|
Haji, Ibadah Suci
Syukur dan puji kita panjatkan hanya kepada
Allah swt. Shalawat dan salam ke atas junjungan kita Nabi besar Muhammad
dan keluarganya yang suci. Allahumma shalli ala Muhammad wa aali
Muhammad. Saudara sekalian yang berbahagia, kembali kita diberi
kesempatan oleh Allah swt untuk menyaksikan salah satu ibadah terbesar
umat muslimin yaitu ibadah haji. Kembali kita berada di dalam bulan Haji,
bulan Dzulhijjah, dimana jutaan manusia berdatangan ke Rumah Allah,
memenuhi panggilan-Nya, menyatakan penghambaan dan ketaatan yang muncul
dari iman kepada-Nya. Di salah satu sudut dari alam ciptaan ini,
terdapat sebidang tanah suci bernama Makkah, yang dari setiap jengkalnya
memancar cahaya cinta dan iman, menyinari dan menyirami jiwa raga setiap
pencintanya. Di tanah inilah berlangsung sebuah konferensi agung, yang
dihadiri oleh manusia-manusia hamba Allah, menyerukan persatuan dan
kesamaan derajat di hadapan Sang Pencipta Yang Maha Agung.
لبّيک اللهمّ لبّيک
Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu.
Itulah nyanyian kudus yang terdengar dari Rumah Allah, dan terdengar
oleh telinga hati setiap mukmin sejati. Mereka semua yang berkesempatan
datang ke tanah suci, datang untuk menyelami hakekat keindahan
penghambaan dan kecintaan kepada Allah. Setiap kali menyaksikan upacara
ibadah haji ini, kita pasti akan teringat kepada Nabi Besar Ibrahim as.
Ketika beliau meninggalkan istri dan putra beliau, Ismail, di tanah suci
ini, lalu beliau mengangkat kedua tangan ke arah langit dan berkata:
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي
بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا
لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ
فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي
إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
"Wahai Tuhan kami, sesungguhnya
aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak
bertanaman di dekat rumah-Mu yang suci; wahai Tuhan kami; agar mereka
mendirikan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada
mereka, dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka
bersyukur"
Telah berabad-abad lamanya, dan doa Nabi
Ibrahim ini mendapatkan jawaban dari Allah dengan sebaik-baiknya;
sebagaimana yang kita saksikan sekarang, minimal setiap setahun sekali,
jutaan umat muslimin berbondong-bondong menuju Baitullah yang suci di
Makkah, untuk melaksanakan ibdah haji di bulan mulia ini. Tentu saja, di
bulan-bulan lain, dan di sepanjang tahun, Rumah Allah ini tidak pernah
sepi dari para pencintanya. Mereka yang mendapat taufiq dan rahmat Allah
sehingga berkesempatan berada di Makkah, terutama di bulan Dzulhijjah
ini, akan merasakan suasana maknawiyah yang sangat kental dengan
kenangan, mengingat peristiwa-peristiwa penting sejarah Islam, serta
perjuangan para Nabi terdahulu, terutama mereka yang berkaitan langsung
dengan Ka'bah, yaitu Nabi Adam as dan istri beliau Siti Hawa, Nabi
Ibrahim as berserta istri, Siti Hajar dan putra beliau, Ismail as, dan
Rasul Allah Muhammad saaw. Sesungguhnyalah, ibadah haji merupakan
pernyataan kembali kesetiaan dan penghormatan kepada para Nabi dan
manusia-manusia mulia tersebut.
Imam Ali as, berkenaan dengan kecintaan umat
muslimin dan kerinduan mereka untuk berziarah ke Rumah Allah, mengatakan,
"Bagaikan orang dahaga yang berlarian menuju telaga untuk segera mereguk
airnya yang bening, mereka ini berdatangan ke Baitullah untuk mereguk
berbagai anugerah dan berkah yang bersumber dari rahmat Allah tak
bertepi. Mereka berada di tempat para Nabi berada, dan berputar
mengelilingi Ka'bah, bagaikan para malaikat mengelilingi Arasy Allah.
