|
Tatapannya tajam memandang. Pohon-pohon
korma yang tinggi dengan daun-daunnya yang berwarna mulai tampak.
Rumah-rumah Madinah yang akrab baginya mulai terlihat. Sejenak dia berhenti
dan menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup aroma semerbak Rasul, masjid
Nabi dan menara yang selama bertahun-tahun menjadi tempat dirinya
mengumandangkan azan. Dia mulai melangkah. Tak berapa lama, gerbang kota
Madinah telah ia lewati. Dia berdiri mengibaskan pakaiannya untuk
menghormati kota Nabi. Dia memandang menatap sekelilingnya. Semua orang
sibuk dengan pekerjaan keseharian mereka. Tak ada yang sadar akan
kedatangannya. Dia bergegas menuju perkampungan Bani Hasyim yang terdiri
dari lorong-lorong sempit. Dia mulai mengingat kenangan lama. Dulu dia
sering berdiri di lorong ini untuk mengiringi Nabi berjalan menuju masjid.
Kali ini, dia datang ke Madinah untuk menemui putri kesayangan Nabi, Fatimah.
Dia bergegas menuju rumah Ali. Padahal sebelumnya dia telah berjanji untuk
tidak datang ke kota yang telah melupakan keluarga suci Nabi SAW itu.
Sesampainya di depan rumah Ali, dia mengucapkan salam, “Salam Sejahtera atas
Keluarga Nabi.”
Hasan dan Husein, dua putra Ali dan Fatimah
yang mengenal suara itu segera berlari ke arah pintu. Mereka berseru “Bilal
datang!” Bilal memeluk dua cucu kesayangan Nabi itu. Tak mampu ia menahan
derasnya airmata yang mengalir membasahi wajahnya. Hasan dan Husein teringat
hari-hari sewaktu kakek mereka Rasulullah masih hidup, sementara aroma
kenabian kembali dirasakan oleh Bilal. Kepada keduanya Bilal menanyakan
keadaan ibu mereka. Hasan dan Husein menggapit tangan muadzin Rasul itu
untuk menemui ibunda mereka yang terbaring lemas karena sakit yang
dideritanya. Putri Rasul ini sedang menanti kedatangan Bilal. Sebab dalam
mimpinya, Rasulullah, mengatakan bahwa Bilal akan datang menjenguk Fatimah.
Bilal mengucapkan salam. Dengan suara lirih dan nyaris tak terdengar Fatimah
AS menjawab, “Salam atasmu wahai muadzin ayahku, Rasulullah.”
Suara putri Nabi yang sangat lemah itu
makin menyayat hati Bilal. Dia bertanya, “Wahai putri Nabi, apa yang terjadi
sehingga Anda terbaring sakit seperti ini?” Tanpa menjawab pertanyaan itu,
Fatimah meminta Bilal untuk sekali kali mengumandangkan adzan di masjid Nabi.
Beliau berkata, “Bilal, sebelum mati, aku ingin mengingat hari-hari indah
bersama Rasulullah. Pergilah ke masjid dan kumandangkanlah adzan. Aku ingin
sekali lagi mendengar adzanmu dan shalat dengan adzan itu. Hanya sekali saja.”
Mendengar kata-kata itu Bilal tertegun dan
tenggelam dalam perasaan sedihnya. Dia sadar bahwa putri Nabi yang terbaring
di depannya itu tidak akan hidup lebih lama. Bilal bangkit untuk mengabulkan
permintaan Fatimah AS. Bergegas dia menuju masjid. Anak-anak tangga dengan
cepat ia lewati sampai ia tiba di menara masjid. Dari atas menara dia
kembali teringat hari-hari saat dia menjadi muadzin Rasul dan saat-saat
ketika dia dari atas menara itu menyaksikan Rasul berwudhu.
Namun kali ini sungguh berbeda. Kali ini,
keberadaannya di atas menara masjid hanya demi mengabulkan permintaan putri
Nabi. Bilal mulai menarik nafas dan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Madinah
membisu. Suara Bilal membahana di seluruh penjuru kota. Suara itu sangat
akrab di telinga warga Madinah. Bilal melanjutkan, “Asyhadu an lailaha
illallah.” Ya, itu suara Bilal. Tanpa sadar mereka meninggalkan pekerjaan
masing-masing menuju ke masjid Nabi. Bilal melanjutkan, “Asyhadu anna
Muhammadar Rasulullah.” Tiang-tiang masjid bergetar saat nama rasul disebut.
