
من كنت مولاه فعلي مولاه اللهم والي من
والاه و عاد من عاداه
"Barang
siapa yang menjadikanku sebagai pemimpin, maka Ali adalah pemimpinnya.
Ya Allah, tolonglah orang yang menolong Ali dan musuhilah orang yang
memusuhinya"
Hadits
Rasulullah SAWW
Setelah
hampir 23 tahun menanggung beban tugas pembumian risalah yang berat,
suatu hari Rasulullah mendengar panggilan pulang ke haribaan Ilahi.
Panggilan itu didengarnya, sementara risalahnya masih belum jauh
membumi. Kota Madinah yang dibinanya dengan pedoman dan ajaran Islam
dan Tauhid saat itu justru terancam serangan musuh, kaum pendamba
kenikmatan duniawi, dan mereka yang hatinya penuh dengan gejolak
dendam kesumat kepada Islam dan pendirinya sehingga mereka ingin
meluluhlantakkan bangunan Islam untuk dikemudian mereka bangun kembali
kebudayaan jahiliah yang sudah kehilangan daya pikatnya. Bayangan
kelam ini sudah sekian lama menggelayuti detak hati Rasul.
Sementara itu, demi kelangsungan
eksistensi Islam dan pengaturan umat Islam sesuai dengan perintah
Allah, benak Rasul selalu tertuju kepada Ali Bin Abi Thalib as, sepupu
beliau yang tumbuh dan besar dalam asuhan dan didikan beliau sendiri.
Karena itu, meski keadaan sering tidak mendukung, dalam banyak
kesempatan Rasul tetap mengemukakan masalah siapa yang akan
menggantikan beliau.
Sementara itu, di hari-hari akhir
hayat beliau, ancaman berbagai pihak yang tidak setuju dengan
kebijakan Rasul nampak semakin serius sehingga hati beliau semakin
galau. Dalam keadaan sedemikian rupa, beliau memobilisasi umat Islam
untuk menyelenggarakan ibadah haji sekolosal mungkin. Seruan haji
Rasul itu menghasilkan jumlah jemaah haji hingga 70.000 ribu orang,
atau menurut riwayat lain yang lebih kuat dan popular jumlahnya bahkan
mencapai 120.000 orang. Dalam haji akbar ini beliau ingin mematri
umat Islam dengan ajaran-ajaran samawinya dengan bentuk yang amat
monumental. Beliau mengajarkan apa yang seharusnya beliau ajarkan
menyangkut pelaksanaan manasik haji beserta segala pesan yang
terkandung di dalamnya.
Lebih dari itu, ada satu pesan dan
perkara lain yang sebenarnya sudah sering beliau kemukakan kepada umat,
namun saat itu harus beliau kemukakan lagi agar terungkap secara lebih
formal, tegas, dan didengar umat. Pesan yang juga berasal dari wahyu
Ilahi itu tak lain adalah pesan dan wasiat tentang kepemimpinan Ali
bin Abi Thalib as sepeninggal beliau.
Ibadah haji pun usai. Manasik demi
manasik terlaksana. Rasul kemudian menggiring lautan jemaah haji ke
luar kota suci Mekkah setelah beliau mengucapkan salam perpisahan
kepada Baitullah dan tanah kelahirannya tersebut.
Tanggal 18 Dzulhijjah, karavan haji
tiba di sahara Juhfah. Di sahara inilah karavan yang terdiri dari
berbagai daerah dan kabilah akan berpisah satu dengan yang lain. Di
tempat itu, wahyu Ilahi turun menyapa kalbu suci Rasul:
ياايهاالرسول
بلغ ماانزل اليك من ربك فان لم تفغل فما بلغت رسالته والله يعصمك من
الناس
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang
telah diturunkan Tuhanmu kepada-Mu, dan jika hal ini tidak engkau
lakukan, maka engkau (sama saja dengan) tidak menunaikan (sama sekali)
risalah-Nya, dan Allah akan menjagamu dari (gangguan) manusia.”
Wahyu ini turun dengan nada tegas
dan tidak memberi peluang bagi Rasul untuk tidak melaksanakannya.