Mereka memperoleh keuntungan besar berupa ampunan dan rahmat Allah, yang
telah memuliakan Ka'bah dan Masjid ini sebagai simbol Islam, dan tempat
yang aman dan sejahtera bagi para pencari perlindungan."
Ibadah haji dan pelaksanaan tahap demi tahap
manasiknya, memberikan perubahan pada diri manusia secara bertahap pula,
sesuai dengan tahap-tahap ibadah mulia ini. Mulai dari ihram, yang
mengajarkan kepada setiap pelaku haji untuk melepaskan diri dari
ikatan-ikatan dunia, dan hanya menundukkan dirinya kepada kehendak Allah
swt; hingga kepada thawaf, sa'i, lempar jumrah, pemotongan rambut, dan
penyembelihan korban, semuanya mengandung pelajaran yang seharusnya
dipahami, diresapi, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu
saja bukan hanya ibadah haji yang mengandung ajaran-ajaran mulia bagi
umat manusia, tapi semua amal ibadah yang disyareatkan dalam Islam,
pasti mengandung hikmah-hikmah yang sangat tinggi. Hanya saja ibadah
haji, memiliki keistimewaan khusus, dan yang paling menonjol dalam hal
ini, karena ia dilakukan secara massal, di satu tempat dan dan satu masa.
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ
ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
"Dan serulah seluruh manusia
untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan berdatangan kepadamu
berjalan kaki dan dengan mengendari onta-onta yang kurus, dari segenap
penjuru yang jauh"
Seruan ini ditujukan kepada seluruh manusia,
baik di kota, di desa, yang kaya, yang miskin, lelaki dan perempuan,
hitam dan putih, pokoknya semua manusia tanpa pandang bulu. Tentu saja,
tidak semua manusia, bahkan tidak semua muslim memenuhi panggilan suci
ini. Mereka yang non muslim, sudah jelas tidak akan perduli dengan
masalah ini, kecuali satu dua orang yang tanpa diketahui asal-usul dan
sebabnya, merasa bergetar hatinya setiap kali menyaksikan Ka'bah,
meskipun secara tidak langsung, atau ketika mendengar dan membaca
tentang Rumah Allah ini, kemudian mereka memeluk Islam dan berangkat
haji. Jadi, memang ada juga kita dengar kisah beberapa orang kafir yang
masuk Islam karena daya tarik Ka'bah.
Di antara seluruh muslimin yang ada ini pun,
pada kenyataannya tidak semuanya berkesempatan melihat Rumah Allah dari
dekat. Karena selain memerlukan perjalan yang jauh, bagi sebagian besar
mereka yang berada di negara lain di luar Arab Saudi, juga diperlukan
biaya yang besar, serta kesiapan jasmani yang baik. Untuk itulah ibadah
haji ini diwajibkan hanya kepada mereka yang telah memenuhi
syarat-syaratnya. Singkatnya, syarat-syarat tersebut ialah kemampuan
materi dan jasmani, keamanan perjalanan, selain akal sehat dan usia
balig. Selain syarat-syarat lahiriyah seperti itu, diyakini pula adanya
satu syarat lain yang tidak tampak, yaitu taufiq, atau ijin dan
kesempatan yang diberikan oleh Allah swt. Dengan kata lain, ada saja
orang yang sudah memenuhi semua syarat lahiriyah tersebut, akan tetapi,
dengan berbagai alasan, yang kadang-kadang tidak diketahui dengan jelas,
ternyata ia tidai pernah melakukan ibadah haji, hingga akhir hayatnya.
Untuk itulah diajarkan kepada kita berbagai
doa yang meminta kepada Allah agar diberi kesempatan menjalankan ibadah
mulia ini dan memperoleh semua berkah dan karunianya yang tak terhingga.
Di dalam beberapa doa yang disunnahkan agar dibaca setiap selesai salat
selama bulan Ramadlan, terdapat permohonan kepada Allah agar kita
dijadikan diantara orang-orang yang melaksanakan ibadah haji, yang
diterima hajinya dan diampuni dosa-dosanya. Hal itu tak lain karena
memang, hanya dengan mengandalkan kemampuan fisik dan materi saja,
seseorang tidak akan dapat melaksanakan ibadah haji. Atau, kalaupun ia
berangkat ke Tanah Suci, dan ikut bersama lautan manusia itu menjalankan
ibadahhaji, maka ibadahnya itu hanyalah gerakan lahiriyah yang kosong
tanpa makna yang sesungguhnya.