Mereka yang memandang Bilal, si muadzin Nabi, teringat pada hari-hari yang
telah lalu dan tak mampu menahan jatuhnya butiran bening dari kelopak mata
mereka. Tapi di rumah Ali, Fatimah tidak dapat menahan diri saat mendengar
nama ayahnya disebut, dan jatuh pingsan. Serta merta Hasan dan Husein
berlari menuju masjid dan meminta Bilal menghentikan adzannya. Mereka
berkata, “Bilal, demi Allah, jangan kau teruskan adzanmu. Ibuku tak mampu
menahan kesedihannya lagi.” Bilal menghentikan adzannya dan turun dari
menara masjid Nabi. Tak kata-kata yang bisa dia ucapkan, tenggorokannya
terasa begitu sesak. Direngkuh dan dipeluknya kedua cucu kesayangan Nabi itu,
dengan airmata deras yang membasahi pipinya.
Sebelum ajal datang menjemputnya, Fatimah
Zahra AS menghadap kiblat setelah sebelumnya berwudhu. Beliau mengangkat
tangan dan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kematian bagai kekasih yang aku
nantikan. Ya Allah, curahkanlah rahmat dan inayah-Mu kepadaku. Tempatkanlah
ruhku di tengah arwah orang-orang yang suci dan jasadku di sisi jasad-jasad
mulia. Ya Allah, masukkanlah amalanku ke dalam amalan-amalan yang Engkau
terima.”
Tanggal 3 Jumadi Tsani tahun 11 Hijriyyah,
Fatimah Zahra putri kesayangan Nabi menutup mata untuk selamanya. Beliau
wafat meninggalkan pelajaran-pelajaran yang berharga bagi kemanusiaan. Hari
ini, kami mengucapkan belasungkawa kepada para pecinta keluarga suci Rasul.
Rasul pernah menyifati putrinya, Fatimah AS
dengan sabdanya, “Allah telah memenuhi hati dan seluruh anggota tubuh
Fatimah dengan keimanan dan keyakinan.” Kepada putrinya itu, beliau pernah
bersabda, “Fatimah, Allah telah memilihmu dan menghiasimu dengan makrifat
dan pengetahuan. Dia juga telah membersihkanmu dan memuliakanmu di atas
wanita seluruh jagat.“
Kecintaan Rasulullah SAW kepada Fatimah
Zahra AS merupakan satu hal khusus yang layak untuk dipelajari dari
kehidupan beliau. Di saat bangsa Arab menganggap anak perempuan sebagai
pembawa sial dan kehinaan, Rasul memuliakan dan menghormati putrinya
sedemikian besar. Selain itu, Rasulullah SAW biasa memuji seseorang yang
memiliki keutamaan. Dengan kata lain, pujian Rasul kepada Fatimah adalah
karena beliau menyaksikan kemuliaan pada diri putrinya itu. Nabi SAW tahu
akan apa yang bakal terjadi sepeninggalnya kelak. Karena itu, sejak dini
beliau telah mengenalkan kemuliaan dan keagungan Fatimah kepada umatnya,
supaya kelak mereka tidak bisa beralasan tidak mengenal keutamaan penghulu
wanita sejagat itu.
Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada
Rasul, “Mengapa Anda tidak memperlakukan anak-anak Anda yang lain seperti
Fatimah?” Rasul menjawab, “Engkau tidak mengenal Fatimah. Aku mencium bau
surga pada diri Fatimah. Engkau tidak tahu bahwa keredhaan Allah ada pada
keredhaan Fatimah dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan Fatimah.”
Kesempurnaan manusia tidak mengenal jenis
jantina. Kesempurnaan itu adalah sebuah anugerah yang diberikan Allah kepada
hamba-Nya untuk dapat mengenal dirinya lebih dalam. Fatimah adalah contoh
nyata dari sebuah kesempurnaan. Dengan mengikuti dan meneladaninya,
kesuksesan dan kebahagiaan hakiki yang menghantarkan kepada kesempurnaan
akan bisa digapai. Fatimah adalah wanita yang banyak menimba ilmu, makrifat
dan hikmah hakiki. Keluasan ilmunya tampak sekali dalam khotbah yang beliau
sampaikan di masjid Nabi, di hadapan para sahabat.
