Pemerintah dan rakyat Iran tak pernah mundur dalam
mempertahankan haknya di bidang nuklir sipil sesuai dengan
perjanjian-perjanjian internasional, Piagam Badan Energi Atom
Internasional (IAEA), serta prinsip kedaulatan nasional Iran sendiri.
Resistensi dilakukan baik pada tahap pengupayaan dan pencapaian
teknologi nuklir maupun pada tahap pengebangannya.
Sesuai pasal keempat Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), Iran berhak
mendayagunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai. Lebih dari itu,
negara-negara yang memiliki teknologi nuklir bahkan berkewajiban membantu
negara-negara yang belum memiliki teknologi tersebut. Iran juga membayar
iuran tahunan keanggotaan kepada IAEA dan oleh karenanya Teheran berhak
memiliki dan mengembangkan teknologi nuklir sipil.
Di luar konteks ketentuan internasional, terdapat
konteks lain yang juga menuntut pemerintah Iran untuk memprioritaskan
kepentingan nasional, yaitu konteks kedaulatan nasional dan independensi
negara. Karena tak ada satu negara pun patut menyerahkan masalah keamanan
dan kepentingan nasionalnya kepada pihak asing. Dan dalam konteks ini
pula,
masalah pendayagunaan teknologi nuklir menjadi sangat
krusial bagi Iran ketika negara ini harus memenuhi kebutuhannya kepada
perkembangan di pelbagai bidang ekonomi, sosial, dan iptek.
Pada masa mendatang, teknologi nuklir akan menggeser
posisi bahan bakar fosil untuk memenuhi keperluan energi dunia. Kini pun,
banyak negara yang sudah menyiapkan diri dengan menambah jumlah instalasi
nuklirnya. Industri nuklir dinilai sangat krusial mengingat teknologi
nuklir melingkupi 200 bidang industri dan 500 kajian saintifik.
2. Sampai saat ini, Barat berupaya mencegah
keberhasilan Iran di bidang nuklir. Dalam menindaklanjuti kasus nuklir
Iran, Barat sama sekali tidak menggunakan parameter dalam NPT maupun IAEA,
melainkan menggunakan cara-cara arogan. Bahkan, Barat tak segan-segan
bertindak di luar aturan internasional. Secara keseluruhan, Barat
menerapkan standar ganda dalam kasus nuklir Iran.
Sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran, Barat
mendukung pembangunan instalasi nuklar di Iran. Namun, pasca kemenangan
Revolusi Islam Iran, Barat justru menentang pembangunan instalasi
tersebut. Meski aktivitas nuklir Iran diawas oleh IAEA dan tidak
menyeleweng dari NPT, Barat selalu menunjukkan interferensi terhadap
progam nuklir Iran, dan di saat yang sama, Barat menjalin kerjasama nuklir
dengan negara-negara lain termasuk India dan Pakistan yang justru bukan
anggota NPT. Bahkan dalam kasus nuklir Rezim Zionis, Barat memberikan
berbagai bantuan kepada Tel Aviv.
Barat juga tidak menunjukkan reaksinya atas aktivitas
nuklir Rezim Zionis yang telah memproduksi 200 hulu ledak nuklir, atau
aktivitas nuklir Korea Selatan yang diam-diam telah menghasilkan pengayaan
plutonium hingga 90 persen. Sedangkan terhadap program nuklir Iran, sikap
Barat cenderung arogan. Jangankan soal reaktor nuklir, terhadap
pembangunan reaktor listrik air ringan di Iran Barat pun Barat masih juga
menentang. Barat menolak melanjutkan pembangunan dua reaktor nuklir di
Iran yang prosesnya dimulai sejak sebelum kemenangan Revolusi dan sudah
mencapai 60 persen. Tidak hanya itu, mereka juga mencegah negara-negara
lain termasuk Rusia melanjutkan proyek tersebut.
Dualisme tersebut menunjukkan kentalnya fenomena
rasisme dalam politik Barat. Di saat 50 ton uranium milik Iran disita dan
disimpan di gudang-gudang di Jerman, serta 10 persen saham milik Iran di
perusahaan pengayaan uranium Perancis dibekukan, Inggris dan Perancis
malah memberikan bantuan teknologi nuklir secara ilegal kepada Rezim
Zionis.
3. Dalam dua dekade terakhir, Republik Islam Iran
telah menunjukkan itikad baiknya guna meyakinkan masyarakat internasional
soal status damai program nuklir Teheran. Dua tahun lalu, Iran berunding
dengan Eropa dan salah satu poinnya adalah masalah nuklir. Dalam
perundingan yang berlangsung selama sembilan hari itu, kedua pihak
membahas program nuklir Iran dari berbagai segi termasuk masalah
transparasi.
