|
Khotbah Jumat Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran,
Ayatollah Al-Udzma Sayed Ali Khamenei, yang beirisi kecaman pedas
terhadap politik AS menyulut reaksi luas di berbagai media massa
regional dan internasional. Jumat lalu, Ayatollah Khamenei di hadapan
ratusan ribu warga kota Tehran dalam sholat jumat pertama di bulan suci
Ramdhan ini, mengkritik keras politik arogan AS di Irak dan Timur
Tengah. Beliau menilai Irak sebagai salah satu kawasan yang menyeret
kebijakan AS tertahan di jalan buntu. Menurutnya, awalnya AS hendak
menciptakan pemerintahan boneka di Irak, yang bisa membantu Gedung Putih
merealisasikan rencana Timur Tengah rayanya dan mengisolasi Republik
Islam Iran. Tapi, setelah empat tahun invasi Irak, seluruh analis
meyakini bahwa AS di Irak tengah terjebak di jalan buntu, dan berupaya
keluar secara terhormat.
Namun, apa yang membuat pernyataan Ayatollah Al-Udzma Sayed Ali Khamenei
menjadi bahan perhatian media massa dunia adalah prediksi beliau
mengenai pengadilan Bush atas dosa-dosa kejahatan perangnya. Dalam
khotbahnya itu, Ayatollah Khamenei menyinggung kembali berbagai hasil
poling yang digelar di berbagai negara-negara Islam. Beliau menegaskan,
seluruh hasil jajak pendapat itu, mengindikasikan bahwa posisi AS di
dunia Islam kian hari kian dibenci, begitu juga di hadapan opini
masyarakat internasional, wajah AS benar-benar buruk. Tak syak lagi,
suatu saat nanti, Presiden dan para pejabat tinggi negara ini akan
dihakimi secara adil di mahkamah internasional, lantaran aksi-aksi
jahatnya di Irak.
Prediksi Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam tersebut, yang meramalkan
kemungkinan diadilinya Bush dan kroni-kroninya di mahkamah internasional
ini, sejatinya berangkat dari rapor aksi-aksi kriminal Presiden AS,
khususnya pada masa agresi dan penjajahan di Irak. Serangkaian aksi
kriminal yang tergolong sebagai contoh nyata kejahatan atas umat manusia
dan kriminalitas perang menurut hukum internasional.
Kini, empat setengah tahun sudah penjajahan AS di Irak. Realita di balik
agresi militer AS di negara ini, yang tak lain hanya untuk menguras
kekayaan Irak, semakin tampak nyata. Perintah Bush untuk menyerang Irak
adalah keputusan ilegal dan bertentangan dengan undang-undang
internasional dan piagam PBB. AS tanpa seijin Dewan Keamanan PBB,
melancarkan serangan militer ke Irak, lantas menjajah negara ini. Namun
hingga kini, AS tak pernah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya
sebagai pihak penjajah, sebagaimana yang digariskan dalam undang-undang
internasional. Berdasarkan prinsip-prinsip internasional, AS sebagai
pihak penjajah wajib mewujudkan keamanan dan menjaga aset dan kekayaan
Irak selaku negara terjajah.
Ironisnya, AS justru bertindak bersebarangan dengan prinsip-prinsip
tersebut. Selain menginjak-injak aturan internasional dan undang-undang
internal Irak, puak-puak Gedung Putih juga mengabaikan kedaulatan
nasional dan politis pemerintahan demokratis Irak. Agen-agen rahasia AS
di Irak telah berkali-kali terlibat dalam aksi-aksi pembantaian rakyat
sipil Irak. Berdasarkan sumber-sumber pemberitaan resmi, sejak
dimulainya perang Irak pada Maret 2003 hingga kini, ratusan ribu warga
sipil Irak gugur syahid. Mereka adalah korban ketamakan perang dan
kerakusan politik Presiden AS. Irak senantiasa menjadi ajang
ketidakamanan, kekerasan, dan teror. Padahal sekitar 160 ribu tentara AS
berada di negara ini. Namun, sebagian besar tentara-tentara ini tak
ambil peduli dengan situasi tak aman yang merajalela di Irak.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ayatollah Ali Khamenei, Presiden Bush
menggunakan beragam cara dan taktik kotor untuk menipu opini publik.
Upaya ini sengaja ditempuh untuk menyembunyikan kekalahannya di Irak.
Beragam fitnah dan propaganda pun ditebar, sampai-sampai Republik Islam
Iran dijadikan kambing hitam, dan seluruh kegagalan politik AS di Irak
dilemparkan ke pundak Iran. Di lain pihak, guna menjustifikasi aksi
penjajahannya di Irak, Bush pun menyebut negara ini sebagai pusat
terorisme internasional. Padahal, terorisme sejatinya merupakan anak
haram penjajahan.
Kian meningkatnya kritik dan kecaman terhadap politik perang Bush,
sesungguhnya merupakan bukti penjelas di balik kebijakan militeristik AS
pasca tragedi 11 September, yang justru menyeret kondisi dunia, khusunya
Irak dan Timur Tengah menuju situsi yang penuh gejolak. Selain itu,
penjajahan AS di Irak ternyata hanya kian memperburuk krisis di Irak dan
terbantainya nyawa ratusan ribu rakyat tak berdosa negara ini. Melihat
betapa merahnya rapor kejahatan AS di Irak tersebut, lumrah saja
diperkirakan, jika suatu hari nanti, tiba masanya Bush dan para
kroni-kronisnya diadili di mahkamah internasional sebagai para penjahat
perang.
|