Dalam khotbah itu, Fatimah AS menjelaskan
bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dan masyarakat adalah
dengan memegang teguh agama dan patuh kepada perintah Allah. Beliau yang
mengetahui psikologi masyarakatnya menerangkan berbagai kekurangan yang ada
di tengah mereka. Dalam khotbah itu, Fatimah AS membawakan berbagai ayat
suci Al-Qur’an dan menjelaskan tafsirannya. Peristiwa yang terjadi di masa
lalu, sejarah umat-umat terdahulu yang layak dijadikan pelajaran dan bahan
peringatan, diungkapkannya. Dalam khotbah tersebut Fatimah sebagai seorang
hamba yang saleh dan arif yang hakiki, menjelaskan kecintaannya kepada Sang
Maha Pencipta.
Fatimah Zahra AS, adalah wanita yang
mengenal betul kondisi di tengah masyarakat. Beliau sadar akan adanya makar
dan tipu daya musuh-musuh Islam. Hal itulah yang kemudian beliau ungkapkan
dalam khotbahnya. Singkatnya, Fatimah AS sebagai seorang yang mengetahui
seluk beluk politik dan sadar akan kondisi di zamannya, menerangkan kepada
semua orang bahwa Islam adalah agama terakhir Tuhan dan syariat yang paling
sempurna. Beliau juga menjelaskan bahwa satu-satunya jalan keselamatan
adalah dengan mengikuti jejak Ahlul Bait AS.
Berikut ini
adalah sekelumit dari khotbah Sayyidah Fatimah Zahra AS di masjid Nabi.
“Rasulullah diutus saat seluruh bangsa terpecah-pecah. Mereka menyembah
berhala. Meski mengenal Tuhan, mereka mengingkarinya. Dengan perantara
Muhammad, Allah menyingkap tabir syirik dan kekafiran. Dia membersihkan
kotoran dari hati, dan Dia berikan cahaya di mata. Muhammad dengan cahaya
petunjuk bangkit di tengah umat untuk menyelamatkan mereka dari kesesatan
dan mengeluarkan mereka dari kegelapan ke cahaya benderang. Dia menggiring
umat ke arah agama yang kuat dan mengajak mereka kepada kebenaran.
|
|
Riwayat yang masyhur menyebutkan bahwa
Fatimah Zahra AS, hanya sempat mengenyam kehidupan yang singkat. Beliau
wafat pada usia yang sangat belia, 18 tahun. Meski singkat, kehidupan beliau
banyak mengandung pelajaran berharga. Kehidupan putri Rasul ini, laksana
permata indah yang memancarkan cahaya. Pada kesempatan ini, kami ingin
mengajak Anda untuk melihat sekelumit dari kepribadian beliau yang agung,
untuk dijadikan pedoman, khususnya bagi kaum perempuan.
Tak diragukan lagi, sebagian besar problem
dan masalah yang dihadapi umat manusia adalah karena kelalaiannya akan
hakikat wujud kemanusiaannya, sehingga dia terjebak dalam tipuan dunia.
Sebaliknya, manusia bisa mendekatkan diri kepada Tuhan saat dia mengenal
dirinya dan mengetahui tugas yang harus ia lakukan dan pertanggungjawabkan
kepada Allah, Sang Pencipta alam kehidupan.
Fatimah Zahra AS, adalah seorang figur yang
unggul dalam keutamaan ini. Dalam doanya, beliau sering berucap, “Ya Allah,
kecilkanlah jiwaku di mataku dan tampakkanlah keagungan-Mu kepadaku. Ya
Allah, sibukkanlah aku dengan tugas yang aku pikul saat Engkau menciptakanku,
dan jangan Engkau sibukkan aku dengan hal-hal yang lain.”
Keikhlasan dalam beramal adalah jembatan
menuju keselamatan dan keberuntungan. Manusia yang memiliki jiwa keikhlasan
akan terbebas dari seluruh belenggu hawa nafsu dan akan sampai ke tahap
penghambaan murni. Keikhlasan akan memberikan keindahan, kebaikan, dan
kejujuran kepada seseorang. Contoh terbaik dalam hal ini dapat ditemukan
pada pribadi agung Fatimah Zahra AS. Seseorang pernah bertanya kepada Imam
Mahdi AS, “Siapakah di antara putri-putri Nabi yang lebih utama dan memiliki
kedudukan yang lebih tinggi?” Beliau menjawab, “Fatimah.” Dia bertanya lagi,
“Bagaimana Anda menyebut Fatimah sebagai yang lebih utama padahal beliau
hanya hidup singkat dan tidak lama bersama Nabi?” Beliau menjawab, “Allah
memberikan keutamaan dan kemuliaan ini kepada Fatimah karena keikhlasan dan
ketulusan hatinya.”
