|
Meninjau Kondisi
Anak-Anak Sedunia di Tahun 2003
Dunia anak-anak adalah
dunia kegembiraan, kepolosan, dan kebahagiaan serta dipenuhi dengan harapan
dan impian yang manis. Namun, bila meninjau dari standar kehidupan
internasional, saat ini sebagian besar anak-anak dunia merupakan makhluk
yang terluka dan terzalimi. Kehidupan masa kecil yang seharusnya penuh
keindahan, mereka lalui dengan kepahitan. Di usia dini, mereka sudah harus
menjalani kehidupan dengan cara pikir dan cara pandang orang dewasa. Karena
tidak mengenal cara untuk mempertahankan dirinya, anak-anak menjadi sasaran
pertama dari kekejaman, perang, ketidakadilan, kemiskinan, penyakit, dan
berbagai masalah lain yang melanda dunia.
Bagaimanakah kondisi
anak-anak di tahun 2003 ini, yang merupakan abad teknologi dan komputer?
Apakah kemajuan teknologi yang dicapai umat manusia seiring dengan kemajuan
dalam kehidupan anak-anak? Bila kita lihat dengan seksama, meskipun berbagai
konvensi dunia berkaitan hak anak-anak telah disusun, yang bertujuan untuk
menyamakan hak anak-anak sedunia, tidak peduli apapun gender, agama, ras,
bahasa, dan bangsanya, namun hak-hak mereka masih saja dilanggar. Setiap
tahun hari Anak Sedunia dirayakan, namun masih sangat banyak anak-anak yang
tidak menerima hak asasi mereka sebagaimana yang tertera dalam dokumen hak
anak-anak PBB.
Realitas menunjukkan bahwa
hanya sebagian kecil saja dari anak-anak dunia yang menikmati masa kecil
dengan kebahagiaan. Kepahitan kemiskinan, ratapan perang, airmata anak yatim,
kesakitan akibat tindak kekerasan, diskriminasi ras dan gender, serta buta
huruf, semuanya adalah beban yang masih saja dipikul oleh sebagian besar
anak-anak dunia.
Kita lihat anak-anak
Palestina merasakan mesiu lebih banyak dari susu ibu mereka. Betapa banyak
anak-anak yang harus bergabung dalam antrian yayasan-yayasan sosial untuk
meminta makanan dan sedekah demi memenuhi perut lapar mereka. Anak-anak Irak
kini banyak yang terserang kanker darah akibat senjata kimia yang digunakan
dalam perang. Sebagian dari mereka menjadi cacat akibat terkena ranjau darat
sisa-sisa perang. Anak-anak Libanon banyak yang kehilangan ayah yang gugur
dalam perang. Anak-anak Afghanistan kehilangan tempat tinggal yang hancur
akibat serangan pasukan asing.
Kita harus bertanya, apakah
dosa ribuan anak-anak yang terlibat dalam kancah perang itu? Apakah
perbedaan antara anak-anak ini dengan anak-anak lain di negara maju sehingga
mereka terpaksa menyaksikan kematian orang-orang yang mereka sayangi? Mereka
hadir dan menjadi korban di medan perang, sementara para psikolog di
negara-negara barat mengingatkan bahwa anak-anak mereka tidak boleh menonton
siaran televisi yang memperlihatkan medan perang Irak akibat invasi AS.
Menurut psikolog Barat itu, dunia perang bukanlah dunia yang harus
dipertontonkan kepada anak-anak. Mereka agaknya lupa pada nasib anak-anak
yang hidup di tengah perang itu, yang bukan sekedar menonton di televisi.
Berlandaskan kepada laporan
organisasi kesehatan sedunia WHO, setiap tahunnya 10 juta anak-anak di
seluruh dunia meninggal dunia sebelum mencapai usia lima tahun dan lebih
dari 150 juta orang menderita kurang bahan pangan.
Li Jong Wuk, sekjen WHO
dalam laporannya menyebutkan, ”Tujuh juta anak-anak di bawah usia lima tahun
meninggal dunia karena mengidap lima penyakit yang bisa dicegah dan diobati
yaitu TBC, diare, malaria, batuk berdarah, dan kekurangan pangan. Malaria
merupakan pembunuh nomor satu di Afrika yang menyeret setiap harinya
kira-kira tiga ribu orang anak di bawah usia lima tahun ke lubang kubur.
Meskipun harga vaksinasi anti malaria kurang dari 20 euro, tapi banyak
sekali rakyat dunia yang tidak mampu membelinya.
Menurut laporan WHO, virus
Aids selain dari menjadi faktor utama yang menyebabkan anak-anak kehilangan
orangtua, juga telah menyebabkan kematian 4,5 juta anak di dunia dan satu
setengah juta anak lainnya tengah mengidap penyakit tersebut. Di
negara-negara miskin, anak-anak lahir dengan harapan hidup yang singkat.
Rata-rata harapan hidup rakyat negara miskin ialah 38 tahun, sebaliknya, di
24 negara kaya, rata-rata harapan hidupnya ialah 70 tahun.
Sekitar 100 sampai 140 juta
anak di dunia kekurangan vitamin A yang bisa menyebabkan kebutaan dan 20
juta yang lain mengalami kemunduran mental akibat kekurangan yudiom.
Sayangnya angka yang mencemaskan ini tidak terbatas sampai di situ saja. Di
sepanjang perang yang terjadi selama 10 tahun terakhir di dunia, dua juta
anak-anak kehilangan nyawa mereka dan 6 juta lainnya cedera. Selain itu, 123
juta anak dalam usia sekolah tidak pernah mendapat kesempatan untuk
bersekolah. Menurut data, sekitar 56 persen anak-anak perempuan si seluruh
dunia tidak bersekolah. Lebih dari 35 juta anak yang menjadi pengungsi di
dunia. Angka ini bisa meningkat jika dihitung bersama anak-anak yang
terperangkap ke dalam jaringan mafia penjualan anak atau anggota badan
mereka diambil untuk dijual.
Realitas menunjukkan bahwa
sebagian besar negara yang menandatangani konvensi hak anak-anak tidak
melaksanakan poin-poin yang terkandung di dalam konvensi itu. Adalah jelas
bahwa penandatanganan konvensi saja tidaklah mencukupi. Pelaksanaan isi
konvensi itu, jauh lebih penting. Tanggung jawab untuk mengurus nasib
anak-anak bukan terletak pada organisasi atau lembaga khusus hak anak-anak
saja, melainkan tanggung jawab semua negara dan masyarakat masing-masing.
Anak-anak merupakan sumber bernilai bagi setiap masyarakat dan investasi
bagi mencapai kemajuan sebuah bangsa.
KE INDEX |