|
Propinsi Busyehr dengan luas area
25.650 kilometer persegi berada di barat daya Iran. Propinsi ini berbatasan
dengan propinsi Khuzistan dan sebagian propinsi Kahkiluyeh wa Buir Ahmad di
utara, propinsi Fars di timur, sebagian propinsi Hurmuzqan dan teluk Persia
di selatan dan teluk Persia di barat.
Propinsi Busyehr meliputi kota
Busyehr, Tanqistan, Dasytistan, Dasyti, Dayyer, Dailam, Gunqan, dan Gunaweh.
Kota Busyehr sebagai ibukota propinsi seluas 985 kilometer persegi berada di
ketinggian satu sampai lima meter dari dasar laut.
Propinsi Busyehr, terbagi atas
dataran rendah dan pegunungan. Dataran rendah propinsi ini, berada di
sepanjang pesisir teluk Persia dan melebar dari barat daya (Kawasan Bandar
Dailam) hingga bagian tenggara propinsi, paling tidak 140 kilometer.
Dataran rendah ini meliputi daerah-daerah subur seperti sungai Dalki, sungai
Syapur, dan sungai Mand, juga gurun sahara Busyehr dan Barazjan yang
meliputi kawasan yang luas dari propinsi. Sebagian besar kota dan pusat
permukiman penduduk berada di dataran rendah.
Kawasan pegunungan propinsi, terdiri
dari dua pegunungan yang berada di sepanjang propinsi ini. Dua pegunungan
ini dikenal dengan nama dataran tinggi Gactursy di Utara dan Noukand di
Timur.
Ke Atas
Suhu
Dilihat dari letak geografisnya,
propinsi Busyehr adalah salah satu propinsi di Iran yang bersuhu udara panas.
Secara umum, air dan suhu udara Busyehr di pesisir pantai panas dan lembab,
sedangkan di selain itu, panas dan kering yang dipengaruhi oleh kondisi
gurun sahara. Hanya ada dua musim yang bisa dirasakan di sini, yaitu, musim
dingin yang relatif sejuk, dan musim panas yang panas, kering dan
berkepanjangan. Sedangkan dua musim lainnya, yaitu, musim semi dan musim
gugur hanya bisa dirasakan sebentar dan selanjutnya berganti dengan musim
dingin atau panas. Curah hujan di propinsi Busyehr berada di tingkat
terendah.
Angin yang berhembus di Busyehr,
sebenarnya adalah sebagian dari angin topan yang bertiup dari teluk Persia
akibat dari perbedaan tekanan udara antara gurun Saudi Arabia dan dartan
tinggi selatan Iran. Angin-angin ini menerpa kurang lebih seluruh pesisir
teluk Persia dan memiliki nama yang berbeda-beda. Nama-nama angin ini dibuat
berdasarkan waktu berhembusnya atau bayangan yang ada di benak para nelayan
juga berdasarkan akibat-akibat buruk yang ditimbulkannya.
Ke Atas
Penghasilan
Sumber penghasilan propinsi ini
bersandarkan pada bidang pertanian, ternak, dan industri. Hasil yang
didapatkan dari pertanian adalah gandum, bawang merah, tembakau, sayur mayur
dan lainnya. Perkebunan propinsi ini umumnya hanya berbentuk perkebunan
korma.
Salah satu sumber penghasilan di
Busyehr adalah nelayan. Di seluruh pantai Busyehr, terlihat banyak orang
yang sibuk mengail atau menjala ikan dan udang.
Industri yang dihasilkan di propinsi
Busyehr terdiri dari kerajinan tangan dan hasil industri mesin. Sejak dahulu
kala, kerajinan tangan merupakan sumber penghasilan yang bisa diandalkan
oleh orang-orang pedesaan di propinsi ini. Kerajinan tangan propinsi ini
tidak mampu menembus pasar niaga dan hanya bisa dimanfaatkan oleh penduduk
setempat saja. Di antara hasil kerajinan tangan di sini adalah, perahu
tradisional, kapal penagkap ikan, tenunan permadani, dan barang-barang yang
terbuat dari tanah liat. Sedangkan indusri modern yang dihasilkan dari
propinsi Busyehr di antaranya adalah, industri perkapalan, pusat pembangkit
tenaga atom, makanan kemasan, obat-obatan dan pembuatan mobil.