Sedemikian vital tugas ini sehingga jika beliau tidak melaksanakannya,
maka beliau akan dianggap tidak melaksanakan risalah Allah sama sekali,
dan dengan begitu akan runtuh semua fondasi risalah yang telah beliau
bangun selama ini. Demi terlaksananya tugas ini, Allah berjanji akan
melindungi Rasul dari gangguan musuh, dan karena itu tidak ada pula
peluang bagi Rasul untuk merisaukan resiko pelaksanaan tugas tersebut.
Rasulpun bertekad untuk
menyampaikan wahyu Ilahi tersebut kepada umat. Dalam rangka ini,
beliau memerintahkan supaya rombongan yang ada didepan kembali ke
belakang, sedangkan rombongan yang di belakang beliau perintahkan agar
segera menyusul ke tempat beliau berada. Sesuai instruksi Rasul, semua
karavan terkumpul di suatu padang gersang yang hanya ditumbuhi
rumput-rumput kering berduri dan segelintir pohon. Di tempat itu,
karavan terkonsentrasi di tepi sebuah telaga tua di daerah Khoum.
Terik panas matahari yang tepat berada di atas kepala menjilat tubuh
semua orang. Tanah dan bebatuan seakan membara sehingga banyak orang
yang terpaksa menggunakan pakaiannya sebagai alas untuk menahan
sengatan panas.
Dalam kondisi sedemikian sulit itu,
semua orang bertanya-tanya dalam hati; gerangan apakah yang hendak
dilakukan Rasul. Karena itu, perhatian semua orang terkonsentrasi
kepada beliau. Dan benar, di saat benak para sahabat Rasul sedang
diterpa badai penasaran itulah beliau hendak menentukan garis
perjalanan sejarah umat dan ajaran Islam, ajaran yang telah beliau
perjuangkan dengan darah, keringat, dan air mata. Di tepi telaga
itulah beliau hendak mencetuskan penggalan sejarah yang determinan
bagi kehidupan spiritual dan materi umat manusia.
Peristiwa bersejarahpun berlangsung
selama hampir lima jam di lokasi sekitar telaga Khoum tersebut dalam
cuaca alam yang sedemikian panas. Menjelang pernyataan wasiat Rasul
itu, suasana yang tadinya riuh tiba-tiba tercekam kebisuan.
Gemerincing kalung-kalung onta dan kuda bahkan ikut tertelan kesunyian.
Entah karena panasnya hawa yang
menyengat atau mungkin karena sedemikian besarnya risalah yang hendak
beliau sampaikan, wajah nurani beliau saat itu nampak bersimbah peluh.
Beliau tampil ke atas mimbar yang terbuat dari beberapa bongkah batu
dan pelana onta. Semua mata tertatap kepada wajah beliau yang penuh
wibawa meski sudah tergurat usia 63 tahun itu. Sedemikian anggunnya
wajah beliau saat itu sehingga tatapan yang tersorotnya kepadanya
dapat melunturkan panasnya sengatan surya dan letihnya perjalanan
panjang yang tadinya dirasakan semua orang.
Meskipun terjadi lebih dari 1400
tahun silam, tepatnya pada tahun 10 Hijriah, namun kenangan peristiwa
besar itu tetap abadi hingga sekarang. Pesan yang terungkap dalam
peristiwa itu tetap terngiang dalam benak umat. Sebab, pesan yang
disampaikan Rasul saat itu bukanlah pesan yang relefansinya tersekat
oleh faktor ruang dan waktu dimana beliau berada, melainkan pesan
universal tentang pembangunan sebuah negeri makmur yang diidam-idamkan
umat. Yaitu negeri yang jika pemimpinnya tidak terpenjara di dalam
rumahnya, niscaya ajaran Islam yang murni akan terus mengalir
menyusuri lorong-lorong sejarah, dan tidak akan ada lagi kebangkitan
kaum celaka dan jahil yang sudah tergilas oleh Islam. Rasulullah SAWW
bersabda:
وان وليتموها عليا
وجدتموه هاديا مهديا يسلك بكم علىالطريق المستقيم
“Jika kalian menyerahkan
kepemimpinan kepada Ali, niscaya kalian akan mendapatkannya sebagai
pemberi petunjuk kalian dan dia akan berjalan di atas jalan yang lurus
bersama kalian.”
