Perspektif    

   Januari 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Haji, Ibadah Suci

Syukur dan puji kita panjatkan hanya kepada Allah swt. Shalawat dan salam ke atas junjungan kita Nabi besar Muhammad dan keluarganya yang suci. Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad. Saudara sekalian yang berbahagia, kembali kita diberi kesempatan oleh Allah swt untuk menyaksikan salah satu ibadah terbesar umat muslimin yaitu ibadah haji. Kembali kita berada di dalam bulan Haji, bulan Dzulhijjah, dimana jutaan manusia berdatangan ke Rumah Allah, memenuhi panggilan-Nya, menyatakan penghambaan dan ketaatan yang muncul dari iman kepada-Nya. Di salah satu sudut dari alam ciptaan ini, terdapat sebidang tanah suci bernama Makkah, yang dari setiap jengkalnya memancar cahaya cinta dan iman, menyinari dan menyirami jiwa raga setiap pencintanya. Di tanah inilah berlangsung sebuah konferensi agung, yang dihadiri oleh manusia-manusia hamba Allah, menyerukan persatuan dan kesamaan derajat di hadapan Sang Pencipta Yang Maha Agung.

لبّيک اللهمّ لبّيک

Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Itulah nyanyian kudus yang terdengar dari Rumah Allah, dan terdengar oleh telinga hati setiap mukmin sejati. Mereka semua yang berkesempatan datang ke tanah suci, datang untuk menyelami hakekat keindahan penghambaan dan kecintaan kepada Allah. Setiap kali menyaksikan upacara ibadah haji ini, kita pasti akan teringat kepada Nabi Besar Ibrahim as. Ketika beliau meninggalkan istri dan putra beliau, Ismail, di tanah suci ini, lalu beliau mengangkat kedua tangan ke arah langit dan berkata:

 

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ

فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

 

"Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak bertanaman di dekat rumah-Mu  yang suci; wahai Tuhan kami; agar mereka mendirikan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur"

Telah berabad-abad lamanya, dan doa Nabi Ibrahim ini mendapatkan jawaban dari Allah dengan sebaik-baiknya; sebagaimana yang kita saksikan sekarang, minimal setiap setahun sekali, jutaan umat muslimin berbondong-bondong menuju Baitullah yang suci di Makkah, untuk melaksanakan ibdah haji di bulan mulia ini. Tentu saja, di bulan-bulan lain, dan di sepanjang tahun, Rumah Allah ini tidak pernah sepi dari para pencintanya. Mereka yang mendapat taufiq dan rahmat Allah sehingga berkesempatan berada di Makkah, terutama di bulan Dzulhijjah ini, akan merasakan suasana maknawiyah yang sangat kental dengan kenangan, mengingat peristiwa-peristiwa penting sejarah Islam, serta perjuangan para Nabi terdahulu, terutama mereka yang berkaitan langsung dengan Ka'bah, yaitu Nabi Adam as dan istri beliau Siti Hawa, Nabi Ibrahim as berserta istri, Siti Hajar dan putra beliau, Ismail as, dan Rasul Allah Muhammad saaw. Sesungguhnyalah, ibadah haji merupakan pernyataan kembali kesetiaan dan penghormatan kepada para Nabi dan manusia-manusia mulia tersebut.

Imam Ali as, berkenaan dengan kecintaan umat muslimin dan kerinduan mereka untuk berziarah ke Rumah Allah, mengatakan, "Bagaikan orang dahaga yang berlarian menuju telaga untuk segera mereguk airnya yang bening, mereka ini berdatangan ke Baitullah untuk mereguk berbagai anugerah dan berkah yang bersumber dari rahmat Allah tak bertepi. Mereka berada di tempat para Nabi berada, dan berputar mengelilingi Ka'bah, bagaikan para malaikat mengelilingi Arasy Allah. Mereka memperoleh keuntungan besar berupa ampunan dan rahmat Allah, yang telah memuliakan Ka'bah dan Masjid ini sebagai simbol Islam, dan tempat yang aman dan sejahtera bagi para pencari perlindungan."