Sayyidah Fatimah dalam munajatnya sering
mengungkapkan kata-kata demikian, “Ya Allah, aku bersumpah dengan ilmu ghaib
yang Engkau miliki dan kemampuan penciptaan-Mu. Berilah aku keikhlasan. Aku
ingin aku tetap tunduk dan menghamba kepada-Mu di kala senang dan susah.
Saat kemiskinan mengusikku atau kekayaan datang kepadaku, aku tetap berharap
kepada-Mu. Hanya dari-Mu aku memohon kenikmatan tak berujung dan kelapangan
pandangan yang tak berakhir dengan kegelapan. Ya Allah, hiasilah aku dengan
iman dan masukkanlah aku ke dalam golongan mereka yang mendapatkan petunjuk.”
Kecintaan Fatimah
AS kepada Tuhan disebut oleh Rasulullah sebagai buah dari keimanannya yang
tulus. Beliau bersabda, “Keimanan kepada Allah telah merasuk ke kalbu
Fatimah sedemikian dalam, sehingga membuatnya tenggelam dalam ibadah dan
melupakan segalanya.”
Manusia yang mengenal Tuhannya akan
menghiasi perilaku dan tutur katanya dengan akhlak yang terpuji. Asma’,
salah seorang wanita yang dekat dengan Sayyidah Fatimah AS mengatakan, “Aku
tidak pernah melihat seorangpun wanita yang lebih santun dari Fatimah.
Fatimah belajar kesantunan dari Dzat yang Mahabenar. Hanya orang yang
terdidik dengan tuntunan Ilahi-lah yang bisa memiliki perilaku dan
kesantunan yang suci. Ketika Allah swt melalui firman-Nya memerintahkan umat
untuk tidak memanggil Rasul dengan namanya, Fatimah lantas memanggil ayahnya
dengan sebutan Rasulullah. Kepadanya Nabi bersabda, “Fatimah, ayat suci ini
tidak mencakup dirimu.” Dalam kehidupan rumah tangganya, putri Nabi ini
selalu menjaga etika dan akhlak. Kehidupan Ali dan Fatimah yang saling
menjaga kesantunan ini layak menjadi teladan bagi semua.
Kasih sayang dan kelemah-lembutan Fatimah
AS diakui oleh semua orang yang hidup sezaman dengannya. Dalam sejarah
disebutkan bahwa kaum fakir miskin dan mereka yang memiliki hajat, akan
datang ke rumah Fatimah ketika semua jalan yang bisa diharapkan membantu
mengatasi persoalan mereka telah tertutup. Fatimah tidak pernah menolak
permintaan mereka, padahal kehidupannya sendiri serba berkekurangan.
Poin penting lain yang dapat dipelajari
dari kehidupan dan kepribadian penghulu wanita sejagat ini adalah sikap
tanggap dan peduli yang ditunjukkan beliau terhadap masalah rumah tangga,
pendidikan dan masalah sosial. Banyak yang berprasangka bahwa keimanan dan
penghambaan yang tulus kepada Allah akan menghalangi orang untuk
berkecimpung dalam urusan dunia. Kehidupan Sayyidah Fatimah Zahra AS
mengajarkan kepada semua orang akan hal yang berbeda dengan anggapan itu.
Dunia di mata beliau adalah tempat kehidupan, meski demikian hal itu tidak
berarti harus dikesampingkan. Beliau menegaskan bahwa dunia laksana anak
tangga untuk menuju ke puncak kesempurnaan, dengan syarat hati tidak
tertawan oleh tipuannya. Fatimah AS berkata, “Ya Allah, perbaikilah duniaku
bergantungnya kehidupanku. Perbaikilah kondisi akhiratku, karena ke sanalah
aku akan kembali. Panjangkanlah umurku selagi aku masih bisa berharap
kebaikan dan berkah dari dunia ini…”
Detik-detik akhir
kehidupannya telah tiba. Duka dan derita terasa amat berat untuk dipikul
oleh putri tercinta Nabi ini. Meski demikian, dengan lemah lembut Fatimah
bersimpuh di hadapan Sang Maha Pencipta mengadukan keadaannya. Asma berkata,
“Saya menyaksikan saat itu Fatimah AS mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya
Allah, aku memohon kepada-Mu dengan perantara kemuliaan Nabi dan
kecintaannya kepadaku. Aku memohon kepada-Mu dengan nama Ali dan
kesedihannya atas kepergianku. Aku memohon kepada-Mu dengan perantara Hasan
dan Husein serta derita mereka yang aku rasakan. Aku memohon kepada-Mu atas
nama putri-putriku dan kesedihan mereka. Aku memohon, kasihilah umat ayahku
yang berdosa. Ampunilah dosa-dosa mereka. Masukkanlah mereka ke dalam
surga-Mu. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pengasih dari semua pengasih.”
