|
IRAN AKTUALITA |
|
Siaran
Jum'at
31
Agustus 2007 |
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatollah Sayed Ali Khamenei, pekan
lalu dalam pertemuannya secara terpisah dengan para peserta Konferensi
Komunitas Ahlul-Bait Internasional, para pejabat kementerian luar negeri
Iran, Presiden dan para pejabat tinggi Iran, menegaskan kembali pentingnya
persatuan Islam dan melawan hegemoni imperialisme. Ayatollah Khamenei
senantiasa menekankan bahwa persatuan Islam adalah satu-satunya jalan yang
bisa menggagalkan konspirasi adu domba musuh-musuh Islam. Menurut beliau,
faktor utama yang menyebabkan permusuhan kekuatan global terhadap Republik
Islam Iran adalah dikarenakan adanya kontradiksi substansial antara sistem
imperialisme kekuatan global dengan sistem anti-imperialisme Revolusi Islam.
Hampir
tiga dekade, pasca Revolusi Islam, Republik Islam Iran senantiasa teguh dan
tegas menghadapi ancaman imperialisme global. Seraya berpijak pada pemikiran
semacam ini, Iran meyakini pentingnya persatuan dan solidaritas umat Islam
dihadapan kekuatan arogan. Karena itu, Iran pun akhirnya mampu menjadi
teladan nyata yang berhasil bertahan menghadapi ancaman imperialisme.
Kendati Iran senantiasa mendapat tekanan, sanksi dan embargo negara-negara
Barat, namun rakyat negeri ini tetap mampu mencapai puncak-puncak ilmu
pengetahuan dan kemajuan di berbagai bidang, khususnya di bidang teknologi
nuklir yang selama ini hanya menjadi monopoli negara-negara adidaya.
Dalam
pertemuannya dengan Presiden Iran, Dr. Mahmoud Ahmadinejad, dan para pejabat
tinggi pemerintahan Republik Islam menyambut pekan pemerintah, Ayatollah Ali
Khamenei menegaskan, perlawanan terhadap arogansi imperialisme global
merupakan salah satu karakteristik pemerintahan kesembilan Republik Islam
Iran dan karakter anti-penjajah inilah yang membuat bangsa ini menjadi mulia.
Dalam situasi dunia saat ini, ketika kekuatan menjadi satu-satunya logika
yang menguasai hubungan internasional, maka segala bentuk kemunduran dan
kelalaian hanya akan menyebabkan kerugian.
Selain
itu, Ayatollah Khamenei juga berpesan kepada pemerintahan Ahmadinejad, agar
lebih serius memperhatikan persoalan keadilan dan kemajuan kebangkitan iptek.
Beliau juga mengingatkan agar pemerintah bisa memanfaatkan pelbagai
pandangan para ahli dalam mengatur negara dan menyelesaikan permasalahan
yang ada.
Pekan
lalu, Presiden Republik Islam Iran, Dr. Mahmoud Ahmadinejad, dalam lawatan
dua harinya ke Republik Azerbaijan, saling bertukar pandangan dengan
Presiden Azerbaijan, Elhan Aliyev mengenai upaya perluasan kerjasama
bilateral Tehran-Baku dan persoalan regional dan internasional.
Iran
dan Azerbaijan adalah dua negara yang saling bertetanggga dan memiliki akar
budaya, sejarah dan agama yang sama. Begitu juga di bidang politik, kedua
negara ini memiliki pandangan yang begitu dekat dan kepentingan yang searah.
Selain itu, keberadaan laut Kaspia merupakan salah satu modal kerjasama lima
negara di sekitar laut Kaspia, termasuk Iran dan Azerbaijan. Kunjungan ini
diharapkan bisa menjalin kerjasama yang lebih luas antara Tehran dan Baku,
khususnya dalam kerjasama ekonomi di bidang pemanfaatan sember daya alam
laut Kaspia.
Kunjugan Presiden Ahmadinejad ke Baku ini berlangsung ketika selama tiga
dekade terakhir hubungan kedua negara selalu mendapat hambatan dan tekanan
dari luar, namun demikian hubungan kedua negara tetap berada pada jalur yang
tepat. Terjalinnya kerjasama yang luas di bidang industri, perdagangan,
investasi, dan energi, serta ditandatanganinya empat dokumen kerjasama baru
dalam lawatan kali ini, merupakan bukti keseriusan para pemimpin kedua
negara untuk merealisasikan potensi kerjasama yang ada.
Dipandang dari segi politik, kunjungan ini memiliki nilai yang amat penting.
