Perspektif    

   Januari 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Agama dan Teater

Bila kita memperhatikan berbagai kecenderungan umat manusia dewasa ini, kita bisa menyebut zaman ini sebagai era “kecenderungan kembali kepada agama.” Di berbagai belahan bumi, tampak keinginan banyak orang untuk kembali memanifestasikan agama dalam berbagai bidang kehidupan mereka, baik sosial, budaya, maupun politik. Para pemikir pun banyak yang mengemukakan bahwa “kembali kepada agama” merupakan jalan keluar bagi umat manusia dalam menghadapi berbagai persoalan dewasa ini.

Kecenderungan untuk kembali kepada agama juga merambah bidang seni, termasuk seni teater. Dewasa ini kita banyak menjumpai karya-karya yang secara langsung maupun tidak langsung, membawa agama sebagai tema besarnya. Bahkan di Amerika, ada kalangan seniman teater yang menggabungkan diri dalam Kelompok Fokus Agama dan Teater. Kelompok ini menerbitkan jurnal yang berisi pembahasan mengenai agama dalam teater. Jurnal tersebut menyediakan berbagai artikel yang menganalisis aspek spiritualitas budaya-budaya dunia dalam teater. Selain itu, jurnal ini juga bertujuan untuk memfasilitasi pertukaran pengetahuan di antara komunitas teater terkait dengan hubungan antara teater dan agama. Kelompok Fokus Agama dan Teater juga mengadakan festival teater internasional dengan tema agama dalam pengertiannya yang luas sebagai penyembuh berbagai penyakit manusia. 

Republik Islam Iran sejak didirikan tahun 1979 juga memberikan perhatian yang besar kepada seni dan budaya. Kalangan teater Iran terus mengembangkan bentuk teater yang transendental. Dengan kata lain, seni teater di Iran tidak dibiarkan mengeksplorasi seni tanpa batas, namun diarahkan untuk mengembangkan rasa seni yang mulia dan hakiki. Seni seperti ini akan memberikan pengayaan batin kepada para penikmat seni dan membimbingnya menuju kepada pencerahan spiritual.

Pada tanggal 6 dan 7 Januari, di Teheran diselenggarakan seminar internasional bertema “Teater dan Agama”. Seminar ini digelar dengan tujuan untuk mencari hubungan timbal-balik antara teater dan agama, menelaah keistimewaan filosofis dan keindahan seni teater, meneliti kedudukan sosial, politik, dan budaya teater agama, serta membahas perkembangan teater agama di dunia. Seminar ini dihadiri oleh 30 peneliti dari Iran dan 22 peneliti dari berbagai negara lainnya, antara lain dari Kanada, Inggris, Jerman, India, Afrika Selatan, Pakistan, Mesir, dan Amerika Serikat.  Di antara peneliti yang hadir dalam seminar ini adalah Doktor Peter Chelkowski, Doktor Claus Hoffmann, Doktor Hans-Thies Lehmann, Doktor Michael Anderson. Mereka adalah dosen bidang teater di negara mereka masing-masing.

Umumnya, bila kita mendengar kata teater agama, yang terbayang oleh kita adalah sebuah teater yang naskahnya berdasarkan pada kitab-kitab suci, atau teater yang penuh khutbah-khutbah agama. Atau, kita akan membayangkan bahwa penonton teater agama pastilah kalangan terbatas yang memiliki keyakinan atau kepercayaan terhadap agama tertentu. Sesungguhnya, yang disebut sebagai teater agama ini memang memiliki dua bentuk. Bentuk-bentuk teater tradisional yang berlandaskan agama memang ditemukan di banyak negara. Misalnya di Iran, dikenal teater bernama ta’ziyeh yang selalu melakonkan kisah-kisah tokoh-tokoh agama Islam. Di Barat pun, dikenal bentuk teater Mormon, Pasion, Misteri  yang mengandung unsur agama. Selain itu ada bentuk teater agama yang menyampaikan ajaran-ajaran spiritual secara tidak langsung dan merupakan hasil kontemplasi para senimannya.

Fahime Siyahiyan, seorang peneliti dan penulis naskah teater Iran, menyatakan bahwa agama adalah penghubung antara manusia dengan firman-firman dan ajaran-ajaran transendental, yang akan mengajak manusia ke arah kebaikan. Menurutnya, semua kitab suci merupakan kumpulan dari perumpamaan dan kisah-kisah bagi orang-orang yang berpikir. Sebagai contoh, kitab suci Al Quran memuat berbagai kisah para nabi, kisah kaum-kaum kafir yang akhirnya mendapat bencana, atau kisah Luqman dalam mendidik anaknya. Semuanya akan menjadi penuntun hidup bagi orang-orang yang berpikir, sebagaimana disebutkan dalam Al Quran surat Shaad ayat 29, ”Ini  adalah sebuah kitab  yang Kami turunkan  kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat  pelajaran  orang-orang  yang mempunyai fikiran.”

Pada saat yang sama, teater pun, baik itu teater agama atau bukan, juga mengandung berbagai kisah yang ditujukan untuk menggerakkan para penikmatnya agar berpikir dan merenungi kehidupan. Misalnya, teater bertema penindasan politik terhadap seorang tokoh, akan mengajak penikmatnya untuk memikirkan situasi politik di negerinya dan memberikan wawasan baru mengenai apa yang seharusnya dilakukan dalam situasi seperti itu. Teater yang baik akan memberikan pencerahan dan mengajak manusia untuk mengadakan perbaikan dalam kehidupannya.

Dengan demikian, menurut Fahimeh Siyahiyan, agama dan teater bukanlah dua bidang yang bertentangan, melainkan bisa berjalan sinergis dan saling mendukung. Teater dalam bentuknya yang hakiki bertujuan untuk membimbing para penikmat seni. Dan karena itulah agama dan teater menjadi dua bidang yang bisa melangkah bergandengan dalam mengusahakan perbaikan individu dan masyarakat.

Menurut pengamat teater, hingga hari ini, minimalnya ada tiga bentuk hubungan antara teater dan agama. Pertama, kecenderungan seniman teater terhadap teks agama dan pemilihan sebagian dari teks-teks agama itu untuk dituangkan ke dalam teater. Kedua, penelitian para seniman teater terhadap sumber-sumber teater dan hubungannya dengan agama dan ajaran relijius. Ketiga, para seniman teater menelaah ajaran atau nilai-nilai khas dalam suatu agama lalu menuangkan sebagiannya dalam teater.

Dalam hal ini, tentu tidak boleh dilupakan peran para penonton atau penikmat teater itu sendiri. Setiap penonton sudah pasti memiliki paradigma sendiri ketika ia menyaksikan sebuah pagelaran teater. Menurut Doktor Abul Fadhl Hari, dalam sebuah karya seni, terutama seni teater, bisa diterima dan dipercayainya sebuah adegan adalah prioritas utama bagi seorang penonton. Karena itu, sebuah pagelaran teater dalam mengangkat teks-teks agama ke atas panggung, tetap harus bisa membangkitkan rasa ingin tahu, kepenasaran, dan semangat kepada penonton. Dengan cara inilah karya seni teater bisa diterima dengan baik oleh penonton tanpa merasa diajari. Yang jelas, teater agama sesungguhnya adalah pementasan keyakinan suci manusia. Keyakinan suci ini mulai banyak dilindas oleh kehidupan materialisme dunia modern. 

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]