Ibadah haji dan pelaksanaan tahap demi tahap manasiknya, memberikan perubahan pada diri manusia secara bertahap pula, sesuai dengan tahap-tahap ibadah mulia ini. Mulai dari ihram, yang mengajarkan kepada setiap pelaku haji untuk melepaskan diri dari ikatan-ikatan dunia, dan hanya menundukkan dirinya kepada kehendak Allah swt; hingga kepada thawaf, sa'i, lempar jumrah, pemotongan rambut, dan penyembelihan korban, semuanya mengandung pelajaran yang seharusnya dipahami, diresapi, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja bukan hanya ibadah haji yang mengandung ajaran-ajaran mulia bagi umat manusia, tapi semua amal ibadah yang disyareatkan dalam Islam, pasti mengandung hikmah-hikmah yang sangat tinggi. Hanya saja ibadah haji, memiliki keistimewaan khusus, dan yang paling menonjol dalam hal ini, karena ia dilakukan secara massal, di satu tempat dan dan satu masa.

 

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

 

"Dan serulah seluruh manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan berdatangan kepadamu berjalan kaki dan dengan mengendari onta-onta yang kurus, dari segenap penjuru yang jauh"

Seruan ini ditujukan kepada seluruh manusia, baik di kota, di desa, yang kaya, yang miskin, lelaki dan perempuan, hitam dan putih, pokoknya semua manusia tanpa pandang bulu. Tentu saja, tidak semua manusia, bahkan tidak semua muslim memenuhi panggilan suci ini. Mereka yang non muslim, sudah jelas tidak akan perduli dengan masalah ini, kecuali satu dua orang yang tanpa diketahui asal-usul dan sebabnya, merasa bergetar hatinya setiap kali menyaksikan Ka'bah, meskipun secara tidak langsung, atau ketika mendengar dan membaca tentang Rumah Allah ini, kemudian mereka memeluk Islam dan berangkat haji. Jadi, memang ada juga kita dengar kisah beberapa orang kafir yang masuk Islam karena daya tarik Ka'bah.

Di antara seluruh muslimin yang ada ini pun, pada kenyataannya tidak semuanya berkesempatan melihat Rumah Allah dari dekat. Karena selain memerlukan perjalan yang jauh, bagi sebagian besar mereka yang berada di negara lain di luar Arab Saudi, juga diperlukan biaya yang besar, serta kesiapan jasmani yang baik. Untuk itulah ibadah haji ini diwajibkan hanya kepada mereka yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Singkatnya, syarat-syarat tersebut ialah kemampuan materi dan jasmani, keamanan perjalanan, selain akal sehat dan usia balig. Selain syarat-syarat lahiriyah seperti itu, diyakini pula adanya satu syarat lain yang tidak tampak, yaitu taufiq, atau ijin dan kesempatan yang diberikan oleh Allah swt. Dengan kata lain, ada saja orang yang sudah memenuhi semua syarat lahiriyah tersebut, akan tetapi, dengan berbagai alasan, yang kadang-kadang tidak diketahui dengan jelas, ternyata ia tidai pernah melakukan ibadah haji, hingga akhir hayatnya.

Untuk itulah diajarkan kepada kita berbagai doa yang meminta kepada Allah agar diberi kesempatan menjalankan ibadah mulia ini dan memperoleh semua berkah dan karunianya yang tak terhingga. Di dalam beberapa doa yang disunnahkan agar dibaca setiap selesai salat selama bulan Ramadlan, terdapat permohonan kepada Allah agar kita dijadikan diantara orang-orang yang melaksanakan ibadah haji, yang diterima hajinya dan diampuni dosa-dosanya. Hal itu tak lain karena memang, hanya dengan mengandalkan kemampuan fisik dan materi saja, seseorang tidak akan dapat melaksanakan ibadah haji. Atau, kalaupun ia berangkat ke Tanah Suci, dan ikut bersama lautan manusia itu menjalankan ibadahhaji, maka ibadahnya itu hanyalah gerakan lahiriyah yang kosong tanpa makna yang sesungguhnya.

