|
Resolusi 1737: Manifestasi
Diskriminasi PBB
Resolusi 1737 yang diajukan oleh tiga negara, yaitu Jerman, Inggris, dan
Perancis, setelah mengalami proses panjang dan alot, dengan dukungan
penuh AS, akhirnya disahkan oleh Dewan Keamanan PBB. Dalam Resolusi ini
disebutkan bahwa Iran diberi kesempatan selama dua bulan untuk
menghentikan aktivitas nuklirnya, terutama pengayaan uranium. Namun,
Republik Islam Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa karena proyek
nuklirnya sepenuhnya bertujuan damai, maka resolusi itu merupakan sebuah
pelanggaran hukum, dan Iran tidak akan menerima resolusi tersebut.
Atas
dasar itu pula, segera setelah resolusi itu disahkan, Sekretaris Dewan
Keamanan Nasional Iran, Doktor Ali Larijani langsung mengumumkan bahwa
Iran akan memulai pengoperasian 3000 mesin sentrifugal-nya. Sehari
setelah pengesahan Resolusi 1737 itu, Parlemen Iran segera mengadakan
sidang, dan mengeluarkan keputusan bahwa pemerintah harus merevisi
kembali tingkat hubungannya dengan IAEA.
Dalam
pandangan para pengamat, dengan mengesahkan Resolusi 1737, Barat
mengejar dua tujuan, yaitu usaha untuk menunda kemajuan program nuklir
Iran dan melancarkan perang psikologis terhadap Iran. Sesunguhnya
embargo yang ditetapkan dalam resolusi itu adalah embargo yang sangat
lemah dan tidak berdampak signifikan terhadap Iran. Karena itulah, bisa
dikatakan bahwa tujuan terpenting dari pengesahan resolusi ini adalah
melemahkan semangat rakyat dan pemimpin Iran. Namun sejarah menunjukkan
bhawa rakyat dan pemimpin Iran selalu bisa keluar dari krisis yang jauh
lebih berat dari kondisi saat ini dengan penuh kebanggaan. Resolusi 1737
juga tidak akan mampu menghentikan langkah Iran dalam mendayagunakan
teknologi nuklir demi kepentingan damai.
Resolusi 1737 disahkan meskipun Dirjen IAEA, Muhammad AlBaradei,
berkali-kali melaporkan bahwa tidak ada penyimpangan apapun dalam proyek
nuklir Iran. Atas alasan ini, Iran menyatakan bahwa resolusi terbaru DK
PBB itu adalah resolusi yang tidak legal dan disahkan atas dasar
tendensi politik sebagian anggota tetap DK PBB. Pandangan seperti ini
tidak hanya dinyatakan oleh pemerintah Iran, melainkan juga oleh banyak
pengamat politik internasional, termasuk dari Barat. Mereka menyatakan
bahwa pengesahan resolusi 1737 dan pada saat yang sama sikap diam yang
ditunjukkan oleh Barat terhadap kepemilikan senjata nuklir oleh Rezim
Zionis membuktikan adanya standar ganda AS dan sekutu-sekutunya.
Scott
Ritter, penyelidik senior PBB pada tahun 1991-1998 dalam investigasi
senjata pembunuh massal di Irak, beberapa waktu lalu mengeluarkan
pernyataan yang mengkritik kebijakan Gedung Putih di Timur Tengah,
termasuk dalam menghadapi proyek nuklir Iran. Ritter menyatakan, Iran
memiliki sejumlah gas hexafluoride yang akan dimanfaatkan dalam
sentrifugalnya, namun jumlah gas itu tidak memungkinkan untuk digunakan
dalam pembuatan senjata nuklir. Ritter juga menekankan bahwa Iran tidak
mampu dan tidak ingin memperkaya uraniumnya hingga ke tingkat yang
dibutuhkan dalam pembuatan senjata nuklir. Karena itu, menurut Ritter,
Iran sama sekali bukan ancaman untuk negara manapun. Ritter juga
mengingatkan bahwa semua pernyataannya terkait dengan proyek nuklir Iran
adalah berdasarkan data-data yang dimiliki oleh IAEA.
