|
Jawaban Untuk
Krisis Keluarga di Barat
Kondisi keluarga di Barat
setiap hari semakin mengkhawatirkan. Para psikolog, sosiolog, dan bahkan
para pakar politik turut memberikan perhatian mereka kepada dampak-dampak
akibat krisis keluarga ini. Keluarga merupakan pembentuk fondasi atau
landasan bangunan masyarakat, sehingga keruntuhan atau kelemahan keluarga
akan memberikan dampak negatif kepada masyarakat. Di Barat kecenderungan
untuk menikah semakin menurun dan usia anak-anak perempuan dan lelaki yang
tidak menikah semakin hari semakin meningkat. Akibatnya, terjadi berbagai
penyimpangan seksual dan merebaklah berbagai penyakit yang berkaitan dengan
kebebasan seks. Selain itu, kebebasan seksual juga mengakibatkan terjadinya
berbagai kasus perkosaan, pelecehan seksual, dan aksi kriminal lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian para psikolog, orang yang tidak memiliki
pasangan tetap akan mudah menderita penyakit jiwa dan mental.
Masalah keluarga yang dialami negara-negara Barat tidak terbatas kepada
keengganan anak-anak muda untuk menikah dan membentuk keluarga, melainkan
juga kerapuhan keluarga yang sudah terbentuk. Artinya, pernikahan di Barat
sangat mudah untuk hancur dan perceraian merupakan sebuah jalan yang dengan
mudah diambil oleh pasangan-pasangan yang memiliki masalah dalam
rumahtangga. Undang-undang pemerintah Barat yang memudahkan perceraian turut
membantu meningkatkan angka perceraian ini.
Dampak buruk perceraian meninggalkan dampak negatif yang sangat besar bagi
anak-anak. Jumlah anak-anak yang orangtuanya bercerai di AS dan Eropa,
semakin hari semakin meningkat. Anak-anak korban perceraian itu hidup dalam
depresi dan kehilangan perlindungan dari keluarga. Mereka dengan mudah akan
terseret ke dalam pergaulan yang sesat dan tidak jarang terjatuh dalam
kegiatan kriminal. Masalah perceraian juga membuat banyak pasangan yang
enggan untuk memiliki anak. Akibatnya, dewasa ini angka kelahiran di
negara-negara Barat menurun secara drastis. Bahkan sebagian negara Barat
mulai khawatir kekurangan penduduk karena warga mereka kebanyakan berusia
tua dan jumlah bayi yang lahir sangat sedikit.
Pertanyaan yang timbul adalah, apakah jalan keluar untuk mengatasi krisis
keluarga yang berbahaya ini? Paul Vitz, seorang dosen psikolog dari
Universitas New York menekankan, pada dasarnya, krisis keluarga di Barat
adalah hasil dari pelaksanaan prinsip sekularisme dalam negara. Vitz dalam
bukunya mengenai guncangan fondasi keluarga menulis, “Sekularisme adalah
ajaran yang ingin menghapuskan Tuhan dan pemahaman spiritualitas.
Sekularisme adalah filosofi bagi orang-orang yang terkucil dan terasing
untuk membebaskan diri dari dunia yang dipenuhi nilai-nilai Ilahiah.
Sekularisme membatasi kehidupan manusia dalam dunia material dan hedonisme.
Seiring dengan meluasnya sekularisme, meluas pula krisis spiritualitas dan
diikuti dengan krisis keluarga.”
Dengan kata lain, prinsip sekularisme, yaitu hedonisme, oportunisme, dan
kebebasan, telah membuat individu dan masyarakat hidup tanpa batasan.
Akibatnya, masyarakat lebih menyukai hubungan bebas dan enggan untuk memikul
tanggung jawab sebuah pernikahan atau memiliki isteri dan anak. Namun,
menghadapi krisis ini, pemerintah Barat bukan saja tidak berusaha secara
serius untuk membendung berkembangnya paham sekularisme, namun malah
mempertahankan paham ini dan menghalangi perkembangan agama. Pemerintah
Barat juga mengizinkan hubungan homoseksual dan tinggal serumah tanpa ikatan
perkawinan. Bahkan, dalam masyarakat Barat telah mulai dikembangkan
pergeseran makna keluarga, yaitu tidak lagi terbatas pada pernikahan.