Setelah mengenal propinsi Busyehr
baik letak geografisnya, panorama alaminya dan keadaan ekonominya ada
baiknya kita di akhir acara ini kita melihat kawasan yang lindungi dan
tempat-tempat berburu di propinsi ini.
Sedikitnya kawasan subur dan teduh,
juga suhu yang panas dan kering menjadikan daerah ini hanya dapat dihuni
oleh binatang-binatang yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan alami ini.
Di sekitar gurun-gurun sahara, kaki gunung, dataran tinggi, mata air, selat
dan padang-padang rumput, binatang buas seperti bison, kambing liar dan
semisalnya akan dapat dengan mudah kita temukan. Jumlah seluruh binatang
buas tesebut diperkirakan mencapai 5.000 sampai 6.000 ekor.
Ke Atas
Margasatwa
Selain itu, perairan teluk Persia
dan pulau-pulau sekitarnya, merupakan tempat bagi binatang laut yang sangat
besar jumlahnya. Sebagian dari binatang laut ini memang berasal dari daerah
ini dan sebagian lagi merupakan ikan-ikan musiman yang hanya lewat dalam
beberapa waktu sekali, di antaranya udang, lumba-lumba, kura-kura, kepiting,
dan lainnya.
Di samping binatang darat dan laut,
propinsi Busyehr, khususnya kawasan peisisir pantai, juga merupakan tempat
yang nyaman bagi kehidupan berbagai jenis unggas dan burung. Banyak pula
kawanan burung musiman dari negeri India dan benua Afrika yang datang ke
daerah ini di saat musim dingin tiba sekedar untuk mencari ikan dan tinggal
untuk sementara waktu di pesisir pantai Busyehr atau di pulau-pulau
sekitarnya untuk selanjutnya kembali lagi ke tempat asal.
Di propinsi Busyehr, terdapat empat
kawasan yang dilindungi yang akan menjadi topik pembicaraan nanti.
Ke Atas
Histori
Bukti sejarah yang ada menyebutkan
bahwa kawasan Busyehr sejak tiga ribu tahun sebelum Masehi merupakan kota
pelabuhan yang ramai dan salah satu daerah yang terpenting pemerintahan
Ailam. Hal itu disebabkan oleh letak geografisnya yang sangat strategis.
Ketika dinasty Hakhamanisy berkuasa dan Iran dibagi menjadi dua puluh
propinsi, Busyehr menjadi salah satu propinsi yang berada di tepi Barat
Zagris dan Pars. Pada zaman pemerintahan Urde Syir Babekan, dibangunlah
sebuah kota yang berjarak delapan kilometer dari kota Busyehr sekarang dan
diberi nama "Ram Syahr". Kota ini telah lenyap ditelan masa dan hanya
puing-puingnya saja yang masih tersisa dan dikenal dengan nama Rey Syahr.
Pada zaman kekuasaan dinasty Rey Syahr dikenal dengan nama Riyu Syahr dan
merupakan salah satu pelabuhan terpenting dan banyak mendatangkan keuntungan
bagi negara. Setelah Islam masuk ke negeri Persia, Rey Syahr selama beberapa
abad masih dapat mempertahankan kemakmurannya. Menurut dokumen-dokumen yang
ada di Portugal, antara abad 16 dan 17 Masehi, Rey Syahr merupakan salah
satu pusat perniagaan yang besar. Kota dan kawasan kuno ini pada tahun 1931
Masehi diumumkan sebagai kawasan bersejarah bangsa Iran.