Pada saat yang sama, IAEA juga mengawasi seluruh
instalasi nuklir Iran. Sepuluh tahun lalu Iran menandatangani Traktat
Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Di samping itu, Iran juga menandatangani
berbagai perjanjian nuklir termasuk Konvensi Larangan Ujicoba Senjata
Nuklir (CTBT), Konvensi Larangan Perluasan Senjata Biologi (CWC), dan
lain-lain. Melalui perjanjian tersebut, Republik Islam Iran ingin
menunjukkan kepada dunia bahwa progam nuklirnya sepenuhnya bertujuan
damai.
Meski demikian, sejak akhir tahun 2001 Barat
meningkatkan agitasi dan tekananya terhadap progam nuklir Iran dengan
dalih bahwa Iran akan menyalahgunakannya untuk memproduksi senjata
destruksi massal. Guna mengubah persepsi negatif masyarakat internasional
soal program nuklir Iran akibat propaganda AS, serta menunjukkan bahwa
progam nuklir Iran berjalan sesuai ketentuan IAEA, Replubik Islam Iran
menggalang kebijakan transparansi.
Dalam rangka transparansi dan menggalang kepercayaan
internasional, Iran mulai menjalin kerjasama penuh dengan IAEA, dengan
melakukan berbagai langkah berikut ini;
1_3_ Secara sukarela menandatangani Protokol
tambahan. Hal ini dilakukan Iran di saat banyak negara anggota IAEA yang
belum nemandatanganinya. bahkan AS tidak bersedia menandatangani dan
mengesahkannya.
2_3_ Menjalin kerjasama yang lebih dari ketentuan dan
aturan IAEA.
3_3_ Membuka pintu bagi dilakukannya inspeksi oleh
IAEA lebih dari 1600 orang/hari. Artinya, setiap harinya rata-rata tiga
ispektur IAEA melakukan pengawasan terhadap instalasi nuklir Iran.
4_3_ Memberikan laporan setebal 1030 halaman mengenai
seluruh aktivitas dan program nuklir yang dijalankan oleh Iran. Padahal
selain itu sudah ada laporan secara berkala dan di setiap moment baik
melalui lisan maupun dalam pertemuan-pertemuan resmi.
5_3_ Memberikan kesempatan untuk melakukan interview
dengan para ahli nuklir dan para petugas pusat-pusat instalasi nuklir.
6_3_ Mengizinkan tim inspeksi IAEA untuk memeriksa
sejumlah pusat militer Iran.
7_3_ Secara sukarela menangguhkan seluruh aktivitas
nuklir, termasuk aktivitas pembuatan perlengkapan, riset, instalasi
Natanz, pusat UCF Isfahan, dan ... yang kesemuanya dilakukan dalam rangka
meyakinkan status damai aktivitas nuklir Iran.
Semua langkah ini menunjukkan bahwa tidak ada
penyimpangan dalam program nuklir yang dijalankan oleh Republik Islam
Iran, dan fakta ini juga dikukuhkan oleh laporan-laporan yang dibuat oleh
Dirjen IAEA.
Meski Iran telah melakukan langkah-langkah tersebut,
akan tetapi AS dan Eropa tetap tidak bisa diyakinkan dan bahkan terus
menuntut Iran untuk menghentikan aktivitas pemutaran bahan bakar nuklir.
Negara-negara tersebut juga tetap melanjutkan kebijakan permusuhannya
terhdap Iran.
4_ Dalam kacamata Barat terutama AS, jika Iran
berhasiol mengukuhkan teknologi nuklir dan berhasil melampaui seluruh
tahapan pengembangannya, kekuatan nasional Iran di satu sisi dan
pengaruhnya di tingkat regional dan global akan mengalami perubahan yang
sangat besar. Hal ini pernah disinggung oleh ketua Lembaga Riset Strategis
Prancis dengan mengatakan, "Faktor utama yang mendorong AS untuk
mengganjal upaya Iran di bidang teknologi nuklir sangat erat kaitannya
dengan kemampuan strategis Iran. Kemampuan inilah yang akan menempatkan
Iran menjadi kekuatan besar di kawasan."
Penilaian yang sama juga disampaikan oleh para
pejabat tinggi dan teorisi strategi AS dalam berbagai tulisan mereka, yang
salah satunya adalah Iznstein, penanggung jawab rencangan operasi
intelejen dan militer di Departemen Pertahanan AS Penatgon. Dalam sebuah
yang panjang ia menulis, "Jika Iran berhasil meraih teknologi nuklir, AS
akan mendapatkan tantangan yang besar untuk mencegah Iran berteknologi
nuklir dari langkah memanfaatkan kemampuan nuklirnya untuk melebarkan
pengaruh politik."
