|
Di gulita malam, seorang pria bernama
Ibnu Muljam keluar menghunus pedang dan bergegas menuju masjid meski
digelayuti oleh kantuknya. Sementara itu, Imam Ali bin Abi Thalib as sedang
mengundangkan azan seusai melakukan munajat malamnya. Dan dengan llangkahnya
yang berat beliau memasuki Masjid, beliau lalu membangunkan para sahabat.
Kemudian beliau menuju ke Mihrab dan berdiri untuk melakukan sholat. Sholat
merupakan suatu hubungan fertikal terindah antara Ali bin Abi Thalib as
dengan Allah swt, diwaktu sholat dan munajat inilah Ali as telah merasakan
sebuah ibadah termanis, dan telah mencapai puncaknya yang terindah, beliau
tenggelam dalam gaya tarik Ilahi swt. Pada saat-saat sahar dan dini hari
inilah, beliau setelah Ruku’ dan dengan segala kerendahan beliau bersujud
kepada Allah swt, dan sewaktu beliau mengangkat kepala dari sujudnya, maka
Ibnu Muljam dengan pedangnya yang sudah terhunus, langsung menimpahkan
sebuah pukulan telak terhadap kepala Imam Ali as.
Secara langsung terdengar suara Ali bin
Abi Thalib as yang memenuhi seluruh relung masjid Kufa : Demi Allah Tuhan
Ka’bah aku telah terbebas. Pada saat-saat yang genting inilah Imam Ali as
menyatakan sebuah kalimat pendek yang dalam, beliau mengatakan : Demi Allah
! tidak ada perkara yang harus menungguku, aku dengan harapanku telah
memperoleh syahadah. Seperti aku juga, bagaikan seseorang yang mencari
air dimalam gelap gulita dipadang pasir, namun tiba-tiba orang itu menemukan
sumur air atau sebuah sumber mata air. Seperti aku, bagaikan seseorang yang
mencari-cari itu telah menemukan apa yang dicarinya itu.
Dua hari setelah peristiwa tersebut, Ali
bin Abi Thalib as telah gugur sebagai syahid menuju kesisi Allah, sehingga
melenyapkan kedengkian dan rasa permusuhan dikalangan kaum munafiqin kepada
beliau. Beliau as telah bertemu dengan dzat yang Haq, sekaligus pergi
bersama keadilan, penjaga yang jujur, dan pelaksana Islam yang tegas.
Setelah perginya Imam Ali bin Abi Thalib as, para penjahat yang suka
menginjak-injak keadilan tetap saja dengan aksinya, maka saat itu kejahatan
pun merajalelah.
Setelah itu Imam Ali as dikebumikan, dan
Imam Hasan bin Ali putra beliau naik mimbar, dan berkata : wahai manusia !
seseorang pemimpin telah meninggalkan kalian semua, dan tidak akan ada lagi
orang-orang sekarang dan yang akan datang dapat mencapai seperti kedudukan
beliau. Rasulullah saww telah mempercayakan panji-panji Islam ditangannya,
dan diutus dengan simbol-simbolnya, dia tidak akan kembali kecuali membawa
kemenangan. Malaikat Wahyu berada disisi kanannya, sedang Malaikat yang
lainnya disisi sebelah kirinya. Beliau telah mengeluarkan 700 dirham dari
sisinya.
Hasan Shamiti seorang doktor Linguistik,
mengatakan : Imam Ali bin Abi Thalib adalah seorang manusia sempurna, dan
terkenal dalam segala segi. Keberasan Ali bin Abi Thalib as bagiku merupakan
sebuah kehormatan, dimana beliau telah meninggalkan pernyataan bagi
kehidupan manusia. Disisi beliau seorang manusia dapat menjadi mulia dan
pecinta haq. Pandangan beliau terhadap manusia, khususnya kaum faqir miskin
merupakan penghormatan dan kemuliaan. Beliau disaat pemerintahannya lebih
banyak mengupayakan penegakkan hak-hak masyarakat, beliau lebih banyak
mempercayai mereka, dan beliau menentang penghinaan dan kehinaan dalam
menghadapi orang-orang lain. Karena itulah Imam Ali as mengatakan kepada
orang yang berlari menyambut dan mengikuti jalannya : janganlah kalian ikuti
jalan hidupku, dan janganlah kalian terhina dalam menghadapiku.
Beliau as dengan segala kelayakannya
tentu tidak menanggung kepada setiap individu dan masyarakat, yang dengan
demikian pemerintahan yang menjadi haq Imam Ali, beliau diam selama 25 tahun
namun masyarakat tetap menuju kepada beliau. Beliau as mengatakan :
Perhatikanlah, apabila kalian tidak menyaksikan haq, tentu kalian tidak bisa
menerima, dan apabila kalian menyaksikan haq, kalian pasti akan membantu.
Puncak kemuliaan dan lapang dada Imam Ali as pada point ini dapat kita
saksikan, betapa beliau memesankan agar pembunuhnya yang telah ditangkap
tidak dianiaya dan disiksa.
Sudah barang tentu Ali bin Abi Thalib as
adalah sosok manusia yang cinta Allah, yang senantiasa menjadi ilham dan
petunjuk abadi terhadap sebuah hakikat sepanjang masa. Gelegar ombak samudra
yang diciptakan oleh Imam Ali as dalam kehidupan manusia, hingga menembus
kedalaman relung hati ummat manusia. Beliau as senantiasa menekankan
pentingnya Ilmu Pengetahuan, sehingga beliau menyatakan mengenai peranan
para Ilmuwan dengan kata-katanya : para pengumpul harta meski saat ini hidup,
mereka sudah mati, namun para Cendekiawan atau Ulama Rabbani yang senantiasa
kokoh hingga saat ini tetap resistensi, dan meskipun jasad-jasad mereka
telah lenyap, namun peranan-peranan mereka tetap exist dalam
lembaran-lembaran hati.
KE INDEX |