Kita pun mendengar adanya riwayat, baik dari
Rasul Allah saaw, atau dari para Imam Suci keturunan beliau, yang
mengatakan bahwa banyak orang yang beribadah haji, akan tetapi mereka
itu hanya menambah ramai saja Rumah Allah, tanpa memperoleh ganjaran dan
pelajaran apa pun dari ibadah yang mulia ini. Karena ibadah haji, sama
dengan ibadah-ibadah lain dalam agama Islam, harus dilakukan serentak,
lahir dan batin. Untuk itu, seseorang yang berniat melakukan ibadah haji,
selain mempelajari amalan-amalan yang harus dilakukan dalam ibadah ini,
juga harus mempelajari dan meresapi ajaran-ajaran atau nilai-nilai suci
yang terkandung dalam setiap amalan tersebut. Sehingga mudah-mudahan,
seluruh jerih payahnya menjalankan ibadah massal ini tidak akan sia-sia.
***
Konferensi Haji, Penyeru Persatuan Islam
Di hari ketika penyeru ajarah tauhid, yaitu
Nabi Besar Ibrahim as, meletakkan batu-batu pondasi Ka'bah di tengah
pada pasir kering kerontang dan gunung-gunung di kawasan terpencil yang
saat ini dikenal sebagai kota Makkah, tak seorang ahli teori pun yang
memperkirakan bahwa suatu saat Ka'bah akan menjadi pusat bertemunya
jutaan umat manusia yang memiliki satu iman dan satu ajaran. Hari ini
Ka'bah merupakan pusat spiritual dunia Islam dan tempat terpenting
persatuan umat Islam. Ibadah haji merupakan sumber mata air cinta yang
terus meenrus menggelegak, dan lautan lyang terbentang luas, tempat
bertemunya sungai-sungai besar umat manusia dari berbagai bangsa Allah
yang Maha Bijaksana, telah menjadikan benih Ka'bah yang telah dibangun
oleh manusia-manusia suci, muncul sebagai pohon yang penuh dengan buah
dan naungan, dan mensyareatkan haji sebagai ibadah yang penuh makna dan
nilai-nilai mulia.
Kebijaksanaan Allah swt, telah menempatkan
ibdah haji yang mengandung berbagai ujian berat bagi para pelakunya ini,
sedemikian tingginya, sehingga di sepanjang abad dan masa, dan di seluas
penyebaran ajaran Islam di dunia ini, ibadah ini mendatangkan persatuan
dan pertemuan seluruh anggota badan umat Islam. Saat ini telah tampak
dengan nyata bahwa dengan adanya kekompakan diantara berbagai kekuatan
manusia, maka ibadah haji merupakan sumber kekuatan dan kemuliaan umat
Islam. Dalam ibadah haji tahun ini kita menyaksikan pelaksanaan berbagai
konferensi dan pertemuan di Makkah dan Madinah. Kesamaan pandangan umat
muslimin dari berbagai belahan bumi, menyebabkan lahirnya kewaspadaan
dan kesiapan yang lebih besar dalam menghadapi konspirasi-konspirasi
yang dilancarkan oleh para pemimpin negara arogan terhadap muslimin.
Mayoritas konferensi yang digelar di
sela-sela ibadah haji tahun ini, dengan cara-cara tertentu, memiliki
hubungan dengan Nabi Besar Islam saaw. Dengan kata lain, di Makkah,
seruan Nabi pembawa rahmat, terdengar lebih keras di setiap telinga, dan
seruan kepada Islam yang merupakan seruan kepada keadilan dan ketaqwaan,
terdengar dengan gema yang lebih kuat. Konferensi-konferensi yang
digelar dengan topik-topik berkenaan dengan Rasul Allah saaw dan sejarah
hidup beliau di hari-hari pelaksanaan ibdah haji, memiliki peran utama
dalam menonjolkan kepribadian agung manusia mulia ini. dalam konferensi
internasional dengan tema "Muhammad, Nabi Perdamaian dan Rahmat", yang
dihadiri oleh berbagai tokoh dari Ahlussunnah dan Syiah, menekankan satu
kenyataan, yaitu bahwa umat manusia saat ini lebih memerlukan cahaya
iman dan taqwa, dan haus akan keadilan dan perdamaian.