Perlu diketahui bahwa teluk Persia
yang terkenal strategis sejak dahulu kala menjadi pusat pertukaran ilmu,
kekayaan dan menjadi incaran kekuatan-kekuatan besar dunia. Penyerbuan
Portugal ke kawasan teluk Persia pada tahun 1506 Masehi adalah penyerbuan
bangsa Eropa pertama ke kawasan ini, dan dilakukan demi menjaga kepentingan
Portugal dari segala kemungkinan yang disebabkan oleh para saudagar dari
Mesir. Pada tahun 1031 Hijriyyah, Syah Abbas berhasil mengusir Portugal
dari kawasan teluk.
Demi memperkuat armada lautnya untuk
dapat mengontrol keamanan negeri dan hubungan antar pulau dan pesisir teluk
Persia, pada tahun 1147 Hijriyyah atau 1735 Masehi, Nadir Syah Afsyar
menunjuk Abdullatif Khan Dasytistani untuk menjadi gubernur yang berkuasa
penuh atas seluruh daerah pesisir dan pelabuhan teluk Persia. Abdullatif
Khan memilih kota Busyehr yang kala itu hanya merupakan sebuah kota biasa di
pesisir teluk Persia untuk dijadikannya sebagai pusat pemerintahan. Sejak
saat itulah, Busyehr resmi menjadi kota pelabuhan penting di kawasan teluk.
Pada masa pemerintahan Karim Khan
Zanad, imperium besar Baritani memperluas pengaruhnya di kawasan teluk
Persia, khususnya di Busyehr. Inggris berhasil mendapatkan hak istimewa
untuk mendirikan pusat perdagangan di Busyehr. Dinasty Qajar yang berkuasa
di Iran setelah dinasty Zanad, tidak banyak berkuasa di teluk Persia.
Karena itu, posisi kerajaan Inggris di kawasan tersebut kian hari semakin
bertambah kuat. Dari tahun 1227 Hijriyyah atau 1812 Masehi, konsulat
jenderal Inggris resmi memerintah di kawasan teluk. Utusan kerajaan Inggris
tersebut bertindak semena-mena terhadap harta dan jiwa penduduk pribumi
teluk Persia.
Ketika Nasiruddin Syah berkuasa,
pada tahun 1273 Hijriyyah atau 1857 Masehi, dengan alasan bahwa
kepentingannya di kawasan Harat dan Afghanistan terancam oleh kekuasaan
Iran, kerajaan Inggris mengirimkan bala tentaranya dan menyerang Iran bagian
selatan dan berhasil menguasai pulau Khorak dan selanjutnya menduduki
Busyehr. Rakyat Tanqistan, Dasytistan, dan Busyehr dengan keberanian yang
luar biasa bertahan hingga titik darah penghabisan demi mempertahankan tanah
air mereka dari invasi bangsa Eropa ini.
Perlu untuk dicatat, bahwa sebelum
pecahnya perang dunia pertama, Inggris kembali menyerbu kota Busyehr. Dan
pada tahun 1913 Masehi, berkecamuklah perang yang sengit antara pasukan
Inggris dan rakyat setempat. Rais Ali Dilwari, bersama rakyat Tanqistan dan
Dasytistan memainkan peran yang besar dalam perang ini. Perjuangan yang
dilakukan mereka untuk mengusir para penjajah dari bumi Iran tertulis dengan
tinta emas.
Kota Busyehr termasuk kota kuno di
negeri Iran. Sebagian bangunan kuno di kota ini dibangun pada masa dinasty
Sasan. Ditemukannya uang logam zaman Sasan di makam suci salah seorang
keturunan Nabi di kota ini menguatkan klaim di atas. Bukti lainnya adalah
penemuan-penemuan hasil penggalian yang dilakukan oleh para ahli arkeologi
di puing-puing reruntuhan benteng Rey Syahr yang berada di dekat kota
Busyehr.
Seperti banyak kota lainnya di Iran,
Busyehr telah melewati banyak masa dan menyaksikan banyak peristiwa sejarah
yang terjadi di sana. Pada zaman Karim Khan Zanad, kota ini menjadi kota
pelabuhan yang penting dan strategis hingga menjadi saingan berat bagi
pelabuhan kota Bashrah di Irak. Di masa keemasannya, pelabuhan Busyehr
merupakan pusat perniagaan terbesar di teluk Persia. Para saudagar Busyehr
berhasil menguasai sebagian besar perdagangan di teluk Persia dan samudera
Hindia.