Alasan penentangan Barat terhadap aktivitas nuklir
Iran tidak terbatasi pada poin-poin yang telah disebutkan. Meski demikian,
dengan berbagai alasan Barat terutama AS mengerahkan segala daya dan
kemampuan untuk memaksa iran menghentikan aktivitas nuklirnya.
Masalah ekonomi dijadikan alat untuk menghadapi Iran.
menurut para perancang kebijakan menekan Iran, lemahnya perekonomian akan
bisa memaksa Iran untuk melupakan proyek-proyek besar semisal proyek
teknologi nuklir. Bill Wight, deputi Menteri Energi AS dalam hal ini
mengatakan, "Saya sangat berhasrat menyaksikan perekonomian Iran semakin
hari semakin melemah sehingga tidak banyak mengeluarkan dana
inkonvensional untuk mempersenjatai diri."
Tentunya harus diingat bahwa AS dan Barat telah
mengembargo iran dengan berbagai macam embargo teknologi termasuk
produk-produk yang memiliki fungasi ganda, juga embargo keuangan,
investasi dan layanan jasa dan sebagainya. Langkah penyempurna bagi AS
adalah mengucilkan Iran dari dunia internasional. Di antara sederet
langkah yang dilakukan oleh AS dalam hal adalah; memanupilasi ketentuan
hukum yaitu dengan memanfaatkan isu protokol tambahan dan memaksa Iran
segera menandatangani serta mengesahkannya, menyusun undang-undang
mengenai terorisme nuklir dan menisbatkannya ke negara-nehgara semisal
iran, menekan IAEA untuk menghentikan kerjasama teknisnya dengan Iran, dan
berbagai langkah lainnya. Akan tetapi semua langkah AS tersebut tidak
berhasil melucuti Iran dari teknologi nuklir.
Sejak Iran mengumumkan keberhasilannya menguasai
teknologi nuklir, kebijakan Barat dalam mencegah dan menggukujhg proytek
nuklir Iran memasuki tahap baru. Untuk ini, barat telah mempersiapkan tiga
tahap, yaitu, penangguhan, penghentian dan pemusnahan. Dalam melaksanakan
rencana ini AS masuk ke medan dengan memerankan polisi jahat sementra
Eropa masuk dengan perannya sebagai pihak yang ingin menyelesaikan masalah
dengan cara yang terbaik. Dengan cara ini Barat membuka front melawan
proyek nuklir Iran. AS menjasikan pelimpahan isu nuklir Iran ke meja Dewan
Keamanan PBB sebagai langkah akhir, sementara Eropa memilih cara untuk
bermain tahap demi tahap.
Antara Februari dan Maret tahun 2005, Barat menyangka
bahwa mereka telah berhasil mewujudkan target dalam permainan ini.
Karenanya, mereka lantas secara terbuka mengumumkan bahwa Iran hanya dapat
meyakinkan dunia akan iktikad baiknya jika negara ini mengurungkan niatnya
untuk memproduksi bahan bakar nuklir sendiri. Untuk itu pada bulan Juni
2005, Eropa secara tertulis menuntut Iran untk menghentikan aktivitas
nuklirnya.
5_ Setelah niat Eropa yang sebenarnya terlihat jelas
dan Iran sampai pada kesimpulan bahwa haknya tidak mungkin akan diperoleh
melalui meja perundingan dengan Eropa, dan menyusul perubahan di Iran
pasca pemilu, Tehran melakukan perubahan yang signifikan dalam
kebijakannya menyangkut program nuklir.
Dengan kata lain, mempertahankan penangguhan seluruh
aktivitas nuklir sama akan berakhir dengan kegagalan Iran memperoleh
teknologi nuklir yang sudah menjadi hak negara ini. Dalam kondisi seperti
inilah, Republik Islam Iran mengubah pola permainan dengan pertama-tama
membuka segel instalasi UCF di Isfahan. Langkah berikutnya adalah memulai
kembali riset nuklir dan langkah ketiga membatalkan pelaksanaan isu
protokol tambahan yang sebelumnya dilakukan secara sukarela. Sejurus
kemudian Presiden Republik Islam Iran mengeluarkan instruksi untuk memulai
kembali seluruh aktivitas yang berkenaan dengan program nuklir.
Negara-negara Eropa
menghentikan perundingannya dengan Teheran dan mengadakan sidang darurat
Dewan Gubernur lalu mengeluarkan resolusi bernada keras terhadap Iran.