Kita pun mendengar adanya riwayat, baik dari Rasul Allah saaw, atau dari para Imam Suci keturunan beliau, yang mengatakan bahwa banyak orang yang beribadah haji, akan tetapi mereka itu hanya menambah ramai saja Rumah Allah, tanpa memperoleh ganjaran dan pelajaran apa pun dari ibadah yang mulia ini. Karena ibadah haji, sama dengan ibadah-ibadah lain dalam agama Islam, harus dilakukan serentak, lahir dan batin. Untuk itu, seseorang yang berniat melakukan ibadah haji, selain mempelajari amalan-amalan yang harus dilakukan dalam ibadah ini, juga harus mempelajari dan meresapi ajaran-ajaran atau nilai-nilai suci yang terkandung dalam setiap amalan tersebut. Sehingga mudah-mudahan, seluruh jerih payahnya menjalankan ibadah massal ini tidak akan sia-sia.

 

***

Konferensi Haji, Penyeru Persatuan Islam

 Di hari ketika penyeru ajarah tauhid, yaitu Nabi Besar Ibrahim as, meletakkan batu-batu pondasi Ka'bah di tengah pada pasir kering kerontang dan gunung-gunung di kawasan terpencil yang saat ini dikenal sebagai kota Makkah, tak seorang ahli teori pun yang memperkirakan bahwa suatu saat Ka'bah akan menjadi pusat bertemunya jutaan umat manusia yang memiliki satu iman dan satu ajaran. Hari ini Ka'bah merupakan pusat spiritual dunia Islam dan tempat terpenting persatuan umat Islam. Ibadah haji merupakan sumber mata air cinta yang terus meenrus menggelegak, dan lautan lyang terbentang luas, tempat bertemunya sungai-sungai besar umat manusia dari berbagai bangsa  Allah yang Maha Bijaksana, telah menjadikan benih Ka'bah yang telah dibangun oleh manusia-manusia suci, muncul sebagai pohon yang penuh dengan buah dan naungan, dan mensyareatkan haji sebagai ibadah yang penuh makna dan nilai-nilai mulia.

Kebijaksanaan Allah swt, telah menempatkan ibdah haji yang mengandung berbagai ujian berat bagi para pelakunya ini, sedemikian tingginya, sehingga di sepanjang abad dan masa, dan di seluas penyebaran ajaran Islam di dunia ini, ibadah ini mendatangkan persatuan dan pertemuan seluruh anggota badan umat Islam. Saat ini telah tampak dengan nyata bahwa dengan adanya kekompakan diantara berbagai kekuatan manusia, maka ibadah haji merupakan sumber kekuatan dan kemuliaan umat Islam. Dalam ibadah haji tahun ini kita menyaksikan pelaksanaan berbagai konferensi dan pertemuan di Makkah dan Madinah. Kesamaan pandangan umat muslimin dari berbagai belahan bumi, menyebabkan lahirnya kewaspadaan dan kesiapan yang lebih besar dalam menghadapi konspirasi-konspirasi yang dilancarkan oleh para pemimpin negara arogan terhadap muslimin.

Mayoritas konferensi yang digelar di sela-sela ibadah haji tahun ini, dengan cara-cara tertentu, memiliki hubungan dengan Nabi Besar Islam saaw. Dengan kata lain, di Makkah, seruan Nabi pembawa rahmat, terdengar lebih keras di setiap telinga, dan seruan kepada Islam yang merupakan seruan kepada keadilan dan ketaqwaan, terdengar dengan gema yang lebih kuat. Konferensi-konferensi yang digelar dengan topik-topik berkenaan dengan Rasul Allah saaw dan sejarah hidup beliau  di hari-hari pelaksanaan ibdah haji, memiliki peran utama dalam menonjolkan kepribadian agung manusia mulia ini. dalam konferensi internasional dengan tema "Muhammad, Nabi Perdamaian dan Rahmat", yang dihadiri oleh berbagai tokoh dari Ahlussunnah dan Syiah, menekankan satu kenyataan, yaitu bahwa umat manusia saat ini lebih memerlukan cahaya iman dan taqwa, dan haus akan keadilan dan perdamaian.