|
|
Puji bagi Allah atas semua nikmat-Nya. Puji bagi Allah atas apa yang dia
ilhamkan. Puji bagi Allah atas semua anugerah-Nya. Pemberian-Nya tak
terhitung, tak terbalas, dan tak terjangkau. Dialah yang memerintahkan
syukur demi mendapat anugerah yang lebih. Aku bersaksi, tidak ada tuhan
selain Allah, Dialah Maha Tunggal, tak ada sekutu bagi-Nya. Aku mengakuinya
dengan seluruh keikhlasan yang merasuk ke dalam kalbu dan menerangi fikiran.
Dia Mahatinggi untuk dijangkau penglihatan, atau disifati oleh lisan, dan
dirasa oleh khayalan. Dia telah menciptakan segala sesuatu tanpa meniru
apapun. Dia berikan wujud kepada ciptaan-Nya. Dia lakukan meski tak
membutuhkan semua itu. Semua Dia lakukan untuk menunjukkan kebijaksanaan,
kebesaran dan kekuasaan-Nya. Dialah yang layak disembah dan ditaati
makhluk-Nya. Dia menjanjikan pahala atas ketaatan kepada-Nya dan mengancam
balasan neraka atas kedurhakaan terhadap-Nya. Semua itu agar manusia
menjauhi azab dan melangkah ke arah surga-Nya.
Aku bersaksi bahwa Ayahku Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Sebelum
memberinya amanat risalah, Allah telah memilihnya. Sebelum memilihnya, Allah
telah mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Sebelum menganugerahinya
kenabian, dia telah menyucikannya pada saat seluruh makhluk masih
diselubungi tabir kegaiban dan masih diselimuti ketiadaan yang menakutkan.
Allah Maha Mengetahui akhir segala sesuatu dan Dia Maha meliputi seluruh
peristiwa sejarah. Pengetahuan atas segala sesuatu ada pada-Nya.
Allah mengutusnya sebagai penyempurna urusan dan kehendak-Nya, sebagai
pemutus ketentuan, sebagai pelaksana keputusan-Nya. Karena Dia telah
menyaksikan keadaan umat yang terbagi atas beberapa golongan. Sekelompok
orang duduk bersimpuh di hadapan berhala buatan mereka dan tampil sebagai
pengingkar Allah. Dengan perantara ayahku, Muhammad, Dia singkap tabir
kegelapan, Dia sirnakan keraguan dari hati mereka, dan Dia lenyapkan kotoran
dari mata mereka. Ayahku bangkit untuk memberi petunjuk kepada umat manusia,
melepaskan mereka dari belenggu kesesatan, mengganti kebutaan mata hati
dengan cahaya ilmu, dan menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus.
Akhirnya suatu saat, Allah mencabut ruhnya dengan penuh kasih dan membawa
ayahku ke sisi-Nya. Muhammad kini telah bebas dari segala penderitaan dunia
ini. Dia telah melampaui derajat para Malaikat suci dan berada di bawah
keteduhan kasih sayang Tuhan Pengampun dan di sisi Sang Raja yang Maha Kuasa.
Shalawat, rahmat dan berkah Tuhan atas ayahku, Nabi, pemegang amanat dan
hamba pilihan-Nya.
Wahai hamba-hamba Allah, kalian adalah orang-orang yang menerima perintah
dan larangan. Kalian bertugas menjaga agama dan wahyu.
