|
Agama dan Teater
Bila kita memperhatikan
berbagai kecenderungan umat manusia dewasa ini, kita bisa menyebut zaman
ini sebagai era “kecenderungan kembali kepada agama.” Di berbagai
belahan bumi, tampak keinginan banyak orang untuk kembali
memanifestasikan agama dalam berbagai bidang kehidupan mereka, baik
sosial, budaya, maupun politik. Para pemikir pun banyak yang
mengemukakan bahwa “kembali kepada agama” merupakan jalan keluar bagi
umat manusia dalam menghadapi berbagai persoalan dewasa ini.
Kecenderungan untuk
kembali kepada agama juga merambah bidang seni, termasuk seni teater.
Dewasa ini kita banyak menjumpai karya-karya yang secara langsung maupun
tidak langsung, membawa agama sebagai tema besarnya. Bahkan di Amerika,
ada kalangan seniman teater yang menggabungkan diri dalam Kelompok Fokus
Agama dan Teater. Kelompok ini menerbitkan jurnal yang berisi pembahasan
mengenai agama dalam teater. Jurnal tersebut menyediakan berbagai
artikel yang menganalisis aspek spiritualitas budaya-budaya dunia dalam
teater. Selain itu, jurnal ini juga bertujuan untuk memfasilitasi
pertukaran pengetahuan di antara komunitas teater terkait dengan
hubungan antara teater dan agama. Kelompok Fokus Agama dan Teater juga
mengadakan festival teater internasional dengan tema agama dalam
pengertiannya yang luas sebagai penyembuh berbagai penyakit manusia.
Republik Islam
Iran sejak didirikan tahun 1979 juga memberikan perhatian yang besar
kepada seni dan budaya. Kalangan teater Iran terus mengembangkan bentuk
teater yang transendental. Dengan kata lain, seni teater di Iran tidak
dibiarkan mengeksplorasi seni tanpa batas, namun diarahkan untuk
mengembangkan rasa seni yang mulia dan hakiki.
Seni seperti ini akan memberikan pengayaan batin kepada
para penikmat seni dan membimbingnya menuju kepada pencerahan spiritual.
Pada tanggal 6 dan 7 Januari, di Teheran diselenggarakan seminar
internasional bertema “Teater dan Agama”. Seminar ini digelar dengan
tujuan untuk mencari hubungan timbal-balik antara teater dan agama,
menelaah keistimewaan filosofis dan keindahan seni teater, meneliti
kedudukan sosial, politik, dan budaya teater agama, serta membahas
perkembangan teater agama di dunia. Seminar ini dihadiri oleh 30
peneliti dari Iran dan 22 peneliti dari berbagai negara lainnya, antara
lain dari Kanada, Inggris, Jerman, India, Afrika Selatan, Pakistan,
Mesir, dan Amerika Serikat. Di antara peneliti yang hadir dalam seminar
ini adalah Doktor Peter Chelkowski, Doktor Claus Hoffmann, Doktor
Hans-Thies Lehmann, Doktor Michael Anderson.
Mereka adalah dosen bidang teater di negara mereka
masing-masing.
Umumnya, bila
kita mendengar kata teater agama, yang terbayang oleh kita adalah sebuah
teater yang naskahnya berdasarkan pada kitab-kitab suci, atau teater
yang penuh khutbah-khutbah agama. Atau, kita akan membayangkan bahwa
penonton teater agama pastilah kalangan terbatas yang memiliki keyakinan
atau kepercayaan terhadap agama tertentu. Sesungguhnya, yang disebut
sebagai teater agama ini memang memiliki dua bentuk. Bentuk-bentuk
teater tradisional yang berlandaskan agama memang ditemukan di banyak
negara. Misalnya di Iran, dikenal teater bernama ta’ziyeh yang
selalu melakonkan kisah-kisah tokoh-tokoh agama Islam. Di Barat pun,
dikenal bentuk teater Mormon, Pasion, Misteri yang mengandung
unsur agama. Selain itu ada bentuk
teater agama yang menyampaikan ajaran-ajaran spiritual secara tidak
langsung dan merupakan hasil kontemplasi para senimannya.
Fahime Siyahiyan, seorang peneliti dan
penulis naskah teater Iran, menyatakan bahwa agama adalah penghubung
antara manusia dengan firman-firman dan ajaran-ajaran transendental,
yang akan mengajak manusia ke arah kebaikan. Menurutnya, semua kitab
suci merupakan kumpulan dari perumpamaan dan kisah-kisah bagi
orang-orang yang berpikir. Sebagai contoh, kitab suci Al Quran memuat
berbagai kisah para nabi, kisah kaum-kaum kafir yang akhirnya mendapat
bencana, atau kisah Luqman dalam mendidik anaknya. Semuanya akan menjadi
penuntun hidup bagi orang-orang yang berpikir, sebagaimana disebutkan
dalam Al Quran surat Shaad ayat 29,
”Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan
berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat
pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.”
Pada saat yang sama, teater pun, baik itu
teater agama atau bukan, juga mengandung berbagai kisah yang ditujukan
untuk menggerakkan para penikmatnya agar berpikir dan merenungi
kehidupan. Misalnya, teater bertema penindasan politik terhadap seorang
tokoh, akan mengajak penikmatnya untuk memikirkan situasi politik di
negerinya dan memberikan wawasan baru mengenai apa yang seharusnya
dilakukan dalam situasi seperti itu. Teater yang baik akan memberikan
pencerahan dan mengajak manusia untuk mengadakan perbaikan dalam
kehidupannya.
Dengan demikian, menurut Fahimeh Siyahiyan,
agama dan teater bukanlah dua bidang yang bertentangan, melainkan bisa
berjalan sinergis dan saling mendukung. Teater dalam bentuknya yang
hakiki bertujuan untuk membimbing para penikmat seni. Dan karena itulah
agama dan teater menjadi dua bidang yang bisa melangkah bergandengan
dalam mengusahakan perbaikan individu dan masyarakat.
Menurut pengamat teater, hingga hari ini,
minimalnya ada tiga bentuk hubungan antara teater dan agama. Pertama,
kecenderungan seniman teater terhadap teks agama dan pemilihan sebagian
dari teks-teks agama itu untuk dituangkan ke dalam teater. Kedua,
penelitian para seniman teater terhadap sumber-sumber teater dan
hubungannya dengan agama dan ajaran relijius. Ketiga, para seniman
teater menelaah ajaran atau nilai-nilai khas dalam suatu agama lalu
menuangkan sebagiannya dalam teater.
Dalam hal ini, tentu tidak boleh dilupakan
peran para penonton atau penikmat teater itu sendiri. Setiap penonton
sudah pasti memiliki paradigma sendiri ketika ia menyaksikan sebuah
pagelaran teater. Menurut Doktor Abul Fadhl Hari, dalam sebuah karya
seni, terutama seni teater, bisa diterima dan dipercayainya sebuah
adegan adalah prioritas utama bagi seorang penonton. Karena itu, sebuah
pagelaran teater dalam mengangkat teks-teks agama ke atas panggung,
tetap harus bisa membangkitkan rasa ingin tahu, kepenasaran, dan
semangat kepada penonton. Dengan cara inilah karya seni teater bisa
diterima dengan baik oleh penonton tanpa merasa diajari. Yang jelas,
teater agama sesungguhnya adalah pementasan keyakinan suci manusia.
Keyakinan suci ini mulai banyak dilindas oleh kehidupan materialisme
dunia modern.
|