Universalitas rahmat Rasul Allah saaw, kasih sayang dan kelemah-lembutan perangai beliau terhadap semua manusia, telah menempatkan manusia tak tertandingi ini sebagai pusat cinta dan kasih sayang, serta poros persatuan muslimin. Dr Hujjati, salah seorang penziarah Rumah Allah yang suci, setelah menghadiri konferensi ini mengatakan, "Kebangkitan merupakan rahasia kesuksesan agama Islam.  Dan hekekat agama merupakan ajaran yang jernih dan transparan, yang menyinarkan cahaya terang kepada muslimin. Di dalam album ibadah haji, dan di tengah para penziarah saat ini, terdapat manusia-manusia mukhlis dan suci yang mengingatkan kita kepada wajah-wajah para sahabat Nabi, seperti Ammar, Salman, Abu Dzar, Hamzah dan Bilal. Keberadaan manusia-manusia ini, meniscayakan satu hal, yaitu bahwa dengan perjuangan mereka itu, kita dapat menciptakan masyarakat Rasul Allah saaw di zaman moderen ini.

Di antara konferensi yang digelar di Makkah, ialah konferensi pendekatan antar madzhab dengan topik "Rasul Mulia, Poros Persatuan Islam". Hilali, Mufti Besar Australia, mengatakan, "Allah swt meminta kepada umat Islam, untuk melepaskan diri dari segala macam ikatan bahasa dan tempat, dan semuanya bersatu di sekitar poros Allah swt. Jika umat muslimin menginginkan Al-Quran dan Islam jaya di dunia, mereka harus memperkuat pendekatan antar madzhab. Pendekatan antar madzhab bukan berarti meninggalkan pokok-pokok keyakinan masing-masing madzhab. Tetapi diantara makna-maknanya yang hakiki ialah, "Munculnya kedekatan dan sikap saling mencintai serta menghormati diantara para pengikut madzhab dan golongan yang ada."

Konferensi "Dimensi-dimensi Ibadah Haji Muhammadi" di Makkah juga menarik perhatian sejumlah besar ulama dan cendekiawan muslimin. Para pembicara di konferensi ini, menyebut kongres Haji sebagai pertemuan terbesar para pengikut berbgaai agama Ilahi, sejak sebelum Islam hingga kini, dan Ka'bah sangat tepat dijadikan sebagai pusat proklamasi persatuan umat manusia. Abdussalam Karimi, salah seorang ulama Sunni dari Iran, dalam konferensi ini mengatakan, "Ibadah Haji,merupakan kristalisasi ibadah dan kepemimpinan umat Islam di dunia. Ka'bah adalah obor hidayah yang meenrangiu seluruh dunia, dan kewajiban ibdah haji merupakan ibadah yang sedemikian lengkap, yang mengandung seluruh ibadah di dalamnya. Dari segi politik pun ibadah haji menyerukan penegakan keadilan dan kebencian kepada para penguasa zalim. Seluruh tanggung jawab kemanusiaan yang bersumber dari kebangkitan dan perjuangan menegakkan keadilan, terkristalkan di dalam ibadah haji.

Organisasi Internasional Dunia Islam pun menyelenggarakan sebuah konferensi di musim haji tahun ini dengan tema "Mendukung Nabi Muhammad saaw". Syekh Abdullah At-Turki, Sekjen Organisasi tersebut, berkata, "Dalam konferensi ini telah dibahas berbagai serangan terhadap Islam yang terjadi di sepanjang sejarah kehidupan Islam dan Nabi besar Muhammad saaw. Demikian pula serangan-serangan terorganisir yang baru-baru ini secara terus menerus diarahkan kepada kepada Islam pada umumnya dan kepada Nabi Muhammad pada khususnya. Selain itu kita juga mengajak para cendekiawan muslim untuk menguraikan ide dan buah pikiran mereka untuk menanggulangi semua konspiarsi musuh ini. Kesempatan ibadah haji benar-benar memberikan peluang yang sangat luas bagi umat Islam untuk membina persatuan dan membangun kekuatan."