Kalian telah menerima amanat Ilahi atas diri kalian dan berkewajiban
menyampaikannya kepada umat-umat yang lain. Petunjuk kebenaran ada di
tengah-tengah kalian. Sebuah perjanjian telah ditawarkan kepada kalian dan
dia meninggalkannya untuk kalian. Itulah kitab Tuhan yang jelas. Al-Qur’an
yang jujur. Nur dan cahaya benderang yang meliputi seluruh ufuk. Dalilnya
kuat. Rahasianya terungkap. Lahirnya jelas. Pengikutnya dikagumi. Taat
kepadanya adalah penghantar ke surga ridhwan. Mendengarnya membawa
keselamatan. Dengannya, hujjah-hujjah Tuhan yang jelas dapat digapai.
Perintah, larangan, dalil, burhan, dan keutamaan bisa dicapai.
Tuhan telah menjadikan iman sebagai pembersih kalian dari syirik, sholat
sebagai pencuci kalian dari kecongkakan, zakat sebagai jalan menuju
kebersihan jiwa dan kelapangan rezeki, puasa sebagai penguat keikhlasan,
haji sebagai pengukuh agama, keadilan sebagai pengikat hati, ketaatan kepada
kami sebagai dasar keteraturan, kepemimpinan kami sebagai penyelamat umat
dari perpecahan, jihad sebagai jalan menuju kemulian dan kebesaran Islam,
kesabaran sebagai penggapai pahala, amar ma’ruf sebagai perantara perbaikan
masyarakat, kepatuhan kepada orang tua sebagai penghalang kemurkaan Tuhan,
silaturrahmi sebagai pemanjang usia dan penambah jumlah keluarga, qisas
sebagai penjaga jiwa, memenuhi nazar sebagai kunci ampunan, komitmen kepada
janji sebagai penyempurna kekurangan, larangan meminum khamar sebagai
pencegah kekotoran, menghindari tuduhan sebagai penyelamat kutukan, dan
menahan diri dari pencurian sebagai pintu kehormatan. Allah melarang syirik
demi kemurnian penghambaan.
Karena itu, bertaqwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mati
kecuali dalam keadaan kalian berserah diri kepada-Nya. Taatilah Allah dalam
setiap perintah dan larangan-Nya. Sesungguhnya hanya orang-orang yang
mengetahui saja yang takut kepada Allah.
Wahai kalian semua, ketahuilah bahwa aku adalah Fatimah putri Muhammad. Aku
berkata kepada kalian, dengan kata-kata yang dipenuhi kejujuran. Aku tidak
pernah melakukan satupun tindakan yang tidak benar. “Sesungguhnya telah
datang kepada kalian, seorang dari kalangan kalian yang merasakan kesusahan
kalian, yang menaruh perhatian besar kepada kalian, lemah lembut dan
penyayang terhadap mereka yang beriman.”
Tanyakanlah siapa orang yang memiliki hubungan dekat dengan orang itu. Dia
adalah ayahku, bukan ayah satupun wanita di antara kalian. Dia adalah
saudara anak pamanku, bukan saudara satupun lelaki dari kalian. Sungguh,
betapa indah hubungan dekat dengannya! Dia telah menyampaikan risalah yang
dimulai dengan ancaman terbuka terhadap semua berhala. Dia bangkit menentang
segala bentuk penyekutuan Tuhan dan menumpas kaum musyrik. Dengan nasehat
yang baik, dia mengajak kepada penyembahan Allah. Dia hancurkan
berhala-berhala dan melumat habis kekuatan syirik. Sehingga cahaya terang
memancar dan kebenaran terkuak.
Dia pulalah yang menjadi pemimpin dan penjelas agama sehingga
bisikan-bisikan syetan menghilang, para pemuka munafikin tersingkir, dan
tali pengikat kekafiran dan pembangkangan terurai. Kalian mulai menggerakkan
bibir untuk mengungkapkan kata-kata tauhid penuh keikhlasan di antara
orang-orang pucat pasi dan terbelit kemiskinan. Padahal, sebelumnya kalian
sudah berada di tepi tebing yang curam, meminum air keruh, dan memakan
bangkai. Saat itu, kalian adalah orang-orang yang terusir dan terhina.
Kalian cemas menjadi sasaran kekejian orang-orang di sekitar kalian. Tuhan
menyelamatkan kalian dengan perantara Muhammad, setelah melalui berbagai
peristiwa besar dan kecil, dan setelah berperang dengan kaum durjana Arab
dan Ahlul Kitab. “Setiap kali mereka menyulut api peperangan, Allah akan
memadamkannya.”
