|
Keberhasilan
pemerintah Ahmadinejad di bidang politik luar negeri harus dilihat ke
belakang, ketika Ahmadinejad baru saja terpilih sebagai presiden ke
sembilan RII. Pada masa-masa itu, terjadi krisis yang serius dalam
hubungan luar negeri Iran dengan Barat. Krisis ini berpulang pada
masalah program nuklir Iran. Barat tidak setuju Iran menguasai teknologi
nuklir, sekalipun untuk tujuan damai. Waktu itu, kebijakan politik luar
negeri Iran terkait isu nuklir lebih toleran mengikuti keinginan Barat.
Namun, hasilnya tidak sesuai dengan cita-cita bangsa Iran. Melihat
kesempatan itu, Amerika dan sekutunya mempretensikan Iran dalam posisi
lemah. Pada masa kampanye pemilihan presiden Iran yang ke sembilan,
media-media Barat berusaha meyakinkan rakyat Iran bahwa seandainya
Ahmadinejad terpilih menjadi presiden, hubungan Iran dengan Barat akan
memasuki babak-babak terburuknya. Konflik Iran dengan Barat bakal tidak
terhindarkan.
Rakyat Iran
tidak peduli dengan propaganda media-media Barat dan mengikuti pemilihan
umum. Ahmadinejad terpilih sebagai presiden RII yang kesembilan. Dalam
kondisi yang demikian, pemerintah Ahmadinejad harus mencari solusi
keluar dari tekanan Barat yang dimotori Amerika. Pemerintah Ahmadinejad
tidak memilih kebijakan asal selamat dan mundur dari tekanan Barat,
melainkan bersikukuh memperjuangkan prinsip-prinsip dan cita-cita
revolusi sejalan dengan keinginan bangsa Iran. Rakyat Iran menuntut
hak-haknya terkait dengan pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai.
Keinginan ini yang diperjuangkan oleh pemerintah Ahmadinejad hingga
akhir dua tahun pertama masa jabatannya. Berdasarkan alasan-alasan
inilah, sejak awal, pemerintah Ahmadinejad menolak politik hegemoni
Barat yang bertujuan menghalangi Iran menguasai teknologi nuklir untuk
tujuan damai. Pemerintah Ahmadinejad memilih kebijakan menentang
hegemoni Barat.
Krisis nuklir
Iran berubah menjadi masalah internasional berkat tekanan dan konspirasi
yang dilakukan Amerika dan sekutunya. Hal ini membuat pemerintah
Ahmadinejad pada tahun pertama di bidang politik luar negerinya tidak
diberi pilihan lain. Pemerintahnya mengkonsentrasikan kekuatannya untuk
menyelesaikan masalah ini. Dari sini, masalah nuklir menjadi fokus utama
diplomasi RII. Tidak diragukan lagi, penguasaan teknologi nuklir sangat
strategis bagi pengembangan dan kemajuan sebuah negara. Namun, kebijakan
politik luar negeri Iran berhasil mengubah masalah ini menjadi simbol
perjuangan rakyat Iran menentang hegemoni Barat. Krisis nuklir Iran
menjadi ujian bagi rakyat dan pejabat pemerintah untuk mengukur seberapa
besar mereka membela kemandirian politik luar negeri Iran.
Ahmadinejad,
minggu ini, dalam pertemuannya dengan para pemuda berprestasi Iran
menjelaskan masalah ini. Ia mengatakan, “Sejak kemenangan RII,
musuh-musuh rakyat Iran tanpa kenal lelah berusaha menghalang-halangi
kemajuan bangsa Iran. Sekitar tiga dekade belakangan ini, upaya itu
diwujudkan dengan boikot, perang dan teror untuk melemahkan RII. Saat
ini, hegemoni Barat berhadap-hadapan dengan RII dalam masalah nuklir.
Barat khawatir bila Iran mampu meraih semua tujuan yang diinginkannya di
bidang pemanfaatan damai energi nuklir, Iran akan menjadi simbol bagi
seluruh negara berkembang. Masyarakat tertindas di dunia akan meniru apa
yang telah dicapai oleh bangsa Iran dan akan mempermasalahkan otoritas
monopoli sejumlah negara atas energi nuklir. Atas dasar ini, dalam dua
tahun terakhir ini, Amerika, sejumlah sekutu Eropanya dan Rezim Zionis
Israel mengerahkan segala kekuatannya untuk menghentikan program damai
energi nuklir Iran.”
Ada dua hal
yang membuat pemerintah Ahmadinejad memperkuat politik luar negerinya.
Pertama, tekanan dan serbuan yang luas dari hegemoni Barat dan peran
vital energi nuklir dalam kemajuan dan pembangunan negara mengharuskan
pemerintah Ahmadinejad memperkuat politik luar negerinya. Terlebih lagi,
saat melihat keinginan kuat rakyat Iran untuk mendapatkan haknya
memanfaatkan energi nuklir untuk pembangkit tenaga listriknya. Kemampuan
politik luar negeri Iran untuk keluar dari tekanan Barat dalam masalah
nuklir mengubah stigma sebelumnya. Saat ini, kemampuan nuklir Iran
berubah menjadi sebuah kekuatan diplomatik dalam politik luar negeri
Iran dengan dunia internasional. Hal itu karena kemajuan pesat Iran di
bidang ekonomi, budaya dan sosial ditambah sekarang Iran telah menjadi
salah satu kekuatan nuklir dunia. Saat ini, masalah nuklir Iran menjadi
kekuatan diplomasi pemerintah Ahmadinejad.