Universalitas rahmat Rasul Allah saaw, kasih
sayang dan kelemah-lembutan perangai beliau terhadap semua manusia,
telah menempatkan manusia tak tertandingi ini sebagai pusat cinta dan
kasih sayang, serta poros persatuan muslimin. Dr Hujjati, salah seorang
penziarah Rumah Allah yang suci, setelah menghadiri konferensi ini
mengatakan, "Kebangkitan merupakan rahasia kesuksesan agama Islam. Dan
hekekat agama merupakan ajaran yang jernih dan transparan, yang
menyinarkan cahaya terang kepada muslimin. Di dalam album ibadah haji,
dan di tengah para penziarah saat ini, terdapat manusia-manusia mukhlis
dan suci yang mengingatkan kita kepada wajah-wajah para sahabat Nabi,
seperti Ammar, Salman, Abu Dzar, Hamzah dan Bilal. Keberadaan
manusia-manusia ini, meniscayakan satu hal, yaitu bahwa dengan
perjuangan mereka itu, kita dapat menciptakan masyarakat Rasul Allah
saaw di zaman moderen ini.
Di antara konferensi yang digelar di Makkah,
ialah konferensi pendekatan antar madzhab dengan topik "Rasul Mulia,
Poros Persatuan Islam". Hilali, Mufti Besar Australia, mengatakan,
"Allah swt meminta kepada umat Islam, untuk melepaskan diri dari segala
macam ikatan bahasa dan tempat, dan semuanya bersatu di sekitar poros
Allah swt. Jika umat muslimin menginginkan Al-Quran dan Islam jaya di
dunia, mereka harus memperkuat pendekatan antar madzhab. Pendekatan
antar madzhab bukan berarti meninggalkan pokok-pokok keyakinan
masing-masing madzhab. Tetapi diantara makna-maknanya yang hakiki ialah,
"Munculnya kedekatan dan sikap saling mencintai serta menghormati
diantara para pengikut madzhab dan golongan yang ada."
Konferensi "Dimensi-dimensi Ibadah Haji
Muhammadi" di Makkah juga menarik perhatian sejumlah besar ulama dan
cendekiawan muslimin. Para pembicara di konferensi ini, menyebut kongres
Haji sebagai pertemuan terbesar para pengikut berbgaai agama Ilahi,
sejak sebelum Islam hingga kini, dan Ka'bah sangat tepat dijadikan
sebagai pusat proklamasi persatuan umat manusia. Abdussalam Karimi,
salah seorang ulama Sunni dari Iran, dalam konferensi ini mengatakan, "Ibadah
Haji,merupakan kristalisasi ibadah dan kepemimpinan umat Islam di dunia.
Ka'bah adalah obor hidayah yang meenrangiu seluruh dunia, dan kewajiban
ibdah haji merupakan ibadah yang sedemikian lengkap, yang mengandung
seluruh ibadah di dalamnya. Dari segi politik pun ibadah haji menyerukan
penegakan keadilan dan kebencian kepada para penguasa zalim. Seluruh
tanggung jawab kemanusiaan yang bersumber dari kebangkitan dan
perjuangan menegakkan keadilan, terkristalkan di dalam ibadah haji.
Organisasi Internasional Dunia Islam pun
menyelenggarakan sebuah konferensi di musim haji tahun ini dengan tema "Mendukung
Nabi Muhammad saaw". Syekh Abdullah At-Turki, Sekjen Organisasi tersebut,
berkata, "Dalam konferensi ini telah dibahas berbagai serangan terhadap
Islam yang terjadi di sepanjang sejarah kehidupan Islam dan Nabi besar
Muhammad saaw. Demikian pula serangan-serangan terorganisir yang
baru-baru ini secara terus menerus diarahkan kepada kepada Islam pada
umumnya dan kepada Nabi Muhammad pada khususnya. Selain itu kita juga
mengajak para cendekiawan muslim untuk menguraikan ide dan buah pikiran
mereka untuk menanggulangi semua konspiarsi musuh ini. Kesempatan ibadah
haji benar-benar memberikan peluang yang sangat luas bagi umat Islam
untuk membina persatuan dan membangun kekuatan."