Dalam rangka memperingati peristiwa
yang dikenal dengan peristiwa Ghadir Khoum (Telaga Khoum) itu, yang
harus disayangkan ialah kenyataan punahnya kesegaran alam spiritual
umat akibat terabaikannya pesan agung Rasul tersebut. Duduk
persoalannya bukan terletak pada masalah ternistakannya hak Imam Ali
as, melainkan pada penyimpangan yang begitu fatal sehingga
mengeringkan mata air yang sangat diperlukan bagi kehidupan materi dan
spiritual umat manusia.
Mengenai keabsahan riwayat tentang
peristiwa Ghadir Khoum, layak disebutkan bahwa riwayat dan sanad-sanad
yang mendukungnya sudah jauh menembus batas tawatur sehingga tidak
mungkin lagi tergoyahkan oleh perjalanan masa. Syeikh Dhiyauddin yang
merupakan ulama besar Ahlussunnah Waljamaah mengatakan, “Seandainya
hadits Ghadir Khoum tidak bisa diterima, maka tidak akan lagi sesuatu
yang bisa diterima dalam Islam.” Dari kalangan Ahlussunnah,
orang-orang yang meriwayatkan hadits Ghadir Khoum meliputi para ahli
sejarah, hadits, tafsir, kalam, dan bahkan ahli sastra.
Dari karya para ulama salaf atau
ulama generasi terdahulu, kitab-kitab yang sudah ditemukan sejauh ini
tentang Ghadir Khoum ada sekitar 26 judul kitab yang diantaranya ialah
sebagai berikut:
1.
Kitab ‘AlWilayah’ karya Muhammad Bin
Jarir Attbari (wafat 310 H), sejarawan ternama Islam dari kalangan
Ahlussunah. Attabari nampaknya adalah ulama yang pertama kali menyusun
kitab khusus tentang peristiwa Ghadir Khoum. Dalam kitab itu dia
meriwayatkan hadist AlGhadir melalui 75 sanad.
2.
Kitab ‘AlWilayah fi Thariqi Hadist
AlGhadir’ karya Hafid bin Uqdah AlHamadani (wafat 333 H). Kitab
ini menukil hadist AlGhadir dari 105 jalur.
3.
Kitab ‘Thariq Al-Hadist AlGhadir’
karya Abu Thalib Abdullah bin Ahmad bin Zeid Al-Anbari (wafat 356 H).
4.
Kitab ‘Abu Bakar’ karya Muhammad bin
Umar bin Muhammad Attamimi AlBaghdadi yang tenar dengan julukan
‘Al-Ja’abi’ (wafat 355 H). Dalam kitab itu dia menyebutkan 125 riwayat
tentang hadits AlGhadir.
Selain kitab-kitab karya para ulama
Ahlussunnah tersebut, ada banyak lagi kitab-kitab yang ditulis oleh
para ulama Syiah tentang hadist AlGhadir yang antara lain sebagai
berikut:
1.
Kitab Abaqat Al-Anwar. Kitab ini
terdiri atas 20 jilid dimana 12 diantaranya ditulis oleh sejarawan Mir
Hamid Husain Al-Hindi, dan selebihnya ditulis oleh puteranya.
2.
Kitab AlGhadir karya Al-Allamah
Abdulhusain Al-Amini. Kitab 20 jilid ini bisa dikatakan sebagai
eksiklopedia sejarah Islam dan kepemimpinan Imam Ali as.
Kecuali para ulama salaf tersebut,
para ulama abad modern juga banyak yang memuat, membahas, dan ikut
mengabadikan hadits AlGhadir. Para ulama dari kalangan Ahlussunah
antara lain ialah:
1.
Syaikh Banhani AlBeiruti dalam kitabnya
Assyarif AlMuayyad.
2.
Sayid Mukmin Shablanji AlMisri dalam
kitabnya Nurul Abshar.
3.
Syaikh Muhammad Abduh dalam karyanya
Tafsir AlManar.
4.
Abdul Hamid Alusi AlBaghdadi dalam kitabnya
Nasyr Alla-ali.
5.
Syaikh Muhammad Habibullah Assyanqiti dalam
kitabnya Ta’liqat Mu’jamil Adibba’ .
Sebagaimana yang telah disebutkan
dalam kitab-kitab sejarah, jumlah periwayat hadits AlGhadir mencapai
125 orang. Sebagai penutup, kita sebutkan beberapa nama-nama tokoh
terkemuka sebagai berikut: