Konflik Lebanon akibat dendam
kesumat Israel terhadap Hezbollah yang berkobar selama lebih dari satu
bulan akhirnya reda sejak pagi hari Senin 14 Agustus sesuai resolusi DK
PBB nomor 1701 yang menyerukan gencatan senjata. Banyak kekurangan dalam
resolusi itu, tapi pada akhirnya tetap menyisakan bukti kemenangan rakyat
Lebanon dan Hezbollah atas Israel.
Saat perang dikobarkan, para
petinggi militer dan elit politik Tel Aviv tenggelam habis dalam euforia
penaklukan atas Hezbolah dan bangsa Lebanon secara umum. Dengan dukungan
materi dan mental dari AS, Israel melepaskan semua keperkasaan militernya
untuk mengubur Hezbollah hanya dalam tempo tidak sampai satu minggu.
Dengan dalih membebaskan dua tentara Israel yang ditawan Hezbollah, Tel
Aviv merasa telah menemukan momentum untuk menggulung Hezbollah dengan
mesin militer.
Tapi apa yang terjadi? Israel
terpaksa harus menelan ludah sendiri. Atraksi keperkasaan militer Zionis
molor sampai lebih dari satu bulan tanpa ada sedikitpun sinyal bahwa
Hezbollah akan melemah. Sebaliknya, militer Zionis setiap hari harus
menyetor nyawa anggotanya dalam jumlah besar di Lebanon, harus kehilangan
tank dan mesin-mesin perang serba canggih lainnya yang selama ini menjadi
kebanggaan Israel. Menlu Israel Tzipi Livni terpaksa membuat pernyataan
bernada lirih bahwa di dunia ini tidak ada kekuatan militer yang dapat
melucuti senjata Hezbollah melalui jalur militer.
Tak ada yang meragukan
kecanggihan alat-alat perang Israel, sebagaimana tidak ada yang meragukan
bahwa Hezbollah adalah sekedar gerilyawan bersenjata. Namun, karena
kehebatan teknologi militer Israel ternyata tak dapat berbuat banyak di
depan prajurit Hezbollah yang lebih berbekal kecanggihan iman daripada
fisik dan senjata, Israel kini harus meratapi kehancuran mitos bahwa
tentara Zionis mustahil dapat dikalahkan. Israel juga harus siap menelan
kenyataan bahwa perimbangan militer regional Timteng yang tadinya sudah
dianggap mapan, kini harus ditata-ulang dalam peta kekuatan militer
Timteng yang tidak lagi mendudukkan Israel dalam posisi di atas angin.
Pertempuran di Lebanon kini
sudah reda. Hezbollah telah mempersembahkan kemenangan untuk Lebanon,
bangsa-bangsa Arab, Dunia Islam, dan bahkan untuk seluruh kaum tertindas
dunia. Tapi perlu diingat, karena konflik Lebanon pada dasarnya adalah
eksekusi atas agenda AS untuk apa yang disebutnya sebagai Timteng Baru,
maka pergesekan keras Hezbollah dan Lebanon dengan Israel dan AS tentu
tidak akan berhenti pada gencatan senjata. Sebaliknya, Hezbollah dan
Lebanon kini praktis tampil sebagai garda kehormatan dan martabat
bangsa-bangsa Arab masih akan berhadapan dengan 1001 tantangan, baik
tantangan yang berupa kemungkinan rentannya gencatan senjata itu sendiri
maupun tantangan dalam bentuk badai konspirasi politik dari AS dan Israel.
Komentar dari Negeri Piramida
Berbagai komentar tentang konflik Israel-Lebanon dan dahsyatnya perlawanan
Hezbollah terus mengalir dari berbagai kalangan elit di Dunia Arab, termasuk
Mesir, negara yang selama ini lembek di depan kepongahan Rezim Zionis
Israel. Menteri Luar Negeri Mesir Ahmad Abul Gheit akhirnya tak dapat
menyembunyikan kekagumannya kepada Hezbollah Lebanon.
Meskipun masih terkesan berhati-hati saat memuji kehebatan Hezbollah dan
menganilis konflik Lebanon, Abul Gheit memastikan bahwa misi Israel gagal
total dan sia-sia menggempur Lebanon. Tak ada hasil apapun yang bisa
diperoleh Israel dalam invasi militer tersebut. Menurut Menteri Luar Negeri
Mesir, perilaku militer Israel yang sangat tidak manusiawi justru membuat
Israel semakin tergelincir pada banyak problema.
Komentar lebih tajam untuk Israel dan apresiatif untuk Hezbollah pasca
konflik Lebanon dinyatakan oleh Amin al-Huwaidi, mantan menteri pertahanan
Mesir. Dia menjelaskan bahwa teori keamanan Israel yang selama ini
digembar-gemborkan secara eksesif oleh Tel Aviv dan rezim-rezim Barat
pendukungnya ternyata loyo di depan taktik pertempuran Hezbollah. Al-Huwaidi
menambahkan, balasan setimpal roket-roket Hezbollah Lebanon ke wilayah
Israel telah menguak absurditas teori keamanan yang selalu
dibangga-banggakan Tel Aviv.
Menurut Jenderal purnawirawan Mesir itu, taktik perang irregular yang
diterapkan para pejuang Hezbollah Lebanon adalah satu data akurat yang sudah
pasti melahirkan guncangan serius dalam peta perimbangan kekuatan militer
kawasan. Perang gerilya yang diterapkan Hezbollah dalam pertempuran dengan
pasukan Zionis bisa menjadi model yang amat mengesankan dalam taktik
militer. Karena di luar dugaan banyak orang; dengan taktik itu kekuatan
raksasa Israel bisa diganjar dengan pukulan yang sangat telak oleh kekuatan
Hezbollah yang terdiri hanya dari beberapa ribu personil.
Sayangnya, Amin al-Huwaidi tidak menyebut spiritualitas, maknawiah,
keimanan, makrifat atau –katakanlah- ideologi yang selama ini mendarah
daging dalam diri setiap pejuang Hezbollah. Padahal, tanpa kekuatan
spiritual itu, betapapun terlatihnya, para ksatria Hezbollah tidak akan
mampu mendobrak dan melumat mitos kedigdayaan Zionis Israel.
Hezbollah benar-benar sudah menjadi model. Sayid Hasan Nasrollah yang
memimpin gerakan itu juga sudah dipandang sebagai “Satrio Piningit” di mata
bangsa-bangsa Arab. Sebab itu, rezim-rezim Arab semisal Arab Saudi, Mesir,
dan Jordania, yang tadinya menyalahkan Hezbollah sebagai provokator yang
memancing invasi Israel ke Lebanon kini harus mengubah sikap. Karena kalau
tidak, mereka akan semakin menjadi sasaran caci maki, dikerdilkan, dan
disampahkan oleh masyarakat Arab dan bahkan bangsa-bangsa Muslim lainnya.