|
Penyucian Mekah dari Syirik
Setelah perang Tabuk, peristiwa penting
berikutnya yang terjadi pada kehidupan Rasulullah adalah perintah untuk
membersihkan Masjidil Haram dari adat-adat jahiliyah. Pada tahun
kesembilan hijriyah, menjelang datangnya musim haji, Rasulullah SAW
mendapat wahyu dari Allah yang berisi pernyataan berlepas tangan dari
kaum kafir. Wahyu tersebut adalah sepuluh ayat pertama surah Baraah atau
Taubah. Diantara wahyu tersebut adalah pernyataan yang menybut kaum
kafir sebagai orang-orang najis yang tidak diperkenankan memasuki
masjidil Haram.
Sebagaimana yang diketahui, meski kota Mekah
telah ditaklukkan dan seluruh berhala yang berada di dalam komplek
masjidil haram telah dihancurkan, akan tetapi orang-orang kafir masih
bebas melakukan tawaf dan umrah di sana dengan tata cara jahiliyah.
Turunnya ayat-ayat pertama surah taubah adalah keputusan dari Allah
ujntuk membersihkan Mekah dari segala hal yang berbau kemusyrikan.
Setelah ayat tersebut turun, Rasul
memerintahkan Abu Bakar untuk membawa ayat itu dan membacakannya kepada
semua yang berada di Mekah saat musim haji tiba. Sahabat Nabi itu dengan
serta merta bertolak ke Mekah untuk menjalankan perintah terebut. Akan
tetapi tak lama setelah Abu Bakar berangkat, Allah memerintahkan
Nabi-Nya untuk mengutus Ali ke Mekah menggantikan Abu Bakar. Ali-pun
bertolak ke Mekah mengejar Abu Bakar. Kepadanya, Ali menyampaikan pesan
Rasul dan mengambil alih amanat ayat itu untuk dibacakan di hadapan
semua orang di musim haji.
Abu Bakar kembali ke Madinah dan mendatangi
Rasul untuk menanyakan hal ini. Kepadanya Rasul bersabda, Allah telah
mengutus Jibril kepadaku dan menyatakan bahwa hanya aku atau orang yang
berasal dariku-lah yang berhak membacakan ayat baraah di Mekah. Dan
orang itu adalah Ali.”
Dengan dibacakannya ayat-ayat suci tersebut
di hadapan seluruh jemaah yang hadir pada musim haji saat itu,
orang-orang kafir tidak lagi berhak memasuki komplek masjidil haram.
Hajjatul Wada' atau Haji
Perpisahan
Tahun ke sepuluh hijriyah, Rasulullah SAW
bersama sekitar seratus ribu sahabatnya yang berasal dari berbagai
penjuru Jazirah Arabia melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini disebut
dalam sejarah sebagai hajjatul wada’ atau hari perpisahan. Sebab,
sepulangnya dari perjalanan haji, Rasulullah SAW jatuh sakit yang
mengakhiri kehidupan beliau yang penuh berkah.
Ibadah haji ini menjadi momen yang sangat
penting dalam kehidupan umat Islam. Karena, umat menyaksikan tata cara
ibadah haji yang diajarkan dalam agama Islam secara langsung dari
pembawa risalah kenabian. Umat Islam melihat sendiri bagaimana Nabi
bertawaf, sa’i, wukuf di padang Arafat, tinggal di mina, menyembelih
korban dan memotong rambutnya.
Pada kesempatan itu, Nabi juga menyampaikan
sebuah khotbah bersejarah yang menjelaskan segala permasalahan dalam
Islam. Beliau mengingatkan kembali soal tauhid, ibadah, akhlak, sikap
saling membantu antar sesama dan banyak hal lainnya.
Setelah selesai melaksanakan ibadah haji,
Rasulullah SAW dan para jemaah haji lainnya meninggalkan kota Mekah
menuju kampung halaman masing-masing. Di tengah perjalanan, saat tiba di
suatu tempat persimpangan, Nabi SAW mendapat wahyu yang berbunyi,
Ya ayyuhar rasul balligh ma unzila ilaika….
Artinya, Wahai Rasul sampaikanlah apa yang
telah diturunkan dari Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau sampaikan,
berarti engkau sama saja tidak pernah menyampaikan risalahNya. Allah
melindungimu dari umat manusia.
Nabi lantas memerintahkan rombongannya untuk
berhenti di suatu tempat bernama Ghadir Khum. Mereka yang sudah lewat
diperintahkan untuk kembali dan mereka yang belum sampai ditunggu
kedatangannya. Ada satu hal penting yang ingin beliau sampaikan kepada
umat. Hari itu adalah tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 hijriyah.
Ketika semua orang telah berkumpul, Nabi SAW
berdiri di hadapan para sahabatnya yang menyemut memenuhi padang tandus
Ghadir Khum. Beliau ingin menyampaikan sebuah pesan penting dari Tuhan.
Setelah mengucapkan puji-pujian syukur kepada Allah swt dan menyampaikan
beberapa hal, beliau bersabda, “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai
pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya pula.”
Sabda Nabi SAW ini didengar langsung oeh
sekitar seratus ribu muslimin di Ghadir Khum. Pesan penting ini,
memiliki arti bahwa Ali-lah yang akan menggantikan posisi Nabi sebagai
pemimpin umat sepeninggal beliau. Karenanya, setelah menyampaikan pesan
ini, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya untuk membaiat Ali.
Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai peristiwa Ghadir Khum.
Pembersihan Jazirah Arabia dari kekuatan
Yahudi dan penaklukan kota Mekah serta pembersihan Masjidil Haram dari
sisa-sisa adat jahiliyah adalah hasil perjuangan Nabi SAW selama lebih
dari 20 tahun menyebarkan agama Islam dan menyampaikan risalah kenabian
terakhir ini. Sejak jatuhnya kota Mekah ke tangan umat Islam, kaum
muslimin yang dahulu terusir dan terasing berubah menjadi sebuah
kekuatan besar yang ditakuti oleh seluruh kabilah Arab. Bahkan Rumawi
dan Persia yang merupakan dua kutub kekuatan saat itu sangat
memperhitungkan kekuatan umat Islam.
Sepulangnya dari Hajjatul Wada’, Rasulullah
SAW memerintahkan para sahabatnya agar bersiap-siap untuk menyerang
pasukan Rumawi di wilayah Syam. Sama seperti perang Tabuk, beliau tidak
memperkenankan siapapun juga untuk tidak menyertai pasukan ini kecuali
beberapa orang yang beliau tentukan. Panji perang diberikan Rasulullah
kepada Usamah bin Zaid yang saat itu masih berusia 17 tahun. Pemilihan
Usamah sebagai komandan pasukan ditentang oleh banyak orang yang
meragukan kemampuan pemuda ini. Rasulullah yang saat itu sedang sakit
keras dengan tegas menyatakan bahwa Usamah layak untuk memimpin pasukan
besar kaum muslimin.
Akibat penentangan itu, banyak orang yang
terkesan lamban untuk menyertai pasukan besar ini, sampai akhirnya
berita memburuknya kondisi kesehatan Nabi SAW sampai ke telinga para
sahabatnya. Akhirnya, pada tanggal 28 Shafar tahun 11 hijriyah, Muhammad
bin Abdillah, Rasul terakhir dan makhluk Allah yang paling mulia
menerima kedatangan malaikat maut. Kepergian penghulu para nabi ini
menjadi berita paling mengejutkan dan menyedihkan bagi umat Islam.
Rasulullah pergi dari dunia yang fana ini menemui Sang Khalik, setelah
menyempurnakan misi risalah kenabian.
|