***

 

Pancaran Tauhid dalam Ibadah Haji

Di hari-hari ini, kembali Rumah Allah, kembali penuh dengan rautsan ribu manusia berpakaian putih, mengelilingi Ka'bah Al-Mu'adhdhmah, bagaikan kupu-kupu putih mengelilingi lampu dengan cahayanya yang menerangi sekitarnya. Dengan melakukan tawaf, mereka mengungkapkan kecintaan kepada Sang Pencipta Yang Maha Pengasih.

Thawaf adalah salah satu manasik ibadah haji yang paling indah dan paling menarik. Para pencinta dan perindu keridlaan Allah yang Maha Kuasa, bersedia menempuh jarak yang jauh sekalipun, demi menyatukan jiwa dan raga mereka dengan Rumah Allah ini, menyataan ketulusan iman dan taat mereka, kepada-Nya semata. Sejak Nabi Ibrahim as membangun kembali Rumah Allah dengan perintah-Nya, maka Ka'bah selalu menjadi tempat yang sangat dihormati oleh setiap manusia yang mengenalnya, generasi demi generasi, yang selalu pula merindukan kesempatan untuk datang dan melihatnya dari dekat. Ka'bah terletak di tengah Masjidil haram, berbentuk empat persegi, sangat sederhana, dan selalu dikerudungi dengan kain berwarna hitam, yang disulam dengan tulisan-tulisan Ayat Al-Quran, berwarna kuning emas.

Meskipun sangat sederhana, namun Ka'bah memancarkan keagungan, kewibawaan, dan daya tarik yang sangat kuat. Sehingga, sebagaimana yang kita saksikan, lautan manusia dari berbagai penjuru dunia, bergerak dengan teratur dan searah, mengelilingi bangunan sederhana ini dengan penuh semangat, dan dengan penuh khusyu' serta hormat yang setinggi-tingginya. Sudah barang tentu, manusia sedemikian banyaknya, tidak akan datang ke tempat ini jika tidak karena daya tarik yang sedemikian kuat dari Rumah Allah ini. Justru karena kondisinya yang sangat sederhana, akan tetapi kemampuannya menyedot sekian juta manusia setiap tahun, membuktikan kebesaran Ka'bah ini. Jika kita lihat lebih luas lagi, maka kota Makkah pun bukanlah kota yang indah, tidak memiliki daya tarik wisata, sebagaimana kota-kota lain di dunia yang terkenal indah dengan berbagai pemandangan alamnya. Semua itu membuat kita semakin yakin, bahwa memang hanya daya tarik maknawilah yang menyedot jutaan umat manusia ini untuk datang ke kota Makkah, dan ke Baitullah yang suci ini.

Banyak sekali kita dengar cerita dari mereka yang sudah pernah datang dan melihat Rumah Allah dari dekat, atau mungkin diantara kita ada yang sudah pernah datang ke sana dan melihatnya sendiri. Semua mereka itu menceritakan kesan-kesan yang sangat mendalam tentang Makkah, tentang Masjidil Haram, dan tentang Ka'bah. Semua kisah nyata itu juga membuktikan kehebatan tempat-tempat suci ini, bukan karena kehebatan bangunan dan kemegahan lahiriyahnya, tapi karena pancaran keagungannya, yang menggetarkan hati, melahirkan perasaan-perasaan yang sulit diungkapkan dengan lidah. Kecintaan, ketulusan, kepasrahan, keimanan, dan nilai-nilai agung spiritual lainnya, memenuhi setiap hati mereka yang datang ke tampat suci ini.

Tawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali dilakukan secara terus menerus. Di musim haji, sebagaimana di hari-hari ini, proses tawaf ini berlangsung siang dan malam, menjadikan Ka'bah bagaikan mutiara di tangah lautan manusia. Satu kiblat, satu gerak, dan satu niat, dapat disaksikan dalam tawaf ini, sehingga semuanya menggambarkan kesatuan, keserasian, kekompakan dan kebersamaan. Benar-benar, segala macam lambang persatuan akan terpancar dengan sangat jelas dan nyata dalam pelaksanaan ritual ibadah yang satu ini. Yang lebih penting lagi ialah bahwa upacara ini juga memancarkan ajaran tauhid, kepasrahan dan penghambaan total kepada Dzat yang Satu, Pencipta dan Pemilik segala alam semesta ini, yaitu Allah swt.

Kota Makkah pada umumnya, dan Rumah Allah ini pada khususnya, sempat tercemari oleh kemusyrikan dan dikotori oleh adanya sejumlah berhala sesembahan kaum musyrikin. Akan tetapi Islam datang membersihkan kembali tempu suci ini dari segala macam kotoran tersebut. Sejak saat itu, dan untuk selamanya, Rumah Allah yang Suci ini akan selalu memancarkan ajaran tauhid dan menyerukan wahdah, atau persatuan, diantara seluruh muslimin.

Salah satu manasik haji yang dilakukan di hari kesembilan bulan Dzulhijjah ialah wukuf di Arafah. Setelah menyelesiakan tawaf di Ka'bah, para hujjaj menuju ke Padang Arafah, yang merupakan padang pasir yang landai dan terbentang luas, di bawah kaki sebuah gunung yang ebrnama Jabal Rahmah, berjarak 25 km dari Kota Suci Makkah. Dalam sejarah dikatakan bahwa Nabi Adam as, mendapat ampunan dari Allah swt di kaki gunung ini. Pada tanggal sembilan Dzulhijjah, Padang Arafah in penuh dengan jutaan manusia berpakaian putih, yang akan tinggal di tempat ini hingga matahari terbenam. Mereka mengisi saat-saat mulia tersebut dengan berbagai macam munajat dan doa, memanjatkan doa dan memohon ampunan dari segala macam dosa, kepada Sang Maha Pengampun.

Di dalam ajaran dan sunnah Nabi saaw, sangat ditekankan memohon ampunan kepada Allah dari segala dosa, di Padang Arafah ini. Di padang pasir yang tandus dan kering ini, tidak ada apa pun yang bersifat materi, yang akan menarik perhatian kita. Sudah barang tentu, terkandung hikmah yang sangat besar dalam hal ini. Yaitu ajaran bagi kita untuk menjauhkan diri dari segala macam ikatan duniawi, juga persamaan derajat diantara semua hamba Allah. Di tempat ini tidak ada kaya dan miskin, tidak ada budak dan tuan, tidak ada hitam dan putih. Semuanya sama, semuanya sederajat dan semuanya hamba yang hina di hadapan Yang Maha Sempurna, Allah swt.

Suasana berkumpulnya jutaan manusia dengan pakaian serba putih, juga menggambarkan suasana kebangkitan manusia dari kubur mereka, yang kemudian berkumpul di sebuah padang bernama Mahsyar, yang berarti tempat berkumpul. Sebagaimana di padang mahsyar, semua manusia hanya mengharapkan rahmat dan ampunan Allah swt, maka demikian pula hendaknya setiap palu haji menghadapkan seluruh jiwanya hanya kepada Allah, seraya mengharapkan ampuan, dengan mengakui dosa-dosa yang telah diperbuat dan tekad kuat untuk tidak kembali melakukannya. Jika para pelaku ibadah haji merenungi dengan baik semua kandungan ibadah mulia ini, maka dapat diharapkan bahwa ia telah melakukan ibadah haji yang sesungguhnya. Ibdah haji yang mabrur, yang diterima oleh Allah swt.

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]