Busyehr termasuk salah satu kota
yang telah mengenal mesin cetak dari batu sebelum kota-kota lainnya. Selain
itu, kota ini juga telah mendahului kota-kota lainnya dalam kemajuan
industri seperti pembuatan es balok dan listrik. Berkat letak geografisnya
yang strategis dilihat dari sisi politik maupun ekonomi, kota Busyehr
menjamu banyak perwakilan serikat-serikat dagang luar negeri dan kantor
konsulat dari banyak negera sahabat.
Kini kota Busyehr telah mengalami
banyak kemajuan dan menjadi salah satu kota penting di pesisir pantai Iran
dengan penghasilan laut dan industri suku cadang yang dihasilkannya. Kota
Busyehr banyak menyimpan peninggalan bersejarah diantaranya puing-puing kota
kuno Rey Syahr, Imarat-e Mulk, Masjid Syekh Sa'dun, Rumah hakim dan
tempat-tempat berziarah yang bernilai historis.
Ke Atas
Bandar Genaveh
Bandar Genaveh adalah salah satu
kota di propinsi Busyehr. Kota dengan luas 11,6 kilo meter persegi ini
terletak di barat laut propinsi Busyehr dan berada di pesisir teluk Persia.
Dalam buku-buku sejarah dan geografi kuno, kota ini disebut dengan banyak
nama yang berbeda.
Bandar Genaveh di masa silam
merupakan kota pelabuhan yang ramai dan makmur yang terkenal sebagai pusat
perniagaan. Kota Bandar Genaveh sekarang berada tak jauh dari reruntuhan
bekas kota Genaveh kuno yang kini berubah menjadi batu-batu dan
tembok-tembok kuno yang tertimbun tanah.
Menarik untuk disimak, bahwa pantai
Genaveh yang dipenuhi oleh pasir ini sangat menarik minat banyak turis
domestik maupun manca negara, khususnya di saat musim dingin, sebab pada
waktu itu, suhu udara Genaveh relatif netral. Adanya banyak tempat ziarah
di desa-desa sekitarnya, membuat nilai historis kota ini layak untuk
diperhitungkan. Salah satu tempat ziarah tersebut adalah makam suci
Sulaiman bin Ali, salah seorang keturunan Nabi yang berada di tepi jalan
raya yang menghubungkan kota Genaveh dengan Dailam. Makam ini berada di
banguan yang memanjang dengan kubah, makam asli dan ruang-ruang ibadahnya
berada di bagian timur bangunan. Kubah makam yang menutupi atap kuburan suci
ini berbentuk kerucut dengan dua belas buah sisi. Gaya bangunan kubah ini
terkesan sebagai gaya kuno bangunan adat kawasan pesisir teluk Persia dan
sangat mirip dengan bentuk kubah makam Nabi Danial yang berada di kota Syusy.
Kubah yang besar dan megah ini dibangun di atas pondasi yang kokoh dengan
anak-anak tangga yang menghubungkannya dengan bagian atas dan dihiasi dengan
lapisan porselen dengan tiga warna, biru, kuning dan putih yang sangat
kontras. Kemegahan kubah makam Sulaiman bin Ali ini terlihat jelas di ufuk
kota Bandar Genaveh dan merupakan panorama khusus kota ini.
Ke Atas
Bandar Dailam
Bandar Dailam adalah kota pelabuhan
dengan luas 2,5 kilometer persegi dan berada 217 kilometer di barat daya
pelabuhan Busyehr. Di sebelah utara kota tersebut sepanjang 18 kilometer
terdapat dataran tinggi yang memanjang dari arah barat ke timur. Dailam yang
berada 8 meter di atas permukaan air laut memiliki suhu udara yang relatif
panas dan lembab.