Setiap kali syetan mengeluarkan tanduknya dan kaum musyrik mulai membuka
mulut, Ali saudaranya, tampil ke depan. Dia tidak pernah kembali sebelum
berhasil mematahkan dan menekuk lutut mereka dengan pedangnya. Dia tanggung
semua derita demi mengharap ridha Allah. Semuanya ia lakukan untuk Allah.
Dialah orang terdekat Rasul. Dia adalah pemimpin di tengah para auliya,
pendamba kebaikan. Dia penuhi upaya untuk meraih keridhaan Allah. Dia tidak
pernah takut akan cercaan dan hinaan siapapun. Padahal, di saat yang sama
kalian hidup dalam kenikmatan duniawi. Kalian menunggu saat-saat kami
mendapat kesusahan. Kalian menantikan datangnya berita buruk tentang kami.
Di saat, perang kalian memilih untuk mundur melarikan diri. Karenanya,
sewaktu Allah mengangkat nabi-Nya ke puncak derajat para nabi dan
orang-orang pilihan, kemunafikan muncul di tengah-tengah kalian. Agama
kalian mulai lusuh. Mereka yang memendam kesesatan mulai membuka mulut.
Unta-unta piaraan kaum batil mulai bersuara dan bergerak di tengah kalian.
Setan mulai mengeluarkan kepala dari tempat persembunyiannya dan
memanggil-manggil kalian. Setan melihat kalian sebagai orang-orang patuh
yang dapat mengembalikan kebesarannya.
Lantas kalian tandai unta yang bukan milik kalian, dan kalian masuk ke
sumber air yang tidak kalian miliki. Padahal masa belum lama berlalu, luka
masih belum sembuh dan Rasulullah masih belum dimakamkan. Semua itu kalian
lakukan dengan tergesa-gesa dengan alasan mencegah fitnah. “Ingatlah,
merekalah yang jatuh ke dalam fitnah dan sesungguhnya neraka jahannam
mengepung orang-orang kafir.” Sungguh, tidak disangka kalian akan melakukan
hal ini. Ada apa dengan kalian? Kemanakah kalian pergi? Bukankah kitabullah
ada di tengah-tengah kalian? Perintah, larangan, dan ajaran Al-Qur’an
amatlah jelas. Apakah kalian menolaknya dan hendak menghukumi dengan
selainnya? Sungguh, itulah seburuk-buruk pengganti bagi orang-orang zalim.
“Barang siapa yang menghendaki agama lain selain Islam, maka tidak akan
diterima darinya dan di hari akhirat dia termasuk dalam golongan orang-orang
yang merugi.” Kalian bermain tipu muslihat. Kami bersabar, terhadap
perlakukan kalian yang bagaikan pedang dan tombak yang tengah mengoyak tubuh
ini. Tapi kini tuntutan kalian bertambah. Kalian merampas hak warisku.
“Apakah kalian hendak menghukumi dengan hukum jahiliyyah? Bagi mereka yang
yakin, siapakah yang lebih benar keputusannya dari Allah ?”
Hai Putra Abu Qahafah! Apakah Al-Qur’an memberimu hak untuk mewarisi ayahmu
tetapi tidak memberiku hak yang sama? “Sungguh, kau telah mengatakan sesuatu
yang sangat aneh”. Apakah engkau sengaja mencampakkan kitabullah? Bukankah
Allah berfirman, “Sulaiman telah mewarisi Daud” Bukankah mengenai Yahya
putra Zakaria, Allah berfirman, “Ya Tuhan anugerilah aku seseorang yang akan
mewarisiku dan mewarisi peninggalan keluarga Ya’qub.” Allah juga berfirman,
“Dan sanak keluarga sebagiannya lebih berhak atas sebagian yang lain.”
Dia berfirman, “Allah telah memutuskan untuk kalian, mengenai anak-anak
kalian bahwa laki-laki memperoleh dua kali lipat dari bagian perempuan.”
Firman-Nya lagi, “Jika seseorang meninggalkan harta hendaknya dia memberikan
wasiat yang baik untuk kedua orang tua dan keluarga dekatnya. Hal ini adalah
hak bagi mereka yang bertaqwa.”