Menurut versi ini, keluarga adalah kehidupan bersama dua pihak, baik resmi
menikah ataupun tidak resmi, baik lain gender maupun dari gender yang sama,
atau homoseksual.
Dengan melihat bahwa akar dari krisis keluarga dalam masyarakat Barat adalah
sekularisme, maka jawaban yang paling ampuh untuk menyelesaikan krisis ini
adalah agama. Berbeda dengan paham sekuler yang membebaskan manusia dari
segala macam nilai Ilahiah, agama memberi bimbingan Ilahiah kepada manusia
agar dapat menemukan kebahagiaan. Agama memberikan sudut pandang baru kepada
manusia mengenai kehidupan, yaitu bahwa hidup bukanlah sekedar di dunia,
melainkan ada kehidupan abadi di akhirat. Untuk mencapai kebahagiaan
kehidupan abadi di akhirat, manusia harus menjalani hidup di dunia yang
sesuai dengan ajaran agama.
Agama memberikan perhatian besar kepada keluarga karena keluarga berperan
penting dalam memperbaiki masyarakat dan mengurangi penyimpangan sosial. Di
pihak lain, penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan pada agama memainkan
peran penting dalam memperkokoh ikatan dan kasih sayang dalam keluarga.
Orang yang mempunyai kepercayaan pada agama akan lebih berpegang teguh
kepada janji atau ikatan perkawinan, serta tidak mudah mengunakan perceraian
sebagai jalan keluar untuk mengatasi masalah. Iman kepada Tuhan akan
memberikan kesabaran dan keteguhan kepada manusia dalam menghadapi tekanan
kehidupan dan memelihara diri dari pengkhianatan terhadap pasangan mereka.
Islam sebagai agama yang komprehensif dan paling sempurna juga sangat
menekankan pembentukan dan pemeliharaan lembaga keluarga. Islam menganggap
keluarga sebagai fondasi masyarakat. Rasulullah Muhammad saaw dalam salah
satu hadis beliau bersabda, “Dalam Islam, tidak ada lembaga yang lebih baik
daripada lembaga perkawinan.” Kitab suci Al Quran menyebutkan keluarga
sebagai tanda kekuasaan dan rahmat Ilahi serta institusi yang menyediakan
ketenteraman untuk perempuan dan lelaki. Dalam Surat Ar-Ruum ayat 21, Allah
swt berfirman sbb, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir.”
Rasulullah saaw bersabda, “Barang siapa yang menikah, sesungguhnya dia telah
memelihara sebagian dari agamanya.” Islam sangat memuji orang yang
menyediakan peluang dan kemudahan kepada orang yang akan membentuk keluarga.
Imam Shadiq a.s. pernah berkata, “Siapa yang menikahkan anak lelaki atau
anak perempuannya, Allah akan memberikan rahmat kepadanya pada hari kiamat.”
Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat memuliakan ikatan suami-isteri.
Islam juga mengajarkan agar suami dan istri sama-sama berusaha menjaga kasih
sayang dan kerukunan di antara mereka. Suami yang baik dalam pandangan Islam
adalah suami yang bertanggung jawab, penuh kasih sayang, dan memuliakan
istrinya. Sebaliknya, istri yang baik dalam pandangan Islam adalah istri
yang selalu menjaga kehormatannya, serta memuliakan dan mematuhi suami.
Islam juga mengajarkan agar isteri dan suami saling berhias demi menjaga
kasih sayang di antara mereka, serta masih banyak lagi ajaran akhlak lain
dalam Islam yang berkaitan dengan perkawinan dan rumah tangga.
Selanjutnya, ketika pasangan suami-istri telah dianugerahi anak oleh Allah
swt, Islam mengajarkan bahwa anak adalah amanah dari Allah yang harus dijaga
sebaik-baiknya. Anak harus diberi kasih sayang dan pendidikan yang benar.
Dengan demikian, suami-istri harus berusaha semaksimal mungkin menciptakan
lingkungan yang tenteram bagi anak-anaknya. Dengan mematuhi ajaran Islam
ini, kehancuran perkawinan akan terhindarkan dan krisis keluarga,
sebagaimana yang terjadi di Barat dewasa ini, tidak akan terjadi.
KE INDEX |