Bukti-bukti sejarah yang ada
menyebutkan bahwa pelabuhan kuno Mehruban yang terkenal berada 24 kilometer
di utara Bandar Dailam. Kini hanya sisa-sisa peninggalan berbentuk
puing-puing sajalah yang masih tersisa dari pelabuhan tersebut dan kini
dikenal dengan nama Tall-e Emam Zadeh. Setelah kehancuran pelabuhan Mehruban
di zaman kekuasaan Mongol atau sebelumnya, pelabuhan Dailam bertambah jaya
dan berkembang pesat. Pada abad kedelapan belas Masehi Dailam menjadi
pelabuhan pusat bagi perniagaan orang-orang Belanda. Kapas, sutera, minyak
sayur, dan rempah-rempah adalah barang-barang yang dikirim dari sini ke
seluruh penjuru dunia. Sedangkan gula, teh, kain, kurma dan barang-barang
lainnya masuk ke Iran dari pelabuhan ini. Pada saat itu, pelabuhan Dailam
berada di penghujung jalan kuno yang dikenal dengan jalan Isfahan - Mehruban
yang merupakan jalan terbaik dan terdekat yang menghunbungkan kota Dailam
dengan pusat negeri Iran.
Pelabuhan Mehruban pernah dikunjungi
oleh banyak sejarawan dan pengelana dunia terkenal seperti, Yaqut Himawi
penulis kitab Mu'jamul Buldan, Abu Ishaq Ibrahim Istakhri penulis kitab Al-masalik
wal Mamalik yang ditulis pada tahun 340 Hijriyyah, Ibnu hauqal enulis kitab
Shuratul Ardh, Nasir Khusru Qabadiyani dan penulis georgafi terkenal lainnya.
Bandar Dailam juga tidak asing bagi para pengelana. Huse dan Baban, dua
ilmuwan ahli purbakala berkebangsaan Perancis yang pernah mengunjungi Iran
pada tahun 1885 Masehi atau 1302 Hijriyyah dalam catatan pengembaraan mereka
ke Selatan Iran menulis tentang BandarDailam sebagai berikut.
"Bandar Dailam adalah
sebuah kota kecil yang memiliki benteng dan sekitarnya ditumbuhi oleh
pohon-pohon korma yang tidak begitu banyak. Di kota ini kami tinggal di
rumah seorang penguasa… Pelabuhan dailam termasuk salah satu pelabuhan yang
indah di pesisir teluk Persia. Pelabuhan ini merupakan pusat perniagaan
orang-orang India, Iran dan Turki Utsmani. Di pelabuhan ini kita dapat
menyaksikan banyak sekali kapal yang sedang berlabuh yang berasal dari
berbagai negeri…"
Benteng yang dimaksudkan oleh
ilmuwan Perancis itu hingga kini masih terjaga dan menjadi tempat tinggal.
Selain benteng tersebut, Bandar Dailam juga memiliki beberapa buah menara
pengawas yang menurut para ahli hingga tujuh tahun yang lalu masih berdiri
tegak dan sayangnya kini hanya puing-puingnya saja yang dapat kita saksikan.
Selain itu, di desa-desa sekitar Bandar Dailam terdapat beberapa tempat
untuk berziarah.
Menarik untuk disimak, bahwa untuk
sampai ke pelabuhan Bandar Dailam harus melalui terusan alami dengan lebar
1,5 kilometer.
Proyek pembangunan pelabuhan Bandar
Dailam sangat berpengaruh terhadap meningkatnya jumlah aktifitas peti kemas
pelabuhan dan kemampuan menampung banyak kapal yang berlabuh di dalamnya.
Pembanguan ini merubah wajah kota Bandar Dailam dan menjadi salah satu hal
yang menguatkan sisi transportasi dan ekonomi pelabuhan kecil ini.
Kota Dasytestan dengan luas wilayah
6.150 kilometer persegi termasuk saalah satu kota penting di propinsi
Busyehr. Kota ini termasuk kota propinsi terbesar dengan penduduk terbanyak
dengan pusat kota yang dikenal dengan nama Barazjan.
