|
Timur Tengah
Pasca Sidang Sharmu Sheikh
Kota Sharmu Sheikh yang terletak di pinggiran Laut Merah, Mesir, Kamis 3
Mei 2007, menjadi tuan rumah sidang para delegasi dari negara-negara
tetangga Irak. Sidang yang digelar selama dua hari itu membahas masalah
keamanan Irak dan mekanisme stabilisasi negara pendudukan tersebut,
serta percepatan proses rekonstruksi. Selain negara-negara tetangga Irak,
sidang itu juga dihadiri para delegasi dari lima negara anggota tetap
Dewan Keamanan PBB, G8, Uni Eropa, Organisasi Konferensi Islam, dan Liga
Arab serta Sekjen PBB, Ban Ki-moon. Sidang berlangsung dalam dua tahap.
Pertama membahas berbagai masalah dan kendala keamanan Irak dan tahap
kedua difokuskan untuk membahas mekanisme rekonstruksi dan pendanaannya.
Sidang dipimpin secara kolektif oleh Irak dan PBB.
Sebelum pelaksanaan sidang, tersebar isu
mengenai kemungkinan perundingan antara Menlu Iran, Manochehr Mottaki,
dan sejawatnya asal AS, Condoleezza Rice, di sela-sela sidang. Tiga hari
sebelum sidang Sharmu Sheikh, Penanggung Jawab Politik Luar Negeri Uni
Eropa, Javier Solana, mengimbau AS untuk berunding dengan Republik Islam
Iran guna menyelesaikan krisis di Timur Tengah khususnya terkait Irak.
Dikatakannya, upaya untuk mewujudkan perdamaian di kawasan tidak akan
terwujud tanpa partisipasi Iran.
Adapun Iran sebelumnya menyatakan masih
mempertimbangkan kehadirannya dalam sidang Sharmu Sheikh karena sejumlah
alasan. Dalam sidang para menteri negara-negara tetangga Irak di
Baghdad, telah direncanakan bahwa sidang berikutnya akan digelar di
Ankara, Turki. Namun menjelang pelaksanaan sidang, diumumkan bahwa
lokasinya dipindah ke Sharmu Sheikh dan jumlah pesertanya pun ditambah.
Kehadiran lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, G8, dan Uni
Eropa dalam sidang tersebut dinilai Iran sebagai upaya generalisasi
krisis Irak. Pemindahan lokasi sidang dari Ankara ke Sharmu Sheikh dan
pengubahannya menjadi sidang trans-regional, mencuatkan berbagai
pertanyaan dari pihak Iran soal tujuan utama sidang tersebut.
Sehari sebelum pembukaan sidang Sharmu
Sheikh, Menteri Luar Negeri Irak, Hushyar Zibari mengadakan pertemuan
dengan sejawatnya asal Iran, Manochehr Mottaki di Teheran. Zibari
menilai partisipasi Iran dalam sidang sangat urgen dan determinan.
Bersamaan dengan pertemuan Zibari dan Mottaki, PM Irak, Nouri Al Maliki
juga mengontak Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, soal kehadiran
delegasi Teheran dalam sidang Sharmu Sheikh. Pada hari itu juga,
Republik Islam Iran akhirnya menyatakan kesiapannya untuk menghadiri
sidang Sharmu Sheikh.
Seperti
yang telah diprediksikan sebelumnya, tidak terjadi dialog antara Mottaki
dan Rice di sela-sela sidang. Di mata Iran, seluruh kendala dan
penderitaan yang dirasakan bangsa Irak saat ini adalah akibat dari aksi
pendudukan pasukan AS dan Inggris. Iran senantiasai mendukung
pemerintahan terpilih Irak dan menghormati keputusan para pejabat tinggi
negara tersebut. Partisipasi Iran dalam sidang Sharmu Sheikh juga
membuktikan hal tersebut. Pemerintahan Nouri Al Maliki telah mengerahkan
seluruh kemampuannya untuk memajukan proses pemulihan politik, sosial,
ekonomi, dan keamanan Irak. Namun hingga kini masih terdapat berbagai
kendala yang menghambat realisasi upaya tersebut. Sebagian besar dari
kendala tersebut merupakan dampak langsung dari berlanjutnya pendudukan
pasukan asing.