***
Pancaran Tauhid
dalam Ibadah Haji
Di
hari-hari ini, kembali Rumah Allah, kembali penuh dengan rautsan ribu
manusia berpakaian putih, mengelilingi Ka'bah Al-Mu'adhdhmah, bagaikan
kupu-kupu putih mengelilingi lampu dengan cahayanya yang menerangi
sekitarnya. Dengan melakukan tawaf, mereka mengungkapkan kecintaan
kepada Sang Pencipta Yang Maha Pengasih.
Thawaf adalah
salah satu manasik ibadah haji yang paling indah dan paling menarik.
Para pencinta dan perindu keridlaan Allah yang Maha Kuasa, bersedia
menempuh jarak yang jauh sekalipun, demi menyatukan jiwa dan raga mereka
dengan Rumah Allah ini, menyataan ketulusan iman dan taat mereka,
kepada-Nya semata. Sejak Nabi Ibrahim as membangun kembali Rumah Allah
dengan perintah-Nya, maka Ka'bah selalu menjadi tempat yang sangat
dihormati oleh setiap manusia yang mengenalnya, generasi demi generasi,
yang selalu pula merindukan kesempatan untuk datang dan melihatnya dari
dekat. Ka'bah terletak di tengah Masjidil haram, berbentuk empat persegi,
sangat sederhana, dan selalu dikerudungi dengan kain berwarna hitam,
yang disulam dengan tulisan-tulisan Ayat Al-Quran, berwarna kuning emas.
Meskipun sangat
sederhana, namun Ka'bah memancarkan keagungan, kewibawaan, dan daya
tarik yang sangat kuat. Sehingga, sebagaimana yang kita saksikan, lautan
manusia dari berbagai penjuru dunia, bergerak dengan teratur dan searah,
mengelilingi bangunan sederhana ini dengan penuh semangat, dan dengan
penuh khusyu' serta hormat yang setinggi-tingginya. Sudah barang tentu,
manusia sedemikian banyaknya, tidak akan datang ke tempat ini jika tidak
karena daya tarik yang sedemikian kuat dari Rumah Allah ini. Justru
karena kondisinya yang sangat sederhana, akan tetapi kemampuannya
menyedot sekian juta manusia setiap tahun, membuktikan kebesaran Ka'bah
ini. Jika kita lihat lebih luas lagi, maka kota Makkah pun bukanlah kota
yang indah, tidak memiliki daya tarik wisata, sebagaimana kota-kota lain
di dunia yang terkenal indah dengan berbagai pemandangan alamnya. Semua
itu membuat kita semakin yakin, bahwa memang hanya daya tarik maknawilah
yang menyedot jutaan umat manusia ini untuk datang ke kota Makkah, dan
ke Baitullah yang suci ini.
Banyak sekali kita
dengar cerita dari mereka yang sudah pernah datang dan melihat Rumah
Allah dari dekat, atau mungkin diantara kita ada yang sudah pernah
datang ke sana dan melihatnya sendiri. Semua mereka itu menceritakan
kesan-kesan yang sangat mendalam tentang Makkah, tentang Masjidil Haram,
dan tentang Ka'bah. Semua kisah nyata itu juga membuktikan kehebatan
tempat-tempat suci ini, bukan karena kehebatan bangunan dan kemegahan
lahiriyahnya, tapi karena pancaran keagungannya, yang menggetarkan hati,
melahirkan perasaan-perasaan yang sulit diungkapkan dengan lidah.
Kecintaan, ketulusan, kepasrahan, keimanan, dan nilai-nilai agung
spiritual lainnya, memenuhi setiap hati mereka yang datang ke tampat
suci ini.
