BUDAYA

 

Peradaban Barat dalam Kacamata Islam (22)

Keluarga adalah sebuah komunitas dalam bentuk dunia kecil. Ia merupakan akar tempat sebuah negara akan berkembang. Ia merupakan unit dasar masyarakat. Yang menjadi iklimnya haruslah cinta dan yang menjadi tanahnya haruslah watak yang baik. Di dalam keluarga inilah kehidupan manusia bermula dan berakhir. Keluarga seharusnya menjadi tempat yang untuk mendapatkan ketentraman dan ketenangan. Jika kasih sayang unggul, maka tertanamlah rasa keyakinan dan kepercayaan, keselamatan dan keikhlasan. Semakin kukuh pegangan spiritual dan moral dalam keluarga, semakin besar kegembiraan dan kebahagiaan yang akan dirasakan oleh anggota keluarga itu. Dalam dunia yang dipenuhi masalah ini, setiap manusia lebih banyak mendambakan sebuah rumah yang menjadi tempat bernaung yang damai.

Sebelum terjadinya Revolusi Industri, Barat menjalani kehidupan sederhana sebagai petani. Pada zaman itu, keluarga merupakan pusat kasih sayang dan kesetiaan. Kaum lelakinya pergi ke aldang untuk bekerja dan mencari rezeki. Sementara kaum perempuannya mendidik, memelihara, dan memperhatikan anak-anak mereka. Lingkaran famili mengikat kehidupan semua anggotanya.

Kemudian Revolusi Industri terjadi dan industri memerlukan buruh. Salah satu akibat dari keperluan ini ialah pemisahan lelaki, wanita, dan anak-anak ke dalam pusat industri, kantor pemerintaahn, rumah-rumah komersial, dan institusi besar yang lain. Kota-kota kecil dibangun dengan tujuan untuk memuaskan selera kenyamanan lahiriah dan kemewahan materi.

Keruntuhan kehidupan berkeluarga ini  melemahkan ikatan perkawinan. Kelembutan dan kasih sayang kian terhapus. Wanita kehilangan perasaannya tanpa dapat memberikan perhatian yang penuh terhadap keluarga dan menjalankan tugas membesarkan anak yang sejak dulu diembannya. Dualisme peran sebagai seorang buruh pabrik dan seorang ibu terlalu berat untuk dipikul. Waktu dan peluang yang cukup untuk memberikan ketenangan hati dan untuk menyusun kehidupan keluarga telah hilang. Dia harus datang tepat waktu ke tempat kerja dan untuk itu ia harus meninggalkan  pekerjaan rumah tangganya, dan kemudian pulang ke rumah dalam keadaan lelah.

Kondisi ini ditambah pula dengan tumbuhnya paham kebebasan tanpa batas. Akibatnya, kehidupan berkeluarga tercabut, kemurniannya dan kebaikannya tercabik-cabik. Kerusakan dan perpecahan pun datang menggantikan moralitas  keluarga dan kesatuan sosial yang bersandar kepada agama dan logika bagi pembatasannya. Terjadinya peningkatan mencolok pada angka perceraian telah menyeret dunia berperadaban ke dalam bahaya, namun dunia Barat tidak mampu mengatasinya.

Perbedaan yang sepele antara suami-istri bisa saja menjadi penyebab perceraian. Konflik kecil dan ketidakcocokan dianggap sebagai bukti bahwa keutuhan keluarga  tidak dapat diperbaiki dan sebuah keluarga memang harus runtuh. Angin dan topan nafsu dan penyelewengan telah menghancurkan ikatan kasih sayang dalam keluarga. Padahal bila manusia memakai sedikit saja logikanya, masalah-masalah kecil dalam keluarga dapat diatasi. Demikian pula, sikap toleransi dan tenggang rasa dapat menstabilkan hubungan keluarga di atas pondasi keadilan dan cinta.