Pasalnya, negara-negara regional saat ini memerlukan solidaritas yang lebih
mantap dan penerapan kebijakan yang searah dalam menghadapi persoalan
perdamaian dan keamanan di kawasan. Karena itu, baik Presiden Ahamdinejad
maupun Presiden Elham Aliyev sepakat untuk menyelesaikan beragam persoalan
dan sengketa di kawasan melalui jalur perundingan.
Menurut
Elham Aliyev, terjalinnya hubungan Tehran-Baku yang makin erat akan bisa
membantu meningkatkan stabilitas dan keamanan di kawasan. Di samping itu,
keberadaan Iran dan Azerbaijan sebagai anggota Organisasi Kerjasama Ekonomi
Asia Tengah (ECO), tentu masih memiliki potensi ekonomi yang perlu
dikembangkan lebih jauh lagi. Terjalinnya hubungan kerjasama yang kian kokoh
di kawasan regional, niscaya akam mampu menciptakan kesejahteraan, kedamaian
dan kemajuan bersama.
Putaran
ketiga perundingan nuklir Iran-IAEA berakhir pekan lalu. Kedua belah pihak
saling mengungkapkan rasa puasnya atas hasil perundingan ini dan menilainya
sebagai keberhasilan dalam rencana akhir penyelesaian sejumlah persoalan
yang masih diperselisihkan mengenai aktifitas nuklir Iran. Digelarnya
puutaran ketiga perundingan nuklir Iran-IAEA ini bertujuan untuk menyusun
kerangka permasalahan dan sejumlah pertanyaan menyangkut progran nuklir
sipil Iran serta merancang jadwal penyelesaian sejumlah isu yang masih
tersisa.
Kendati
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menilai positif dan konstruktif
perundingan terbarunya dengan Iran, namun AS tetap saja memandang sebelah
mata hasil perundingan ini. Washington melihat perundingan ini hanya sekedar
membuang-buang masa. AS bahkan memaksa masyarakat internasional untuk segera
memulai mengkaji dan mensahkan draft resolusi Dewan Keamanan PBB guna
memberikan sanksi baru terhadap Iran.
Namun apa yang menjadi
penting bagi Iran adalah upaya untuk bergerak pada jalur yang benar sesuai
dengan apa dicantumkan dalam kesepakatan NPT dan IAEA. Perundingan kali ini
bisa disebut sebagai langkah awal untuk menjajaki perundingan teknis dan
kelanjutan perundingan nuklir antara Iran dan Uni Eropa. Perundingan ini pun
bisa dinilai sebagai bukti niat baik Tehran untuk menjalankan tanggung jawab
internasionalnya secara benar dan transparan. Iran tidak akan segan untuk
menjalin kerjasama yang positif dengan IAEA. Meski demikian, Tehran tetap
berharap IAEA bisa melaksanakan tanggung jawabnya secara profesional dan
independen, serta tidak lagi terpengaruh oleh tekanan politik kekuatan
global.
Setiap
tahunnnya, Republik Islam Iran memperingati hari syahidnya mendiang Presiden
Rajai dan PM Bahonar yang gugur syahid diteror kelompok munafikin pada
masa-masa awal Revolusi Islam, dan menjadikannya sebagai pekan pemerintah.
Pada pekan ini, setiap pejabat dan kementerian memaparkan laporan
kegiatannya selama setahun terkahir. Puluhan proyek makro maupun mikro
umumnya diresmikan pada pekan ini.
Selama
dua tahun terakhir ini, semenjak Presiden Ahamdinejad memegang tampuk
kepresidenan, selain berhasil meriah kesuksesan dalam memperluas kerjasama
luar negeri dengan negara-neagra Arab, Asia dan Amerika Latin, di dalam
negeri pun Pemerintahan Ahmadinejad berhasil menerapkan program ekonomi yang
cukup luas. Digelarnya kunjungan ke setiap propinsi, implementasi pasal 44
konstitusi Iran lewat pencanangan program saham keadilan, yaitu penyerahan
sebagian saham perusahaan miliki negara kepada kalangan rakyat
berpenghasilan rendah, dan perhatian yang lebih serius terhadap pembangunan
kota dan desa tertinggal, merupakan sejumlah prioritas utama pemerintahan
kesembilan Iran di bawah pimpinan Ahmdinejad.
Selain
itu, pemerintahan Ahmadineajd juga aktif di berbagai organisasi regional
maupun internasional. Pemerintahan Iran saat ini juga selalu berusaha
memperjuangkan program nuklirnya di tingkat global dan turut aktif membantu
menyelesaikan krisis regional, khususnya dalam permasalahan Irak. Meski
telah banyak langkah keberhasilan yang telah dicapai, namun pemerintahan
Ahmdinejad sekarang ini harus menghadapi sejumlah persoalan sulit lainnya
seperti: pengangguran, tingginya harga properti, inflasi dan masalah
generasi muda.
KE INDEX |