|
Fenomena Single Parents di Barat
Kendati masyarakat
Barat di abad ke-21 saat ini tengah berada di puncak kemajuan industri,
namun ia masih saja tak luput dari pelbagai jeratan krisis dan
persoalan. Kini, Institusi keluarga di masyarakat Barat tengah mengalami
proses perapuhan. Sejak dua generasi belakangan ini, model perkawainan
masyarakat Barat tengah mengalami perubahan mendasar yang amat dahsyat.
Hingga urgensi persoalan menjaga bangunan keluarga telah menjadi isu
utama gerakan moral di Barat. Beberapa faktor seperti kian meningkatnya
angka perceraian, gaya hidup bersama tanpa ikatan nikah, makin
bertambahnya jumlah anak-anak yang lahir di luar nikah, dan kian
bebasnya hubungan seksual, telah menambah pelbagai ragam dan model
single parents di Barat.
Meskipun keluarga merupakan unit terkecil struktur masyarakat namun ia
adalah institusi sosial yang paling penting. Beberapa abad sebelum
bermulanya revolusi industri, keluarga merupakan institusi sosial dan
ekonomi yang mandiri, dan biasanya terbentuk dari beberapa generasi.
Dalam kelompok sosial ini, kakek dan nenek senantiasa berusaha
memperjuangkan nasib keluarga bersama cucu-cucunya. Pada awal abad
ke-19, posisi lelaki memegang peran sebagai pemberi nafkah keluarga.
Mereka bekerja di luar rumah, sementara perempuan bertangung jawab
mengurusi persoalan rumah tangga. Namun, perlahan-lahan di sepanjang
abad ke-19, tradisi keluarga di Barat mulai berubah.
Pada abad ke-20, khususnya pada dekade 60-an dan 70-an, terjadi
perubahan fundamental dalam struktur keluarga di Barat, khususnya di AS.
Gerakan pembebasan perempuan, telah mendorong kaum hawa untuk bekerja di
luar rumah. Jika sebelumnya keluarga merupakan tempat bagi para orang
tua mendidik anak-anak mereka, maka saat ini tempat-tempat penitipan
anak telah menggantikan posisi ayah dan ibu. David H. Olson, profesor
ilmu sosial di universitas Minnesota dan seorang pakar di bidang
keluarga, dalam hal ini menuturkan, “Menurut saya, pertumubuhan angka
perceraian tertinggi terjadi pada masa-masa pasca Perang Dunia II. Dalam
kondisi pasca perang kala itu, banyak perempuan yang berminat untuk
bekerja. Perlahan-lahan hubungan suami-istri pun menjadi kian renggang
dan rapuh. Di saat itulah, banyak perempuan yang mengajukan perceraian
hanya karena berharap untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik”.
Di
samping itu, munculnya gerakan yang di awali dengan penentangan terhadap
budaya dan tradisi tersebut, menciptakan model baru hubungan seksual.
Hasilnya, banyak terdapat pasangan yang hidup bersama tanpa adanya
ikatan nikah. Meningkatnya angka perceraian juga semakin membantu
mengembangkan model keluarga baru semacam itu. Seorang pakar sosiologi
dan pengamat sosial, Morgan William Sean menulis, “Bersamaan dengan
semakin banyaknya tenaga kerja wanita, angka kehamilan di AS menjadi
melorot tajam, dan angka perceraian pun semakin meningkat tinggi”.
Menanggapi angka perceraian yang semakin meningkat itu, William Sean
menyatakan, “Pada dekade 70-an dan 80-an, angka perceraian di AS
meningkat dua kali lipat, menurut data yang ada, selama setahun telah
terjadi lebih dari satu juta kasus perceraian.” Berdasarkan salah satu
penelitian, AS merupakan negara dengan angka perceraian paling tinggi.
Pada tahun 1997, telah terjadi 1,2 juta kasus perceraian di negeri itu
yang meningkat dua kali lipat dibanding dengan tahun 1960.
Semenjak dulu, keluarga dibangun oleh lelaki dan perempuan. Melalui
ikatan pernikahan mereka pun memperoleh anak-anak dan hidup secara
bersama-sama. Dengan munculnya revolusi industri, kendati model keluarga
tradisional yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, masih bertahan, namun
kemudian memunculkan pula beberapa model keluarga baru yang hanya
bernamakan keluarga. Beberapa model keluarga baru seperti single
parents, dan keluarga pasangan homoseks semakin berkembang meluas.