Suratkabar Iran, Keyhan No.6926, melaporkan bahwa Lembaga Bimbingan Perkawinan telah didirikan di Jerman Timur untuk meneliti faktor meningkatnya perceraian dan keruntuhan keluarga. Para doktor dan  pengacara turut terjun dalam upaya ini. Surat kabar ikut memberikan perhatian terhadap kasus perceraian ini. Mereka menyimpulkan, peningkatan statistik perceraian disebabkan oleh industri yang menggunakan tenaga kerja wanita. Akibatnya, wanita terpaksa berada di luar rumah. Ekonomi yang parah menyebabkan 70 persen dari wanita bersuami terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dari jumlah ini, 60 persennya mempunyai anak. Beban yang terpaksa mereka tanggung antara kerja rumah dan di luar menyebabkan terjadinya perselisihan, dan perceraian  menjadi satu-satunya jalan keluar dari kehidupan yang menyiksa itu.

Tolstoy menulis, “Salah satu sebab meningkatnya perceraian ialah adanya kebebasan tanpa batas bagi kaum wanita untuk memilih pekerjaan apapun, meskipun hal itu bertentangan dengan kodrat alami mereka. Di samping itu, zaman mesin juga ikut menambah ketegangan dan emncampakkan wanita dan lelaki ke dalam hubungan yang tidak legal dan menimbulkan kecemburuan dalam keluarga. Lebih jauh lagi, kesibukan wanita di luar rumah membuat masalah semakin bertambah kompleks.

Statistik di New York dan Washington memperlihatkan bahwa perceraian di kalangan kaum intelek lebih tinggi dibanding yang terjadi di kalangan lain. Di Hollywood, angka perceraian sedemikian tinggi sampai-sampai pemerintah enggan mengungkapkan angkanya kepada publik. Surat kabar Kayhan tanggal 17 April tahun 1960, melaporkan bahwa perceraian pada tahun sebelumnya di Inggris 50 persennya adalah dikarenakan ketidaksetiaan dan 50 persen lainnya dikarenakan oleh sebab-sebab lain.

Majalah Amerika, Wake magazine, melaporkan bahwa angka perceraian telah meningkat hingga 1000 persen pada 10 tahun yang lalu. Pengadilan Perancis mengadili 9785 kasus perceraian dan 8000-nya adalah inisiatif dari istri. Perang Dunia Pertama dan Kedua menimbulkan penolakan generasi muda terhadap standar moral dan tradisi sebagai ekspresi kebebasan. Akibatnya, perceraian turut bertambah. G. Peels dalam bukunya Matrimony and Modernity mengatakan, “Peningkatan perceraian adalah hasil dari perang dunia pertama dan kedua.”

The Reader’s Digest edisi Persia No.103 tahun ke-25, melaporkan bahwa Federasi Keluarga Perancis meminta kepada pemerintah Perancis untuk memberlakukan larangan perceraian pada tiga tahun pertama perkawinan. Inggris pun turut melaksanakan undang-undang yang sama dengan dua pengecualian: kekerasan luar bisa yang dilakukan oleh suami dan penyelewangan luar biasa yang dilakukan istri.

Jurnal mingguan terbitan Teheran, Ettelaat no. 1206, melaporkan bahwa di AS, 3 juta suami-istri yang mempunyai anak telah bercerai.  Lawson menulis, “Siapapun yang memiliki sedikit saja rasa kemanusiaan pasti bisa merasakan kesedihan melihat tingginya angka perceraian dan berusaha untuk memperbaiki kondisi ini. Karena kebanyakan perceraian adalah inisiatif dari istri, maka penyebab dan obatnya haruslah dicari pada mereka.

Orang Iran yang berpaham Barat pun terkena penyakit yang sama. Dari 15.335 perkawinan di Teheran pada tahun 1960, 4839 di antaranya berakhir dengan perceraian. Artinya terjadi hampir satu perceraian dari setiap tiga perkawinan. 86 persen dari perceraian ini merupakan tuntutan dari sang istri yang semuanya intelektual berpaham materialis Barat. Ini adalah lonceng kehancuran yang harus segera diatasi. Peradaban jenis tersebut yang menghancurkan kehidupan keluarga tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kita tidak bisa berpura-pura tidak menyaksikan kehancuran yang sedang merebak dalam kebudayaan kita. Kondisi ini harus diubah dengan ajaran Islam demi menstabilkan kehidupan sosial. (Catatan: Kemenangan revolusi Islam di Iran yang disusul dengan terbentuknya Republik Islam Iran adalah tahun 1978.)

 

Ke Atas

 

KE INDEX