Di hadapan semua dalil ini, dengan alasan apakah kalian mencegahku untuk
mendapatkan hak yang aku warisi dari ayahku? Seakan-akan, aku tidak memiliki
hubungan apapun dengan ayahku. Apakah semua ayat suci tadi diturunkan untuk
menjelaskan hak kalian dan mengecualikan aku darinya? Apakah mungkin kalian
menganggap aku dan ayahku berbeda agama sehingga aku tidak berhak
mewarisinya? Apakah kalian mengaku lebih tahu akan makna dan kandungan Al-Qur’an
daripada ayahku dan anak pamanku, Ali? Ambillah, sampai kita bertemu di hari
mahsyar.
Sungguh, Allah-lah sebaik-baik pemberi keputusan, Muhammad sebaik-baik
pemimpin dan kiamat sebaik-baik tempat menuntut keadilan. Saat itu, mereka
yang sesat akan merugi. Ya, ketika itu penyesalan tidak akan berguna.
“Setiap berita ada tempatnya.” “Tak lama lagi, engkau akan mengetahui
siapakah yang akan mendapatkan adzab yang menghinakan dan siapakah yang akan
memperoleh balasan siksa yang abadi.”
Wahai sekalian Anshar, wahai para pembela agama dan pejuang Islam! Mengapa
kalian diam menyaksikan perampasan hakku? Mengapa kalian tampak lemah untuk
membelaku? Bukankah ayahku Rasulullah pernah bersabda, “Penghormatan kepada
seseorang harus tetap dijaga terhadap anak-anaknya?”
Betapa cepatnya kalian berubah! Rasulullah telah meninggalkan kita, apakah
lantas kalian juga akan mematikan agamanya? Memang kematian Rasul merupakan
musibah besar yang menebar kelemahan dan mengguncang sendi. Kematiannya
telah membuat dunia serasa gelap gulita, gunung-gunung menunduk, dan
kehormatan tercabik. Inilah yang diperingatkan Tuhan sebelunya beliau wafat.
“Muhammad tak lain adalah seorang Rasul. Banyak rasul sebelumnya yang telah
diutus. Apakah jika dia mati atau terbunuh, kalian lantas kembali ke masa
lalu? Siapapun yang kembali dan keluar dari agama, hal itu tidak akan
merugikan Allah sama sekali. Dan Allah akan memberikan pahala kepada mereka
yang bersyukur.”
Wahai putra-putra Qeilah! Sungguh tak dapat dipercaya! Kalian diam membisu
saat peninggalan ayahku dirampas di hadapan kalian. Padahal, kalian
mendengar panggilan dan ajakan kami, kalian juga memiliki kekuatan, pedang,
dan perisai. Bukankah sebelum ini kalian dikenal sebagai para pemberani yang
berbudi baik? Kalian juga merupakan kaum pilihan untuk membela kami dan
terlibat berbagai peperangan melawan bangsa Arab. Kalian tegar menghadapi
segala kesulitan saat berhadapan dengan para jawara dari berbagai kaum.
Selama ini kalian selalu mematuhi dan menyertai kami. Sampai akhirnya Islam
tegak dengan perantara kalian. Kemusyrikan tergulung. Gelegak kedustaan
mereda. Api kekufuran padam. Ketenangan kembali dan pondasi agama berdiri
kokoh.
Tetapi mengapa kini kalian mundur setelah maju, lemah setelah kuat dan
menjadi pengecut setelah dikenal berani? Mengapa kalian gentar menghadapi
kaum yang melanggar janji mereka? “Perangilah para pemuka kekafiran karena
mereka tidak memegang janji, supaya mereka berhenti dari perbuatan itu.”
Ketahuilah bahwa aku menyaksikan kalian saat ini hanya menginginkan
kesenangan. Kalian telah melupakan apa yang sebelumnya kalian yakini.
“Meskipun kalian dan seluruh penduduk dunia menjadi kafir, sesungguhnya
Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.”
Ketahuilah, kata-kata ini kuucapkan dengan kesadaran akan adanya kehinaan
yang kini menguasai kalian dan keingkaran yang mengisi hati kalian.
Kata-kataku ini adalah ungkapan suara hati yang penuh kemurkaan. Ungkapan
perasaaan akan ketiadaan penolong, penumpahan isi hati, dan ajakan terakhir.
Terimalah kata-kata penuh luka ini, yang mengungkap cela abadi. Cela yang
bersambung dengan kemurkaan Tuhan Yang Maha Kuat dan lekat dengan api neraka
yang membakar hati. Allah menyaksikan seluruh perbuatan kalian. “Tak lama
lagi mereka yang berbuat zalim akan mengetahui kemanakah mereka akan kembali.”
|