Perspektif    

   September 2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

Dampak Kesepakatan Nuklir Amerika dan India

 

Kesepakatan kerja sama nuklir India dan Amerika disebut-sebut oleh pemerintah Manmohan Singh sebagai keberhasilan besar. Namun, kesepakatan ini berbalik menjadi sebuah krisis serius di India. Di satu sisi, situasi politik India menjadi tidak menentu karena protes partai-partai oposisi dan di sisi lain, pemerintah Monmohan Singh mendapat sorotan negatif dunia internasional.

Rusia sebagai partner kerja sama India selama ini merasa dikhianati dengan semakin mesranya hubungan India dan Amerika. Keyakinan Rusia, Amerika berusaha mempengaruhi kebijakan politik luar negeri India dengan menandatangani kerja sama nuklir yang dikenal Traktat 123. Hal itu terbukti, dalam dua sidang Dewan Gubernur IAEA tahun lalu India positif memberikan suaranya menentang proyek damai nuklir Iran mengikuti Amerika. Rusia pada waktu itu menjustifikasi penandatanganan Traktat 123 punya hubungan erat dengan sikap India di dua sidang itu.

Kekhawatiran Moskow tentang masa depan kerja sama nuklir India dan Amerika begitu serius, sehingga Perdana Menteri India, Manmohan singh, mengirimkan utusan khusus ke Rusia. Minggu lalu, seorang tokoh diplomat berpengaruh, Shyam Saran, mengunjungi Moskow. Agenda pentingnya saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, sebisa mungkin meredam kekhawatiran Rusia melihat perkembangan hubungan bilateral India dan Amerika. Terutama mengenai dampak kesepakatan Traktat 123 bagi kebijakan politik luar negeri India dengan Rusia.

Sampai saat ini, Rusia tidak merinci alasannya mengkhawatirkan kesepakatan nuklir India dan Amerika. Namun, alasan-alasan itu dapat ditemukan dalam sebuah analisa panjang di sebuah harian Rusia mengenai kesepakatan ini. Koran Rusia Nezavisimaya Gazeta meyakini bahwa kesepakatan nuklir India dan Amerika akan berpengaruh besar terhadap kebijakan politik luar negeri India. Dampak pertama yang muncul dari kesepakatan ini adalah Rusia tidak lagi menjadi pemasok persenjataan India. Amerika mendapat keuntungan ganda dengan kesepakatan nuklir India.

Rusia tahu betul sifat Amerika dalam bisnis persenjataan. Ketika produk-produk militer Amerika masuk ke bursa penjualan senjata di India, maka Washington akan berusaha memonopoli bisnis jutaan dolar itu. Bila tidak terpaksa, politik unilateral Amerika tidak pernah bisa menerima partner dalam bentuk apa pun. Peristiwa pendudukan Irak menjadi bukti semua ini. Setelah Irak diduduki tentara multi nasional, kesepakatan-kesepakatan paling menguntungkan diambil alih oleh perusahan-perusahan persenjataan dan ekonomi Amerika. Negara-negara sekutu Amerika tidak mendapat keuntungan yang sesuai dengan perannya. Inggris yang menjadi sekutu terdekat Amerika pun hanya mendapat proyek-proyek kecil di Irak. Jerih payahnya membeo Amerika selama ini tidak sebanding dengan apa yang diterimanya di Irak.

Kekhawatiran akibat kesepatakan nuklir India dan Amerika tidak hanya menimpa Rusia. Cina dan Pakistan punya kekhawatiran sendiri dalam masalah ini. India, Pakistan dan cina merupakan tiga negara tetangga yang memiliki senjata nuklir. Hubungan India dengan Pakistan dan cina sering memunculkan pergolakan yang mengarah ke krisis global. Sampai saat ini, India dan Pakistan telah berperang sebanyak tiga kali. Perang antar kedua negara ini selalu diikuti ketakutan dunia internasional, khususnya negara-negara tetangga, karena keduanya memiliki senjata nuklir. Perang antar keduanya dapat memicu perang nuklir. Kekhawatiran Pakistan atas kesepakatan Traktat 123 dapat dimaklumi. Bila hubungan India dan Amerika semakin mesra, Islamabad tidak mendapat tempat dalam kebijakan politik luar negeri Gedung Putih.

Berbeda dengan Pakistan, dalam tahun-tahun terakhir ini, Cina dan India berusaha mencari solusi sengketa lama teritorial antar kedua negara. Cina menilai, kesepakatan nuklir ini akan dipakai Amerika untuk memprovokasi New Delhi menghadapi Peking. Ini sebuah kesempatan emas bagi Amerika untuk mendikte Cina. Para politisi Cina percaya, salah satu keinginan asli Amerika di benua Asia adalah mendikte Cina dan mencegah pengaruh politik, ekonomi dan militer Cina di belahan benua ini. Kesepakatan kerja sama nuklir India dan Amerika membuat kedekatan kedua negara semakin mesra. Hasilnya, Pakistan akan terprovokasi mendekati Cina agar tidak tertinggal jauh dari musuh bebuyutannya India. Munculnya dua kubu, Cina-Pakistan dan Amerika-India hanya akan memunculkan perlombaan senjata di Asia Selatan. 