Mengingat bahwa Ritter adalah seorang investigator senior PBB terkait
senjata pembunuh massal dan karenanya dia memiliki akses informasi yang
sangat luas, pernyataannya tersebut jelas memiliki nilai penting. Selain
Ritter, banyak pengamat terkemuka lainnya yang juga menyampaikan
pendapat senada. Menteri Luar Negeri Mesir, Ahmad Abul Ghait, juga
memprotes pengesahan resolusi 1737 dengan mengatakan, “Sebagian kekuatan
Barat memberlakukan standar ganda dalam masalah ini, mereka membiarkan
sebagian negara memiliki senjata nuklir, namun menentang proyek nuklir
damai sebagian negara yang lain.” Lebih jauh Abul Ghait menyatakan,
“Hari ini telah jelas terungkap bahwa Israel memiliki bom nuklir, dan di
saat yang sama, IAEA tidak bisa mengawasi aktivitas nuklir Israel.”
Majid
Abdul Fatah, Duta Besar Mesir untuk PBB dalam wawancaranya dengan
televisi Mesir juga menyatakan kritikannya terhadap standar ganda yang
dilakukan oleh Dewan Keamanan. Abdul Fatah menyatakan, Dewan Keamanan
tanpa memperdulikan pengakuan Rezim Zionis mengenai kepemilikan senjata
nuklir, malah mengeluarkan resolusi untuk Iran yang memiliki program
nuklir bertujuan damai.
Kritikan masyarakat internasional, terutama dari negara-negara
berkembang, terhadap resolusi 1737 yang sedemikian luas itu menunjukkan
bahwa mayoritas negara di dunia mempercayai bahwa proyek nuklir Iran
bertujuan damai. Negara-negara anggota Gerakan Non Blok sehari setelah
keluarnya resolusi 1737 menggelar sidang di Wina Austria dan dalam
sidang itu, mereka menyatakan kekecewaaan atas resolusi ini. Gerakan Non
Blok sekali lagi membela hak Iran dalam mendayagunakan nuklir,
sebagaimana yang tercantum dalam aturan IAEA dan NPT. Sekjen OKI,
Ekmeledin Ehsanoglu, sambil menyingung senjata nuklir Israel, juga
menyatakan bahwa transformasi terakhir di Timur Tengah dan di bagian
lain dunia menunjukkan bahwa negara-negara penguasa teknologi nuklir
memiliki standar yang berbeda-beda dalam menyikapi usaha negara-negara
lain untuk mendayagunakan teknologi nuklir. Sekjen OKI juga menegaskan
bahwa senjata nuklir yang ada di Timur Tengah harus dilucuti.
Masyrakat dunia mempercayai bahwa proyek nuklir Iran sepenuhnya
bertujuan damai dengan berlandaskan kepada laporan dari Badan Energi
Atom Internasional (IAEA). Namun, AS dan sekutu-sekutunya tidak
memperdulikan laporan badan yang paling berkompeten dalam mengawasi
aktivitas nuklir negara-negara anggotanya itu. Robert Gates, Menteri
Pertahanan AS yang baru dilantik juga pernah mengeluarkan tuduhan bahwa
Iran sedang berupaya memproduksi senjata nuklir. Namun, tak ada satupun
dokumen yang bisa ditunjukkan oleh AS untuk membuktikan kebenaran
tuduhannya tersebut.
Presiden Iran,
Doktor Mahmud Ahmadinejad, dalam pidatonya di depan Majelis Umum PBB
tahun 2005, mengundang negara-negara Barat untuk ikut serta dalam proyek
nuklir Iran agar mereka bisa menyaksikan langsung proses yang berjalan
di dalamnya, dan mengetahui bahwa proyek nuklir Iran sepenuhnya
bertujuan damai. Namun tawaran yang juga menguntungkan dari segi bisnis
ini ditolak Barat tanpa memberikan alasan apapun. Hal ini membuktikan
bahwa sesungguhnya yang dikhawatirkan Barat bukanlah senjata nuklir,
melainkan kemajuan Iran dalam bidang nuklir. Barat tidak menghendaki ada
negara muslim yang bisa meraih kemajuan teknologi secara independen.
Yang diinginkan Barat adalah monopoli teknologi, sehingga negara-negara
berkembang selamanya terpaksa bergantung kepada Barat.
Tentu saja, Iran tidak akan pernah mundur
menghadapi tekanan seperti ini dan akan terus maju mempertahankan hak
legalnya.
|