|
Kesepakatan
kerja sama nuklir India dan Amerika disebut-sebut oleh pemerintah
Manmohan Singh sebagai keberhasilan besar. Namun, kesepakatan ini
berbalik menjadi sebuah krisis serius di India. Di satu sisi, situasi
politik India menjadi tidak menentu karena protes partai-partai oposisi
dan di sisi lain, pemerintah Monmohan Singh mendapat sorotan negatif
dunia internasional.
Rusia sebagai
partner kerja sama India selama ini merasa dikhianati dengan semakin
mesranya hubungan India dan Amerika. Keyakinan Rusia, Amerika berusaha
mempengaruhi kebijakan politik luar negeri India dengan menandatangani
kerja sama nuklir yang dikenal Traktat 123. Hal itu terbukti, dalam dua
sidang Dewan Gubernur IAEA tahun lalu India positif memberikan suaranya
menentang proyek damai nuklir Iran mengikuti Amerika. Rusia pada waktu
itu menjustifikasi penandatanganan Traktat 123 punya hubungan erat
dengan sikap India di dua sidang itu.
Kekhawatiran
Moskow tentang masa depan kerja sama nuklir India dan Amerika begitu
serius, sehingga Perdana Menteri India, Manmohan singh, mengirimkan
utusan khusus ke Rusia. Minggu lalu, seorang tokoh diplomat berpengaruh,
Shyam Saran, mengunjungi Moskow. Agenda pentingnya saat bertemu dengan
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, sebisa mungkin meredam
kekhawatiran Rusia melihat perkembangan hubungan bilateral India dan
Amerika. Terutama mengenai dampak kesepakatan Traktat 123 bagi kebijakan
politik luar negeri India dengan Rusia.
Sampai saat
ini, Rusia tidak merinci alasannya mengkhawatirkan kesepakatan nuklir
India dan Amerika. Namun, alasan-alasan itu dapat ditemukan dalam sebuah
analisa panjang di sebuah harian Rusia mengenai kesepakatan ini. Koran
Rusia Nezavisimaya Gazeta meyakini bahwa kesepakatan nuklir India dan
Amerika akan berpengaruh besar terhadap kebijakan politik luar negeri
India. Dampak pertama yang muncul dari kesepakatan ini adalah Rusia
tidak lagi menjadi pemasok persenjataan India. Amerika mendapat
keuntungan ganda dengan kesepakatan nuklir India.
Rusia tahu
betul sifat Amerika dalam bisnis persenjataan. Ketika produk-produk
militer Amerika masuk ke bursa penjualan senjata di India, maka
Washington akan berusaha memonopoli bisnis jutaan dolar itu. Bila tidak
terpaksa, politik unilateral Amerika tidak pernah bisa menerima partner
dalam bentuk apa pun. Peristiwa pendudukan Irak menjadi bukti semua ini.
Setelah Irak diduduki tentara multi nasional, kesepakatan-kesepakatan
paling menguntungkan diambil alih oleh perusahan-perusahan persenjataan
dan ekonomi Amerika. Negara-negara sekutu Amerika tidak mendapat
keuntungan yang sesuai dengan perannya. Inggris yang menjadi sekutu
terdekat Amerika pun hanya mendapat proyek-proyek kecil di Irak. Jerih
payahnya membeo Amerika selama ini tidak sebanding dengan apa yang
diterimanya di Irak.
Kekhawatiran
akibat kesepatakan nuklir India dan Amerika tidak hanya menimpa Rusia.
Cina dan Pakistan punya kekhawatiran sendiri dalam masalah ini. India,
Pakistan dan cina merupakan tiga negara tetangga yang memiliki senjata
nuklir. Hubungan India dengan Pakistan dan cina sering memunculkan
pergolakan yang mengarah ke krisis global. Sampai saat ini, India dan
Pakistan telah berperang sebanyak tiga kali. Perang antar kedua negara
ini selalu diikuti ketakutan dunia internasional, khususnya
negara-negara tetangga, karena keduanya memiliki senjata nuklir. Perang
antar keduanya dapat memicu perang nuklir. Kekhawatiran Pakistan atas
kesepakatan Traktat 123 dapat dimaklumi. Bila hubungan India dan Amerika
semakin mesra, Islamabad tidak mendapat tempat dalam kebijakan politik
luar negeri Gedung Putih.
Berbeda dengan
Pakistan, dalam tahun-tahun terakhir ini, Cina dan India berusaha
mencari solusi sengketa lama teritorial antar kedua negara. Cina
menilai, kesepakatan nuklir ini akan dipakai Amerika untuk memprovokasi
New Delhi menghadapi Peking. Ini sebuah kesempatan emas bagi Amerika
untuk mendikte Cina. Para politisi Cina percaya, salah satu keinginan
asli Amerika di benua Asia adalah mendikte Cina dan mencegah pengaruh
politik, ekonomi dan militer Cina di belahan benua ini. Kesepakatan
kerja sama nuklir India dan Amerika membuat kedekatan kedua negara
semakin mesra. Hasilnya, Pakistan akan terprovokasi mendekati Cina agar
tidak tertinggal jauh dari musuh bebuyutannya India. Munculnya dua kubu,
Cina-Pakistan dan Amerika-India hanya akan memunculkan perlombaan
senjata di Asia Selatan.
