakan:
قولوا لا اله الا الله تفلحوا
"Katakahlah "Laa ilaaha illallah"
kalian akan memang"
Kalimat pemersatu umat Islam ini bergema dan
dilantunkan oleh setiap penziarah Makkah dan Madinah ini, walaupun
mereka memiliki kewarganegaraan yang berbeda-beda, bahasa yang berlainan,
dan warna kulit yang tidak sama, juga madzhab yang bermacam-macam. Akan
tetapi semua perbedaan itu sirna di bawah sinar terang syiar-syiar
ibadah haji dan ziarah Rasul, yang mempertautkan setiap hati muslim
dengan sedemikian kuat. Di sinilah umat Islam kembali kepada suasana dan
kondisi yang sebenarnya, yaitu persatuan, persamaan derajat, saling
mengasihi dan saling mencintai.
Di dalam Masjid Nabi, terdapat tiang-tiang
yang masing-masing memiliki nama tersendiri. Diantara nama-nama tersebut
mengingatkan kita kepada sejarah Islam generasi pertama. Satu diantara
semua tiang ini bernama "Murabba'atul Qabr", yang juga disebut
dengan nama "Maqaamu Jibril", yang menempel dengan sudut utara
makam suci Nabi SAWW. Di tempat inilah pintu rumah Sayidah Fatimah as,
putri tercinta Rasul Allah SAWW. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa setiap
kali hendak menunaikan salat, Rasul Allah SAWW berdiri di depan pintu
rumah Fatimah as, mengajak mereka untuk salat, lalu membacakan Ayat:
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ
وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
"Sesungguhnya
Allah berkehendak untuk menghilangkan kotoran dari kalian,
Ahlul Bait, dan menyucikan kalian
sesuci-sucinya"
Hari ini, menyaksikan tempat berdirinya
tiang ini, membuat kita kembali mengenang peristiwa tersebut, dan
petunjuk Rasul Allah SAWW kepada umat beliau agar berpegang kepada dua
peninggalan berharga, yaitu Al-Quran dan Ahlul Bait beliau, agar umat
beliau terhindar dari segala macam kesesatan.
Di dekat masjid Nabi, terletak pula
pemakaman umum muslimin, yaitu Baqi'. Meskipun terlihat sunyi dan sepi,
namun pemakan ini menyimpan kisah yang panjang. Di pemakaman Baqi',
bersemayam jasad para sahabat mulia Rasul Allah SAWW, putra-putra dan
keturunan beliau, ibunda Imam Ali as, istri-istri Nabi, dan para
pembesar ulama serta para pejuang Islam. Di Baqi' pula dimakamkan empat
manusia suci keturunan Nabi SAWW. Mereka itu ialah Imam Hasan as, Imam
Ali Zainul Abidin as, Imam Muhammad Al-Baqir as, dan Imam Ja'far As-Shadiq
as. Empat Imam dari 12 Imam suci Ahlil Bait Nabi SAWW, inilah yang
membuat pemakaman Baqi' semakin bersinar terang, memancarkan
cahaya-cahaya maknawi, yang akan dirasakan hanya oleh para pencinta
mereka, dengan cinta yang sebenarnya.
Dapat dikatakan, dengan melaksanakan semua
manasik haji, selain membangun diri dan bertaqarrub kepada Allah,
seseorang berusaha menapaki kembali jejak Rasul Allah SAWW. Perjuangan
Nabi tak lain, mencita-citakan kekuatan Islam; dan ibadah haji, selain
mengajak manusia membina keutamaan-keutamaan akhlak, juga menyeru kepada
pembinaan persatuan umat Islam, yang akan melahirkan kekuatan, kewibaan
dan kejayaan Islam, menghadapi kekuatan-kekuatan para musuh yang tak
pernah berhenti menyusun berbagai macam makar untuk menghancurkan agama
Ilahi ini.
|