Model keluarga single parents, semakin marak di Barat sejak
dasawarsa 60-an. Dalam model keluarga semacam ini, anak-anak hanya hidup
bersama dengan salah satu orang tua mereka, dan dalam banyak kasus,
mereka hidup dengan ibu mereka saja. Alvin Toffler dalam bukunya yang
berjudul The Third wave menyebut model baru keluarga ini sebagai
simbol masyarakat industri baru yang dibangun berdasarkan garis
matrilinear.
Sosiolog Perancis, Andre Michel mengklasifikasi keluarga AS dalam tiga
model. Salah satunya adalah model keluarga yang hanya terdiri dari ibu
dan anak. Sejumlah data statistik di Eropa menunjukkan bahwa lebih dari
50 persen penduduk negara-negara Eropa pada dekade terakhir abad ke-20
hidup dalam keluarga single parents. Selain itu, Lembaga
Statistik AS juga melaporkan, jumlah keluarga single parents di AS pada
tahun 2000 mencapai lebih dari 12 juta keluarga. Sementara itu, jumlah
janda di AS antara tahun 1970 hingga 2000 mengalami peningkatan serius
dari 3 juta menjadi 10 juta janda.
Berdasarkan telaah UNESCO, para peneliti sosial menilai, faktor utama
muncul dan berkembangnya fenomena single parents disebabkan oleh
beberapa faktor seperti, berkurangnya pernikahan resmi, maraknya gaya
hidup bersama tanpa tali nikah, individualisme radikal, sikap lari dari
tanggung jawab, dan meningkatnya kasus perceraian di negara-negara Barat.
Di samping itu, sebagian besar keluarga single parents yang hanya
terdiri dari ibu dan anak itu ternyata merupakan hasil dari hubungan di
luar nikah. Majalah newsweek dalam laporannya menuliskan, 57
persen dari anak-anak haram kulit putih yang hidup bersama Ibu mereka
merupakan penyumbang terbesar jumlah keluarga single parents di AS.
Di
lain pihak, dalam masyarakat Barat saat ini, terdapat banyak remaja
perempuan yang hamil di luar nikah sehingga mereka pun terpaksa hidup
dalam model keluarga single parents. Majalah Reader’s Digest
dalam sebuah laporannya pada bulan September 1996 menyebutkan, setiap
tahunnya sekitar 350 ribu remaja muda perempuan AS yang berusia antara
15-19 hamil di luar nikah dan terpaksa melahirkan anak-anak mereka.
Dalam sebuah wawancara dengan salah satu remaja perempuan tersebut,
Readers Digest mengutipnya demikian: “Andai saja aku bisa kembali ke
masa lalu, andai aku bisa hidup bersama kedua orang tuaku, andai sebelum
aku terjerumus dalam hubungan haram masa itu, aku sedikit berpikir untuk
masa depanku sehingga aku bisa lepas dari jalan buntu semacam ini”.
Menurut para psikolog sosial dan sosiolog, maraknya hubungan seksual
yang semakin bebas merupakan faktor utama penyebab berkembangnya model
keluarga single parents di masyarakat Barat saat ini. dengan kata lain,
hubungan bebas dan tanpa aturan antara lelaki dan perempuan, akhirnya
akan berujung pada hubungan seks di luar nikah. Sebagai misal, kita bisa
merujuk pada teori Karen Horney, seorang psikolog AS. Menurutnya, dalam
sebuah masyarakat di mana hubungan seks berjalan secara bebas, sebagian
besar kebutuhan psikologinya tidak dilampiaskan lewat jalur yang benar,
yang akhirnya berujung pada munculnya gairah seksual. Sementara itu,
Raeder’s Digest menuliskan, “Kesedihan dan penyesalan, pengungsian,
kriminalitas dan kejatahan, runtuhnya keluarga dan ketidakmampuan dalam
melihat masa depan, merupakan hasil pasti hubungan seks bebas dalam
masyarakat AS”.
Dengan demikian, berkembangnya keluarga single parents di Barat
merupakan hasil dari krisis moral di sana. Karena itu, sejumlah sosiolog
dan psikolog Barat tengah berupaya keras mencari solusi yang tepat untuk
menekan seminimal mungkin dampak negatif dari model keluarga semacam itu
dan mencegah hancurnya institusi keluarga di Barat. Salah satu peniliti
sosial di negara bagian Illinois AS, Adam Borrows menyatakan, “Kita
harus mewujudkan model keluarga yang tradisional dan mapan, yang mampu
bertahan selama masa hidup anak-anak mereka”. Menurutnya, tanggung jawab
terhadap anak tidak boleh hanya diemban oleh salah satu orang tua saja,
dan untuk menangani dampak negatif dari model keluarga single parent,
maka harus ada pelarangan lahirnya seorang anak di luar sturuktur
keluarga tradisional.
|