Perspektif    

   Januari 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selangkah Bersama Rasul Allah SAWW

Setiap tahun, di hari-hari bulan Dzulhijjah, jutaan manusia terpanggil untuk menikmati berbagai macam hidangan materi dan maknawi ibadah haji, sehingga kita menyaksikan lautan manusia berkumpul di satu tempat, dengan hati yang penuh dengan kerinduan dan luapan cinta seorang hamba kepada Penciptanya. Hadir di sisi manusia-manusia suci dan manusia-manusia tak tersaingi di sepanjang sejarah, seperti Rasul Allah SAWW, memberikan peluang yang tak terbayangkan nilainya, dalam mencapai jalan kemuliaan. Ibadah haji memberikan pula peluang ini kepada semua mereka yang datang menghadiri pertemuan agung ini, dan bergerak serempak menuju satu tujuan bersama. Ciri khusus gerak ini ialah mengingat Allah dan kebersamaan dengan hamba-hamba-Nya. Sedangkan tujuannya ialah menciptakan benteng yang kuat untuk menghadapi para pembuat kesesatan dan pencari kesempatan untuk menancapkan kuku-kuku imperialisme mereka. Dapat dikatakan hadiah terpenting ibadah haji ialah pengenalan mendalam para penziarah kepada Allah swt. Di hari-hari ini, berbagai tempat suci kota Makkah dan Madinah penuh dengan senandung "labbaik" para pendatang yang memenuhi panggilan ke Rumah Allah.

Madinah adalah pusat lahirnya pemerintahan Islam, yang namanya paling dikenal setelah kota Makkah. Kota yang dulunya bernama Yatsrib ini, berada di sebelah timur laut kota Makkah, dengan jarak sekitar 500 km. Kota Madinah menjadi terkenal dan masyhur di seluruh dunia, setelah Rasul Allah SAWW berhijrah ke kota ini. Rasul Allah SAWW berhijrah ke kota Madinah pada tahun 622 M, dan peristiwa hijrah beliau ini dijadikan sebagai awal perhitungan kalender Islam. Kota Madinah adalah sebuah sejarah. Sejarah kesulitan hidup yang bertahun-tahun, sejarah perjuangan, sejarah kemuliaan dan sejarah kekuatan dan kekuasaan umat Islam. Di Madinah, gambar dan bayangan-bayangan memperoleh jiwa, dan semua kenangan mendapatkan kehidupan. Seolah di hari inilah Rasul Allah SAWW menjejakkan kaki beliau ke kota ini, ketika berhijrah dari Makkah, setelah beberapa hari perjalanan menempuh padang pasir, melewati Quba'.

Penduduk Madinah menyambut kedatangan beliau dengan penuh luapan kerinduan. Sinar matahari yang membakar bebatuan padang pasir, telah menyiramkan cahaya panasnya di atas kepala para musafir ini. salah seorang sahabat mengikatkan ujung jubahnya ke salah satu pohon, dan ujung yang lain ke pohon yang lain, untuk membuat naungan, agar Nabi dapat beristirahat sejenak di bawahnya. Sebelum Rasul Allah SAWW duduk di bawah pohon tersebut, beliau bertanya, "Milik siapakah pohon-pohon ini?" Seorang lelaki menjawab, "Pohon-pohon ini milikku." Rasul Allah ebrtanya, "Apakah engkau mengijinkan kami beristirahat di sini?" Lelaki Arab yang tertegun menyaksikan kerendahan hati dan sopan santun Nabi ini, menjawab, "Wahai Rasul Allah, kapan pun Engkau mau, Engkau dapat beristirahat di bawah pohon-pohon ini."

Dengan demikian, setelah menunjukkan akhlak beliau yang sedmikian tinggi itu, Rasul Allah SAWW telah mengambil langkah pertama untuk membentuk sebuah masyarakat yang bersih, yang penuh dengan nilai-nilai moral yang tinggi. Masyarakat yang akan menciptakanperubahan besar sejarah dan peradaban manusia, serta membuka lembaran baru dalam perjalanan hidup umat manusia.

Salah satu adab, sopan santun atau tatakrama, yang sangat ditakankan untuk dilakukan oleh para penziarah Rumah Allah ialah, berziarah ke makam suci Rasul Allah SAWW, di masjid Nabi, kota Madinah. Menyaksikan jutaan manusia dengan berbagai warna kulit, dari berbagai suku dan negara, menghingatkan kepada partisipasi muslimin generasi eprtama dalam membangun Masjid Nabi, yang bagaikan mutiara, memancarkan cahayanya menerangi kota Madinah.

Majid ini didirikan di bagian timur kota Madinah, dan merupakan masjid yang paling terkenal setelah Masjidil Haram Makkah. Di dalam masjid ini terletak makam suci Rasul Allah SAWW, tempat ziarah para pencinta utusan terakhir ini, yang ingin menumpahkan rasa rindunya. Tanah masjid ini, bekas milik dua anak yatim, yang dibeli oleh Nabi, kemudian dibangunlah masjid di atasnya, yang kemudian dikenal dengan nama Masjid Nabi atau Masjid Nabawi. Seluruh muslimin pada masa itu ikut andil dalam pembangunan masjid ini. muhajirin, Anshar, hitam dan putih, kaya dan miskin, budak dan merdeka, semua bekerja, karena masjid ini merupakan milik bersama, dan Allah swt telah mempersatukan hati mereka semua.