Keberhasilan
politik luar negeri Iran dalam dua tahun pertama masa pemerintahan
Ahmadinejad dapat ditelusuri di kawasan Timur Tengah. Sistem diplomasi
RII dengan memanfaatkan seluruh kemampuan yang dimiliki berhasil dalam
aksi-aksinya di Irak, Afghanistan, Palestina, Lebanon dan juga Amerika
Latin. Kemampuan diplomasi pemerintah Ahmadinejad mengubah RII menjadi
salah satu negara terkuat di Timur Tengah. Kemampuan Iran diakui oleh
tokoh-tokoh Barat yang menasehati Gedung Putih agar tidak memandang
sebelah mata peran dan posisi Iran di Timur Tengah. Perundingan segi
tiga Baghdad menunjukkan posisi Iran sangat menentukan di peta politik
Timur Tengah. Perundingan segi tiga terlaksana setelah permintaan resmi
Amerika dan desakan pemerintah Irak. Satu hal yang menggembirakan,
ketika Timur Tengah menjadi pusat konsentrasi tekanan politik dan
militer Amerika dan sekutunya terhadap Iran, keberhasilan diplomasi Iran
lebih mendominasi. Pejabat-pejabat tinggi Irak lebih menganggap Iran
sebagai negara sahabat dan lebih dekat dengan mereka. Usaha Amerika
untuk merusak hubungan ini selalu menemui jalan buntu.
Di kawasan
Teluk Persia, politik luar negeri Iran yang aktif dan cerdas ditambah
kunjungan Presiden Mahmud Ahmadinejad ke Arab Saudi dan
Emirat Arab memperkokoh hubungan Iran
dan negara-negara di sekitar Teluk Persia. Pada saat yang sama,
kunjungan pejabat-pejabat tinggi Amerika, khususnya
Condoleeza Rice dan Robert Gates,
Menteri Luar Negeri dan Pertahanan Amerika, gagal mengajak negara-negara
Arab memusuhi Iran. Di Afghanistan, Hamid Karzai, Presiden Aghanistan,
membela hubungan mesra Iran dan Aghanistan. Pembelaannya disampaikan
saat kunjungannya ke Amerika. Kalangan politisi dan media Barat menilai
itu sebagai kemenangan lain diplomasi Iran di kawasan.
Kebijakan
politik luar negeri Iran di kawasan Timur Tengah dan seluruh
negara-negara Islam berlandaskan upaya mewujudkan persatuan di dunia
Islam. Kunjungan-kunjungan Presiden Ahmadinejad ke negara-negara seperti
Suriah, Malaysia, Azerbaijan, Tajikistan, Qatar, Sudan, Emirat dan Arab
Saudi bertujuan mewujudkan persatuan negara-negara Islam. Menteri Luar
Negeri Iran di tahun pertama menjabat telah mengunjungi 21 negara dan
tahun kedua 26 negara-negara Islam menjadi tamu Manucher Mottaki.
Di hari-hari
Pekan Pemerintah, Ayatullah Khamenei, Rahbar RII dalam pertemuannya
dengan Ahmadinejad dan para pemimpin di Mahkamah Agung memuji kinerja
pemerintah Ahmadinejad selama dua tahun ini. Beliau berharap agar
pemerintah lebih memperhatikan keinginan rakyat, kemajuan negara dan
mempertahankan keberhasilan politik luar negeri. Dalam pertemuan lainnya
dengan jajaran kementrian luar negeri dan duta-duta besar Iran di luar
negeri, Rahbar kembali mengingatkan kebijakan politik luar negeri Iran.
Iran tidak menerima hubungan dengan kekuatan yang ingin mendikte. Iran
menjalankan kebijakan politik luar negerinya secara cerdas dan realistis
menghadapi sistem hegemoni dunia.
Pemerintah
Ahmadinejad berkewajiban melindungi prinsip-prinsip revolusi Islam,
identitas dan kepentingan nasional. Hal yang ditekankan oleh Ayatullah
Khamenei bahwa Revolusi Islam bertujuan mewujudkan program-program
politik, ekonomi, sosial dan budaya Islam. Politik luar negeri Iran dan
hubungan internasional RII berlandaskan syariat Islam. Agama Islam
menolak sistem hegemoni sejumlah negara yang sewenang-wenang. Islam
mengajarkan perdamaian, keamanan dan kebahagiaan bagi seluruh umat
manusia.
Belajar dari
pengalaman RII dalam menghadapi kelicikan tiga dekade terakhir hegemoni
Barat yang dimotori oleh Amerika, dapat dikatakan bahwa dengan tawakal
kepada Allah dan kepercayaan diri berdasarkan nilai-nilai Islam,
pemerintah dan rakyat Iran dapat keluar sebagai pemenang.
|