Perlu dicatat bahwa pertanian
propinsi Busyehr berpusat di kota Dasytestan dan hasil bumi terpenting
Busyehr dihasilkan dari kota ini. Pertanian dan perkebunan korma merupakan
dua hal utama cocok tanam di sini. Korma dan tembakau adalah hasil bumi
terpenting Dasytestan yang dikirim ke seluruh negeri.
Perlu diketahui bahwa propinsi
Busyehr banyak memiliki bangunan bersejarah yang menunjukkan betapa kawasan
ini mempunyai kedudukan tersendiri di negeri Iran. Di kota Dasytestan dan
sekitar Barazjan khususnya, kita banyak mendapatkan bukit-bukit kuno yang
meninggalkan bekas-bekas kehidupan dan peradaban purbakala yang menunjukkan
bahwa sejak zaman dahulu daerah ini telah dihuni oleh bangsa manusia.
Ke Atas
Bangunan Bersejarah
Salah satu bangunan bersejarah yang
terkenal adalah benteng Barazjan yang terkenal dengan nama Karavansara
Musyir atau tempat singgah kafilah yang terletak di pusat kota. Dilihat dari
keistimewaan yang hanya dimiliki olehnya, bangunan ini terdaftar sebagai
bangunan bersejarah bangsa Iran. Selain itu, di sekitar Barazjan,
tempat-tempat bersejarah yang berhubungan dengan dinasti Mad, Sasan dan
Asykan juga telah ditemukan oleh para ahli. Daerah kuno "Tuz" di sekitar
sunagi Syapur-e Dalki termasuk salah satu daerah bersejarah penting. Pada
zaman dahulu. Tuz adalah sebuah kota perniagaan yang terkenal dengan kain
katunnya. Kota kuno ini kini telah berubah menjadi puing-puing dengan
batu-batuan, tanah dan kapur yang menyelimutinya. Pemandangan tersebut
merupakan bukti bahwa Tuz dahulu adalah kota yang besar dan hidup.
Gua Cihil Khaneh atau empat puluh
rumah adalah satu lagi peninggalan bersejarah di sekitar Barazjan. Gua yang
terletak di dua tepian sungai Syapur ini sebenarnya adalah bukit bebatuan
yang dilobangi dengan ruangan luas di depan kamar-kamarnya dan jalanan yang
menghubungkan setiap kamar dengan yang lain. Banyak bukti yang menunjukkan
bahwa gua ini dibangun pada zaman dinasti Mad dan Sasan. Selain itu masih di
sekitar Barazjan, terdapat dua buah sisa banguan bekas istana besar yang
telah ditemukan oleh oleh para ahli purbakala Iran dan ditaksir sebagai
istana di zaman kekuasaan dinasti Hakhamanesy. Istana-istana ini merupakan
salah satu pusat pemerintahan penting Hakhamanesy di pesisir teluk Persia.
Setelah mengenal kota Dasytestan,
ada baiknya kita lanjutkan perkenalan ini dengan mengajak anda semua untuk
mengunjungi kota-kota lainnya di propinsi Busyehr. Kota pertama yang kita
kunjungi adalah kota Dasyti. Kota yang memiliki luas wilayah 5.347 kilometer
persegi ini terletak di bagian timur propinsi Busyehr dengan pusat kota yang
bernama Khur Mouj. Khur Mouj termasuk salah satu daerah pemukiman kuno di
propinsi ini. Adanya benteng Khur Mouj yang dikenal dengan nama benteng
Muhammad Khan atau benteng Jalal Khan menunjukkan sejarah masa lalu kawasan
ini. Bangunan yang besar dan megah ini terdiri dari empat buah benteng di
empat penjuru dan satu benteng di tengah ditambah dengan bangunan pusat dan
beberapa buah genderang perang. Pada asalnya, benteng ini dibangun dengan
empat atau lima tingkat, namun masa yang telah dilaluinya telah banyak
menghasilkan perubahan dalam dirinya. Perlu dicatat, bahwa Muhammad Khan
Dasyti dan Jalal Khan adalah dua pembesar di zaman Qajar yang terkenal
dengan keuletannya dalam memimpin masyarakat. Pada waktu peperangan antara
Iran dan Inggris berkecamuk di Busyehr, mereka termasuk pahlawan yang dengan
gigih mempertahankan tanah air dan negeri Iran dari ekspansi negera lain.
Di timur
kota Dasytistan, terdapat sebuah kota dengan luas wilayah 2215 kilometer
persegi yang bernama Tanqistan pusat kota yang dikenal dengan nama Ahram.
Penduduk kota ini umumnya bekerja di bidang jasa, pertanian atau nelayan.
Dari zaman Zanadiyyah hingga kini, orang-orang Tanqistan terkenal dengan
keberanian dan kecintaan mereka pada tanah air. Kkeberian dan kegigihan
mereka dalam menghadapi pasukan Inggris saat melakukan penyerangan ke
selatan Iran dan kota Syiraz pada perang dunia pertama, menjadi buah bibir
masyarakat Iran pada umumnya.
Kawasan pedesaan Ahram termasuk
salah satu pedesaan terkenal di propinsi Busyehr yang menarik perhatian
banyak wisatawan karena panorama alamnya yang indah, suasana keagamaan dan
nilai historisnya. Taman-taman yang indah dan mata air yang bermacam-macam
di sekitarnya, termasuk yang hal yang menarik di Ahram. Sisa-sisa
peninggalan dari benteng militer di daerah ini merupakan salah satu bangunan
bersejarah yang mengingatkan kita pada Radmurani, pahlawan yang demi
memperthankan negeri dari ekspansi pasukan asing rela mengorbankan jiwa dan
raganya.
Selain itu, Ahram juga memiliki tiga
tempat bersejarah dengan nilai spritual yang banyak dikunjungi oleh
masyarakat baik dari dalam kota maupun kota-kota lainnya
Kota Kunqan yang berada di tenggara
propinsi Busyehr di pesisir teluk Persia dengan Bandar Kunqan sebagai pusat
kotanya, memiliki luas wilayah 3.083 kilometer persegi. Karena panorama
pantainya yang indah, kota ini termsuk menjadi salah satu kota propinsi
Busyehr yang layak untuk dikunjungi. Selain itu, pusat pertambangan gas alam
Kunqan, membuat kawasan ini sebagai salah satu tulang punggung industri
propinsi Busyehr yang selain mampu memenuhi kebutuhan pedalaman negeri Iran
juga telah menyumbangkan devisa bagi negara dengan ekspornya. Pusat
pertambangan ini juga telah menjadikan pekerjaan umumnya penduduk kota ini
di bidang industri. Namun keberadaan Bandar Kunqan sebagai daerah penghasil
ikan tetap tidak dapat kita lupakan.
Salah satu pemukiman di kota Kunqan
adalah Bandar Thahiri yang di abad keempat Hijriyyah merupakan salah satu
pusat perniagaan terkenal. Kota kuno Siraf berada di sebelah Bandar Thahiri.
Meskipun kini, hanya puing-puing kota ini saja yang bisa saksikan, namun
sejarah mencatat bahwa pada masa kekuasaan dinasti Sasan, Sairaf merupakan
salah satu pelabuhan penting. Bahkan pada abad-abad pertama Islam, kota ini
disebut-sebut sebagai pelabuhan paling penting dan strategis. Di abad
ketiga dan keempat Hijriyyah, yang merupakan masa keemasan perniagaan di
teluk Persia, Sairaf dikenal sebagai pusat perdagangan di kawasan ini. Semua
barang dari luar yang masuk ke negeri Iran melalui laut, diperdagangkan di
sini. Bukti-bukti sejarah menyebutkan bahwa kota Kunqan adalah kota yang
penting dilihat dari sisi militer, perdagangan, dan sejarah. Selain
peninggalan-peninggalan sejarahnya, sumber air panas alami Miyanlu di utara
Kunqan juga merupakan tempat wisata yang menarik.
Ke Atas
KE INDEX |