Salah satu anggota masjid ini yang paling aktif ialah Rasul Allah SAWW sendiri. Beliau mengangkat tanah dan batu, memotong kayu-kayu untuk tiang masjid, dan beliau terlibat dalam semua pekerjaan membangun masjid mulia ini. di hari itu, suasana persaudaraan, persamaan, kekompakan, saling percaya, saling mencinta, keimanan kepada Allah yang Esa, memenuhi setiap sudut kota suci Madinah. Suasana seperti itu terulang kembali di hari-hari ini, dan memenuhi segala lpenjuru kota Makkah dan Madinah. Setiap mata memancarkan kasih sayang. Dzikrullah dan munajat kepada-Nya, menebarkan bau harum maknawi ke semua sudut.

Suasana di dalam Masjid Nabi, manusia akan tenggalam kesebuah dunia yang penuh dengan keindahan. Setelah penambahan dan perluasan di sana sini, maka luas Masjid ini sekarang mencapai 100.000 meter, dengan tetap memberikan suasana maknawi yang sangat kental. Di tempat ini, bau harum kehadiran Rasul Allah SAWW akan terasa, seolah beliau hadir di tempat itu, dan sebagaimana biasa, menebarkan senyumnya yang indah kepada semua orang yang hadir di situ. Suara beliau yang lembut terngiang di dalam telinga, mengatakan:

 

قولوا لا اله الا الله تفلحوا

 

"Katakahlah "Laa ilaaha illallah" kalian akan memang"

Kalimat pemersatu umat Islam ini bergema dan dilantunkan oleh setiap penziarah Makkah dan Madinah ini, walaupun mereka memiliki kewarganegaraan yang berbeda-beda, bahasa yang berlainan, dan warna kulit yang tidak sama, juga madzhab yang bermacam-macam. Akan tetapi semua perbedaan itu sirna di bawah sinar terang syiar-syiar ibadah haji dan ziarah Rasul, yang mempertautkan setiap hati muslim dengan sedemikian kuat. Di sinilah umat Islam kembali kepada suasana dan kondisi yang sebenarnya, yaitu persatuan, persamaan derajat, saling mengasihi dan saling mencintai.

Di dalam Masjid Nabi, terdapat tiang-tiang yang masing-masing memiliki nama tersendiri. Diantara nama-nama tersebut mengingatkan kita kepada sejarah Islam generasi pertama. Satu diantara semua tiang ini bernama "Murabba'atul Qabr", yang juga disebut dengan nama "Maqaamu Jibril", yang menempel dengan sudut utara makam suci Nabi SAWW. Di tempat inilah pintu rumah Sayidah Fatimah as, putri tercinta Rasul Allah SAWW. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa setiap kali hendak menunaikan salat, Rasul Allah SAWW berdiri di depan pintu rumah Fatimah as, mengajak mereka untuk salat, lalu membacakan Ayat:

 

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

"Sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan kotoran dari kalian,

Ahlul Bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya"

 

Hari ini, menyaksikan tempat berdirinya tiang ini, membuat kita kembali mengenang peristiwa tersebut, dan petunjuk Rasul Allah SAWW kepada umat beliau agar berpegang kepada dua peninggalan berharga, yaitu Al-Quran dan Ahlul Bait beliau, agar umat beliau terhindar dari segala macam kesesatan.

Di dekat masjid Nabi, terletak pula pemakaman umum muslimin, yaitu Baqi'. Meskipun terlihat sunyi dan sepi, namun pemakan ini menyimpan kisah yang panjang. Di pemakaman Baqi', bersemayam jasad para sahabat mulia Rasul Allah SAWW, putra-putra dan keturunan beliau, ibunda Imam Ali as, istri-istri Nabi, dan para pembesar ulama serta para pejuang Islam. Di Baqi' pula dimakamkan empat manusia suci keturunan Nabi SAWW. Mereka itu ialah Imam Hasan as, Imam Ali Zainul Abidin as, Imam Muhammad Al-Baqir as, dan Imam Ja'far As-Shadiq as. Empat Imam dari 12 Imam suci Ahlil Bait Nabi SAWW, inilah yang membuat pemakaman Baqi' semakin bersinar terang, memancarkan cahaya-cahaya maknawi, yang akan dirasakan hanya oleh para pencinta mereka, dengan cinta yang sebenarnya.

Dapat dikatakan, dengan melaksanakan semua manasik haji, selain membangun diri dan bertaqarrub kepada Allah, seseorang berusaha menapaki kembali jejak Rasul Allah SAWW. Perjuangan Nabi tak lain, mencita-citakan kekuatan Islam; dan ibadah haji, selain mengajak manusia membina keutamaan-keutamaan akhlak, juga menyeru kepada pembinaan persatuan umat Islam, yang akan melahirkan kekuatan, kewibaan dan kejayaan Islam, menghadapi kekuatan-kekuatan para musuh yang tak pernah berhenti menyusun berbagai macam makar untuk menghancurkan agama Ilahi ini.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]