Tawaf mengelilingi
Ka'bah sebanyak tujuh kali dilakukan secara terus menerus. Di musim haji,
sebagaimana di hari-hari ini, proses tawaf ini berlangsung siang dan
malam, menjadikan Ka'bah bagaikan mutiara di tangah lautan manusia. Satu
kiblat, satu gerak, dan satu niat, dapat disaksikan dalam tawaf ini,
sehingga semuanya menggambarkan kesatuan, keserasian, kekompakan dan
kebersamaan. Benar-benar, segala macam lambang persatuan akan terpancar
dengan sangat jelas dan nyata dalam pelaksanaan ritual ibadah yang satu
ini. Yang lebih penting lagi ialah bahwa upacara ini juga memancarkan
ajaran tauhid, kepasrahan dan penghambaan total kepada Dzat yang Satu,
Pencipta dan Pemilik segala alam semesta ini, yaitu Allah swt.
Kota Makkah pada
umumnya, dan Rumah Allah ini pada khususnya, sempat tercemari oleh
kemusyrikan dan dikotori oleh adanya sejumlah berhala sesembahan kaum
musyrikin. Akan tetapi Islam datang membersihkan kembali tempu suci ini
dari segala macam kotoran tersebut. Sejak saat itu, dan untuk selamanya,
Rumah Allah yang Suci ini akan selalu memancarkan ajaran tauhid dan
menyerukan wahdah, atau persatuan, diantara seluruh muslimin.
Salah satu manasik
haji yang dilakukan di hari kesembilan bulan Dzulhijjah ialah wukuf di
Arafah. Setelah menyelesiakan tawaf di Ka'bah, para hujjaj menuju ke
Padang Arafah, yang merupakan padang pasir yang landai dan terbentang
luas, di bawah kaki sebuah gunung yang ebrnama Jabal Rahmah, berjarak 25
km dari Kota Suci Makkah. Dalam sejarah dikatakan bahwa Nabi Adam as,
mendapat ampunan dari Allah swt di kaki gunung ini. Pada tanggal
sembilan Dzulhijjah, Padang Arafah in penuh dengan jutaan manusia
berpakaian putih, yang akan tinggal di tempat ini hingga matahari
terbenam. Mereka mengisi saat-saat mulia tersebut dengan berbagai macam
munajat dan doa, memanjatkan doa dan memohon ampunan dari segala macam
dosa, kepada Sang Maha Pengampun.
Di dalam ajaran
dan sunnah Nabi saaw, sangat ditekankan memohon ampunan kepada Allah
dari segala dosa, di Padang Arafah ini. Di padang pasir yang tandus dan
kering ini, tidak ada apa pun yang bersifat materi, yang akan menarik
perhatian kita. Sudah barang tentu, terkandung hikmah yang sangat besar
dalam hal ini. Yaitu ajaran bagi kita untuk menjauhkan diri dari segala
macam ikatan duniawi, juga persamaan derajat diantara semua hamba Allah.
Di tempat ini tidak ada kaya dan miskin, tidak ada budak dan tuan, tidak
ada hitam dan putih. Semuanya sama, semuanya sederajat dan semuanya
hamba yang hina di hadapan Yang Maha Sempurna, Allah swt.
Suasana
berkumpulnya jutaan manusia dengan pakaian serba putih, juga
menggambarkan suasana kebangkitan manusia dari kubur mereka, yang
kemudian berkumpul di sebuah padang bernama Mahsyar, yang berarti tempat
berkumpul. Sebagaimana di padang mahsyar, semua manusia hanya
mengharapkan rahmat dan ampunan Allah swt, maka demikian pula hendaknya
setiap palu haji menghadapkan seluruh jiwanya hanya kepada Allah, seraya
mengharapkan ampuan, dengan mengakui dosa-dosa yang telah diperbuat dan
tekad kuat untuk tidak kembali melakukannya. Jika para pelaku ibadah
haji merenungi dengan baik semua kandungan ibadah mulia ini, maka dapat
diharapkan bahwa ia telah melakukan ibadah haji yang sesungguhnya. Ibdah
haji yang mabrur, yang diterima oleh Allah swt.
|