Nouri Al
Maliki bahkan berulangkali telah menyatakan kritikannya atas penentangan
pasukan pendudukan untuk menyerahkan berbagai urusan ke tangan
pemerintah Irak. Oleh sebab itu, sidang Sharmu Sheikh diharapkan dapat
membuka jalan bagi proses stabilisasi dan pemulihan keamanan Irak. Namun
solusi komprehensif yang diharapkan dalam sidang tersebut tak
terealisasi akibat banyaknya jumlah peserta dan perbedaan pendapat
terkait krisis Irak. Sebab itu, deklarasi sidang Sharmu Sheikh hanya
menyebutkan poin secara global saja. Dalam deklarasasi tersebut
ditekankan masalah integritas dan kedaulatan Irak serta persatuan dan
non-intervensi pihak asing dalam urusan dalam negeri Irak. Negara-negara
peserta sidang juga sepakat mengalokasikasn dana rekonstruksi Irak yang
keseluruhannya mencapai lima milyar dolar.
Pengalaman menunjukkan bahwa keputusan yang
diambil dalam sidang Sharmu Sheikh tidak akan terealisasi sepenuhnya
mengingat pendeknya masa dan banyaknya peserta. Keputusan tersebut akan
segera terlupakan. Sidang serupa juga pernah digelar terkait
rekonstruksi Afghanistan namun janji pengalokasian dana milyaran dolar
untuk negara tersebut tak pernah terealisasi. Masalah tidak terpenuhinya
janji rekonstruksi sebesar milyaran dolar itu memang dijadikan strategi
oleh AS untuk mengalihkan perhatian masyarakat dunia terhadap krisis di
negara yang didudukinya.
AS menjadikan masalah keamanan dan
pembangunan Irak sebagai prioritas kedua padahal kedua masalah tersebut
merupakan yang paling penting untuk segera diselesaikan di Irak. Sidang
Sharmu Sheikh tidak menyinggung dampak buruk dari pendudukan AS dan
Inggris. Bahkan sidang itu tidak membahas masalah ketiadaan kontrol
pemerintah Irak terhadap urusan dalam negeri akibat kebijakan pasukan
pendudukan. Saat ini di Irak terorisme dan pendudukan ibarat dua sisi
mata uang logam. Keberadaan keduanya saling bergantung satu sama lainnya.
Di lain pihak, untuk mereduksi tekanan dari
dalam dan luar negeri AS, Gedung Putih justru menuduh negara-negara
tetangga Irak telah mencampuri urusan dalam negeri Irak. Namun faktanya
adalah bahwa AS dan Inggris ingin mengubah Irak menjadi pangkalan
politik mereka di Timur Tengah, termasuk menggertak negara-negara
tetangga Irak khususnya Iran. Ancaman yang berulangkali dikemukakan para
polisi AS untuk menyerang Iran serta penangkapan terhadap para diplomat
Iran oleh militer AS di Irak, merupakan bukti permusuhan AS terhadap
Iran.
Tak diragukan lagi bahwa tujuan AS menggelar
sidang Sharmu Sheikh bukan dalam rangka mencari akar penyelesaian krisis
Irak melainkan sarana untuk menjustifikasi pendudukannya di Negeri 1001
Malam tersebut. Tak mengherankan bila dalam deklarasi Sharmu Sheikh
tidak tercantum masalah penarikan mundur pasukan asing dari Irak.
Padahal warga Irak dan seluruh masyarakat regional Timur Tengah, bahkan
warga AS, menuntut penarikan mundur pasukan asing dari Irak. Tuntutan
serupa juga dijadikan syarat oleh Kongres AS dalam menyetujui draf bujet
tambahan program pemberantasan terorisme Bush.
Batu besar yang menghadang realisasi tujuan
AS di Irak adalah karena pemerintahan Al Maliki mendapat dukungan penuh
dari rakyat dan ulama besar Irak seperti Ayatullah Sistani. Sebab itu,
AS tidak mudah menyingkirkan Al Maliki dari puncak pemerintahan. HIngga
kini, AS berniat memasukkan kembali para mantan pejabat tinggi Rezim
Baath dalam struktur pemerintahan Irak. Padahal pemerintahan Rezim
Baath-lah yang digulingkan militer AS dalam invasi mereka ke Irak pada
bulan Maret 2003 lalu.
|