Namun kekokohan bangsa Iran di hadapan tekanan Barat akhirnya membuat
Barat mengurangi tuntutannya terhadap Iran. Melihat kekokohan Republik
Islam Iran dan ketidakpedulian Iran terhadap langkah Barat menyerahkan
dokumen nuklir Iran kepada Dewan Keamanan PBB membuat Barat terpaksa
mengambil langkah mundur, yaitu mengakui hak Iran dalam membangun
instalasi untuk memperkaya uranium (UCF) di Isfahan dan memproduksi
uranium hexafluoride. Namun, mereka menetapkan syarata agar proses itu
dilakukan di luar wilayah Iran.
Syarat ini diikuti oleh propsal
Rusia yang berisi tawaran agar Iran melakukan pngayaan uraniumnya di
Rusia. Dan sejak saat itu pula, tekanan Barat ditujukan untuk menekan Iran
agar menerima tawaran Rusia itu, Namun sejak awal Iran telah menegaskan
bahwa pengayaanuranium adalah bagian dari kepntingan bangsa dan karenanya,
Iran menentang proposal itu, serta mengumumkan bahw aproposal itu bisa
diterima hanya jika proses itu menjadi pelengkap dari proses pengayaan
uranium yang dilakukan di Iran. Menghadapi ketegasan sikap Iran ini,
akhirnya Barat mengadakan sidang darurat IAEA danmengeluarkan resolusi
yang melaporkan masalah nuklir Iran ke Dewan Keaamanan PBB.
6. Tidak diragukan lagi,
melalui cara apapun, baik melalui Dewan Keamanan PBB atau cara-cara lain,
Barat tidak berhasil menekan Iran agar menghentikan proyek nuklirnya. Para
pengamat dan analis Barat banyak yang menilai bahwa serangan militer,
embargo ekonomi, atau penyerahan dokumen nuklir Iran kepada Dewan Keamanan
PBB tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan nuklir Iran. Mereka bahkan
berpendapat bahwa Republik Islam Iran yang didukung oleh kekuatan militer
yang tangguh, dukungan rakyat, sumber daya alam, dan posisi strategis di
Timur Tengah, telah menjadi sebuah kekuatan yang tidak akan bisa
ditaklukkan dengan serangan militer.
Selain itu, para pengamat dan
analisis politik juga memperingatkan pemerintah negara-negara Barat bahwa
langkah-langkah anti Iran, seperti embargo ekonomi atau serangan militer,
akan menimbulkan dampak yang sangat dahsyat di dunia. Mereka menyimpulkan
bahwa bagi bangsa Iran, maslah nuklir telah menjadi sebuah masalah yang
berkaitan dengan harga diri bangsa dan bangsa Iran tidak akan mundur satu
langkahpun dari tekadnya untuk menguasai teknologi nuklir. Itulah sebabnya
para analis politik itu menyimpulkan bahwa serangan militer terhadap Iran
hanya akan membuat masalah lebih rumit.
Untuk itu, langkah yang diambil
Barat kini hanyalah sebatas perang psikologis. Mereka tak henti-hentinya
melakukan propaganda negatif mendiskreditkan Iran dan melemparkan
ancaman-ancaman kosong soal perang. Yayasan The Heritage Foundation di AS
dalam masalah ini bahkan memberikan saran kepada Gedung Putih sbb."Untuk
melemahkan pertahanan rakyat Iran harus dilakukan perang psikologis di
dalam negeri Iran sendiri, khususnya terhadap kaum muda Iran."
Strategi baru yang dilakukan
Barat terutama AS untuk 'menggulung proyek nuklir Iran' memiliki tiga
tujuan utama. Pertama, menciptakan opini di tengah bangsa Iran mengenai
dampak buruk bila pemerintah Iran terus bertahan di hadapan tekanan Barat
dan opini bahwa penguasaan atas teknologi nuklir sama sekali tidak ada
faedahnya. Kedua, menciptakan jurang antara pemerintah dan rakyat. Ketiga,
memperlemah pemerintahan Iran.
Oleh karena itu, mempertahankan
keberhasilan dalam penguasaan teknologi nuklir yang selama ini telah
dicapai dengan dukungan rakyat kini merupakan masalah yang sangat penting
untuk dilakukan pemerintah Iran. Pemerintah harus terus berusaha
mengingatkan masyarakat bahwa hak bukanlah sesuatu yang diberikan pihak
lain, melainkan sesuatu yang harus diambil atau diperjuangkan. Dalam
rangka inilah, bangsa Iran harus terus berjuang dan bertahan melawan
berbagai tantangan dalam untuk meraih haknya di bidang nuklir. Berdasarkan
ajaran agama, keimanan dan tekad kuat untuk terus berjalan di jalan yang
telah dipilih rakyat, akan menjadi faktor penentu bagi kemenangan.