Salah satu
alasan penentangan parta-partai oposisi di India adalah sikap terakhir
India dalam sidang Dewan Gubernur IAEA yang muncul setelah menyepakati
kerja sama nuklir dengan Amerika. Perjanjian ini telah ditandatangani
lebih dari dua tahun lalu oleh Presiden Amerika, George W. Bush dan
Perdana Menteri India, Manmohan Singh. Berbeda dengan Amerika,
Undang-undang Dasar India tidak mengatur keabsahan kesepakatan ini harus
lewat persetujuan parlemen. Sementara itu di Amerika, sejumlah anggota
DPR dan Senat Amerika mengancam bahwa kesepakatan ini akan disetujui
bila India menentang program damai nuklir Iran. Para pejabat tinggi
Amerika tidak mengeluarkan pernyataan apapun terkait masalah ini. Namun,
diamnya mereka atau mengeluarkan pernyataan yang memiliki dua makna
menunjukkan sikap mereka sama dengan anggota DPR dan Senat. Ancaman
sejumlah anggota DPR dan Senat Amerika itu membuahkan hasil ketika India
positif mendukung pelimpahan agenda nuklir Iran ke Dewan Keamanan (DK)
PBB.
Sejak dua
minggu lalu, Partai Komunis India secara resmi melayangkan protesnya
atas kesepakatan nuklir India dan Amerika. Partai Komunis India meminta
agar Manmohan Singh membatalkan kesepakatan itu. Sekretaris Jenderal
Partai Komunis India, Prakash Karat, menuliskan alasan-alasan
penolakannya atas kesepakatan itu. Tulisannya dimuat dalam sebuah
artikel hari Senin lalu di sebuah harian berbahasa Inggris The Hindu. Ia
menilai, suara India menentang program damai nuklir Iran dalam dua
sidang Dewan Gubernur IAEA merupakan sikap membeo pemerintahan Singh
terhadap kebijakan Amerika yang anti Iran. Dalam makalahnya Prakash
menulis, “Sekalipun pemerintahan Singh berjanji untuk tetap melanjutkan
mega proyek saluran pipa gas Iran yang melewati Pakistan ke India, namun
dampak kesepakatan Traktat 123 dapat menggagalkan proyek saluran pipa
gas itu. Karena kebencian Amerika terhadap Iran tidak mengijinkan
selesainya proyek itu.
Sementara itu,
dalam melihat fenomena terakhir India yang menentang program damai
nuklir Iran, para petinggi Iran berusaha menahan diri agar tidak merusak
hubungan bilateral kedua negara. Iran berharap dalam perundingan akan
datang mengenai nuklir Iran, India menyadari sikapnya sebagai salah satu
penggagas Gerakan Non-Blok (GNB) dan berjalan seiring dengan
anggota-anggota lainnya. Selama ini, negara-negara anggota GNB selalu
mendukung program damai nuklir Iran. Sikap India menentang program
nuklir Iran merupakan salah satu alasan penolakan Traktat 123 di India.
Alasan utama partai-partai oposisi dan rakyat India dengan adanya
kesepakatan itu, Amerika merasa ikut campur tangan urusan dalam negeri
India.
Salah satu
pemimpin partai oposisi BPJ, Sushma Swaraj, mengatakan, “Kesepakatan
nuklir India dan Amerika membahayakan kedaulatan India.” Sebagian
anggota kongres Amerika menilai kesepakatan itu bertentangan dengan
undang-undang Amerika yang melarang bekerja sama dengan negara yang
tidak menandatangani Traktat Non Proliferasi
Nuklir (NPT). India termasuk negara yang tidak menandatangani NPT
oleh karenanya, tidak satu pun negara yang diperkenankan bekerja sama
dengan India dalam masalah nuklir. Menteri Luar Negeri India
mengeluarkan pernyataan bahwa India tidak harus mengikuti undang-undang
Amerika. sementara itu, Amerika menegaskan agar India tunduk pada
undang-undangnya. India lupa bahwa dalam pasal 103 undang-undang Amerika
tercatat adanya penekanan bahwa kerjasa sama ini punya tujuan mendikte
aktivitas nuklir Iran.
Kesimpulannya,
kesepakatan nuklir Amerika dan India sampai saat ini tidak menguntungkan
pemerintahan Manmohan Singh. Bahkan yang tampak selama ini munculnya
pelbagai krisis di India. Para oposan yang terdiri dari partai-partai
politik dan rakyat India penentang kebijakan ini menilai sikap
selanjutnya Singh sebagai simbol. Apakah pemerintah India lebih memilih
kemandirian dan mementingkan kepentingan nasional ataukah membeo
kebijakan Gedung Putih?
|