Salah satu alasan penentangan parta-partai oposisi di India adalah sikap terakhir India dalam sidang Dewan Gubernur IAEA yang muncul setelah menyepakati kerja sama nuklir dengan Amerika. Perjanjian ini telah ditandatangani lebih dari dua tahun lalu oleh Presiden Amerika, George W. Bush dan Perdana Menteri India, Manmohan Singh. Berbeda dengan Amerika, Undang-undang Dasar India tidak mengatur keabsahan kesepakatan ini harus lewat persetujuan parlemen. Sementara itu di Amerika, sejumlah anggota DPR dan Senat Amerika mengancam bahwa kesepakatan ini akan disetujui bila India menentang program damai nuklir Iran. Para pejabat tinggi Amerika tidak mengeluarkan pernyataan apapun terkait masalah ini. Namun, diamnya mereka atau mengeluarkan pernyataan yang memiliki dua makna menunjukkan sikap mereka sama dengan anggota DPR dan Senat. Ancaman sejumlah anggota DPR dan Senat Amerika itu membuahkan hasil ketika India positif mendukung pelimpahan agenda nuklir Iran ke Dewan Keamanan (DK) PBB.

Sejak dua minggu lalu, Partai Komunis India secara resmi melayangkan protesnya atas kesepakatan nuklir India dan Amerika. Partai Komunis India meminta agar Manmohan Singh membatalkan kesepakatan itu. Sekretaris Jenderal Partai Komunis India, Prakash Karat, menuliskan alasan-alasan penolakannya atas kesepakatan itu. Tulisannya dimuat dalam sebuah artikel hari Senin lalu di sebuah harian berbahasa Inggris The Hindu. Ia menilai, suara India menentang program damai nuklir Iran dalam dua sidang Dewan Gubernur IAEA merupakan sikap membeo pemerintahan Singh terhadap kebijakan Amerika yang anti Iran. Dalam makalahnya Prakash menulis, “Sekalipun pemerintahan Singh berjanji untuk tetap melanjutkan mega proyek saluran pipa gas Iran yang melewati Pakistan ke India, namun dampak kesepakatan Traktat 123 dapat menggagalkan proyek saluran pipa gas itu. Karena kebencian Amerika terhadap Iran tidak mengijinkan selesainya proyek itu.

Sementara itu, dalam melihat fenomena terakhir India yang menentang program damai nuklir Iran, para petinggi Iran berusaha menahan diri agar tidak merusak hubungan bilateral kedua negara. Iran berharap dalam perundingan akan datang mengenai nuklir Iran, India menyadari sikapnya sebagai salah satu penggagas Gerakan Non-Blok (GNB) dan berjalan seiring dengan anggota-anggota lainnya. Selama ini, negara-negara anggota GNB selalu mendukung program damai nuklir Iran. Sikap India menentang program nuklir Iran merupakan salah satu alasan penolakan Traktat 123 di India. Alasan utama partai-partai oposisi dan rakyat India dengan adanya kesepakatan itu, Amerika merasa ikut campur tangan urusan dalam negeri India.

Salah satu pemimpin partai oposisi BPJ, Sushma Swaraj, mengatakan, “Kesepakatan nuklir India dan Amerika membahayakan kedaulatan India.” Sebagian anggota kongres Amerika menilai kesepakatan itu bertentangan dengan undang-undang Amerika yang melarang bekerja sama dengan negara yang tidak menandatangani Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT). India termasuk negara yang tidak menandatangani NPT oleh karenanya, tidak satu pun negara yang diperkenankan bekerja sama dengan India dalam masalah nuklir. Menteri Luar Negeri India mengeluarkan pernyataan bahwa India tidak harus mengikuti undang-undang Amerika. sementara itu, Amerika menegaskan agar India tunduk pada undang-undangnya. India lupa bahwa dalam pasal 103 undang-undang Amerika tercatat adanya penekanan bahwa kerjasa sama ini punya tujuan mendikte aktivitas nuklir Iran.

Kesimpulannya, kesepakatan nuklir Amerika dan India sampai saat ini tidak menguntungkan pemerintahan Manmohan Singh. Bahkan yang tampak selama ini munculnya pelbagai krisis di India. Para oposan yang terdiri dari partai-partai politik dan rakyat India penentang kebijakan ini menilai sikap selanjutnya Singh sebagai simbol. Apakah pemerintah India lebih memilih kemandirian dan mementingkan kepentingan nasional ataukah membeo kebijakan Gedung Putih?

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]