MEMPERINGATI HARI LAHIR IMAM JAKFAR ASSHADIQ AS

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dikisahkan bahwa seorang bernama Zakaria memberi isyarat kepada rekannya Abdullah dan bertanya, “Adakah engkau mengenal lelaki yang sedang menuju ke masjid itu? Tahukah engkau betapa lelaki itu memiliki sifat penyayang?

Abdullah menjawab, “Ya, aku tahu. Tetapi aku kira hanya umat Islam yang mengenali dia”.

Zakaria melanjutkan kata-katanya, “Aku berhutang budi kepadanya. Ketika aku tersesat di padang pasir dan hampir saja berada diambang maut karena kehausan. Dengan pandangan penuh kasih sayang, ia menghampiriku. Walaupun dalam kendi airnya terdapat sedikit air, dia menghilangkan dahagaku dengan air tersebut. Pada waktu itu, aku mengira bahwa Nabi Isa  Al-Masih a.s. yang sedang membantuku. Dia juga memberikan aku makanan dan menunjukkan jalan hingga ke Madinah”.

Abdullah berkata,

Beliau adalah pemimpin umat Islam, Imam Sadiq a.s. Beliau adalah  keturunan para Nabi dan dia memiliki keberanian, kebaikan dan kedermawanan, sebagaimana datuk-datuknya”.

Pandangan Zakaria ke masjid  tiba-tiba membentur sekelompok anak-anak muda sedang pergi ke masjid. Ia bertanya, “Saat ini bukanlah waktu shalat, mengapa mereka pergi ke masjid?”

Abdullah memjawab, “Tidak berapa lama lagi, pelajaran Imam Shadiq akan dimulai. Anak-anak muda itu  adalah murid-muridnya yang datang dari berbagai pelosok kawasan.

Dengan penuh bersemangat, Zakaria bangun dan berkata, “Aku juga ingin mengikuti pelajarannya”.

Abdullah berkata, “Janganlah terburu-buru. Marilah kita pergi bersama. Aku juga adalah muridnya. Aku memperoleh manfaat dari lautan ilmunya yang luas.

Dalam majlis pelajaran Imam, terlihat murid-murid beliau sedang mendengarkan ucapannya. Zakaria juga seperti yang lain, turut duduk dan mendengar ucapan Imam, seolah-olah untuk kali pertama kalinya dia mendengar ucapan yang sedemikian berhikmah dan  argumentatif. Dia duduk tertegun dengan tenang di situ.

Abdullah yang mengetahui keadaan Zakaria langsung berkata kepadanya, “Sepertinya tidak akan lama juga akan menjadi pengikutnya”. 

Kelahiran Imam Ja’far Shadiq a.s., yang bertepatan dengan hari kelahiran kakeknya yang mulia, Rasulullah SAWW, membawa berkah dan kegembiraan di hati kaum mukminin. Pada hari mulia seperti ini, sabda Nabi SAWW kembali tergiang di telinga.

“Aku tinggalkan dua pusaka yang amat berharga untuk kalian. Jika kalian  berpegang kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya. Kedua pusaka itu adalah Al-Qur’an dan keluargaku.”

Tak dipungkiri bahwa Imam Shadiq a.s. termasuk salah seorang keluaga Nabi SAW yang oleh disebut Allah sebagai orang-orang yang telah dibersihkan dari noda dan dosa. Keluarga atau lebih akrabnya disebut Ahlul Bait adalah orang-orang yang oleh Rasul SAW diumpamakan seperti kapal Nabi Nuh. Siapa yang naik ke dalamnya akan selamat dan siapa yang tidak ikut akan tenggelam.

Ahlul Bait juga diibaratkan bak bintang gemintang di langit yang memberikan petunjuk dan dapat menuntun semua orang ke arah kebahagiaan hakiki. Dengan cahaya ilmu dan hikmah Ahlul bait, umat akan terselamatkan dari kesesatan dan kebingungan. Sekali lagi, kami mengucapkan selamat berbahagia kepada Anda sekalian atas hari kelahiran Imam Shadiq a.s. ini.  

Fiqih madzhab Syiah bisa disebut sebagai kekayaan besar ilmu dan budaya Islami. Pintu ijtihad yang dibuka oleh madzhab ini telah membuat Syiah tetap hidup dan dapat menjawab setiap persoalan yang ada di sepanjang zaman. Mengingat bahwa fiqih Syiah berkembang luas di masa Imam Ja’far Shadiq a.s. dan di bawah bimbingan beliau, maka madzhab ini biasa disebut dengan madzhab Ja’fari. Sebagai imam dan pemimpin umat yang melihat perlunya kebangkitan ilmu di tengah umat, Imam Ja’far Shadiq a.s. membuka berbagai lembaga pendidikan besar yang menelorkan banyak ulama dan ilmuwan yang di kemudian hari berhasil mengembangkan ilmu mereka dengan penelitian dan penemuan mereka.

Mir Ali Hindi, salah seorang penulis besar kontemporer mengatakan,

“Pengembangan di masa itu telah membantu proses kebebasan berpikir dan menyelamatkan umat dari kejumudan berpikir. Saat itu, diskusi filosofis dan debat logis menjadi menjadi pemandangan umum dalam masyarakat Islam. Tidak boleh dilupakan bahwa gerakan ilmiah di tengah dunia Islam ini muncul di bawah bimbingan dan kepemimpinan salah seorang cucu Ali bin Abi Thalib, yaitu yang dikenal dengan nama Imam Ja’far Shadiq. Dia adalah seorang yang memiliki pemikiran terbuka dan dalam. Beliau menaruh perhatian yang besar terhadap ilmu-ilmu yang ada di zamannya. Dengan kata lain, beliau adalah pendiri sekolah logika di dunia Islam.

Salah seorang murid Imam Sadiq a.s. bernama Mufaddhal bin Umar saat mendengar perkataan Ibn Abi Al Auja’ tentang ketuhanan yang dinilai sangat kental dengan bau kekafiran, langsung menjawabnya dengan keras. Mendengar jawaban pedas itu, Ibn Abil Auja’ berkata;

“Jika engkau mengaku sebagai murid Imam Shadiq, seharusnya engkau menjadi orang yang argumentatif. Sebab Imam Shadiq tidak pernah berdialog dengan cara seperti caramu. Beliau adalah orang penyabar, penuh wibawa, logis dan pemikir. Beliau tidak pernah merasa gentar dan tidak pernah melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak layak”.   

Pada kesempatan kali ini kami mengajak Anda untuk menyimak dua perkataan pendek dari Imam Shadiq a.s..

Imam Shadiq a.s. berkata,

“Jadilah engkau orang yang berilmu atau orang yang menuntut ilmu atau pecinta para ulama.”

Beliau juga mengatakan,

“Tidak ada sesuatu yang lebih baik dari akhlak mulia. Akhlak yang baik akan mendatangkan rasa cinta dan kasih sayang.”

 

 

KE INDEX